You'Re My Everything

You'Re My Everything
Bahagia


__ADS_3

Kini Mike dan yang lainnya telah sampai di rumah pribadi Bian. Tapi yang membuat mereka bingung adalah pagar rumah itu tampak terbuka lebar.


Saat mereka masuk mereka melihat beberapa orang sudah pada tergeletak di tanah dengan lumuran darah. Samuel melihat orang kepercayaannya juga tidak sadarkan diri. Samuel dan Venesia langsung berlari ke arah Feri yang tidak sadarkan diri diluar.


"Feri, apa yang terjadi? Ayo bangun!" ucap Samuel sambil memukul-mukul pipi Feri supaya bangun.


Pelan-pelan matanya Feri mulai membuka, samar-samar dia melihat bosnya. Dengan suara terbata bata Feri berbicara.


"Tuan muda, tuan..." Feri kembali tidak sadarkan diri lagi.


Renaldo menyuruh anak buahnya untuk memeriksa keadaan rumah itu. Sedangkan mereka langsung berlari ke arah rumah, hati Venesia dan yang lainnya sangat cemas apalagi rumah itu tampak sangat kacau dan pintunya terbuka lebar.


Saat mereka masuk banyak orang yang sudah tidak sadarkan diri, dan ada yang tubuhnya sudah berlumuran darah.


"Fel, lebih baik kamu segera hubungi polisi. Jangan pernah ada yang menyentuh apapun disini sebelum polisi datang" ucap Renaldo.


Felix langsung mengikat apa yang dikatakan papa mertuanya. Felix langsung menghubungi Niko, orang kepercayaannya dalam kepolisian.


Venesia yang tidak melihat keberadaan putranya langsung pergi berlari ke atas. Seluruh pintu kamar dia buka, saat pintu kamar terakhir dibukanya Venesia sangat terkejut. Wanita yang perutnya lagi membesar, di kepalanya sudah bersimbah darah.


"Ah....." teriak Venesia sambil menutup mulutnya dengan air matanya sudah mengalir.


Venesia langsung berlari mendekati wanita itu, dia langsung memeriksa keadaan wanita itu. Berharap wanita itu masih bernafas.


Samuel dan yang lainnya langsung berlari ke atas, karena mendengar suara teriakan Venesia. Mereka juga sangat terkejut melihat wanita hamil yang tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah di kepalanya.


"Nona Cinta..." cicit Baim ketika melihat jelas wanita yang sedang diperiksa Venesia.


Semuanya langsung melihat kearah Baim, sedangkan Samuel langsung menghampiri istrinya.


"Mas, wanita ini masih hidup. Lebih baik kita bawa dia segera ke rumah sakit" ucap Venesia.


"Benar, tunggu sebentar." ucap Jhonson.


Jhonson langsung memerintahkan anak buahnya untuk menggendong Cinta, dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawa Cinta ke rumah sakit yang terdekat.


Mike langsung meninju pintu kamar itu dengan keras, sehingga membuat tangannya terluka. Mike sangat kesal karena mereka terlambat datang, dan yang paling membuat dia kesal adalah Bian sama sekali tidak ada didalam.

__ADS_1


***


Kini Bian bersama Handoko dalam satu mobil. Mereka mengikuti mobil yang membawa Lusi pergi. Mereka tidak ingin membuat orang yang menculik Lusi tahu kalau mereka sedang diikuti.


Tapi, dihati Bian dia sangat cemas dengan keadaan Cinta. Dia tadi ingin sekali membantu Cinta untuk dibawa ke rumah sakit, tapi Cinta terus memohon kepada-nya untuk menolong Lusi.


Flash back


"Mas, cepat kejar mereka. Aku akan baik-baik saja!" ucap Cinta sambil menahan sakit di kepalanya yang terluka.


"Tidak, Cin. Aku tidak ingin kamu dan anak kita mengalami hal yang buruk. Aku tidak ingin kehilangan kalian" ucap Bian dengan cemas sambil meneteskan air matanya melihat keadaan Cinta yang sangat kacau.


Mendengar ucapan Bian, membuat hati Cinta sangat senang. Dia tidak menyangka kalau Bian mencemaskan dirinya anak yang ada dalam kandungannya. Cinta memaksakan senyumnya dan mengelus pipinya Bian dengan lembut.


"Percayalah, mas. Kami akan baik-baik saja. Aku sangat yakin saat ini pak Mike sedang menuju kemari. Mereka yang akan membantu ku! Aku akan selamat, kalau kamu bisa menolong Lusi dari mereka" ucap Cinta dengan menahan rasa sakitnya.


Bian tetap ingin menolong Cinta, karena baginya saat ini Cinta dan calon anak mereka yang lebih penting. Dia tidak ingin kehilangan mereka, karena ketika melihat Cinta di sakiti tadi membuat dia menyadari kalau di hatinya sudah ada nama Cinta dan calon anak mereka.


"Mas, kumohon. Tolong sekali ini, kamu mau mendengarkan permintaan ku" ucap Cinta.


"Baik aku akan mengikuti mereka. Tolong bertahanlah, aku pasti akan datang kembali" ucap Bian sambil mengecup kening Cinta dengan lembut.


Cinta menutup matanya sambil meneteskan air matanya. Dia merasa bahagia Bian menangis karena dirinya terluka.


Flash back end.


Setelah mengikuti lawannya selama dua jam, mereka sampai di daerah yang sangat jauh dari pemukiman penduduk. Mereka memilih berhenti agak jauh, supaya tidak ketahuan. Mereka melihat lawan mereka itu membawa Lusi kedalam pabrik tua yang tampak tidak lagi beroperasi.


"Bian, lebih baik kita mencari bantuan" ucap Handoko dengan cemas melihat putrinya diseret-seret seperti itu.


"Om, benar. Apalagi keadaan kita yang masih terluka seperti ini, tentunya kita sudah mati duluan sebelum menyelamatkan Lusi" ucap Bain sambil meringis kesakitan didaerahnya wajah dan perutnya.


"Om telepon?" tanya Bian.


"Tidak. Sepertinya jatuh saat mereka menghajar om" ucap Handoko.


"Aku lupa bawa Hp ku. Aku berharap mereka menemukan cara untuk mengetahui kita" ucap Bian.

__ADS_1


***


"Mike tenanglah! Kita pasti menemukan mereka" ucap Felix sambil menepuk pundak Mike.


"Pak, pria yang bernama Feri sudah mulai sadar" ucap Baim pada Renaldo yang lagi duduk ditepi tempat tidur dengan wajah sendu.


Mereka langsung semangat, dan langsung kembali ke bawah untuk melihat keadaan Feri. Sedangkan Mike memilih masuk kedalam kamar mandi, dia ingin membersihkan luka ditangannya.


Saat dia lagi membersihkan tanganya dia melihat cincin kawinnya bersama Lusi. Tiba-tiba dia teringat dengan cincin kawin mereka yang dipakai Lusi.


"Astaga sayang, kenapa aku bisa melupakan hal ini" gumam Mike dengan merutuki kebodohannya.


Mike langsung berlari ke bawah dengan tergesa-gesa. Dia berharap Lusi masih memakai cincin kawin mereka. Karena dia selalu mengatakan pada Lusi untuk tidak pernah melepaskannya.


"Baim, bawa kemari laptop cepat" ucap Mike pada Baim.


"Baik, pak!" Bian langsung pergi mengambil laptop yang ada di dalam mobil Mike.


"Mike, apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Jhonson.


"Aku melupakan sesuatu. Cincin pernikahan kami yang dipakai Lusi, aku memasukkan alat GPS. Karena untuk apabila terjadi sesuatu aku bisa mengetahui keberadaannya" ucap Mike.


"Bagus, son." ucap Renaldo dengan bangga pada putranya itu.


Baim langsung melakukan tugasnya untuk mencari keberadaan Lusi melalui GPS yang ada di cincin kawin Lusi.


Sedangkan yang lainnya mendengar apa yang dikatakan Feri pada mereka tentang apa yang terjadi sebelum mereka datang. Mereka sangat terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka kalau mereka begitu sadis.


"Jadi Bian dan Handoko mengejar mereka?" tanya Samuel pada Feri.


"Ia, tuan" jawab Feri dengan suara lemah.


"Apa kamu yakin?" tanya Mike memastikan, karena dia belum percaya.


"Benar, pak. Tuan muda Bian dan pak Handoko berusaha untuk bangkit untuk mengejar mereka. Saya sangat yakin mereka saat ini sedang menunggu bantuan" ucap Feri


***

__ADS_1


__ADS_2