
Bian yang sudah sangat emosi langsung mendorong Cinta dengan kasar. Bian menatap Cinta dengan tajam, dia berjalan ke arah Cinta lalu menekan pipi Cinta dengan kuat.
"AW... A...pa yang kamu lakukan?" tanya Cinta dengan gugup.
Apalagi dia melihat tatapan Bian yang tajam. Cinta tidak pernah melihat tatapan tajam Bian seperti itu sebelumnya.
"Dasar ******! Aku sudah bilang pergi!" Bian menghina Cinta.
Cinta sangat kaget dengan hinaan Bian padanya. Dia merasakan sakit di dadanya saat Bian menghinanya,. tapi dia merasa kalau ucapan Bian tidak ada yang salah. Karena dia sendiri yang menyerahkan dirinya pada Bian. Setelah menghina Cinta, Bian langsung menarik Cinta untuk bangkit berdiri. Cinta hanya dia saja, karena dia tidak berani melawan Bian, dan membuat Bian semakin marah padanya.
"Sekarang kamu ikut aku" ucap Bian.
Bian langsung menarik Cinta keluar dari ruangannya. Mereka menuju parkiran yang ada di bawah. Bian memutuskan untuk melewati tangga darurat supaya tidak ada yang melihat.
Untung saat itu jam orang lagi makan siang, jadi parkiran masih tampak sepi.
"Masuk" ucap Bian dengan tegas ketika Bian membuka pintu mobilnya.
Cinta hanya diam saja mengikuti apa yang diinginkan Bian. Karena dia tampak masih sangat takut.
Cinta tidak tahu kemana Bian akan membawanya. Dia hanya menatap ke depan, melihat jalan yang mereka lalui.
Mobil Bian memasuki daerah apartemen yang sangat mewah. Setelah mobilnya berhenti, Bian langsung menatap Cinta dengan tajam.
"Sekarang kamu keluar" perintah Bian.
Setelah Cinta keluar, Bian langsung menarik tangan Cinta. Cinta hanya pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Bian padanya. Karena dalam hati kecilnya dia merasa bahagia, karena dia sangat yakin kalau saat ini Bian membawanya ke apartemen milik Bian.
Sesampainya di apartemen Bian, Bian langsung menarik Cinta kedalam kamarnya. Didalam kamar Bian langsung mendorong Cinta ke atas tempat tidurnya.
Cinta bukannya takut, tapi dia langsung bangkit berdiri dan berjalan kearah Bian yang menatapnya.
"Aku tidak masalah jadi ****** untuk mu. Karena aku hanya ingin bersamamu" ucap Cinta sambil membuka satu persatu kancing bajunya Bian
Bian hanya diam saja, membiarkan Cinta melakukan tugasnya. Entah kenapa dia sangat ingin menyalurkan emosinya dengan menikmati apa yang diberikan Cinta padanya.
Akhirnya mereka pun melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Bian menghentikannya disaat dia melihat Cinta jatuh pingsan. Entah sudah berapa jam Bian melakukannya.
Bian yang melihat Cinta pingsan, dia langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Cinta tanpa memperdulikan Cinta. Bian langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah setengah jam membersihkan tubuhnya, Bian masih mendapati Cinta masih tertidur.
__ADS_1
Bian berjalan kearah meja yang dekat dengan kasurnya, dia melihat di jam tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore. Itu berarti dia melakukannya dari jam enam jam tanpa henti. Tentu saja hal itu membuat Cinta pingsan.
Bian mengambil gawainya dan melihat banyak panggilan tak terjawab dari hotel. Dia tadi pergi tanpa memberitahu kepada siapapun kalau dia pulang. Begitu juga Cinta pastinya dicari dengan atasannya.
Bian membawa gawainya ke balkon kamarnya, karena dia ingin menghubungi seseorang.
"Foto gadis yang aku kirim sama mu, kamu cari tahu sama siapa dia akan bertunangan hari ini!" perintah Bian pada seseorang melalui gawainya.
Setelah mengatakan itu Bian langsung mematikan teleponnya. Dia menatap jalan pemandangan dari balkon Apartemennya.
Bian merasa kalau Lusi akan bertunangan dengan atasannya. Apalagi dia sangat sering melihat Lusi dan Mike berangkat bareng dan makan bersama. Meskipun sikap mereka dikantor tampak seperti atasan dan bawahan, Bina bukanlah pria yang bodoh. Dia sangat yakin kalau Lusi menjalin hubungan dengan Mike.
***
Kini di apartemen milik Handoko, Handoko yang lagi sibuk membaca koran tampak terkejut mendengar teriakkan putrinya.
"Papa" teriak Sisil saat membuka pintu.
Handoko langsung bangkit berdiri dan meletakkan korannya di atas mejanya.
"Ada, sayang?" tanya Handoko pada putrinya itu.
"Bertunangan? Putri? Siapa maksud kamu?" tanya Handoko sambil mengkerut keningnya.
"Putri mu dari istri kamu yang pertama, mas. Apa kamu tidak tahu?" ucap Monika yang sudah duduk di sofa.
Handoko langsung duduk di samping istrinya sambil menatap istrinya.
"Maksudnya Lusi? Kalian tahu dari mana?"
"Kami dapat info dari pegawai salon langganan kami tadi. Kami tadi melihat mereka datang dan masuk ke ruangan VIP. Kamu tahu mas, dia bersama Miranda istrinya Felix" ucap Monika.
Handoko sangat terkejut mendengarnya, dan dia merasa ada sedikit sedih mendengar putrinya akan bertunangan tanpa memberitahu padanya. Padahal putrinya sudah mengetahui kalau dia masih hidup.
"Ma, apa dia akan bertunangan dengan Mike? Mama ingatkan kejadian waktu acara ulang tahun perusahaan!" ucap Sisil yang sudah duduk dihadapan papa dan mamanya.
Mereka pun teringat bagaimana perlakuan Renaldo pada Lusi. Tidak hanya Renaldo saja, tapi Mike juga yang sangat perhatian dengan Lusi. Handoko dan Monika pun langsung tampak berpikir yang sama dengan putrinya itu.
"Mas, aku punya ide. Ini untuk kemajuan perusahaan kita" ucap Monika dengan semangat.
__ADS_1
Handoko hanya mengernyitkan dahinya, karena dia merasa kalau rencana istrinya itu pasti bersangkutan dengan pertunangan Lus, putri yang telah tidak dianggapnya sebagai putrinya.
***
Kini Felix berada di depan salon, dia ingin menjemput istrinya. Sudah setengah jam dia sampai menunggu istrinya. Saat istrinya keluar dari salon, Felix langsung keluar dan memeluk istrinya itu.
"Sayang, maaf ya membuat kamu menunggu" ucap Miranda dengan merasa bersalah pada suaminya.
"Tidak apa-apa sayang. Apa kamu sudah siap?" Miranda hanya mengangguk kepalanya dengan tersenyum.
"Baiklah ayo kita pulang. Mama dan papa sudah menunggu di rumah" ucap Felix.
Miranda duduk di depan, menemani suaminya mengemudi. Sedangkan Lusi dan Dina pulang bersama supir yang mereka bawa tadi.
Saat mereka dalam perjalanan pulang kerumah Felix, tiba-tiba saja mereka dihadang beberapa pria yang naik kereta.
"Siapa mereka, mas? Apa mau mereka?" Miranda sangat kuatir kalau beberapa pria itu orang jahat.
Lusi dan Dina yang mobil mereka pas di belakang mobil Feli dan Miranda juga terkejut dan kuatir. Lusi yang ingin keluar langsung dapat pesan dari Miranda untuk tetap di dalam.
Untung saja, setiap Miranda pergi pengawal nya selalu ikut bersama mereka. Para pengawal Miranda yang mobilnya pas dibelakang mobil Luis dan Dina langsung keluar. Lima pengawal Miranda langsung menghampiri para pria itu.
"Kenapa kalian menghadang kami?" teriak sala satu pengawal Miranda itu yang kepalanya plontos.
"Hahaha. Kami hanya minta uang jalan saja" ucap salah satu pria itu.
Ternyata mereka adalah preman-preman yang ingin mencari kesempatan ingin merampok orang-orang yang lewat jalan itu. Ini pertama kalinya ada preman-preman yang berkeliaran di jalan yang sering mereka lalui kalau menunju rumah Felix.
***
Author mengucapkan selamat Idul Fitri 2021/1442 H, Bagi teman-teman yang merayakannya.ya...
Semoga di hari nan fitri diterima semua amalan, selamat hari Lebaran, semua kesalahan mohon maafkan. 🙏
Dan selamat hari kenaikan Isa Al-Masih juga bagi yang merayakan nya juga😇
Terimakasih untuk semua atas dukungannya sampai saat ini. Jika ada yang mau kasih masukan bisa chat author ya... Dan kalau ada salah typo tolong dikasih tau ya...
Maklum kadang author tidak terlalu perhatikan karena banyak pekerjaan. Terimakasih 🙏
__ADS_1