
Seminggu kemudian tanpa ba bi bu Hasan langsung diterjunkan ke lapangan di bawah pengawasan agen Lim.
Di hari pertama ini mereka ditugaskan ke sebuah pasar lokal.
Atasan yang memberikan perintah ini tidak berwujud. Dia hanya memberi perintah lewat telepon itu pun suaranya disamarkan. Hasan bahkan belum diberitahu berapa gaji yang akan dia terima, apa risiko pekerjaan ini, berapa lama waktu kerjanya sehari, dan hal hal lainnya yang seharusnya diberitahukan oleh pihak penyedia pekerjaan.
"Apa yang akan kita lakukan disini Lim?" Tanya Hasan.
"Berpatroli. Ini adalah daerah rawan pencopetan. Tugas kita adalah menangkap penjahat dan mengadilinya di tempat. Itulah tugas departemen kepolisian khusus."
"Aku masih tidak mengerti Lim?" Hasan menatap Lim dengan serius.
"Nanti kau akan mengetahuinya sendiri. Intinya sekarang kau adalah penegak hukum dengan keleluasaan bertindak selama tidak membunuh pelaku."
Lim berjalan ke lapak pedagang sayur lalu memberi beberapa tomat. Tomat itu dia masukkan ke dalam kantong plastik lalu dia gantung di pinggangnya.
Hasan mulai memahami tugasnya disini. Dia adalah petugas kepolisian yang menyamar untuk menjaga keamanan pasar. Yang tidak dipahami Hasan dari ucapan Lim sebelumnya adalah keleluasaan bertindak itu.
Hasan menyalakan X-ray nya, beruntung sekali dia melihat aksi pemalakan yang dilakukan dua orang pria kepada seorang wanita di dalam gang buntu yang berjarak 20 meter dari tempatnya berdiri saat ini.
"Lim!!"
Hasan bingung bagaimana memberitahu Lim soal wanita itu. Dia tidak bisa bilang matanya memiliki mode X-ray.
"Aku mendengar teriakan wanita dari gang sebelah situ! Sepertinya dia meminta pertolongan. Tolong! Aku di palak! Katanya." Hasan memperagakan suara yang sebenarnya tidak ada.
"Benarkah? Kok aku tidak mendengar apa apa?" Lim menggaruk pipinya."
Hasan menarik tangan Lim dan berlari ke gang tempat wanita itu di tahan.
Berkat penglihatan X-ray Hasan bisa menemukan jalan tercepat ke gang buntu itu dan memergoki mereka yang sedang meraba raba badan si wanita.
"Hei! Lepaskan dia!!" Teriak Hasan pada para pemalak yang ternyata adalah sekelompok begal.
Lim terkejut apa yang dikatakan Hasan benar. Gang itu terpencil sehingga sangat aneh Hasan bisa menemukan jalannya masuknya.
Agen Hall Fame itu aneh. Dalam pikiran Lim.
"Lu bilang apa tadi? Ulangin berani gak?" Tantang si begal dengan sorot mata tajam.
Keringat Hasan bercucuran ketika menyadari dirinya tidak bersenjata sedangkan lawannya memegang pisau di salah satu tangan mereka.
Harapan Hasan sekarang terletak pada Lim. Sebagai agen Departemen Kepolisian Khusus seharusnya dia mendapat pelatihan untuk melawan orang-orang seperti ini.
"Agen Lilipad, apa kau bisa melawan mereka?" Tanya Hasan dengan gugup.
"Tentu saja bisa agen Hall Fame. Kita tidak perlu minta bantuan warga kalau lawannya hanya 3 cecunguk ini." Sahut Lim alias Lilipad.
Para begal itu menyebut Hasan dan Lim sebagai dua orang aneh sok bernyali. Mereka tertarik pada Lim yang memiliki wajah gadis korea asli. Namun mereka malah menyebut Lim sebagai artis film JAV.
__ADS_1
"Cewek yang disana! Kamu manis banget kaya artis ***** jepang favoritku. Mau nyobain ***** gue gak? Hahahahaa...!!!"
"Kekerasan seksual verbal, apa kalian juga melakukan hal itu pada mbak yang disana? Kalau iya maka kalian akan terjerat pasal berlapis."
Mereka bertiga meninggalkan si wanita dan berjalan mendekati Hasan dan Lim.
"Akan aku hadapi 1 orang. Kau bisa menghadapi 2 orang kan? Silverblade saja mampu membuat orang babak belur hanya dengan satu tangan."
"..."
"...mundurlah Hall Fame. Akan aku urus mereka."
Saat Lim mengatakan itu satu orang begal sudah tumbang dengan keadaan tangan tertusuk pisaunya sendiri.
Kejadiannya sangat cepat mungkin hanya 3 detik sebelum Hasan menoleh tadi.
"Arrrgghhh...!!!"
Lim menyerang dua begal lainnya dari depan.
Dengan mudahnya dia menghindari 2 pisau yang datang dari arah yang sama.
"Cewek ini gesit banget!!!"
Lim mendaratkan tendangan keras ke dagu lawannya. Tidak cukup hanya menendang, Lim bahkan menggunakan tangan orang itu sebagai tameng sehingga pisau begal satunya menancap di tangan begal itu.
Lim menendang burung pria yang menusuk lengan kawannya.
"Hentikan Lim! Kita sudah menangkap mereka!!" Seru Hasan ketika melihat kebrutalan Lim. Masalahnya mereka berada di tengah permukiman penduduk.
Lim memalingkan wajahnya yang kini tidak lagi tersenyum pada Hasan. Cipratan darah di pipinya membuatnya tampak menakutkan.
Disaat dua begal lainnya sekarat di tangan Lim, begal pertama yang tertusuk pisaunya sendiri berhasil lari dari tempat itu.
Lim yang melihat satu orang kabur segera mengambil kantong plastik berisi tomat lalu melemparnya ke udara.
Plop! Kantong plastik itu mendarat tepat di kepala si begal.
Warga yang datang berusaha menghalau si begal tapi tidak berani karena dia mengayunkan pisaunya.
"Kejar dia agen Hall Fame! Gunakan indera penciuman tajammu untuk melacak bau tomat busuk yang aku lemparkan ke kepalanya."
Hasan pun segera mengejar orang itu.
Jarak X-ray nya 50 meter sedangkan pria itu berada di jarak 42 meter darinya. Pria itu semakin jauh berlari sementara Hasan tertinggal di belakang dengan nafas yang hampir habis.
Begal itu keluar dari jalan raya.
Saat dia menyeberang jalan Hasan melakukan trik licik padanya. Hasan berteriak kalau ada sebuah truk yang akan menabraknya dari arah kiri jika dia terus berlari.
__ADS_1
Untuk lebih meyakinkan Hasan menoleh ke kanan kiri.
Begal itu sudah keluar dari jangkauan X-ray, namun sekarang dia berada di tengah penyeberangan jalan dan tidak bisa kemana mana.
"Kembali kesini begal sialan!!"
Teriakan Hasan memancing perhatian publik yang kemudian ikut mengejar si begal.
Pergantian dari lampu hijau ke lampu merah tinggal 8 detik lagi.
Hasan dan begal sama sama tidak bisa maju.
Begal itu pun lari diatas trotoal pembatas lalu menyeberang jalan saat arus kendaraan mulai menipis.
Namun pelariannya tidak berlangsung lama, karena begal itu masuk ke gang yang sangat banyak bapak bapak pemberaninya. Alhasil dia pun tertangkap dan diinjak injak oleh sekelompok bapak bapak gemuk yang sedang ngobrol cantik di depan rumah.
"Senang bisa membantu bapak, bapak ini polisi yang lagi menyamar kan?"
"Iya," Jawab Hasan apa adanya dengan senyum tipis.
"Terima kasih atas bantuannya, nanti kalau ada waktu saya akan singgah ke sini untuk ikut ngopi bareng, hahahahaa.. " Jiwa bapak bapak gaul Hasan meronta ronta melihat circle bapak bapak ini.
Begal itu pun diikat dan tangannya yang terluka dibalut dengan perban.
Tali rapia dengan simpul ikat mati dibuat Hasan khusus untuk penyiksa si begal.
Tak lama Lim datang dengan tangan dan wajah yang sudah bersih dari darah.
"Mana 2 begal tadi?" Tanya Hasan sambil memicingkan mata pada Lim.
"Sudah aku serahkan pada warga, yang satu itu juga serahkan saja pada para polisi donat disana." Kata Lim dengan mata berbinar.
Ketiga pembegal itu pun berhasil diringkus tanpa ada yang terluka. Hasan menganggap Lim lah yang mengalahkan mereka semua dan kontribusinya hanya menangkap yang sudah terluka. Lim mengalahkan 3 penjahat dengan pisau dengan no diff, alias tanpa menerima luka sedikit pun.
"Sialan! Kalau tahu akan turun langsung menghadapi penjahat seperti ini, lebih baik aku tetap di BPOM. Sikap mereka yang tidak menjelaskan apapun juga salah satu faktor mengapa aku tidak terlalu menyukai pekerjaan ini!"
Saat Hasan melampiaskan unek unek bercampur kekecewaan di dalam hati, Lim datang dan mengajaknya bicara di tempat sepi.
"Ayo ikut aku sebentar. Kau pasti bingung karena tidak diberitahu apapun tentang pekerjaan ini dari Silverblade. Aku akan menjelaskannya padamu di tempat yang sepi."
Hasan dan Lim memilih lokasi kejadian pembegalan tadi sebagai tempat untuk berbagi cerita.
"Hal pertama yang perlu kau tahu adalah melawan begal merupakan pekerjaan dengan penghasilan terendah dalam hierarki departemen. Akan aku jelaskan tugasmu dahulu baru ke hierarki penugasan departemen."
***
.................................................................................
Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.
__ADS_1
Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁
.................................................................................