A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
11. Kasus berat pertama


__ADS_3

Aku paling tidak tahan berhadapan dengan laki-laki bertulang lunak. Cara bicaranya, postur jalannya, penampilan dan ekspresinya, semuanya membuatku geli. 


Kalau tidak untuk mencari farfum aku tidak akan berada disini.


Kami datang ke tempatnya, dia pemilik sebuah butik yang cukup terkenal di kotanya. Bahkan sekarang aku merasa terhormat bertemu dengannya.


"Mas Fazar~ mas masih melayani konsultasi gratis kan?."


"Ehh mbak Siska~ pinggulnya makin ramping aja~ iya, masih buka."


Mbak Siska mendorongku ke depan mas Fazar.


"Ini ada pasien konsultasi. Dia mau mencari merek farfum buah yang cocok untuknya."


Aku mengungkapkan maksud dan tujuanku datang kesini.


"Saya sedang mencari farfum beraroma apel yang baunya sangat kuat dan menenangkan hati. Aromanya juga dapat mengalahkan bau darah segar yang mengalir dari kepala saya."


Mbak Siska dan Mas Fazar terdiam sekaligus bergidik mendengar penjelasanku. Aku pun menceritakan kecelakaan yang menimpaku, cerita aku tekankan pada farfum apel yang digunakan oleh 3 wanita yang tampaknya orang kaya raya.


Aku juga memberitahu mereka perubahan signifikan yang aku alami pasca kecelakaan itu. Indera penciuman super. Dan beberapa kejadian setelahnya.


"Sulit dipercaya, kamu menemukan cacing mati di dalam pai apel. Apa kekuatan super seperti itu benar-benar ada?."


"Ada." Jawabku mantap. "Saya bisa menebak apa isi kulkas itu." Sambungku sambil menunjuk ke arah kulkas mini di belakang etalase.


"Wahh beneran bisa?!, seru nih kalau Bener!!."


Aku mendekat sampai 4 meter dari kulkas. Karena udara beku memiliki bau, aku jadi sedikit kesulitan menemukan bau lainnya.


Sniff~ sniff~


"Sosis, puding, dan makanan manis lainnya." Spontan membuka kulkas.


Mas Fazar bertepuk tangan dengan mulut ternganga. Dia memberiku puding stroberi sebagai hadiahnya.



"Ini mas, farfum buah pil sangat cocok untuk mas."


"Baunya memang pil. Apa laki-laki boleh memakai farfum seperti ini di kantor?."


Akhirnya aku membeli farfum itu dengan menyicil karena harganya cukup mahal yaitu 200 ribu rupiah.


Karena hari sudah malam aku putuskan untuk membeli beberapa bungkus nasi uduk untuk diberikan pada tetanggaku.


"Mas Hasan tidak punya sepeda motor ya?."

__ADS_1


"Tidak mbak, saya belum ada niatan untuk membelinya. Lagipula untuk tugas lapangan ada pak Mulyadi yang mengantarku dengan mobilnya. Walaupun dia sedikit kasar."


Hari ini aku pulang diantar oleh mbak Siska naik mobil. Aku heran, pegawai lain kebanyakan sudah punya mobil atau minimal sepeda motor yang keren. Padahal saat aku tanya perbandingan gaji mereka denganku cukup tipis.


"Assalamualaikum,"


Ini adalah kegiatan malamku. Jangan beritahu pada siapapun. Setiap malam kalau punya uang berlebih aku suka membagikan nasi uduk ke tetanggaku yang membutuhkan.


Berbagi dengan sesama menghangatkan hatiku. Apalagi sekarang ekonomiku mulai membaik.


Di rumah yang dulu kami tidak perlu bayar air karena air bisa didapatkan di sumur. Bisa dibilang pengeluaran di rumah baru ini lebih banyak.


Ayah rupanya belum tidur. Dia masih duduk di kasur di samping ibu untuk menghitung uang yang tersisa.


Dengan berbisik ayah berkata padaku. "Uang kita cukup untuk makan 2 bulan. Kamu akan mendapatkan gaji kan?."


"Tentu saja ayah, aku berencana bekerja di BPOM selama 2 tahun." Sahutku.


Ayah mengangguk dengan wajah berseri-seri.


***


"Pak Hasan!."


Mbak Siska memanggilku. Tidak biasanya dia terburu-buru seperti ini.


"Ada kasus penting!, ini kasus keracunan massal."


"Dilaporkan 20 orang dilarikan ke rumah sakit karena busa keluar dari mulut mereka. Dugaan sementara keracunan makanan jengkol. Lokasi di pernikahan."


"Ihh kasihan sekali orang yang menikah itu. Momen pernikahan mereka jadi tidak indah lagi karena kasus ini." Kata pegawai wanita di sampingku.


Aku pak Mulyadi dan pak Naryono langsung melesat ke lokasi. Kasus kali ini melibatkan polisi. Aku turut bersedih untuk pasangan suami istri itu dan orang-orang yang terbaring lemah di rumah sakit.


"Pekerjaan kita kali ini banyak jadi kita bagi tugas." Pak Naryono selaku ketua tim angkat bicara.


"Pak Hasan dan pak Mulyadi ambil sampel jengkol beracun itu dan bawa ke laboratorium. Sementara saya akan menemui keluarga yang melangsungkan pernikahan disana."


"Tapi pak, pekerjaan bapak sangat banyak. Biarkan saya membantu bapak dan Hasan akan mengambil sampelnya." Pak Mulyadi memprotes keputusan itu.


"Tidak bisa, kamu harus menemani pak Hasan. Ini kali pertama dia mengambil sampel, kalau sampai terjadi sesuatu kita sendiri yang akan repot. Ajari pak Hasan belum tahu cara mengambil sampel. Setelah itu baru kau boleh ke tempatku."


Pak Mulyadi yang banyak bicara itu dibuat bungkam. Suasana tenang ini yang terbaik.


Sesampainya di lokasi pernikahan nampak pernikahan telah usai namun tenda belum dicopot karena merupakan tkp kasus keracunan massal.


Pak Naryono dijemput oleh seorang polisi. Sementara kami dituntun oleh polisi lainnya ke tempat hidangan diletakkan.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah telur pecah di kepala pak Mulyadi. Telur itu dilempar oleh seorang nenek tua dari luar tkp.


"Makanan apa yang kalian berikan kepada cucuku hah!?. Kenapa cucuku bisa kritis setelah makan makanan darimu!!!." Teriak nenek itu. Semakin lama mulutnya semakin menjadi, sehingga polisi terpaksa menyeretnya ke rumahnya.


Takut menghadapi amukan warga lainnya kami pun mempercepat langkah ke lokasi. Dilihat dari luar tidak ada yang aneh dari hidangan jengkol ini. Sampai saat menyendok untuk mengambil sampel kami menemukan daging yang aneh yang ternyata itu adalah kepala tikus.


Penemuan itu membuat muntah. Pak Mulyadi mengambil kepala tikus itu dan beberapa jengkol.


"Ayo kita ke laboratorium."


Pak Mulyadi menarikku dengan kuat.


"Jangan sampai penemuan kita ini diketahui oleh orang lain terutama penyaji makanan." Bisik pak Mulyadi sambil berjalan.


"Mengapa pak?."


"Sudah ikuti saja. Nanti saya beritahu di kantor."


***


Kantor BPOM pun heboh dengan penemuan kepala tikus di jengkol itu. Pegawai yang membawa perbekalan jengkol langsung membuang bekal mereka ke tong sampah karena jijik melihat foto hidangan jengkol yang ditunjukkan pak Mulyadi.


Lalu di laboratorium kepala tikus tadi menjadi langsung diteliti untuk mengetahui bakteri apa yang mengkontaminasi makanan sehingga menyebabkan keracunan massal.


"Pak Mulyadi, coba bayangkan kepala hewan ini dimakan oleh tamu undangan."


Pak Mulyadi langsung ingin muntah mendengar ucapanku. Aku puas bisa mengerjainya.


Pak Naryono menelepon, memberitahu kalau korban keracunan makanan mengeluarkan lendir darah dari mulut mereka. Keadaan itu sudah sangat parah. Aku sampai merinding mendengarnya.


Singkat cerita, 2 jam kemudian dokter yang meneliti kepala tikus pun memberikan pernyataan yang mengejutkan. 


"Saya sudah menduga ini sebelumnya. Ada bakteri Yersinia pestis di bangkai tikus itu. Sepertinya kepala tikus itu ikut dimasak sehingga kebanyakan bakterinya mati, tetapi rupanya masih ada sedikit bakteri Yersinia pestis yang bertahan hidup dan mencemari makanan. Perlu diketahui, bakteri ini merupakan dalang utama munculnya penyakit pes yang menyerang paru-paru."


"Cepat hubungi pihak keluarga korban untuk berjaga-jaga!. Suruh mereka memberikan pengobatan antibiotik kepada anggota keluarganya!."


Ketangkasan dan kepemimpinan dokter BPOM membuatku kagum sekaligus terkesima. Dia bekerja dengan cepat untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Sekarang tinggal pihak keluarga mau atau tidak memberikan pengobatan antibiotik. Karena biayanya pasti mahal jika tidak pakai bpjs.



Di sebuah gedung kantor besar. Seorang CEO mendengar laporan terjadi keracunan makanan di pernikahan adiknya.


"Berapa banyak korbannya?."


"20 orang bu."


"Kirimkan orang untuk mengurus biaya rumah sakit para korban. Aku akan menemui adikku yang malang."

__ADS_1


CEO wanita ini bernama Mary Leadswan.


***


__ADS_2