
Kini Venesia menangis terisak karena sudah mendengar dari Lusi siapa Cinta sebenarnya. Dia merasa gagal menjadi ibu, sehingga membuat putranya telah melakukan hal yang paling dibencinya. Dia tidak menyangka kalau putranya bisa melakukan itu pada seorang wanita.
Plak... Plak...
Samuel yang sudah tersulut emosi menampar pipi Bian dengan keras. Sehingga membuat dirinya terhempas ke lantai rumah sakit. Feri berusaha untuk menenangkan tuanya karena melihat keadaan Bian yang tampak sangat kacau. Saat ditampar oleh Samuel, Bian diam saja tanpa bergeming sedikitpun.
Bian mensejajarkan kepalanya ke dinding rumah sakit itu dan kakinya dipanjangkan.
"Kami sudah berusaha yang terbaik untuk istri anda tuan. Tapi saat dia dibawa ke rumah sakit, keadaannya sudah parah. Benturan keras dikepalanya membuat istri bapak mengalami Hematoma. Dimana Cedera kepala hematoma berarti ada sekumpulan gumpalan darah yang terjadi di luar pembuluh darah. Makan karena itu sampai saat ini istri bapak belum sadarkan diri. Bisa dibilang saat ini beliau koma. Apalagi saat ini istri bapak lagi hamil. Syukurnya janinnya sangat kuat."
Ucapan dokter itu terus terngiang di telinganya. Makanya karena itu membuat Bian jadi seperti orang yang tidak ada semangat lagi. Mendengar Cinta koma dan dokter menjelaskan belum bisa memastikan kapan Cinta akan bangun membuat dirinya kehilangan semangat hidup. Dia merasa bersalah karena belum mengucapkan kata maaf dan cintanya pada Cinta. Bian telah menyadari kalau dirinya sangat mencintai Cinta dan calon anak mereka.
"Tuan tolong tenang. Lihat tuan Bian sudah tampak sangat kacau" ucap Feri saat menarik Samuel untuk tidak memukuli Bian lagi.
"Ah..." teriak Samuel sambil memukul-mukul dinding rumah sakit itu.
Dia merutuki dirinya sendiri, Samuel merasa gagal sebagai orang tua dan dia. Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Samuel menatap putranya dengan kasihan. Mike juga merasa kasian melihat Bian seperti itu, entah kenapa rasa bencinya pada Bian sudah tidak ada lagi karena melihat kehancuran Bian lagi. Yang ada saat ini rasa kasihan pada Bian. Lusi memeluk erat Venesia, dia sangat tahu kalau saat ini hatinya Venesia telah hancur.
"Tante harus kuat. Saat ini Bian lagi membutuhkan dukungan keluarganya" ucap Lusi.
Mendengar ucapan Lusi membuat tangisan Venesia langsung berhenti dan menatap Lusi. Lusi langsung mengarahkan pandangannya ke arah Bian yang terduduk lemah dan tidak ada semangat di atas lantai rumah sakit. Venesia mengikuti pandangan Lusi.
"Akh.. Hiks hiks hiks" Venesia kembali menangis sambil menutup mulutnya.
Dia merasa kasian melihat keadaan putranya seperti itu. Venesia berusaha untuk bangkit berdiri, dia ingin memeluk putranya itu. Begitu juga dengan Samuel, saat melihat istrinya ingin menghampiri putra mereka. Samuel membantu Venesia untuk berjalan karena dia melihat jalan istrinya hampir jatuh.
__ADS_1
Mereka langsung mensejajarkan tubuh mereka, kedua orang tua itu langsung menarik putra mereka kedalam pelukan mereka. Bian tetap diam saja, tidak ada sedikitpun reaksi dari Bian. Sehingga membuat kedua orangtuanya kuatir. Begitu juga dengan Lusi, Mike dan Feri tampak sangat bingung.
"Bian, kami akan selalu ada bersama mu. Mama mohon bicaralah, nak" ucap Venesia sambil mengelus pipi Bian dengan lembut.
Tidak ada satupun reaksi dari Bian, sehingga membuat Venesia dan Samuel bingung.
"Sebaiknya kita buat Bian duduk di kursi" ucap Mike.
Mike bersama Feri langsung membantu Samuel untuk membuat Bian duduk di kursi. Lusi langsung duduk di samping Bian, rasa kebenciannya terhadap Bian sudah hilang ketika melihat Bian berusaha menolong dirinya dari Monika dan Sisil. Dia sangat tahu kalau Bian sebenarnya sangat mencintai Cinta, tapi Bian belum menyadarinya saat itu.
"Bain, kamu harus bisa kuat. Apa kamu tidak kasihan lihat mama kamu dan papa kamu yang jadi mencemaskan mu. Kalau kamu seperti ini, siapa yang akan mengurus Cinta? Aku yakin kalau kamu kuat, Cinta pastinya juga akan kuat" ucap Lusi.
Mendengar nama Cinta membuat Bian kembali sadar, tatapannya yang kosong mulai tidak terlihat lagi. Dia mengedarkan pandangannya, dia melihat mamanya menangis dalam pelukan Papanya sambil menatap dirinya. Perlahan-lahan air matanya menetes keluar, dia merasakan hatinya sangat sakit.
***
Dokter yang menangani Handoko keluar dari ruangan operasi. Saat dia keluar dia langsung menghampiri Renaldo yang lainnya.
"Maaf, siapa yang bernama Mike dan Lusi?" tanya Dokter itu.
"Mereka lagi pergi sebentar dokter. Bagaimana dok besan saya?" tanya Renaldo dengan cemas.
"Kami sudah melakukan hal yang terbaik. Pisaunya sangat terlalu dalam hingga mengenai titik yang berbahaya dan apalagi beliau sudah banyak kehilangan darah. Hanya doa saja yang bisa kita lakukan sekarang. Setelah pak Handoko dipindahkan ke ruangan, yang bernama Mike dan Lusi bisa dipersilahkan untuk masuk." ucap Dokter itu.
Handoko dan yang lainnya langsung menuju ruangan ICU tempat dimana Handoko akan dipindahkan. Mereka melihat Lusi dan Mike bersama Samuel dan Venesia.
__ADS_1
"Son, kalian disini?" tanya Renaldo pada Mike.
"Papa. Kenapa kalian semuanya kemari? Bagaimana tuan Handoko?" tanya Mike.
"Dia sudah dipindahkan ke ruangan ICU. Itu dia" ucap Renaldo saat melihat Handoko di bawa keruangan ICU yang berada di samping ruangan Cinta.
"Dokter mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan kalian berdua" ucap Renaldo pada putranya.
"Apa terjadi sesuatu pada papa saya, pa?" tanya Lusi dengan ketakutan. Dia tidak sadar kalau Lusi dengan lancar menyebutkan Handoko sebagai papanya.
"Kata dokter, harapan kita tinggal satu yaitu berserah kepada Tuhan" ucap Renaldo
Tentu saja membuat Lusi hampir terjatuh, kalau tidak Mike langsung menahan tubuhnya mungkin saja bok*** Lusi langsung mendarat di lantai.
Venesia dan Samuel yang mendengarnya juga sangat terkejut. Mereka melihat betapa terpukulnya Lusi mendengar kondisi Handoko. Mike membantu Lusi untuk berjalan ke ruangan Handoko. Tak ada tangisan yang keluar dari dalam mulutnya Lusi, tapi Mike sangat tahu bagaimana terpukulnya Lusi mendengar itu.
Mike dan Lusi kini melihat Handoko yang bisa bernafas karena alat bantuan. Tampak wajah Handoko saat ini sangat pucat dan tidak berdaya.
Handoko yang dapat merasakan kehadiran putrinya, memaksakan dirinya untuk membuka matanya. Handoko langsung tersenyum ketika melihat putrinya bersama Mike dihadapannya. Dengan sekuat tenaganya Handoko untuk mengangkat tangannya, dia ingin merasakan sentuhan tangan dari putrinya itu lagi. Dia merasa kalau saat ini waktunya tidak akan lama lagi.
Lusi yang melihat Handoko mengulurkan tangannya, langsung berjalan menghampiri Handoko. Dia sangat mengerti kalau papanya memanggilnya, tanpa ada keraguan Lusi langsung menggenggam tangan Handoko dan menatap papanya dengan lembut.
Tidak ada lagi tatapan dingin di matanya Lusi, yang ada tatapan yang sangat lembut. Handoko menggenggam erat tangan Lusi. Dia terus menatap putrinya dengan tersenyum bahagia.
****
__ADS_1