You'Re My Everything

You'Re My Everything
Tidak Siap


__ADS_3

"Lo tidur deh Bang, gue tahu lo pasti bohong waktu bilang tidur di pesawat." kata Aca ketika keluarganya sudah tinggalkan mereka berdua.


"Gantian ya?" Bima tidak menolak, badannya memang serasa rontok berat. Tiga hari menunggu Mr. Robert pun tidak bisa tidur nyenyak, ditambah perjalanan menuju ke Indonesia yang memamakan waktu belasan jam.


Mamon tampak tidur pulas setelah minum obat, Balen dan Daniel baru pulang setelah Mamon terlelap. Sekarang Bima dan Aca diruangan bersama Mamon yang tidak tahu kalau sekarang duo rusuh yang menemaninya.


"Aku sayang Mamon, jangan panik-panik dong, bikin aku panik saja kemarin lihat Mamon pingsan." cerocos Aca bicara sendiri setelah Bima baringkan badannya.


"Jangan diganggu Ca, biarkan Mamon tidur." omel Bima saat melihat Aca hampir rebahkan badannya disebelah Mamon.


"Cuma tiduran." jawab Aca.


"Kalau kamu terus bergerak nanti Mamon terbangun." Omel Bima pelan, bagaimanapun Bima lebih senang Mamon tidur pulas sampai pagi, jadi Bima juga bisa istirahat kan, walaupun bergantian menjaga Mamon dengan adiknya.


"Galak ih." Aca monyongkan bibirnya, padahal ia hanya ingin tidur disebelah Mamon seperti biasa kalau ia menginap, tapi Abangnya benar juga, nanti Mamon malah terbangun.


"Sini tidur sebelah gue." Bima geserkan badannya, adiknya itu menurut saja segera baringkan diri disebelah Bima.


"Jangan ajak ngobrol, gue ngantuk berat." kata Bima saat Aca terlihat ingin ucapkan sesuatu, Aca terkikik geli dibuatnya. Mau tidak mau biarkan Bima tertidur sementara ia rebahan sambil mainkan handphone, berbalas pesan dengan geng rusuh dan Risa pujaan hatinya. Seharusnya Aca menjemput Risa pulang perform di festival Jazz malam ini, tapi terpaksa Aca batalkan karena tidak mau tinggalkan Mamon dan Oma. Shaka dan Bari saja sudah siapkan diri untuk berjaga di rumah sakit, giliran mereka besok malam, itupun kalau Aca dan Bima rela posisi mereka digantikan.


Jam tiga dini hari Bima terjaga, lama juga Bima tertidur, Aca dengan baik hati tidak bangunkan Abangnya, padahal ia harus mondar-mandir karena beberapa kali dipanggil perawat terkait laboratorium dan obat Oma Nina yang harus ditebus oleh keluarga yang bersangkutan. Mamon juga alhamdulillah tidurnya tidak terganggu, mungkin efek dari obat yang diminumnya malam tadi.


"Gantian Ca." kata Bima pada adiknya.


"Gantian apa?" tanya Aca.


"Tidur." jawab Bima.


"Belum mengantuk." Aca menguap, Bima tertawa adiknya bilang belum mengantuk tapi malah menguap.


"Tidur deh, gue yang jaga Mamon." kata Bima tersenyum segera beranjak dari tempat tidur keluarga pasien.


"Bang tadi gue masuk ruangan Oma, dipanggil perawat. Katanya sih kondisi Oma membaik, mungkin karena sudah kumpul semua kita." Aca tersenyum senang.


"Alhamdulillah." Bima ikut tersenyum.


"Masih panggil gue?" tanya Bima, Aca gelengkan kepalanya.


"Sekarang panggil Cadi." Aca terkikik geli.


"Karena Cadi kemarin pura-pura jadi elo kali tuh." Aca terbahak, Bima menepuk bahu adiknya takut Mamon terbangun.


"Kocak tuh anak." Bima menahan tawanya.


"Iya dia kan paling pintar tiru gaya kita masing-masing." Aca ceritakan adiknya, kemarin itu kalau sehat Oma Nina juga pasti akan tertawa lihat kelakuan cicitnya.


"Aca, Bim, kalian disini?" Mamon terbangun juga akhirnya.

__ADS_1


"Mamon sudah bangun? kita berisik ya?" Bima jadi merasa bersalah, Nona gelengkan kepalanya.


"Jam berapa ini?" tanya Nona.


"Baru jam tiga dini hari Mamon." jawab Aca.


"Oma Nina bagaimana kondisinya?" tanya Nona.


"Alhamdulillah membaik, Mamon jangan khawatir." Aca tenangkan Mamon.


"Mamon tidak tega lihat Oma." Nona malah menangis.


"Mamon, doakan saja Oma Nina, sekarang lagi panggil Cadi terus."


"Besok lagi jemput Cadi ya. Biar bertemu Oma." pinta Mamon pada kedua cucunya.


"Tadi juga Cadi sudah minta menginap disini, tapi kita suruh pulang." jawab Bima.


"Iya biar dia istirahat, sudah berapa hari tidak sekolah mereka." Nona jadi ingat Cadi harus sekolah.


"Nah kalau besok dijemput harus bolos lagi dong Mamon." Aca pikirkan sekolah Cadi.


"Pulang sekolah saja aku jemput." kata Aca kemudian, Nona anggukan kepalanya.


"Mamon tidur lagi deh." pinta Bima pada Mamon.


"Jangan digendong, Mamon bisa jalan." tolak Nona saat Bima akan mengangkat tubuhnya.


"Jangan banyak bergerak Mamon, wudhu pakai botol spray saja nih." Aca keluarkan botol spray kecil berisi air yang biasa ia bawa ditasnya.


"Tidak usah..." tolak Nona, mau tidak mau Aca dan Bima menggandeng Nona menuju toilet, terlihat agak lebay karena Nona tidak begitu parah, hanya saja karena cucu sayang Oma, jadilah mereka tidak mau membiarkan hanya salah satu saja yang perhatian pada Mamon.


"Kalian kalau sudah menikah, apa akan tetap perhatian begini sama Mamon?" tanya Nona pada keduanya setelah urusan pertoiletannya selesai.


"Pasti dong Mamon." jawab Bima cepat.


"Janji ya." tagih Nona.


"Iya Mamon, tenang saja." Aca ikutan berjanji.


"Harus perhatian terus pokoknya, jangan berubah." pesan Nona pada keduanya.


"Iya." jawab keduanya kompak.


"Urusan kamu jadi tertunda ya Bim, sudah hubungi keluarga Magda kamu?" tanya Nona.


"Belum Mamon, kemarin di pesawat pikiran aku kalut." jawab Bima jujur.

__ADS_1


"Om Lucky sudah jelaskan pada Bang Maxim kok Mamon." Aca beritahukan Nona.


"Walaupun begitu Bima tetap harus bicara juga, jangan sampai kesannya janji palsu." kata Nona ajari cucunya.


"Besok ya Mamon, tadi sampai disini pikiran aku cuma ke Oma sama Mamon saja." jawab Bima.


"Iya Mamon, kasihan nih Bima habis perjalanan jauh." Aca membela Abangnya.


"Mamon, Oma Nina sepertinya mau aku urus Suryadi Group." lapor Bima setelah Nona laksanakan sholat malamnya. Menjelang shubuh mereka malah ngobrol bukannya pada tidur.


"Iya kita lagi bahas itu sebelum Oma tidak sadar." jawab Nona yang rupanya sudah tahu.


"Tadi aku janji sama Oma akan ajak Oma tinggal di Malang." kata Bima lagi.


"Enak dong sama Om Ichie disana." kata Aca tersenyum senang.


"Kamu juga mau tinggal di Malang?" tanya Nona, Aca gelengkan kepalanya.


"Pacarnya disini Mamon." Bima terkekeh.


"Teman ya bukan pacar." jawab Aca cepat, mengingat dikeluarganya tidak ijinkan pacar-pacaran, Ante Baen saja dulu yang masih kecil sudah pacaran sama Om Daniel.


"Takut dia Mamon." Bima terkikik geli.


"Aku mau di Jakarta saja karena kalau aku ikut pindah Balena Hotel dan Suryadi siapa yang urus? belum lagi Warung Elite pasti kekurangan personil karena kamu tinggal Bim." Aca menjelaskan, terserah dia saja kan kapan mau panggil Bima Abang, kapan panggil nama saja.


"Iya Aca benar." Nona setuju dengan alasan Aca.


"Mamon mau ikut aku pindah ke Malang juga?" tanya Bima pada Nona.


"Tergantung Papon saja." jawab Nona, ia sih senang saja karena Opa Baron juga ada di Malang, pasti senang kalau Nona ikut pindah ke Malang.


"Opa Eja juga pasti ikut tuh Mamon." Bima tersenyum.


"Sok tahu." Aca mencibir.


"Tadi Opa juga janji sama Oma, kalau Oma sehat, Opa akan temani Oma kemanapun." jawab Bima yakin.


"Opa Eja nangis?" tanya Aca, Bima anggukan kepalanya.


"Opa kan tidak pernah jauh dari Oma, pasti menangis. Dari muda sampai tua selalu dekat Oma, apalagi sejak Opa Dwi tidak ada." Nona menjelaskan.


"Mamon, aku tidak siap kalau Oma Nina menyusul Opa Dwi." Aca langsung saja pasang wajah sedih.


"Aku juga tidak siap." Bima ikutan sedih, Nona langsung saja mencelos melihat kedua cucunya bersedih.


"Kalian jangan bicara begitu, in syaa Allah Oma Nina sehat. Tapi Mamon tidak tega lihat Oma kesakitan." sekarang Nona juga ikutan sedih.

__ADS_1


"Tuh kita jadi sedih-sedihan, aku sholat dulu deh mumpung belum shubuh, Mamon lanjut berdoa ya Mamon, aku juga mau doakan Oma Nina." Bima segera beranjak menuju toilet, bayangkan Oma akan pergi Bima benar-benar tidak siap.


__ADS_2