
...***...
...***...
Usai mendapatkan sebotol farfum LP Trauma Apple Hasan pulang dengan wajah berseri-seri. Siska bertanya hal baik apa yang terjadi kepadanya di jalan.
"Apa yang kamu dapatkan sampai suka cita terlukiskan dengan jelas di wajahmu?" Tanya Siska dengan wajah senang mengikuti wajah cerah suaminya.
Hasan membuka penutup botol lalu memercikkan air ke tangannya. Seketika itu juga kamar mereka dipenuhi bau apel yang sangat harum.
"Kamu lihat ini! Inilah farfum yang selama ini aku cari!!"
Hasan berteriak sampai melompat lompat, Amara jadi terbangun karenanya. Hasan menutup bibir istrinya yang hendak marah, mengingatkannya kalau mereka hanya punya waktu 6 hari di Singapura, Hasan tidak mau waktu liburan ini terisi sedikit saja oleh pertengkaran mereka.
Siska merebut botol farfum dari tangan Hasan. Siska mengakui farfum itu sebagai wewangian paling dahsyat yang pernah dia hirup bahkan Siska tidak bisa melepaskan botol dari genggamannya.
Tujuan Hasan di Singapura sudah tercapai, dia tinggal menikmati waktu 5 hari liburan dibayarkan Mary. Destinasi berikutnya adalah Mesir, tempat asal LP Trauma Apple.
Hasan berencana mengambil farfum itu sebanyak banyaknya sebelum di klaim oleh orang lain.
...***...
Kembali ke beberapa jam yang lalu di Mesir.
"Lim, lihatlah," bisik Silverblade sambil menunjuk ke dinding reruntuhan yang tinggi di depan mereka. Wajahnya penuh ketegangan, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Lim menatap Silverblade dengan kening terangkat, mencoba mengerti maksud dari panduan diam-diam tersebut. Namun, sebelum ia bisa bertanya, Silverblade dengan cermat menarik keluar sebuah perangkat khusus yang terpasang pada manuver gearnya.
"Dengan bantuan kawat ini, kamu bisa mendaki dinding tersebut dengan lebih cepat dan efisien," ujar Silverblade sambil menunjukkan kawat yang terjalin rapi pada perangkat tersebut.
Lim memandang perangkat itu dengan kekaguman. "Jadi, bagaimana caranya?" tanyanya penuh antusiasme.
__ADS_1
"Kamu cukup menembakkan kawat itu ke dinding dan mengaktifkan manuver gearmu," jawab Silverblade, "Kawat tersebut akan berfungsi seperti tali gunung, membantu kamu mendaki dengan lebih mudah."
Lim tersenyum, menyadari betapa briliannya rencana Silverblade. "Terima kasih, Silverblade. Aku akan mencobanya," ucapnya semangat.
Dengan sigap, Lim menembakkan kawat dari manuver gearnya ke dinding reruntuhan. Setelah memastikan bahwa kawat telah terpasang dengan baik, ia mengaktifkan manuver gearnya dan seketika itu juga, ia mulai mendaki dengan lincah seperti seorang pemanjat ahli.
Silverblade melihat dengan bangga bagaimana Lim berhasil mendaki dinding reruntuhan dengan bantuan kawat itu. Dengan cermat, ia mengikuti langkah-langkahnya dan segera menyusul ke atas.
Saat mereka mencapai puncak dinding, pemandangan di depan mereka benar-benar menakjubkan. Mereka dapat melihat pemandangan indah dari reruntuhan kota kuno Ramesh yang tersebar di bawah mereka. Semangat petualangan semakin membara, dan mereka merasa semakin dekat dengan misteri sumur kuno yang mereka cari.
Lim berinisiatif naik ke tempat yang lebih tinggi. Namun, kawat yang dia gunakan lepas menjatuhkannya dari ketinggian 12 meter. Silverblade dengan indera pendengarannya yang tajam berhasil mengantisipasi kecelakaan dan menangkap Lim dengan dua tangan.
"Bagaimana kau bisa jatuh?" Tanya Silverblade dengan kekhawatiran yang samar.
"Ujung kawatnya tiba-tiba lepas. Terima kasih Silverblade."
Silverblade memiliki kemampuan spesial pendengaran yang sangat tajam. Dia tahu kalau ada orang yang berjalan mengendap endap ke dekat mereka, kemungkinan suara itu berasal dari bawah.
Silverblade yang merasa terbebani meminta Lim untuk diam di tempat itu sementara dia akan mengurus para penjaga yang berpatroli. Namun Lim tidak mau, dia bersikeras ingin membantu karena kolonel Graham menunjuknya bukan untuk menjadi penonton.
Silverblade menggunakan jabatan untuk mengatur Lim akhirnya, pada akhirnya Lim ditugaskan untuk mengawasi sekitar.
Di atas tumpukan batu yang paling tinggi Lim mengawasi dengan sedikit perasaan takut akan ketinggian. Dia memiliki teropong dan alat komunikasi untuk memberitahu Silverblade jika ada yang mendekatinya.
Reruntuhan itu berbentuk lingkaran dengan tembok besar marmer setinggi 30 meter sebagai pembatas pelindung dari dunia luar. Lim berada di ketinggian 25 meter, tidak ada batu yang lebih tinggi selain itu, sehingga memudahkannya melihat kesana kemari.
Lim tidak senang dengan ide ini karena posisinya sangat rawan diserang oleh musuh. Yang membebani pikiran Lim saat ini adalah identitas orang-orang yang menghalangi mereka. Silverblade menganggap mereka musuh tanpa bukti yang jelas. Namun karena mereka memasuki tempat itu tanpa izin tidak ada salahnya mempercayai Silverblade.
"...arah jam 3 ada dua orang yang berjalan ke arahmu Blade," ucap Lim ke alat komunikasi.
Silverblade tidak tahu apa yang dia cari di tempat itu, ditambah lagi para pengawas datang sirih berganti setiap 30 menit. Setelah 30 menit datang satpam pengganti berjumlah 2 orang. Yang harus diwaspadai dari mereka adalah Hand gun yang tersarung di pinggang mereka.
__ADS_1
...***...
Tanpa kenal lelah Silverblade dan Lim mencari ke setiap sudut kota kuno sambil menghindari tangkapan penjaga. Lim sudah turun dari tumpukan batu. Disaat malam hari mereka membuat tenda sederhana tanpa penerangan. Sebagai gantinya mereka menggunakan lilin redup yang cahaya tidak sampai melewati tubuh mereka.
"Bagaimana kalau ada penjaga yang melihat cahaya api ini?"
"Jangan khawatir Lim. Ada rumor soal komplotan penjarah di area ini. Area paling dalam ketiga yang merupakan lapisan terluar kota kuno. Penjaga tidak punya keberanian memasuki wilayah ini karena ada penjarah. Dan para penjarah tidak berani masuk ke area yang lebih dalam karena penjagaan disana lebih ketat. Bahkan Burn Shadow yang maha tahu tidak tahu bagaimana sejarah Three Kingdom bisa diaplikasikan di tempat ini oleh penjaga dan penjarah."
Lim memutuskan untuk tidur setelah diperintah oleh Silverblade. Sedangkan Silverblade akan menjaga Lim. 4 jam setelahnya Silverblade membangunkan Lim, ini saatnya untuk berganti shift jaga.
Saat Silverblade membalikkan pandangannya sebuah peluru bius dengan dosis kuat melesat menembus kulit kakinya.
Silverblade yang terkejut lantas berteriak di telinga Lim. "Bangun!!!! Kita diserang!!!"
Lim terpelanjat dan bangkit berdiri tapi sudah terlambat, Silverblade sudah pingsan. Tapi jari telunjuknya memberi Lim kode untuk kabur.
Lim pun meninggalkan Silverblade karena mengira kaptennya itu hanya berpura-pura pingsan. Namun setelah Lim berhasil lari dan sembunyi dia baru sadar kalau Silverblade benar-benar kehilangan kesadarannya.
Lim segera menghubungi kolonelnya. Sang kolonel memerintahkan Lim untuk menyelamatkan Silverblade dengan metodenya sendiri.
"Anggaplah ini sebagai ujian Lim. Sudah lama kau tidak menjalankan misi sendiri kan?"
[Iya kolonel Graham, saya akan menolong kapten Silverblade.]
Terdengar keraguan di suara Lim. Gadis itu sudah lama menjadi anggota DKK tapi dia memiliki masalah pelik. Dia tidak bisa berinisiatif sendiri saat sedang panik.
"Tenanglah Lim. Tenang dan pikirkan jalan keluarnya. Hanya kau yang bisa menolong Silverblade."
"Lim..??"
Lim mematikan teleponnya karena takut di dengar oleh penjaga.
__ADS_1
...***...