
Hasan datang ke kantor dengan raut muka masam.
"Dengan segala hormat bos, saya tidak ingin ada divisi penyiaran. Saya bisa mengurus channel youtube saya sendiri."
Hasan berbicara langsung dengan bos nya.
"Mohon maaf pak Hasan. Apa tadi anda bilang? Jangan lupa kalau nama BPOM lah yang membuat channel kamu jadi terkenal sejak awal. Saya tidak akan menerima komplain apapun dari kamu!"
Hasan menjadi sangat dengan si bos. Dia sadar kalau yang dikatakan bos nya itu benar. Tapi dari awal membuat akun youtube adalah idenya.
"Jadi aku bilang padanya, aku tidak mau divisi penyiaran, tapi pak bos malah bilang tidak akan menerima komplain apapun dariku. Kalau begitu pembagian lima puluh persenku bisa menurun drastis." Hasan curhat ke Hajeera yang kini sudah menjadi pegawai senior.
"Apa susahnya? Tingkatkan lagi kualitas video mu. Aku lihat ada banyak elemen yang bisa ditambahkan ke dalam kontenmu, seperti animasi, dan lain sebagainya. Tapi ada kemungkinan penonton tidak senang dengan hal itu, karena channel Smell Detective adalah channel formal." Tutur Hajeera.
"Aku paham maksudmu, perubahan besar pada channel misalnya cara penyampaianku, bisa berakibat menurunnya jumlah viewer. Setahuku juga, yang menonton channel ku kebanyakan adalah orang berumur 25 tahun ke atas."
Data itu diambil dari statistik akun.
Dikala Hasan dan Hajeera sedang serius membahas pengembangan konten, Siska justru tengah dilanda cemburu buta.
"Kamu terlalu dekat sama dia Hasan." Batin Siska.
Tanpa pikir panjang Siska pun duduk di tengah antara suaminya dan Hajeera.
Siska menawarkan bantuan pada Hasan.
"Kalau ada yang bisa aku bantu katakan saja." Ucapnya dengan senyum percaya diri.
"Tidak, kamu tidak akan bisa membantu. Selain itu pekerjaan menulis script lebih berat daripada kelihatannya aku khawatir terjadi sesuatu pada kandungan kamu."
Siska buru-buru menutup mulut Hasan. Sayang seribu sayang Hajeera sudah mendengarnya.
"Jadi mbak Siska sedang hamil! Hei semuanya!! Mbak Siska sedang hamil!!!"
Pink Man terbatuk saat minum. Para pegawai wanita bergegas meninggalkan pekerjaan mereka dan menggerumbungi mbak Siska.
Terlihat perut mbak Siska belum membesar. Hasan sendiri heran mengapa perut istrinya belum ada perkembangan padahal sudah hampir 2 bulan sejak mereka menikah.
Hasan pun langsung teringat perkataan mendiang neneknya.
"Apabila jabang bayi tidak diinginkan oleh ibunya, maka janin itu akan bersembunyi supaya perut ibunya tidak membesar."
Mungkin itulah yang terjadi pada istrinya sekarang.
__ADS_1
Hajeera melirik Hasan yang menatap tajam ke ubun ubun Siska.
"Berapa usianya mbak Siska?."
"1 bulan." Jawab Siska.
"Wahh cepet banget buatnya. Gak khawatir berat badan bertambah setelah melahirkan?"
Mulai merasa tidak nyaman Siska pun pergi dari sana bersama suaminya. Hasan mengikuti saja keinginan istrinya itu yang hendak makan siang ayam goreng seberang jalan.
Mary yang mengetahui Hasan sudah menikah ditambah lagi akan segera dikaruniai seorang anak merasa sedih. Karena temannya Carol pernah berkata kalau Hasan adalah cinta pandangan pertamanya. Sekarang cintanya itu bertepuk sebelah tangan.
Mary tidak mau memberitahu Carol, dia hanya menelepon Carol untuk bertanya soal kabar anaknya Grace, yang selama satu tahun harus tinggal bersama Carol.
Mantan suaminya si Maurice benar-benar sesosok iblis. Dia membuat Mary berpisah dengan anaknya Grace selama tantangan satu tahun ini.
Mary mencoba tetap kuat dengan memikirkan kehidupan bahagianya tahun depan setelah masa ini berakhir.
***
Hujan deras mengguyur banjarmasin dan sekitarnya.
Hantaman tetesan air yang terdengar sangat keras di luar pun tidak memadamkan semangat Hasan dalam bekerja. Baru saja masuk laporan dari seorang office boy yang mengaku menemukan beberapa dus obat kedaluwarsa di dalam gudang penyimpanan tempatnya bekerja.
Hasan sudah dianggap sebagai pengganti Mulyadi. Dia dipercaya oleh pak Naryono sebagai tangan kanannya dalam tugas lapangan.
Hasan pun menerima semua pekerjaan dengan tangan terbuka.
"Apa yang kau tulis di hari yang dingin ini pak Hasan?'
"Anda mungkin akan tertawa mendengarnya. Ini daftar impian saya."
"Hahahahahahahahahaahaa....!!!!"
Pak Naryono benar-benar tertawa mendengarnya.
"Apa saja mimpimu?"
"Ada banyak. Pertama saya ingin menikah, kedua menjadi orang kaya, ketiga memiliki momongan, keempat memiliki farfum bermerek LP Trauma Apple. Menikah sudah, momongan sudah tinggal tunggu melahirkan. Tinggal menjadi orang kaya dan menemukan farfum apel itu." Tutur Hasan.
Tiba-tiba saja pak Naryono mengatakan hal yang membuat Hasan tercengang. Pasalnya pak Naryono mengaku memiliki farfum Trauma Apple itu di lemari rumahnya.
"Benarkah?! Dimana bapak membelinya??!."
__ADS_1
"Jangan berteriak di telingaku. Aku mendapatkan farfum itu dari temanku yang bekerja di Singapura. Karena aromanya sangat manis anak dan istriku pun sangat menyukainya. Farfum itu sudah lama habis, tapi wanginya masih tertinggal di botolnya yang berbentuk kendi kaca berlapis kain berwarna emas. Karena itulah kami masih menyimpan botolnya sampai sekarang."
"Boleh saya melihatnya pak? Saya mohon...!" Hasan menundukkan kepalanya sampai menyentuh kursi yang dia duduki.
"Oke oke pak Hasan. Sebelum itu bekerjalah dengan serius."
"Kapan saya bisa ke rumah bapak?"
"besok siang bisa. Jangan lupa bawa buah tangan saat bertamu ke rumah orang, hahahahahahaa... "
"Hahahahahahahaa..." Hasan ikut tertawa untuk menghargai jokes garing pak Naryono.
Jalanan licin karena hujan, pandangan pengemudi pun semakin buram. Terdengar klakson mobil di sekitar. Hasan menempelkan wajahnya ke jendela si sebelah. Tidak terlihat apapun selain bunyi klakson yang saling sahut sahutan.
"Bapak dengar itu? Apa orang-orang gabut sehingga melakukan paduan suara dengan klakson mobil." Pemikiran absurd Hasan muncul, di kala rasa ingin tahu yang tinggi menyelimuti dirinya.
Pak Naryono menangkap sesuatu yang janggal dari suara klakson mobil ini.
"Aku mendengarnya. Ini seperti tanda sos."
"Apa? tanda sos?"
"Dengarkan baik-baik pola bunyi klaksonnya."
Pak Naryono meminggirkan mobil ke tepi jalan yang seharusnya menjadi jalur untuk pesepeda.
Perlu diketahui lokasi mereka saat ini berada di jalan layang, alias flyover yang dibawahnya menghadap langsung ke jurang setinggi 20 meter.
Pak Naryono menghentikan mobilnya disitu.
"Pak! Pak! Apa yang bapak lakukan di pinggir jalan?!" Hasan tidak mengerti kenapa pak Naryono membuka jasnya dan keluar dari mobil. Beruntung saat itu tidak ada pengendala sepeda yang lewat, dan polisi pun tidak berjaga, jadi kemungkinan mobil mereka ditilang sangatlah kecil.
Pak Hasan menjorokkan setengah badannya ke jurang yang berada tepat di bawah flyover. Insting orang tua ini sangat bagus. Dia berhasil menemukan sumber suara klakson yang mengganggu itu, yang ternyata berasal dari sebuah mobil yang jatuh ke jurang.
Setelah diamati terjadi ada bagian dari besi pembatas yang penyok yang kemungkinan di tabrak oleh mobil itu sebelum jatuh ke jurang.
"Hasan! Hubungi 112!!!"
Hasan yang tidak mendengar teriakan pak Naryono pun memutuskan untuk ikut hujan hujanan. Bedanya dia menggunakan jas hujan sebelum turun.
"Apa pak?"
"Telepon 112. Kita menemukan korban kecelakaan disini."
__ADS_1
***