
Hasan, Siska, dan Amara tiba di Singapura dengan penuh semangat. Mary Leadswan, bos mereka yang bersemangat untuk menjelajahi kota ini bersama keluarga Hasan, menyambut mereka dengan senyum ramah. Mereka berempat naik taksi menuju hotel mewah tempat mereka akan menginap.
Setibanya di hotel, mereka segera meletakkan barang bawaan dan bergegas menuju destinasi pertama mereka: Gardens by the Bay. Taman yang megah dengan berbagai macam tumbuhan eksotis dan struktur arsitektur futuristik ini berhasil mencuri perhatian Amara yang terkesiap melihat keindahan yang memukau.
"Siska, apakah Amara senang?" tanya Mary dengan wajah ceria.
Siska tersenyum bangga. "Iya, dia sepertinya sangat senang melihat keindahan taman ini," jawabnya.
Hasan melihat Amara yang gemas ingin menjangkau bunga-bunga indah di sekitarnya. Dia berjalan bersama keluarganya, mengabadikan momen-momen bahagia dengan kamera ponselnya.
Setelah menikmati keindahan taman, mereka melanjutkan petualangan mereka ke Universal Studios Singapore. Hasan dan Siska bergabung dengan Mary untuk menikmati atraksi yang menarik di taman bermain tersebut. Mereka tertawa riang saat bermain-main di roller coaster yang mengasyikkan dan mengekspresikan kekaguman saat menonton pertunjukan panggung yang spektakuler.
Ketika siang hari berubah menjadi senja, mereka bertolak ke Marina Bay Sands untuk menyaksikan pertunjukan cahaya yang ikonik. Siska dan Hasan duduk berdua di tepi kolam renang infinity dengan latar belakang pemandangan kota yang indah, sementara Mary dengan bahagia menggendong Amara di tangannya.
"Ini adalah momen yang luar biasa," ucap Hasan dengan suara lembut.
Siska mengangguk setuju. "Benar sekali, Hasan. Aku tidak pernah membayangkan bisa mengalami petualangan sehebat ini bersama Amara dan bosku yang baik hati."
Mary tersenyum lembut, "Aku senang bisa berbagi momen bahagia ini dengan kalian. Kalian adalah bagian dari keluarga besarku."
Hari yang indah berakhir dengan makan malam lezat di salah satu restoran khas Singapura. Mereka menikmati hidangan enak sambil berbincang-bincang tentang pengalaman luar biasa mereka di Singapura.
Ketika malam semakin larut, mereka kembali ke hotel.
Hasan dan Siska berbincang di vc, soal kesenangan mereka hari ini. Mary sangat senang bisa membalas jasa Hasan dengan liburan kualitas terbaik.
Hasan pun bertanya toko farfum rekomendasi yang ada di kota ini. Mary mengarahkan pertanyaan ke asisten barunya, pengganti Carol.
"Coba datangi toko Marsmellow di belakang restoran Mcdonald. Aku sudah mengirimkan sharelock nya." ucap asisten Mary.
__ADS_1
"Mau aku temani Hasan?"
"Tidak perlu, terima kasih untuk perhatianmu Mary."
Hasan dan Siska pergi tidur. Besok Hasan harus pergi pagi pagi sekali.
...***...
"Menurut peta yang diberikan Mary toko itu seharusnya ada disini?"
Hasan berjalan sambil memperhatikan peta di hp nya dengan seksama. Ikon panah menunjuk ke sebuah toko kecil yang di dalamnya terdapat ruang ke bawah tanah.
"Toko dengan jalan ke bawah tanah, untung saja aku bisa melihatnya dengan X-ray. Mungkin barang yang aku cari ada di bawah sana." gumam Hasan dalam hati Teorinya semakin liar.
"Permisi,"
Toko itu dimiliki seorang pria tua bernama Mello, dia adalah kolektor farfum sejak tahun 1950. Kecintaannya terhadap farfum dia buktikan dengan mendirikan toko yang menjual versi imitasi dari farfum yang sudah lama ditarik dari pasaran. Contohnya farfum beraroma lidah buaya.
Hasan menjauhkan farfum itu dan mencari farfum beraroma apel.
Pak Mello pun menunjukkan koleksi farfum buah racikannya. Penciuman Hasan menangkap aroma LP Trauma Apple. Bau farfum itu berasal dari sebuah kotak yang sengaja diletakkan di atas lampu kristal berbentuk bulat.
Untuk menghindari adanya pencuri farfum itu sengaja diletakkan di atas sana. Pak Mello terkejut Hasan bisa mencium baunya padahal farfum itu sudah sangat tua dan tidak seharum dahulu lagi.
"Tolong ambilkan yang itu,"
Pak Mello berjalan menaiki tangga sembari menatap Hasan yang tengah memperhatikan kotak di balik lampu.
Kotak itu berisi banyak foto kenang kenangan klub pemuja farfum yang dulu dibentuk oleh pak Mello. Namun sekarang mereka semua tinggal kenangan karena sebuah kecelakaan merenggut nyawa mereka. Hanya pak Mello yang selamat dari kecelakaan itu. Menyentuh kotak penuh itu membuat pak Mello mengingat kembali kenangan pahit di masa lalunya.
__ADS_1
Dengan berat hati dia membuka kotak itu. Terlihatlah setumpuk foto berukuran 3 x 4 cm dan disampingnya ada sebuah botol farfum yang isinya tinggal setengah.
Tidak salah lagi itu adalah LP Trauma Apple, walaupun tulisannya Gooun... apalah itu.
"Yang ini berapa harganya pak?" Tanya Hasan.
"Yang ini tidak dijual." pak Mello mengamankan kotak itu di pelukannya.
Hasan pun memutar otak, mencari cara membujuk orang tua itu. "Bagaimana kalau bapak jual setengah isinya kepada saya. Saya akan membelinya dengan harga 100 juta rupiah."
Hasan berusaha melakukan penipuan harga. Kalau dia tahu farfum itu punya kekuatan untuk mengalahkan efek gas afrodisiak yang kuat dia pasti akan meninggikan harganya dan itu sangat tidak ramah di dompet Crazh Rich kasta rendah seperti Hasan.
"100 juta hanya dapat 10 tetes."
Hasan terkejut mendengarnya, pak Mello sangat kikir.
"Di Indonesia uang 100 juta bisa bapak gunakan untuk bermalas malasan selama 1 bulan. Itu harga yang tidak adil untuk 10 tetes farfum. Aku hanya menginginkan farfum apel kualitas terbaik, kenapa anda melakukan penawaran yang kejam seperti ini?"
Pak Mello bercerita kalau farfum itu dia dapatkan dengan susah payah dari sebuah tambang di Mesir. Dalam perjalanan penuh bahaya itu pak Mello sampai kehilangan semua anggota klub nya. Cairan di dalam farfum itu berasal dari dasar sebuah sumur yang tampak sangat kotor. Karena kekotoran itulah pak Mello curiga kalau cairan yang sangat harum ini berasal dari endapan tanah dan mungkin, mayat para penjelajah.
Kenyataan bahwa yang membuat teman teman pak Mello gugur adalah jebakan gas afrodisiak yang sangat kuat membuat bulu kuduk Hasan berdiri. Gas afrodisiak yang ditemui pak Mello berasal dari bebatuan, itu artinya bersifat alami.
Gas afrodisiak itu menyebabkan kegilaan yang membuat teman teman pak Mello melakukan tindakan anarkis kepada dirinya sendiri sampai meninggal, seperti membenturkan kepala mereka ke celah batu tempat gas itu bertiup.
Pak Mello selamat karena dia terlambat masuk dan salah satu temannya melarangnya untuk masuk.
"Orang orang timur tengah menyebutnya harta langka afrodisiak. Kami tertarik mencarinya karena katanya baunya sangat harum. Saking harumnya kami sampai mengalami kegilaan, tidak berbeda dengan gas beracun. Aku lari menjauhi gas itu dan malah menemukan sumur kecil dengan aroma menyengat, disitulah aku mengambil air ini. Air dengan aroma yang mengutuk. Untung saja aromanya tidak sekuat dahulu." Pak Mello menceritakan kisahnya sambil sesekali menyeka air mata.
"Tapi bagaimana kau bisa bertahan dari aroma air itu?"
__ADS_1
"Karena saat mengambilnya aku sedang pilek dan demam. Tapi sebagai ketua klub aku tidak bisa membiarkan anggotaku pergi sendiri. Setelah kejadian itu aku disalahkan dan dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun. Tragis sekali kan? Obsesi kepada farfum mengantarkan kami kepada kematian dan sel penjara yang dingin."
...***...