You'Re My Everything

You'Re My Everything
Diet


__ADS_3

"Pan, aku serius mau nikah." kata Bima pada Nanta saat mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Bagus dong, mau kapan?" tanya Nanta tersenyum lebar, sulungnya yang kemarin-kemarin sempat bilang belum mau menikah sekarang malah minta menikah.


"Secepatnya." jawab Bima.


"Kenapa buru-buru? kamu tidak hamili anak orang kan?" tanya Dania curiga. Nanta terkekeh sambil gelengkan kepalanya, Bima langsung melengos sedikit kesal.


"Manta sama anak sendiri pikirannya jelek." gerutu Bima. Dania menarik nafas lega mendengar omelan Bima.


"Mau menikah sama siapa?" tanya Dania akhirnya.


"Magda dong." jawab Bima yakin, kemudian naikkan alisnya pada Aca sambil nyengir.


"Baru kenal padahal." Aca ikut nyengir, tapi senang Abangnya memilih Magda.


"Mau lo gue nikah sama yang sudah kenal lama?" tanya Bima pada Aca.


"Jangan lah bahaya, sama Magda saja." jawab Aca cepat, gawat kalau Bima pilih Tantri.


"Kapan Panta sama Manta ada waktu? kita melamar Magda ke Mama dan Papanya, di Jerman." tanya Bima.


"Sekarang juga boleh." jawab Nanta, Bima langsung saja besarkan bola matanya.


"Jauh loh Panta." Bima mengingatkan.


"Dimana? Singapore?" tanya Nanta yang rupanya tidak menyimak lokasi yang Bima sebutkan.


"Jerman." jawab Bima sekali lagi.


"Berlin? Panta pikir Jalan Jerman. Kalau itu harus cek jadwal kantor." Nanta langsung mengambil handphonenya, hubungi sekretarisnya.


"Lagian jalan Jerman juga dimana Panta? asal deh." Aca cekikikan dibuat Nanta.


"Pan, perlu kasih tahu Papon dan Opa Micko segala kan?" tanya Bima yang sedang mode serius, sementara Nanta sedang sibuk dengan handphonenya.


"Iya " jawab Nanta sepertinya masih fokus tanpa menyimak ucapan Bima, iya-iya saja jadinya.


"Cek jadwal Panta dulu lah, kemudian aku hubungi Bang Maxim." kata Bima akhirnya.


"Nanti Magda tidak ikut ya ke Jerman karena dia masih gantikan Bang Maxim, tidak apa kan?" Bima minta persetujuan, kali ini menatap Manta yang konsentrasi hanya ke Bima.


"Tanya dulu Maxim, kamu langsung bawa orang tua atau kamu dulu yang perkenalkan diri ke orang tuanya Magda." jawab Dania pada Bima.


"Gitu ya? aku pikir langsung saja datang sama Panta dan Manta." Bima tersenyum penuh harap.


"Kamu yakin orang tua Magda setuju anaknya menikah dengan kamu? Baiknya kamu perkenalkan diri dulu sayang." Dania balas tersenyum.


"Iya tuh Bang, Lo main datang saja, kalau di tolak kan bikin malu." Aca ikut-ikutan.


"Iya sih, ya sudah aku hubungi Bang Maxim deh besok." jawab Bima.


"Sekarang saja, kenapa harus besok." paksa Dania.


"Kalau Panta sama Manta tidak ikut, apa aku ajak Oma Maya saja ya?" dasar Bima maunya gerak cepat, kepikiran sama Omanya yang tinggal di London.


"Kamu tuh ya, tidak sabaran. Berkunjung ke Oma Maya jarang, giliran ada maunya saja ingat Oma." Dania terkekeh.

__ADS_1


"Manta aku kan kerja, ini kalau ke Jerman aku sekalian ke London juga kok, tapi kan harus ambil cuti lama, boleh?" tanya Bima.


"Lagian Oma Maya kan lebih sering di kampung Opa." lanjut Bima karena Nanta hiraukan pertanyaannya soal cuti lama.


"Apa ini Jerman London?" tanya Lucky yang tiba-tiba sudah berdiri di ruang keluarga.


"Loh sama siapa kamu, Luck?" tanya Dania.


"Tuh si gembul." tunjuk Lucky pada Syabda yang berjalan di belakangnya.


"Syabda sini." teriak Aca senang melihat adik sepupunya yang memang gembul.


"Jangan panggil gembul sih, nanti gembul terus sampai besar." Dania menepuk bahu adiknya yang tertawa geli pandangi anaknya.


"Iya nih Papa." Syabda merengut, ikutan Dania menepuk Papanya, karena tidak sampai dibahu malah paha Papanya yang dia pukuli.


"Iya-iya ganteng, nanti kamu pasti ganteng lah, seperti Papa." jawab Lucky pada Syabda.


"Tapi gembul." sahut Aca.


"Iiih Abang. Pantaaaa, Abang tuh sentil aja." teriak Syabda yang mengadu pada Nanta.


"Aca, sentil ya." kata Nanta pada Aca lalu ulurkan tangannya pada Syabda.


"Mana Mama?" tanya Nanta begitu Syabda sudah masuk dalam pelukannya.


"Kia temani Oma Monik ke Singapore, jadi aku sama Syabda menginap disini ya." jawab Lucky wakili Syabda.


"Loh, adik kecil bagaimana?" tanya Dania.


"Jadi adikmu namanya unyil?" tanya Bima jahil.


"Bukan, ih Papaaa." lagi-lagi Syabda protes pada Papanya.


"Kamu nih Luck, anak namanya bagus-bagus dipanggil Gembul lah, Unyil lah." Dania gelengkan kepalanya. Lucky tertawa saja dibuatnya.


"Syabda mau bobo sama Papa apa sama Manta?" tanya Lucky pada Syabda.


"Manta aja." jawab Syabda.


"Sama Panta juga ya." kata Dania, karena Syabda suka posesif kalau mereka tidur bertiga.


"Muat Panta?" tanya Syabda.


"Muat dong." jawab Nanta tersenyum.


"Kasur Panta besar ya? kalau di rumah kasur Papa kecil, jadi enggak muat tidur bertiga." celoteh Syabda.


"Idih akal-akalan nih Om Lucky." bisik Bima, Lucky terbahak dibuatnya.


"Masa tidak muat?" Dania melirik Lucky.


"Kata Papa karena badan aku gendut." Syabda bersungut.


"Ya ampun anak seganteng ini di bilang gendut." Nanta langsung memeluk Syabda erat.


"Makanya makannya jangan kebanyakan Boy, kamu baru selesai makan lima menit sudah minta makan lagi sih." kata Lucky pada Syabda.

__ADS_1


"Harus diet?" tanya Syabda, semua terbahak dibuatnya.


"Lagian keturunan siapa sih bisa besar begini, perasaan keluarga kita tidak ada yang kecilnya gembul." kata Bima.


"Keturunan Papanya lah." jawab Nanta.


"Enak saja Abang, aku kecil tidak gendut, tapi ganteng kita sama Boy." kata Lucky pada Syabda.


"Kalian sudah makan? sana makan dulu." kata Dania.


"Aduh pakai tawarin makan, sudah pasti anakku mau itu." kata Lucky, Syabda pandangi Lucky penuh harap.


"Kenapa boy?" tanya Lucky, Syabda gelengkan kepalanya.


"Mau makan tuh Luck." kata Dania, Syabda kembali pandangi Lucky.


"Mau? tadi kan kita sudah makan sebelum kesini." Lucky ingatkan sulungnya.


"Biar saja Luck, Syabda kan masih kecil." kata Dania.


"Nih yang begini nih yang bikin Syabda jadi gembul." dengus Lucky, semua tertawa dibuatnya.


"Duh kakak tidak tega ah, kamu sama anak begitu banget." kata Dania lihat wajah Syabda yang memelas.


"Syabda sayang, mau makan lagi?" tanya Lucky.


"No Papa." jawab Syabda menelan ludah.


"Tuh kak, anaknya tidak mau." tunjuk Lucky pada Syabda.


"Lagi diet Syabda, Man." Aca tersenyum pandangi adiknya.


"Mau jus alpukat?" Dania menawarkan Syabda, kembali sibocah pandangi Papanya.


"Ah bocil, kamu juga nih tiap ditawari makanan kenapa pandang Papa sih?" Lucky terkikik geli.


"Aku mau Kak, pakai madu jangan gula." kata Lucky pada Kakaknya.


"Berdua Papa saja ya, nanti kamu tidak habis." kata Lucky pada Syabda.


"Yes." Syabda langsung melonjak senang, semua tertawa dibuatnya.


"Tumben Om tidur disini, bukan di rumah Opa?" tanya Bima.


"Besok mau ketemu Dubes Jerman, Mama sama Papa lagi ke Semarang, jadi yang aman Shaka disini deh sama Manta." jawab Lucky.


"Wah aku ikut Om mau urus Visa dong." langsung saja Bima andalkan Om kesayangannya itu.


"Oh iya ada apa di Jerman London?" tanya Lucky.


"Om, aku mau menikah sama Magda adiknya Bang Maxim." Bima tersenyum lebar.


"Maximnya Hilma?" tanya Lucky.


"Yup betul sekali." Bima jentikkan kedua jarinya.


"Ish keluarga ini, tidak bisa cari jodoh jauh-jauh memang." Lucky gelengkan kepalanya disambut tawa dari yang lain.

__ADS_1


__ADS_2