
Sejak kejadian itu Mike makin memperketat penjagaan Lusi. Apalagi informasi yang dia dapat dari pria yang ditahannya mengatakan kalau Bian lah yang menyuruh mereka, membuat Mike sangat murka. Mike ingin memberikan pelajaran pada Bian, Mike menyuruh Baim untuk menyuruh Bian keruangan nya.
"Pak, saya dapat laporan dari pihak HRD kalau pak Bian telah mengundurkan diri. Sepertinya dia mengetahui kalau kita telah tau perbuatannya" ucap Baim.
"Ber******!" teriak Mike sambil melemparkan berkas yang ada dihadapannya.
"Bagaimana dengan orang suruhan kita? Apa dia masih mengikutinya?" tanya Mike dengan emosi.
"Maaf orang suruhan kita kehilangannya jejaknya semalam. Terakhir dia melihat pak Bian bersama seorang wanita ke apartemennya" jelas Baim.
"Kenapa dia bisa kehilangan jejak?" teriak Mike.
"Waktu itu dia pulang sebentar karena istrinya akan melahirkan" ucap Baim.
"Suruh dia mencari keberadaannya. Dan cari tau siapa gadis yang bersamanya semalam" perintah Mike.
"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi dulu, pak!" ucap Baim.
Saat Baim ingin keluar, Lusi membuka pintu ruangan Mike.
"Permisi nona!" ucap Baim dengan sopan pada Lusi. Lusi hanya mengangguk kepalanya dengan tersenyum pada Baim.
"Sayang, apa kamu perlu sesuatu?" tanya Mike yang kini sudah berjalan mendekati Lusi, saat melihat Lusi masuk kedalam ruangannya.
"Tidak, kak. Aku hanya mau bilang kalau aku mau pulang lebih awal. Karena Tante Veby dan Oma menyuruh aku harus pulang siang ini!" ucap Lusi.
"Kenapa?"
"Katanya tidak baik untuk ku, karena aku harus istirahat total. Supaya besok aku tidak terlalu cepat lelah" jelas Lusi.
"Baiklah sayang. Kamu harus hati-hati" ucap Mike dengan lembut. Lusi langsung mengangguk kepalanya dengan tersenyum bahagia.
Lusi tidak menyangka kalau dia akan menikah dengan atasannya yang sekaligus kakak dari sahabatnya sendiri. Apalagi calon suami orang berada dan pewaris hotel Golden yang sangat terkenal sampai seluruh dunia. Padahal dia hanyalah gadis miskin, anak piatu dan anak yang telah dibuang papa kandungannya sendiri.
Sebelum meninggal ruangan Mike, Lusi bangkit berdiri dan langsung mencium pipi Mike. Tentu saja membuat Mike terkejut karena Lusi tidak pernah sekalipun berinisiatif lebih dulu. Saat dia ingin menarik Lusi, Lusi langsung cepat berlari keluar dari ruangannya.
Mike merasa geli melihat tingkah Lusi yang masih malu-malu padanya. Padahal besok mereka akan menikah.
Baru sepuluh menit Lusi keluar, Baim datang ke ruangan Mike dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Pak, Abang dari nyonya Monika telah kembali ke Indonesia. Baru saja pesawat mereka mendarat" ucap Baim dengan cepat.
"Perintahkan seseorang untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Aku sangat yakin kepulangannya ke Indonesia karena punya tujuan yang tidak baik" ucap Mike dengan penuh keyakinan.
"Baik pak" jawab Baim.
***
Di bandara Monika dan Sisil kini berada di bandara. Mereka memperhatikan satu persatu orang yang keluar dari pintu internasional.
"Om Sam" teriak Sisil ketika melihat sosok yang dari tadi ditunggunya.
Sisil melambaikan tangannya pada Samuel dan Venesia istri dari om nya itu. Mereka semua langsung saling berpelukan.
"Wah, keponakan Tante semakin cantik" puji Venesia pada Sisil yang berada dalam pelukannya.
"Benar kata Tante kamu. Om tidak menyangka kalau ponakan kami ini semakin cantik." timpal Samuel.
"Kita ngobrol-ngobrol dirumah saja yuk. Pasti mas Sam dan kak Sia capek" ucap Monika.
Mereka pun langsung menuju rumah Monika. Didalam mobil, Sisil lebih banyak bercerita tentang dirinya selama ini.
***
"Aku belum ngantuk Tante. Apa tidak bisa sebentar lagi?" ucap Lusi dengan cemberut.
"Tidak bisa sayang. Kamu malam ini harus istirahat lebih cepat. Besok satu hari acaranya, jadi kamu tidak bole kurang tidur" ucap Veby.
Lusi sebenarnya merasa terharu karena Veby memperhatikan dirinya seperti putrinya. Karena perhatian Veby padanya membuat Lusi sangat merindukan mamanya. Dia berpikir kalau ada mamanya saat ini, mungkin mamanya seperti Veby. Lusi sampai tidak menarik kalau matanya mulai berkaca-kaca.
"Sayang kamu kenapa? Apa Tante melakukan kesalahan?" tanya Veby dengan panik karena melihat mata Lusi yang berkaca-kaca.
"Lus, kamu kenapa? Apa kamu kangen dengan mama kamu?" tebak Dina.
Dengan cepat Lusi langsung mengangguk kepalanya dengan raut wajah sendu.
Mendengar itu membuat Veby langsung menarik Lusi kedalam pelukannya. Dia memeluk Lusi dengan penuh kasih sayang.
"Kamu bisa menganggap Tante sebagai mama kamu. Tante Malahan sangat senang karena kamu menganggap Tante sebagai mama kamu!" ucap Veby dengan lembut.
__ADS_1
***
Kini di pagi hari dikediaman keluarga Putra sudah tampak pada sibuk. Veby dengan penuh perhatian membangunkan Lusi yang masih tertidur.
"Lusi, bangun nak. Kamu harus siap-siap. Ini sudah jam enam" teriak Veby sambil menggedor-gedor pintu kamar Lusi.
Lusi yang merasa terganggu, langsung bangun dari tidurnya. Dengan setengah sadar dia berjalan membuka pintu kamarnya.
"Maaf Tante saya terlambat bangun. Apa yang bisa Lusi bantu, Tan?"
"Astaga nak, kamu belum sadar dari tidur mu? Ayo kamu cepat mandi. Sebentar lagi penata rias akan datang, untuk merias mu!" ucap Veby sambil mendorong Lusi ke kamar mandi.
"Penata rias? Untuk apa sih Tan? Apa kita ada acara?" tanya Lusi yang belum sadar.
"Hei apa kamu lupa? Hari ini pernikahan kamu sayang!" ucap Veby sambil mencubit pipi Lusi supaya Lusi segera sadar.
"AW..."
Lusi langsung meringis kesakitan, dengan seketika matanya langsung membulat menatap Veby.
"Pernikahan?" cicit Lusi. Veby mengangguk kepalanya dengan menahan ketawanya.
Lusi langsung tersadar kalau hari ini adalah hari pernikahannya. Hari dimana dia akan menempuh hidup yang baru bersama pria yang mencintainya apa adanya.
"Cepat sana mandi! Sebentar lagi mereka data untuk merias kamu!" perintah Veby sambil mendorong Lusi.
Lusi pun langsung berlari masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Veby yang melihat tingkah Lusi membuat dia ingin ketawa. Lalu dia melihat keponakannya yang masih tampak tertidur pulas, padahal dari tadi suaranya sangat keras untuk membangunkan Lusi.
Veby langsung menarik selimut yang dipakai Dina untuk menutupi tubuhnya.
"Dina sayang ayok bangun. Kamu juga harus bersiap-siap." ucap Veby sambil menggoyangkan tubuh Dina.
Dina langsung membuka matanya, dan melihat Tantenya dihadapannya.
"Apa Lusi sudah mandi, Tan?" tanya Dina dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Sudah. Kamu cepat bangun, kamu tolong perhatikan Lusi ya. Sebentar lagi penata riasnya akan datang"
"Iya, Tan. Tante juga bersiap-siap saja. Aku yang akan mengurus Lusi." ucap Dina sambil bangkit berdiri dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Oke. Tante bangunkan om kamu dulu." ucap Veby sambil berjalan keluar dari kamarnya Lusi dan Dina.
****