
Hasan bingung dengan rencana Lim dia menunggu semua orang pulang baru memulai penyiksaan. Dalam ruang interogasi yang teduh itu, sebuah aura misterius melingkupi. Agen Lim, dengan perlahan menggerakkan jari-jemarinya, mengarahkan sentuhan lembut di sepanjang tubuh Yupi, menyusuri garis-garis rahasia yang tersirat di antara keraguan dan keputusasaan. Tekanan yang diberikan tak seberat derap langkah ketegangan, namun cukup untuk menyentak jiwa Yupi dan memperhatikan detak jantungnya yang tak menentu.
Dia mengubah ikatan Yupi dengan menaikkan kakinya ke atas.
"Sebagai seorang wanita aku tahu area sensitif yang membuat sesamaku merasakan kenikmatan yang tiada terkira. Setelah merasakan kenikmatan itu dia akan menjawab semua pertanyaan kita tanpa tertinggal."
Hasan bersandar ke dinding, karena tidak mengerti maksud perkataan temannya itu dia menyerahkan semuanya pada Lim. Alat siksa listrik dia matikan kembali. Yupi mengira Lim hendak mencabulinya namun dia salah besar.
Seiring dengan setiap gerakan dan setiap getaran kecil yang disampaikan melalui sentuhan lembut. Perlahan sentuhan lembut itu semakin cepat bergerak di stokingnya. Yupi tidak kuasa menahan rasa geli dia tertawa terbahak bahak sampai kain yang menyumpal mulutnya tertelan.
Lim mengambil kain itu dan membiarkan Yupi menikmati belaiannya.
"HAHAHAHAHAHAHAHHAAHAHAHAHAHAHHAHAHAAHAHAHAHHHAAAA....!!!!!! JANGAANN.. AKU AKAN TERKENCING..!!!!!"
"HENTIKAAN KU BILANG..!!!!"
Yupi terus berteriak dan mengumpat diantara gelak tawa. Lim tidak mau berhenti dan hal yang ditakutkan pun terjadi. Yupi tidak kuasa menahan dorongan urine sehingga membasahi celananya.
Lim semakin gemas pada Yupi. Semalaman dia habiskan untuk membuat Yupi tertawa.
***
Lalu saat jam 4 pagi...
Pipi Yupi telah basah sepenuhnya oleh air mata. Benar-benar malam yang seru untuk dirinya juga Lim. Metode Lim yang unik membuat Yupi sedikit membuka hati pada Lim. Dia bersedia memberitahu Lim tujuan mereka asalkan Lim menemaninya satu malam lagi.
"Akhirnya kau kooperatif juga, katakan padaku."
Lim duduk di samping ranjang Yupi.
"Aku akan memberitahumu segalanya asalkan kau membantuku. Anggaplah seperti pertukaran setara."
"Jelaskan saja dulu."
"Aku akan memberitahumu tujuan kami, juga orang yang ada di belakang kami beserta bukti buktinya asalkan kalian melepaskanku dan mengirimku ke luar ASEAN, terserah negara apapun itu." (Yupi)
__ADS_1
"Kenapa kami harus melakukan itu? Kami bisa memenjarakanmu seumur hidup dan menangkap saudari saudari mu yang lain lalu menginterogasi mereka satu persatu." (Hasan)
Lim meminta Hasan menyerahkan interogasi itu padanya dengan cara mendengarkan Yupi terlebih dulu.
"Kalian tidak akan bisa menangkap mereka karena kalian sudah menangkapku. Dengan tertangkapnya diriku mereka tidak akan muncul lagi, skenario terburuknya mereka akan meninggalkan negara ini dan misteri pembunuhan 3 gubernur tidak akan pernah terbongkar. DKK akan disalahkan karena tidak mampu melindungi gubernur. Departemen itu akan dibubarkan dan anggotanya melebur ke kepolisian biasa dengan membawa nama petugas yang gagal. Begitukah akhir yang kau mau?"
Hasan dan Lim terdiam.
"Kalau aku tetap ditahan disini mereka akan mengeksekusi mati diriku. Dan kalau aku berhasil kabur, dengan kegagalan yang aku lakukan entah bagaimana tanggapan bos ku nanti. Dia memang bukan orang yang kejam, tapi dia tidak suka dikecewakan."
Setelah melalui beberapa pertimbangan dan Hasan dan Lim pun menerima persyaratan itu. Setidaknya di depan Yupi mereka berpura pura menerimanya.
"Aku pegang janji kalian."
Yupi memberitahukan semua yang dia tahu tentang Underwave dan orang di belakang mereka.
"Kami Underwave adalah kelompok kriminal bersenjata yang bepergian ke banyak negara hanya untuk bertahan hidup dan menghindari tangkapan polisi. Indonesia adalah negara keenam yang kami kunjungi selama beroperasi. Disini kami disewa oleh seorang cindo (orang cina yang menetap di Indonesia) untuk menghabisi orang orang yang mengancam kelangsungan bisnisnya."
"Orang itu tinggal di perumahan khusus warga cina di Kalimantan Selatan."
Informasi itu pun langsung sampai ke telinga Kolonel Graham.
[Aku ragu dengan itu Hall Fame. Perumahan itu sudah berdiri sejak lama dan tidak pernah terjadi hal seperti ini. Mungkin saja wanita itu memfitnah mereka,]
"Tidak, aku yakin dia berkata jujur. Setidaknya 90 persen. Saya memperlajari ilmu itu saat masih menjadi supir."
[Meskipun kau sangat yakin, kita tidak memiliki buktinya.]
"Jangan khawatir, wanita itu bilang dia memiliki buktinya."
[...!?!?]
"Dimana buktinya Underwave!!?"
Bukti itu tersimpan di rumah si pelaku yang berada di perumahan khusus warga tiongkok kaya. Hasan membuat rencana penyusupan ke tempat itu, dia berencana meminta bantuan nyonya Yin untuk membawanya masuk tanpa di curigai.
__ADS_1
***
Singkat cerita seminggu kemudian Hasan kembali menjadi pengawal nyonya Yin di restoran bordil.
"Kamu kembali karena ingin latihan mengendalikan chi mu? Omong kosong!"
Nyonya Yin kembali menjelaskan ke Hasan kalau chi nya yang mirip chi orang mati mustahil bisa dikendalikan. Meskipun begitu Hasan tetap memohon agar nyonya Yin mempertemukannya dengan biksu tempo hari.
Hasan memiliki nomor dan alamatnya tapi dia tidak berani masuk ke kampung orang tiongkok yang tertutup itu seorang diri. Akhirnya nyonya Yin setuju dengan syarat Hasan harus memperkenalkan istrinya kepada nyonya Yin.
Hasan pun membawa Siska menemui nyonya Yin di tempat lain. Hasan tidak mau Siska memasuki tempat penuh dosa itu, jadi mereka bertemu di sebuah cafe outdoor.
Usia kandungan Siska sudah 8 bulan lebih beberapa hari tak lama lagi anaknya akan lahir tapi Hasan tidak akan bertindak terburu buru dalam operasi menangkap dalang di balik pembunuhan gubernur.
Nyonya Yin meraih tangan Siska, dia meramalkan anak yang akan keluar berjenis kelamin perempuan. Lebih lanjut nyonya Yin meramalkan bayi itu akan tumbuh menjadi gadis yang pintar.
Siska hanya tersenyum mendengarkan ramalan nyonya Yin. Mereka mengobrol soal pekerjaan, karir masa depan dan lain lain. Lalu membahas soal Hasan yang ingin berkunjung ke perumahan orang tiongkok. Sehari yang lalu Burn Shadow berhasil menemukan rumah si dalang dengan arahan dari Yupi.
"Rumah dengan pagar merah dan patung biksu di halamannya. Rumah itu ada di bagian terdalam dari perumahan tiongkok. Perjalananku mungkin akan sulit." Batin Hasan.
Sekarang giliran nyonya Yin untuk menepati janjinya. Dia berjanji akan menemani Hasan ke perumahan di waktu luangnya yaitu 2 hari dari sekarang.
"Baiklah nyonya Yin, kita sepakat."
"Sepakat,"
Hasan berjabat tangan dengan nyonya Yin.
***
Dua hari kemudian, nyonya Yin merasa sedikit kesal karena Hasan membawa orang lain tanpa seizinnya.
"Maafkan aku nyonya Yin. Saya tiba-tiba disuruh pergi dengannya." Hasan menggaruk kepalanya lalu menundukkan kepala serendah mungkin. Namun nyonya Yin tidak puas dengan cara Hasan meminta maaf. Dia menyuruh Hasan dan Lim untuk bersujud jika menginginkan maaf darinya.
Hasan melakukan dengan senang hati, sedangkan Lim melakukannya dengan berat hati. Akhirnya penyelidikan di perumahan tiongkok dimulai.
__ADS_1
***