
"Beyin napa sih nggak pulang-pulang?" tanya Citra pada Larry yang mampir kerumah Kenan karena ada keponakan kembarnya yang menginap. Melihat Triplets, Larry seperti melihat Balen kecil dengan berbagai versi.
"Kakak panggilnya, jangan Beyin saja." protes Kenan pada cucunya.
"Nggak ah, Beyin aja bagus." jawab Citra tengil, Larry terkekeh gemas ingin mencubit pipi Citra.
"Ayah, nggak malahin aja Aydi Noah, dia nakal tauuu." kata Citra lagi, mulutnya monyong-monyong.
"Nakal kenapa?" tanya Larry menahan tawa, persis seperti Balen kecil cerewetnya.
"Culik Beyin dia, sekalang Beyin ilang deh, nggak pulang-pulang." kening Citra berkerut pikirkan Belin Kakaknya yang beberapa lama ini tidak bertemu karena di culik Noah.
"Itu bukan diculik tau, Beyin itu pegi-pegi aja sama aydi." sahut Delvina memanggil Noah, Ardi.
"Kalo libulan halushna lame-lame Pin, bukan duaan aja, iya kan Ayah?" Cinta ikut-ikutan, Kenan, Reza dan Larry terbahak melihat ketiganya bergosip.
"Kalian ini kecil-kecil bergosip." Nona terkikik geli.
"Celita-celita aja, Nami sih boleh-boleh aja Beyin pegina lama-lama." sekarang Citra protes pada Rumi.
"Mau Ayah telepon? si Ardi Noah kita marahi, mau?" Larry menggoda Citra.
"Nggak boleh malahin olang Ayah, kata Pap kalo malah-malah itu nanti dalah tinggi." jawab Delvina, ketiga pria dewasa itu kembali terbahak.
"Telpon aja tapi nggak usyah malah-malah bisa nggak Ayah? shuluh pulang aja, Beyinna." Cinta berikan solusi.
"Kalian kangen Beyin ya?" tanya Larry pada triplets sambil tersenyum lebar
"Dikit aja kangennya." jawab Citra.
"Aku syedang." sahut Delvina.
"Cinta banak-banak Ayah, maunya banaaaak." Cinta ikut-ikutan.
"Oke..." sambil tertawa Larry hubungi kesayangannya, walaupun tadi pagi sudah teleponan tetap saja Larry ingin tahu kabar putrinya.
"Ayaaah, kangen lagi?" tebak Belin senang kembali dihubungi ayahnya. "Ayah pasti rindu berat sama Beyin nih telepon-telepon terus." celoteh Belin percaya diri, sementara Ayahnya masih senyum-senyum.
"Ini ada yang cari kamu." kemudian Larry arahkan kamera handphonenya pada Citra.
"Nciiitttt..." panggil Belin gemas lihat para unyil kompak ingin eksis.
"Beyin, pulaaaang." teriak Citra.
"Iya nanti." jawab Belin terkekeh.
"Beyin diculik Aydi Noah ya, emang iya?" tanya Delvina memastikan, Belin dan Noah terbahak mendengarnya, sudah berapa kali ditegur supaya panggil Abang tetap saja panggil nama.
"Cipiiin, panggil Abang Noah ya, sama seperti panggil Abang yang lain. Kalau sama Beyin tidak apa panggil nama." kata Belin pada Delvina.
"Nggak ah, Aydi jahat sih culik Beyin." Delvina menolak.
"Wah pantas saja mereka tidak mau panggil kamu kakak, kamunya juga ya ternyata yang ajarin mereka." Nona langsung buka suara.
"Mamon, masak apa. Beyin kangen masakan Mamon." kata Belin pada Nona.
"Kan sudah Mamon kasih resep, kamu tidak praktek ya Bey?" tanya Rumi pada Belin.
__ADS_1
"Rasanya beda." jawab Belin bikin Nona terkikik geli, beda tangan walau satu resep tetap saja tidak bisa sama rasa.
"Beyin pulang dong, atu sepian." kata Cinta lembut.
"Gaya ah kesepian, kalian saja sudah ramai." kata Belin pada Cinta.
"Sepi dikit aja sih." jawab Citra, pokoknya serba dikit dia.
"Lame tau ndak sepi, ada Mam and Pap, C's banyak." protes Delvina, Belin dan Noah terbahak, walau agak kacau tapi Belin mengerti maksud Delvina.
Bilang sama Abang Ardi nih." kata Belin tunjuk Noah.
"Hmm..." Delvina pandangi Noah sambil menarik nafas.
"Kenapa Cipin?" tanya Noah terkekeh.
"Kamu napa sih culik Beyin telus." tegur Delvina, semua terbahak mendengarnya.
"Aku Malah loh." Delvina berkacak pinggang.
"Katanya tidak boleh marah nanti darah tinggi." Larry ingatkan Delvina sambil tertawa.
"Cipin nggak malah sebenalna, cuma suluh pulang aja." bisik Delvina membelai diri.
"Memangnya kalian kangen Beyin ya?" tanya Noah.
"Kangennya bertahap nih mereka." Larry terkikik geli.
"Iya Beyin sudah hapal, seperti beli gado-gado kan dikit, sedang, banyak." jawab Belin ikut tertawa geli.
"Sepelti Mam ya Beyin, liyat pelutna dong." langsung saja Delvina kepo, semua kembali terbahak.
"Maluuu." jawab Belin acting, triplets langsung tertawa geli saling menggelitiki perut mereka.
"Ampun deh cucunya Kenan." Reza gelengkan kepalanya sambil tertawa geli.
"Keturunan Mama Nina ini." kata Kiki lagi, Oma Nina tertawa dibuatnya.
"Aydiiii..." panggil Citra pada Noah.
"Iya Ncit, mau diculik juga?" tanya Noah jahil.
"Nggak ah." Citra langsung gelengkan kepalanya
"Ada mainan buat kalian loh." kata Noah tunjukkan mainan yang dibelinya untuk triplets.
"Holeee..." ketiganya langsung bersorak senang.
"Kalian kapan pulang?" tanya Larry.
"Akhir bulan Ayah, itu si unyil kocak banget sih, masa disogok mainan sama penculik langsung bahagia." Belin menunjuk ketiga adiknya.
"Assalamualaikum..." perhatian semuanya mengarah pada pintu masuk.
"Tumsalaaam." jawab triplets kompak.
"Waalaikumusalaam..." Belin ikut menjawab.
__ADS_1
"Abang Acaaa..." Citra langsung berlari menyambut Aca, yang dua lagi ikut berlari menyusul Citra.
"Curaaang, Aca saja dipanggil Abang." protes Belin, bisa-bisanya mereka panggil suaminya tanpa embel-embel.
"Hahhaa jangan protes, mereka marah karena merasa Noah culik kamu, setiap acara keluarga kalian tidak pernah hadir." Rumi terkikik geli.
"Aku kan dampingi suami." Belin bersungut.
"Tenang, setelah terima sogokan juga panggilnya berubah." kata Aca yang sekarang menggendong tiga bocah, sebenarnya mereka yang menggelayut dileher dan kedua tangan Aca, beneran anak Om Daniel seperti belatung nangka, pikir Aca sambil terkikik geli.
"Mereka begitu terus ya?" tanya Belin pada Aca.
"Resiko jadi Abang gantengnya mereka ya begini." jawab Aca tengil.
"Siap-siap kamu yang." kata Belin pada Noah.
"Hei, Abang Noah ganteng nggak?" tanya Aca gerakan badannya.
"Lumayan." jawab Delvina acuh.
"Gantengan Abang Aca?" tanya Aca.
"Gantengan Papon." sahut Citra, semua kembali terbahak.
"Sana, gendong Papon saja." Aca pura-pura merajuk.
"Nggak, nggak..." langsung mendapat penolakan Dan semua memegang Aca lebih kencang lagi.
"Duh pusing Beyin lihat mereka." Belin memijit pelipisnya.
"Baru juga sebentar, sudah pusing." Rumi terbahak.
"Beyin, musuh ya?" tanya Delvina tanpa ekspresi.
"Kok musuh?" tanya Belin bingung.
"Habisna Beyin sih bilang pusing-pusing aja." sahut Citra.
"Memang tidak boleh?" tanya Belin.
"Nggak!" Citra gelengkan kepalanya sambil goyangkan telunjuk.
"Ya sudah Beyin kangen, tapi kalian jangan seperti mon-mon gitu dong, manjat-manjat dibadan Abang Aca." kata Belin pada triplets.
"Ih parah Beyin, Mon-mon keturunan siapa?" Aca terbahak.
"Kalian kecil juga sama kelakuannya." kata Nona terkekeh.
"Masih mending triplets Mon-mon, mereka lebih-lebih." Rumi malah bernostalgia.
"Lebih-lebih lagi, Nami ih." Belin protes.
"Memang benar sih." sahut Larry.
"Hahaha seperti apa Ayah?" tanya Aca terbahak.
"Uwaknya." jawab Kenan, Belin dan Aca langsung nyengir ingat masa kecil mereka yang tidak bisa diam juga seperti Triplets saat ini, sementara Larry dan Reza langsung pecah tawanya.
__ADS_1