A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
32. Misteri teriakan anak kecil di Mall tua


__ADS_3

"Pak Naryono punya pistol kan?"


Hasan menggelengkan kepala menanggapi sikap pengecut pak Pink Man.


Kebetulan di luar hujan deras, suasana makin seram, Hasan tidak peduli dan mematikan x-ray nya.


Pak Naryono melihat seseorang melambaikan tangan dari lantai 2 mall, kemungkinan dia adalah pemilik alfamart yang melapor.


"Apa dia...?"


"Berhubungan kita tidak menemukan orang lain jadi kita hampiri saja dia." Kata pak Naryono bijaksana.


Wanita yang melambaikan tangan adalah si pelapor. Dia mengajak petugas BPOM ke rumahnya yang berada di salah satu toko yang tutup.


Hasan sangat menyukai rumah si wanita, ruangan yang seharusnya diisi oleh pedagang itu terletak di lantai 2 mall berukuran 3 x 2,5 meter. Si wanita meletakkan perabotan rumah di dalamnya dan mengunci troll depan dengan rantai yang dikaitkan di troll dan di tanah.


"rumah sementara yang bagus. Tapi apa ini legal?" Tanya Hasan.


"tentu saja tidak. Kami ini gelandangan. Kami berjualan di siang hari dan tidur disini pada malam hari." Kata si wanita sembari meletakkan teko berisi teh dan beberapa gelas kaca untuk minum tamu.


Hasan duduk di lantai yang beralaskan tikar, rasanya tidak seburuk kelihatannya.


Setelah menyeduh teh wanita itu memperkenalkan dirinya.


"Terima kasih sudah mau datang bapak-bapak BPOM, saya Khairun, saya mau melaporkan salah satu penjual di lantai 1. Mereka... "


Mbak Khairun tampak ragu-ragu melanjutkan perkataannya.


"Saya pernah mendengar suara anak-anak menangis dan berteriak di dalam warung mereka saat malam. Mulanya saya menduga itu suara keponakan mereka atau keluarga mereka karena mereka bertiga tidak ada yang memiliki anak. Tapi suatu hari saya mencium bau amis dan ada noda darah. Saya takut."


Pak Naryono memberi isyarat kepada Hasan dan Pink Man untuk diam.


"Jadi mbak Khairun curiga terjadi pembunuhan terhadap anak kecil di warung itu?"


Hasan menatap pak Naryono dengan bingung. Dia menyimpulkan kasus seberat itu berdasarkan kesaksian tanpa bukti dari satu orang.


"Tidak, bukan seperti itu! Saya yakin tidak seperti itu. Tapi karena saya takut, saya jadi butuh bantuan bapak-bapak untuk menyelidikinya." Tutur mbak Khairun.

__ADS_1


"Kenapa tidak melapor ke polisi langsung? Kasus pembunuhan tidak masuk daftar layanan kami." Tanya Hasan dengan kecurigaan mengarah pada mbak Khairun.


Mbak Khairun menarik nafas panjang, lalu menunjukkan wajah memeras. Aktingnya semakin meyakinkan saat mbak Khairun menurunkan pandangannya ke tanah.


"Sebenarnya... saya tidak berani memanggil polisi. Saya takut ditangkap karena menempati bilik ini tanpa izin. Soalnya, eng.. mall ini tidak dimiliki oleh siapapun."


"Tempat antah berantah seperti ini memang rawan terjadi kejahatan. Saat kami melaporkan apa yang terjadi disini mbak Khairun pasti akan viral. Apa bedanya itu dengan melapor ke polisi?"


"Kalau begitu jangan viralkan. Cukup bantu saya saja kemudian bapak-bapak bisa pulang tanpa harus melaporkan kejadian ini. Saya mohon, saya sangat takut. Akan saya bayar berapapun asal kebenaran terungkap."


Pink Man bertugas sebagai notulen. Dia menuliskan untuk mbak Khairun salah satunya adalah pindah dari tempat menyeramkan ini.


Hasan dan Pink Man pun dikirim untuk mencek keadaan di kedai itu. Dengan hidungnya Hasan pasti bisa menemukan sesuatu.


Hasan pergi dengan percaya diri sementara Pink Man yang takut berjalan di belakangnya.


Sesampainya di warung yang ditunjukkan mbak Khairun dari atas Hasan pun segera menyalakan x-ray.


Suara tamparan Hasan didengar oleh pemilik kedai yang sedang tidur, tapi karena dilanda ngantuk yang luar biasa si pemilik warung pun tidak memeriksanya.


"Kenapa dia memukul wajahnya sendiri seperti itu?" Tanya Khairun ke pak Naryono.


Hasan mendekat ke depan troll yang tertutup, terlihat ada 3 orang sedang tertidur pulas di dalam warung. Terlihat juga seember ikan teri dan sebuah karung yang nampaknya berisi beras atau gandum.


Hasan mengitari tempat itu ke lorong belakang warung.


Keanehan yang dia temukan hanya satu yaitu ada panci yang dibiarkan menguap di depan ketiga orang itu. Saat melihat air yang tumpah berwarna merah Hasan langsung berlari ke depan warung dan membuat keributan untuk membangunkan ketiga orang itu.


"Buka pintunya!!"


Hasan menendang bagian depan dengan kuat.


Nampak di x-ray ketiga orang itu bangun lalu dengan tergesa-gesa menyingkirkan panci yang masih sangat merah membara.


Cara mereka menyembunyikan panci itu agak unik. Mereka memasukannya ke dalam dinding semen lalu ditutup dengan kursi berlapis kain.


"Jackpot!"

__ADS_1


Trolling dibuka dan orang-orang itu terkejut melihat Hasan si detektif bau.


"Smell Detective kan?"


Hasan langsung masuk ke dalam, dia cukup percaya diri menghadapi 3 orang sekaligus. Pink Man mencegah satu orang yang mendekati trolling. Menahan trolling agar tidak tertutup.


"Kami mendapatkan laporan kalau di malam hari terdengar suara anak kecil menangis dan berteriak dari tempat ini. Lalu tadi aku melihat kalian memasak panci yang di dalamnya terdapat cairan berwarna merah pekat. Sekarang tunjukkan dimana kalian menyembunyikan panci itu!"


Ketiga orang itu saling tatap mereka meminta waktu berunding semenit. Hasann mengizinkan karena mereka belum terbukti melakukan kejahatan.


Ketiga orang itu pun menunjukkan panci yang mereka sembunyikan di dinding.


"Kenapa kalian punya tempat persembunyian panci di dinding?" tanya Pink Man tidak ingin hanya menjadi penonton.


"Kebetulan saja dinding ini berlubang." Sahut salah seorang yang berotot. Dia tidak menyukai Pink Man yang menatapnya dengan tajam.


Dengan cerdik salah seorang di antara mereka membawa panci itu keluar lalu menumpahkannya ke lantai.


"Awalnya kami ingin makan sup darah sapi, tapi saat kalian datang selera makan kami jadi hilang. Itulah yang kami rundingkan barusan. Apa yang harus kami lakukan pada sup ini, dan kami memilih untuk membuangnya."


Hasan menunduk untuk mengamati sup darah itu lebih jelas.


"Kau memasak darah sapi mentah mentah tanpa lauk atau rempah rempah lainnya? Benarkah? Aku tidak percaya ada orang yang mau makan itu."


"Kami juga heran mengapa kami tidak mendapatkan daging kurban, padahal nama kami sudah tercatat di rukun rt. Sudah 3 tahun kami tidak kebagian daging kurban."


Sup darah habis ditumpah. 


Sebuah tali menjerat leher Hasan dan Pink Man.


Si pria melanjutkan perkataannya.


"Karena marah pada ketua rt setempat kami pun menculik anaknya dan menjadikannya daging giring."


Si pria membongkar kejahatannya secara langsung. Darah yang ada di dalam panci adalah darah manusia tepatnya anak pak rt dalam ceritanya.


Dua pria lainnya mencekik Hasan dan Pink Man dengan seutas tali yang sangat kuat. Karena posisi kedua petugas itu sedang di bawah mereka pun tidak bisa bangun apalagi melawan.

__ADS_1


Mata Hasan mulai redup, sebentar lagi dia akan kehilangan kesadaran.


***


__ADS_2