A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
35. Penyelidikan tahap awal


__ADS_3

"Excuse me, what?! Anda tidak lupa tujuan kita datang kesini kan? Pak Naryono?"


Hasan menepuk dahinya saat pak Naryono meneriakkan nama wanita itu dan berlari menghampirinya.


"Kalau seperti ini kita tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat." Hasan menatap pak Naryono dengan frustasi.


Tanpa sepengetahuan Hasan, Pink Man yang berada di sampingnya dijahili oleh para abk.


Wajahnya ditutup dan mulutnya disumpal, Pink Man diganggu oleh anak-anak nakal yang sedikit kasar.


Hasan yang melihat temannya diperebutkan seperti pisang pun langsung ikut menariknya.


"Orang-orang ini seperti monyet. Kau tidak apa-apa sobat?"


Hasan membuka penutup wajah Pink Man.


"Gak papa."


Hasan dan Pink Man saling tatap lalu kabur ke samping pak Naryono.


"Kenapa kalian ini?! Kalian lari dari apa?"


"Para abk disitu mainnya kasar pak. Masa Pink Man dibekap pakai kain hitam."


"Maaf mas, itu AA saya." Kata wanita berkemeja putih.


"AA?"


"Anak asuh."


"Saya minta maaf mewakili mereka,"


Wanita itu sangat cantik, rambutnya kuncir kuda, kulitnya bersih, putih, dan lembut. Benar-benar seperti kembang desa di film film, tapi kebanyakan film yang Hasan jadikan referensi adalah film horor yang kembang desanya berakhir mati di G******g.


"Hasan, Arif, kenalkan ini Nina keponakan saya."


"Tadi bapak bilang keponakan yang sudah lama kabur? Memang mbak kabur karena apa?" Hasan bertanya pada Nina.


Nina sedikit melotot ke pak Naryono.


"Itu kejadian 5 tahun yang lalu. Karena suatu masalah dalam keluarga saya memutuskan untuk kabur dari rumah, begitu." Nina menjelaskan garis besarnya saja.

__ADS_1


"Kami sedang mencari pelapor kasus nugget bau. Apa ada yang melangsungkan hajatan hari ini atau kemarin?" (Pak Naryono)


"Ada ada, tapi orangnya sudah meninggal,"


Mata Hasan, Pink Man, dan pak Naryono membulat sempurna mendengar si pelapor sudah meninggal. Mereka memiliki alasan terkejutnya masing masing.


Hasan berkabung atas kepergian si pelapor.


Pink Man hanya terkejut.


Sementara pak Naryono berpikir lebih dalam. "Mungkinkah si pelapor meninggal karena nugget yang dimakannya? Kalau iya, berarti ini saatnya live streaming Smell Detective." Batin pak Naryono.


Dengan diantar oleh Nina, tim Rotten Food langsung bergerak ke rumah mendiang, dimana disana masih banyak keluarga mendiang.


Hasan disuruh mendatangi ke rumah mereka karena dia yang paling good looking. Hasan pun mau melakukannya.


Hasan menunduk saat lewat di depan bapak-bapak yang duduk di kursi plastik, tidak lupa Hasan menyalami mereka satu persatu dan memasang senyum ramah.


Lucunya semua warga disini itu autis. Walaupun mereka duduk di kursi plastik seperti orang normal mereka tetaplah orang-orang spesial yang entah kenapa memiliki yang mirip walaupun tidak sedarah. Karena itu juga Hasan tidak jadi bertanya dimana keluarga korban.


"Permisi,"


Hasan menghampiri beberapa perempuan berhijab di depan pintu.


Salah satu dari 3 wanita yang tampak normal itu tiba-tiba menangis, wanita yang lain memberitahu Hasan kalau Bagas Hartono sudah meninggal.


"Beliau meninggal siang lalu karena keracunan makanan. Kalau tidak salah bapak ini petugas BPOM yang terkenal di Banjarmasin kan?"


Hasan tersenyum tipis sebelum membenarkan pertanyaan si wanita.


Tanpa disangka kedua wanita itu meminta berfoto dengan dirinya.


Hasan mengajak mereka ke tempat yang agak jauh, sekitar 20 meter dari rumah mendiang supaya tidak mengganggu mereka yang sedang berkabung.


Karena Hasan malah berfoto dengan gadis gadis, pak Naryono pun segera menghampirinya dan memintanya untuk fokus. Setelah kedua gadis tadi pergi pak Naryono mengajak Hasan ke rumah penjual nugget.


"Tugas utama kita adalah memeriksa kesegaran dan kelayakan konsumsi suatu produk. Aku curiga pria itu keracunan makanan."


"Kau terlalu parno pak, tidak semua orang mati karena racun. Tapi yang anda ucapkan juga belum tentu salah. Oh ya dimana Pink Man?"


"Dia sedang menemui ketua rt setempat untuk meminta izin menginap. Karena setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih jauh lagi."

__ADS_1


Hasan memiliki ide untuk menjadikan perjalanannya ini sebagai konten. Laporan mereka soal 3 kasus yang sangat memakan waktu dan tenaga untuk menyelesaikannya ini akan sangat cocok dijadikan konten. Misal outline nya, 3 kasus yang membuat detektif bau kalang kabut. Outline itu sangat cocok dengan kasus yang pertama yaitu kasus mengerikan di mall, dan sekarang misteri nugget berbau kalut di kampung abk.


Imajinasi Hasan semakin meliar, ide ide di kepalanya bertambah absurd sampai tidak sadar dia terkena jebakan kelinci yang sama dengan Pink Man.


Sepatu dan kaki celana Hasan pun menjadi sangat kotor, mereka bertemu lagi dengan Nina yang ingin pergi ke mushola karena adzan maghrib sudah berkumandang.


"Ehh om Yono, mau kemana senja begini?


"Mau ke rumah penjual nugget Nin, katanya rumahnya ada di ujung perumahan ini. Kenapa selalu di ujung sih?" Pak Naryono mendengus kesal.


"Mau aku beritahu jalan pintas ke rumah penjual itu?" Nina menawarkan solusi, Hasan menerima solusi apapun.


"Bagaimana caranya mbak Nina?"


Nina berjalan melewati mereka lalu membuka sebuah pagar penutup jalan pintas di tengah sawah padi.


"Lewat sini, jalannya agak licin jadi sebaiknya kalian hati-hati." Tutur Nina.


"Kemana kami harus pergi setelah melewati sawah ini?" Tanya Hasan.


"Sebenarnya rumah yang kalian cari bisa dilihat dari sini. Itu rumahnya, yang berpagar hijau paling ujung sebelah kanan."


Hasan mencari ke arah yang ditunjuk Siska, dilihat memang dekat tapi kalau mereka mengambil jalan awal yaitu memutari sawah akan sangat jauh. Karena waktu mereka sempit dikarenakan hari yang mulai malam pak Naryono pun mengirimkan sharelock lokasi mereka ke Pink Man lalu mengambil jalan pintas yang licin itu.


Beberapa kali pak Naryono hampir terpeleset, pak Naryono heran saat melihat Hasan berjalan dengan tenang padahal kakinya tidak bisa tidak bisa diam.


"Aku berlatih teknik berjalan saat latihan silat dan karate dulu. Mereka juga mengajarkan caranya berjalan di permukaan yang licin." Terang Hasan.


Akhirnya Hasan sampai lebih dulu di rumah tersebut meninggalkan pak Naryono yang masih berada di tengah sawah.


"Cih! Harusnya aku tidak lewat sini."


Sayang seribu sayang, pak Naryono gagal mempertahankan keseimbangannya dan berakhir terpeleset. 


Wajahnya mencium lumpur hitam, Hasan yang berada di seberang tidak kuasa menahan tawa. 


Karena geram dengan keputusannya sendiri akhirnya pak Naryono melepas sepatunya dan mulai mendaki jalanan yang licin itu.


Pak Naryono berbalik arah ke belakang. Memang tidak seharusnya pak Naryono datang ke rumah orang dengan pakaian kotor, karena itulah pak Naryono menyerahkan tugas itu pada Hasan.


Hasan membunyikan bel, pemilik rumah pun keluar dengan sebuah pisau daging di tangan kirinya.

__ADS_1


***


__ADS_2