A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
109. Cara unik menjadi Crazy Rich '1'


__ADS_3

Hasan duduk di depan Kolonel di dalam kamar rumah inap yang gelap. Lampu remang-remang menciptakan atmosfer misterius di sekitar mereka. Kolonel menatap Hasan dengan pandangan tajam, ingin tahu alasan di balik kehadiran Hasan yang tiba-tiba di Mesir.


"Dapatkah kamu jelaskan mengapa tiba-tiba kamu muncul di sini, Hasan?" tanya Kolonel dengan suara tegas.


Hasan mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Saya diundang oleh seorang bos perusahaan besar untuk mengawalnya di Singapura dan Mesir. Bos tersebut adalah Carol Funnybunny dan Hidden Boss Mary Leadswan."


Hasan menjelaskan kalau air wangi kota Ramesh berarti besar dalam hidupnya. Mereka menjelma menjadi farfum yang aromanya muncul setiap akan terjadi insiden besar. Karena itulah Hasan merasakan ikatan supranatural yang kuat dengan air itu, dan memohon pada kolonel graham untuk merampas air yang sudah susah payah dia ambil


Merasa kasihan kolonel Graham pun mengajukan pertanyaan terakhir sebelum melepaskan Hasan.


"Apa yang akan kau lakukan dengan air itu? Kau tidak akan membuat senjata berbahaya kan?!"


"Tentu saja tidak pak, hahahaa... saya ingin menyimpannya dan mencari cara untuk memberdayakannya."


Kolonel Graham menatap mata Hasan dengan dalam, setelah itu mengizinkannya pulang.


"Tunggu! Bawa juga semua galon berisi air wangi ini. Semuanya dihadiahkan khusus untukmu, agen baru terbaik yang pernah kami miliki."


Sanjungan itu membuat Hasan heran, pasalnya si kolonel bukan orang yang suka memuji.


Kolonel Graham duduk di hadapan Hasan dengan senyuman bangga di wajahnya. Dia memulai dengan menyebutkan semua prestasi luar biasa yang telah dicapai oleh Hasan selama menjadi agen di DKK. Dia menyebutkan setiap misi yang berhasil diselesaikan oleh Hasan dengan penuh keberanian dan kecakapan, serta berbagai kontribusi positif yang telah diberikan olehnya kepada tim.


"Hasan, kamu adalah agen baru terbaik dan terhebat yang pernah kami miliki," ujar Kolonel dengan suara bangga. "Prestasi-prestasimu tidak hanya mengesankan, tetapi juga telah membuktikan bahwa kamu adalah sosok yang luar biasa dan sangat berharga bagi tim ini."


Hasan merasa hangat hatinya mendengar pujian dari Kolonel. Dia merasa terhormat dan bersyukur telah mendapat kesempatan untuk bergabung dengan DKK dan menjadi bagian dari tim yang hebat.


"Ini adalah hadiah untukmu, Hasan," ujar Kolonel. "Ini adalah liter-liter air wangi dari kota Ramesh yang telah kami kumpulkan khusus untukmu."


Hasan terkejut dan takjub melihat hadiah tersebut. Air wangi dari kota Ramesh memiliki makna yang sangat penting bagi Hasan dan timnya, dan memiliki nilai yang sangat tinggi bagi mereka. Mendapatkan hadiah sebanyak itu menandakan betapa dihargainya Hasan oleh Kolonel dan tim.


"Dengan air wangi ini, kami ingin memberikan dukungan dan keberuntungan untuk misi berikutnya yang akan kamu jalani," lanjut Kolonel dengan tulus. "Kami yakin bahwa kamu akan terus memberikan yang terbaik dan menorehkan prestasi-prestasi baru yang luar biasa."

__ADS_1


Hasan membawa semua air itu ke apartemen dengan bantuan pekerja konstruksi.


Saking banyaknya galon di rumah Siska sampai mengeluhkan kondisi rumah yang jadi sesak.


"Sudahlah, lupakan soal galon galonnya. Kamu mau makan sesuatu mas?" tanya Siska dengan lembut dan penuh pengertian.


"Ayam goreng saja, dengan ada dengan nasi putih,"


"Memang ya, orang Indonesia tidak bisa makan kalau tidak ada nasi,"


"Buat yang enak ya sayang,"


Sambil makan, Hasan memandang istrinya dengan senyum tulus. "Ini ayam goreng terenak yang pernah kumakan, Sayang," puji Hasan.


Siska tersenyum bahagia mendengar pujian dari suaminya. "Terima kasih, Sayang. Aku senang kamu suka," balas Siska sambil menyipitkan matanya penuh cinta.


Setelah makanan selesai, Hasan dan Siska duduk berdampingan di sofa. Hasan berbicara dengan serius, "Sayang, aku ingin berbicara tentang air wangi dari kota Ramesh. Aroma ini memiliki kekuatan supranatural, dan aku berpikir bahwa kita bisa mengambil manfaat darinya."


Hasan menjelaskan rencananya dengan hati-hati, "Aku berpikir untuk menjual air wangi ini ke bos Mary. Dia adalah orang yang berpengaruh dalam industri farfum, dan dengan tambahan aroma dari air wangi kita, produknya akan semakin istimewa dan diminati banyak orang. Kita bisa memperkaya industri penjualan farfumnya dan mendapatkan keuntungan besar dari penjualan air wangi ini."


Siska mempertimbangkan kata-kata suaminya dengan cermat. Meskipun ada ketertarikan dengan rencana tersebut, dia juga ingin memastikan bahwa mereka berdua akan mengambil langkah yang tepat.


"Apakah kamu yakin rencana ini tidak akan berisiko bagi kita, Hasan? Benda ini pernah digunakan sebagai bahan utama pembuatan gas afrodisiak yang digunakan teror*s bukan?" tanya Siska dengan hati-hati.


Hasan menggenggam tangan Siska dengan lembut. "Aku sudah membuat rencana yang matang, bos Mary pun pasti bisa diajak bekerja sama," ucapnya penuh keyakinan. "Tunggu saja Siska, dalam waktu sebulan kita akan punya tabungan 10 Miliar,"


Siska tersenyum, merasa percaya pada suaminya. "Baiklah, Hasan. Jika kau yakin, aku akan mendukungmu sepenuhnya," ucapnya dengan penuh kepercayaan.


Hasan menarik selimut untuk anak dan istrinya, tempat ini sangat dingin perlu 3 lapis selimut untuk menghangatkan keluarganya.


Di lemari penginapan itu ada banyak sekali selimut, daripada tidak digunakan Hasan membagikannya kepada orang-orang yang tidur di jalan.

__ADS_1


Pukul setengah 12 malam Hasan kembali ke apartemen untuk memejamkan matanya.


...***...


Besoknya, Hasan mengunjungi apartemen para agen untuk melihat kondisi mereka setelah misi berbahaya sebelumnya. Dia disambut oleh Lim yang baru saja sembuh dari pengaruh afrodisiak. Lim tampak bahagia bertemu Hasan lagi dan menawarkan pancake yang dia buat sendiri untuk Hasan.


"Selamat datang, Hasan! Cobalah pancake ini, aku yakin kamu akan menyukainya," ucap Lim dengan senyum ramah.


Hasan tersenyum dan menerima tawaran pancake dari Lim. Dia mencicipi pancake tersebut dan langsung terkesan dengan rasanya. "Ini enak sekali, Lim! Kamu memang ahli dalam masak-memasak," puji Hasan.


Lim menatap Hasan, lalu memberitahu kalau pancake itu sudah dari 4 hari yang lalu. Lim sengaja memanaskannya agar madunya tidak basi.


Hasan pun segera memuntahkan kue itu. Dia kesal sekaligus malu, seleranya yang rendah kini ketahuan oleh Lim.


Setelah itu, Hasan bertemu dengan Silverblade di sudut ruangan. Dia penasaran mengapa Silverblade tidak terpengaruh oleh afrodisiak saat di reruntuhan, sementara yang lainnya mengalami efek yang kuat.


"Ternyata kamu tidak terpengaruh oleh afrodisiak, ya?" tanya Hasan dengan ingin tahu.


Silverblade tersenyum dengan wajah lucu. "Oh, itu karena aku menjadi impoten sejak dikurung di bawah semen," kata Silverblade dengan candaan.


Hasan terkekeh mendengar jawaban kocak dari Silverblade.


"Pantas saja poker face mu masih terjaga walaupun meraba raba tubuh Lim,"


Lim terkejut mendengarnya. "Apa yang kau lakukan padaku saat mabuk?" tanya Lim dengan wajah serius.


"Hahahaa, kalian berdua kena. Silverblade tidak melakukan apa-apa, dia hanya meraba bokongmu saat mengangkatmu ke bahunya,"


"Kalau cuma itu sih tidak perlu di besar besarkan." Lim memalingkan wajah dengan malu.


Kolonel Graham datang dengan sebuah koper hitam di tangannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2