
Teror yang disebarkan kelompok Underwave resmi berakhir. Dengan keempat wanita iblis dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Banyak yang meragukan An Pilgu sebagai dalang pembunuhan, sementara Hasan masih mencurigai nyonya Yin.
Namun, mengingat kata-kata bijaknya sebelumnya Hasan menjadi segan berurusan dengan wanita itu lagi. Polisi juga menghentikan penyelidikan mereka setelah Silverblade berhasil menangkap Spiral Riot anggota terakhir Underwave yang masih berkeliaran.
Hasan memilih menghabiskan waktunya bersama Siska dan Amara. Nama panjang Amara Nur Amelia.
***
Para agen yang lelah berkonfrontasi dengan teror*s sepakat untuk liburan ke tempat yang mereka inginkan. Di meja makan kantor DKK SELATAN. Hall Fame (Hasan), Lilipad (Cha Hae Lim), Bernard Beto (BB), Cakra Silverblade, Burn Shadow, Kyle, Rum Candle (Kolonel Graham) membicarakan tempat yang akan mereka kunjungi menikmati makan siang yang dimasak oleh Kyle.
Hasan menyampaikan wacana liburan ke rumah neneknya di pedesaan terpencil. Hasan duduk di ruang tamu dengan ibunya. Dia merasa gugup namun penuh antusias. "Bu, aku ingin bicara tentang sesuatu yang penting," ucap Hasan.
Ibu Hasan menatap anaknya dengan penuh perhatian. "Apa itu, Nak? Apakah ada yang ingin kau sampaikan?" tanya ibu Hasan dengan lembut.
Hasan mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Saat Amara genap berusia 40 hari, aku ingin membawa Siska dan Amara pulang kampung. Aku ingin mengunjungi nenek di kampung pedalaman."
Ibu Hasan tersenyum senang mendengar rencana anaknya. "Itu adalah ide yang indah, Nak. Aku yakin nenekmu akan sangat senang bisa bertemu dengan cucumu yang baru lahir."
Hasan mengangguk dan melanjutkan, "Aku juga ingin membawa Ayah dan ibu. Masa aku pulang kampung tanpa membawa kalian berdua. Aku ingin kita bisa berkumpul bersama di rumah nenek sebelum berangkat ke Mesir."
"Suara hatiku pasti akan sangat senang mendengar kabar ini," ujar ibu Hasan dengan rasa haru. "Kita akan merencanakan perjalanan pulang kampung ini bersama-sama dan membuat momen yang indah bersama Amara dan nenekmu."
Hasan tersenyum bahagia mendengar dukungan dari ibunya. "Terima kasih, bu. Aku benar-benar berharap bisa menghadirkan momen yang istimewa untuk Amara dan keluarga kita."
Hasan mengambil cuti seminggu untuk menjaga istrinya. Sebenarnya cuti itu hanya akal akalan kolonel Graham yang hendak meng klaim semua prestasi Hasan, termasuk menjadi pusat perhatian dari semua departemen. Padahal kita tahu kalau Hasan lah yang membuat strategi itu dan Lim yang meyakinkan semua agen untuk membantu.
__ADS_1
Namun, meskipun tahu akan hal itu Hasan tidak mempermasalahkannya. Justru dia senang bisa libur selama seminggu. Sedangkan kolonel Graham malah dihantui oleh tatapan tidak menyenangkan dari BB, Lim, Burn Shadow dan Kyle.
...***...
Hasan bersama keluarganya akhirnya tiba di rumah neneknya di pedalaman setelah 2 tahun mereka tidak bertemu. Neneknya, yang telah lama menanti kedatangan mereka, menyambut mereka dengan tangan terbuka. Wajahnya berseri-seri melihat cucunya yang sudah lama tak bertemu.
"Dari dulu nenek selalu merindukanmu, Nak," ucap nenek sambil mengusap lembut pipi Hasan. "Dan ini Siska, menantuku ya?" kata nenek dengan penuh kehangatan saat melihat Siska yang tersenyum lembut.
Siska menundukkan kepala dengan sopan. "Iya, Nenek. Saya istri Hasan dan ini Amara, cicit nenek yang baru lahir," ujar Siska dengan penuh kebahagiaan, sambil menunjukkan Amara yang tidur nyenyak di gendongannya.
Nenek tersenyum bangga. "Amara, ya? Namanya cantik sekali, sama seperti ibunya," ucap nenek sambil mengelus lembut kepala Amara. "Kalian berdua adalah harta berharga bagi Hasan, dan kalian adalah bagian dari keluarga kami sekarang."
Hasan tersenyum bahagia melihat interaksi antara nenek dan keluarganya. Dia merasa terharu melihat bagaimana nenek dengan penuh cinta menyambut Siska dan Amara sebagai anggota keluarga baru mereka. Semua beban dan kekhawatiran Hasan seolah lenyap begitu saja, digantikan dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang tak terkira.
Hasan tidak menyadari kalau neneknya pingsan di pertengahan cerita. Si nenek sampai syok mendengar betapa berbahayanya pekerjaan Hasan. Awalnya Siska dan ibunya pun begitu namun sekarang mereka sudah cukup terbiasa.
Disaat itulah neneknya memberi nasihat yang tidak akan pernah Hasan lupakan. Akan aku tuliskan dengan huruf tebal miring.
"Dulu nenek kehilangan kakekmu dalam sebuah pertempuran. Percaya tidak percaya nenek dulu pernah ikut berperang di suatu tempat yang amat jauh. Nenek tahu betapa menakutkannya medan perang itu,"
"Keadaannya sangat mengerikan, peluru dimana mana... mayat dimana mana, tikus berkeliaran di antara mayat, dan... kakekmu menjadi salah satunya yang terkapar di tanah."
"Nenek merasa ada kemiripan dengan Saska, kami sama-sama melahirkan di situasi yang buruk bedanya suaminya masih ada di sampingnya."
"Kekuatan dan kekuasaan itu seperti narkob*. Keduanya membuat orang kecanduan, berkhayal bisa melakukan apa saja, jangan sampai kamu jadi seperti itu Hasan. Keluarlah dari dunia itu jika kamu merasa sudah cukup mengumpulkan uang. Ingat kata nenek, jangan serakah!"
__ADS_1
Hasan hanya mengangguk dengan pandangan serius, kemudian masuk ke dalam rumah karena hujan mulai membasahi pelataran kayu rumah neneknya.
Setelah 6 hari, tiba saatnya untuk berpisah. Hasan merasa sulit untuk meninggalkan rumah neneknya. Namun, dia tahu kalau memperpanjang waktu cuti kolonel Graham akan marah besar.
Nenek tersenyum lembut sambil berkata, "Kembali lagi ke sini kapan pun kalian ingin berkumpul bersama nenek. Kalian selalu memiliki tempat di sini, di rumah nenek."
Hasan pun berjanji akan kembali setiap sesegera mungkin. Siska bertanya tidak bisakah Hasan mencarikan tempat tinggal untuk neneknya di kota. Hasan yakin tidak bisa, karena neneknya, ibu dari ibunya tidak menyukai suasana perkotaan. Nenek memiliki trauma berkelanjutan pasca berperang yang membuatnya terserang panik setiap kali berada di tempat yang banyak suara atau ribut.
"Biarkan saja nenekku disana. Dia pasti akan baik-baik saja." Ucap Hasan dengan senyum cerah. Dia meminta Siska tidak mengganggunya karena Hasan harus fokus mengendarai mobil.
...***...
Selain bertemu neneknya setelah 2 tahun tidak bertemu, Hasan juga bertemu kembali dengan Mary setelah sekian lama setelah ia resign dari BPOM.
Mary mengundang Hasan ke cafe milik iparnya untuk minum. Namun tujuan sebenarnya dia mengundang Hasan adalah untuk balas budi menggantikan sahabatnya Carol. Carol merasa uang saja tidak cukup untuk mengganti kebaikan Hasan karena itulah dia minta tolong Mary.
Nampaknya pengaruh Ren sangat kuat sampai orang-orang di sekitarnya ramai membalas budi baik secepat mungkin.
"Katakan saja apa yang kau inginkan, selama masih di dalam batas normal aku pasti akan mengabulkannya." Ucap Mary dengan senyum tipis.
Dipikiran Hasan langsung terbesit mengenai hal itu. Ini mungkin adalah satu satunya kesempatan dia bisa berangkat ke luar negeri dengan bebas tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun.
"Kalau begitu buatlah kontrak atasan dan bawahan selama 2 minggu. Lalu bawa aku ke Singapura dan Mesir. Ada barang yang harus aku cari di kedua negara tersebut." Ucap Hasan dengan mantap.
...***...
__ADS_1