
Hanya ada Hasan dan Silverblade di kantor. Mereka berbincang di depan kantor. Rupanya Silverblade ingin membicarakan soal keajaiban tubuh Hasan.
"Kau sembuh dalam satu minggu, bagaimana hal itu mungkin? Apa kau mewarisi kekuatan super dari orang tuamu? Atau kau pernah terjatuh ke fasilitas anti molekuler?" Silverblade menanyakan hal hal anti mainstream.
"Apa yang kau rasakan selama 1 minggu pemulihan itu?"
"Aku hanya tertidur dan bermimpi acak. Aku juga tidak tahu bagaimana tubuhku bisa sembuh secepat ini."
"Karena kau menolak undangan Neon Blood tidak ada yang bisa kami lakukan untuk memecahkan masalahmu."
Hasan mengangguk.
"Aku tidak mau diperiksa oleh siapapun, lagipula ini bukan penyakit."
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Tapi Neon Blood tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku pernah berurusan dengannya saat baru bergabung, dia adalah maniak pengetahuan, tidak hanya di bidang medis, tapi juga psikologi dan lain-lain. Jika ada sales barang mencurigakan, atau bahkan lowongan kerja yang tiba-tiba datang ke keluargamu sebaiknya jangan diterima, kemungkinan itu adalah Neon Blood."
"Kalau dia sampai menerorku seperti itu aku akan mencari dan menghajarnya!" Ucap Hasan dengan raut muka marah.
Silverblade tersenyum lalu memuji keberanian Hasan.
"Sudahlah, ada alasan kenapa aku memanggilmu pagi pagi buta. Itu karena ada tugas khusus untukmu."
"Temui agen tanpa departemen dengan nama samaran Burn Shadow, dia tinggal di panajam Kalimantan Timur. Bawa dia kemari bagaimanapun caranya. Agen itu telah mencuri data rahasia kita 2 hari yang lalu. Aku sudah meneleponnya kemarin. Tapi bagaimanapun aku memaksanya dia tetap tidak mau mengakui perbuatannya."
"Maksudmu dia menyangkal perbuatan yang sudah jelas dia lakukan? Seperti bersembunyi di belakang telunjuk?"
"Begitulah. Dia orang yang konyol tetapi sangat berdedikasi dengan pekerjaannya. Orang aneh yang bisa diandalkan, seperti itulah dia."
"Bagaimana dengan ciri cirinya?"
"Dia setinggi 170 cm, kulit putih bersih, tatapannya layu, pupilnya berwarna coklat, dan bicaranya agak lambat. Dia seperti orang yang baru bangun tidur tapi sepanjang hari. Singkatnya dia seperti orang yang bosan hidup serta tidak memiliki ketertarikan dengan apapun sampai matanya mirip mata ikan mati."
Silverblade memberikan semua komponen yang diperlukan untuk menemukan Shadow itu.
Kemudian berangkat menggunakan mobil bmw.
"Awas jangan sampai rusak. Ini milik kolonel kita."
"Santai Silv."
Pertama kalinya Hasan menaiki mobil bmw.
Untuk bahan bakarnya Hasan menggunakan bensin eceran sesuai arahan dari Silverblade.
***
Hasan sampai di alamat yang diberikan Silverblade.
Kuil bayangan, altar suci tanpa kebohongan. Jargon di depan pintu itu ditanggapi dengan skeptis oleh Hasan.
__ADS_1
"Hanya karena ada Burn Shadow di tempat ini mereka jadi sombong. Atau mungkin Burn Shadow sendiri yang menulisnya."
Bel di depan pintu ditekan. Ini juga kali pertama Hasan datang ke kuil.
"Siapa itu?" Tanya orang di balik pintu kayu.
"Saya dari DKK, apa ada orang yang nampak tidak semangat hidup disini?"
"Tidak ada tuan. Semua yang tinggal di dalam kuil menikmati kehidupan apa adanya. Kalau anda ingin masuk berikan kami alasan." Mereka menolak membukakan pintu untuk Hasan.
Hasan pun mencari cara lain.
"Biarkan aku masuk, aku harus menemui agen Burn Shadow si informan profesional."
Orang di balik pintu kayu diam saja, akibatnya Hasan habis kesabaran dan memanjat pagar tembok kuil.
"Hei kau yang menjaga pintu!! Buka pintunya sekarang atau saat aku mendarat kau akan habis!!" Perintah Hasan.
"Dasar manusia kasar, apa kau tidak tahu tata krama dan sopan santun saat berkunjung ke rumah ibadah? Apa kau tidak takut pada hukum yang berlaku?"
"Aku pernah memukuli begal dan membunuh salah satunya. Apa kau pikir aku akan takut pada hukuman berlaku tidak sopan di rumah ibadah?"
Hasan mendarat dengan mulus di tanah.
Tatapannya tertumpuk ke si penjaga pintu yang berpakaian setengah biksu.
"Katakan dimana Burn Shadow, pria yang jago mencari informasi itu?!"
"Aku tidak tahu siapa yang kau cari..!! Tapi kalau wanita yang jago mencari informasi aku tahu..!!"
"Wanita?"
Hasan teringat kata kata Silverblade sebelum berangkat.
"Burn Shadow adalah agen yang sangat tertutup. Dia tidak bergabung ke departemen manapun. Tapi dia pernah akan bergabung dengan DKK Timur sehingga Castle Snake dan yang lainnya tahu wajahnya. Selain mereka aku juga tahu bagaimana wajahnya."
Si biksu abal abal mengantar Hasan melewati kuil, di area belakang kuil ada sebuah rumah yang tampak bobrok dan tidak layak huni.
"Disana ada wanita yang kau cari. Dia juga menyebut dirinya Burn Shadow."
Hasan sangat penasaran bagaimana wajah Burn Shadow sebenarnya.
Perlahan dia buka pintu depan yang seakan bisa roboh kapan saja.
Debu dimana mana, tempat itu sangat tidak sehat untuk ditinggali.
Bagaimana bisa seorang wanita yang biasanya sarat akan kebersihan tinggal di rumah sekotor ini? Itulah yang ada dalam pikiran Hasan.
"Siapa itu?!!"
__ADS_1
Suara wanita itu datang dari lantai 2.
Hasan mengejar suara itu dan akhirnya bertemu dengan sosok bermata sayu yang Silverblade ceritakan.
"Ha-halo.. Aku Hall Fame dari DKK Selatan. Ekhem... "
Hasan memperbaiki nada bicaranya.
"Agen Burn Shadow, Kaptenku memberikan perintah penangkapan atas dasar pencurian data rahasia. Sekarang juga angkat tanganmu ke atas dan jalan ke sini pelan pelan."
"Aku bukan Burn Shadow." Kata wanita itu.
Mulanya Hasan tidak percaya tapi setelah dia mengingat ciri-ciri yang disebutkan Silverblade seharusnya rambut Burn Shadow berwarna hitam bukan hijau gelap gradasi seperti wanita di depannya yang ia kira adalah Burn Shadow.
Hasan Sense (Nama indera perasa super Hasan yang terinspirasi dari Spider Sense) aktif karena ada serangan yang datang dari arah belakang.
Hasan berbalik dan melihat gadis berambut hitam bermata coklat mengarahkan stun gun padanya.
Dengan tangkas Hasan menendang tangan si wanita yang memegang stun gun, tapi pegangannya tidak terlepas.
"Aku Burn Shadow yang asli."
"Senang bertemu denganmu nona Shadow. Bisa singkirkan stun gunnya? Aku takut kau tidak bisa mengatasi akibatnya."
Saat Hasan lengah wanita berambut hijau gelap menembaknya dengan Taser Gun.
Alhasil Hasan tersengat listrik sampai kehilangan kesadaran.
"Sial... aku tidak boleh pingsan lagi seperti hari itu..."
Hasan berusaha untuk bangkit. Berkah kelimanya pun mengabulkan keinginannya.
Berkah kelima Hasan adalah ketahanan diatas rata rata manusia atletis.
Hasan mencabut jarum taser lalu menarik senjata itu dari tangan si wanita sawi.
"Haahahahahahaaa....!!!!! Mainanmu tidak berdampak apa-apa pada tubuhku wanita sawi..!!!!!"
Hasan tertawa girang lalu menjambak rambut wanita sawi.
Burn Shadow tidak membiarkan hal itu berusaha menyetrum Hasan lagi, tapi tidak bisa karena adiknya akan terkena setrum juga.
"Sekarang dengarkan aku gadis gadis listrik! Buang mainan listrik kalian dan angkat tangan ke atas. Atau akan ku cukur rambut sawi ini sampai botak!"
***
.................................................................................
Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.
__ADS_1
Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁
.................................................................................