
Mataku ditutup, dokter meletakkan pena di dekat hidungku. Aku tahu tes ini. Ini tes indera penciuman.
Dokter akan bertanya bau apa yang tercium dari pena yang didekatkan ke hidung pasien, dan pasien harus menebaknya.
Entah salah atau benar tapi aku mencium campuran banyak rasa. Buah kiwi, coklat, dan coklat beku.
"Tebaklah."
"Emm... coklat, coklat beku, dan kiwi. Gulp-"
Dokter menyumpal mulutku dengan coklat dan kiwi, rupanya tebakanku benar.
Si dokter nampak bingung. Dia menyandarkan bahu ke dinding dan menatap atap.
"Bagaimana kau bisa menciumnya?. Padahal aku meletakkannya di ujung ruangan sini. Di balik tudung saji besi ini!." Kata si dokter.
"Yahh, kurasa ini berkah dari kecelakaan itu. Bolehkah aku pulang sekarang dokter?." Tanyaku.
"Sebelum kau pergi pak Hasan, biarkan saya memperkenalkan diri. Nama saya dokter Harold Van Damascus. Saya disini untuk riset penyakit menular yang belum ada obatnya. Kebetulan saya berteman baik dengan Melinda, dan kita kebetulan bertemu hari ini. Menurut hasil pemeriksaan saya, pak Hasan mengalami penajaman penciuman yang luar biasa. Bapak bisa membedakan aroma lebih baik dibanding siapapun yang pernah saya temui. Hidung bapak seperti anjing pemburu. Begitulah kesimpulan saya hari ini."
"Apa ada kemungkinan saya tertular penyakit karena mencium terlalu banyak bau dokter?."
"Kemungkinan besar tidak ada karena saya tidak menemukan keanehan apalagi komplikasi pasca kecelakaan itu."
Pemeriksaan berakhir, aku menemui mbak Melinda di lorong yang sekilas mirip lorong rumah sakit.
"Apa katanya?."
"Kata dokter aku baik-baik saja. Tidak ada kelainan, tidak ada komplikasi, penciumanku hanya meningkat begitu saja."
Mbak Melinda menarik nafas panjang. Lalu mengantarkanku kembali ke kebun.
"Bagaimana dengan lukamu?, apa masih terasa sakit?."
"Tidak lagi, mbak tidak perlu sekhawatir itu."
"Ya sudah, saya tinggal ya."
Para petani nampak sedang menyantap nasi kuning. Kata petani yang friendly, setiap pagi ada seorang dermawan yang membagikan nasi kuning pada para petani.
__ADS_1
Ternyata aku juga dapat nasi kuning itu. Sebelum makan aku cium terlebih dahulu, siapa tahu ada cicak di dalamnya, untungnya tidak ada.
"Hahaa aku terlalu berlebihan akan hal ini."
Aku makan dengan tenang di tempat yang berjauhan dari petani lainnya.
Setelah selesai aku merasakan panggilan jiwa ke pasar buah. Jadi aku bergegas kesana setelah pulang kerja. Pasar buah ini buka dari subuh hari sampai tengah malam. Kebiasaan ini dimulai sejak ada pembeli yang datang setiap tengah malam.
Sekarang jam 8 malam. Aku memasuki pasar buah dengan uang seadanya tapi membawa misi yang mulia. Terlihat beberapa pedagang sedang beradu mulut, yang lainnya sedang membungkus buah, yang lainnya lagi hanya tidur tiduran dan tidak mau membersihkan lingkungan di sekitarnya. Sejujurnya aku bingung mengapa pasar yang kumuh ini selalu ramai pembeli. Orang-orang pasti akan berpikir tempat ini dijadikan tempat transaksi barang haram.
Mari lupakan itu sejenak karena tujuanku kesini adalah mencari buah buahan busuk agar kejadian tempo hari tidak terulang lagi.
"Bu, yang ini berapa harganya?."
Aku mulai dari ibu penjual yang sering marah marah ke penjual lainnya. Aku tidak memiliki dendam padanya, tapi orang seperti dia harus diberi sedikit pelajaran.
"Mumpung tidak ada pembeli aku bisa menakut nakutinya."
"Saya beli semangka yang ini, ini, dan ini, tapi potong dua ya."
"Iya, sebentar ya."
Penjual ini tersenyum pada pelanggan tapi kasar pada pedagang lain. Selain itu buah yang dia jual mengeluarkan aroma aneh.
Si penjual tampaknya juga menyadari keanehan pada buah semangkanya.
Aku berpura-pura bodoh demi memanaskan keadaan.
"Kok buahnya lengket?, bau lagi!."
"Tu-tunggu sebentar mas, saya rasa buahnya basi!."
"Mana ada buah yang basi buk!. Buah ini ada formalinnya, saya yakin itu!. Sekarang juga akan saya telepon BPOM."
Kejadian ini pasti menjadi angin baik untuk saingan ibu ini. Mereka belum tahu saja aku datang untuk merazia mereka semua.
Si ibu penjual terdiam dan pasrah. Sikap seperti inilah yang aku harapkan darinya.
BPOM langsung datang hari itu juga, sekitar 2 jam setelah aku menelepon. Penanganan yang cepat ini efek dari banyaknya laporan produk makanan bermasalah. Salah satunya yang tidak terlaporkan adalah pai apel dengn cacing buah tempo hari. Kawanku memutuskan tidak jadi melaporkannya karena pihak bakery memberikan ganti rugi sebesar 3x lipat.
__ADS_1
BPOM memeriksa buah semangka yang aku temukan. Atas izin anggota BPOM aku membelah semangka lainnya, sontak semua orang pun terkejut. Banyak dari daging semangka itu dibungkus cairan ingus.
Warna di sisi buah semangka bagian dalam nampak pucat dan cenderung berbeda dari semangka pada umumnya. Pihaknya menduga semangka tersebut mengandung zat pengawet berbahaya seperti formalin.
"Kalau dilihat, indikasinya mengandung pengawet berbahaya seperti formalin atau mungkin saja mengandung mikroba. Warna merahnya juga tidak merata ini juga indikasi ada pewarna." papar anggota BPOM.
Ibu penjual menjelaskan kalau dia membeli buah buahan itu dari pemasok. Tapi si ibu tidak bisa membuktikan perkataannya. Sehingga dia diberi peringatan oleh BPOM.
"Kalau kami menerima laporan lagi dari ibu. Maka secara terpaksa kami harus membawa ibu ke kantor polisi."
"Iya, maafkan saya pak."
Ibu itu menangis, membuatku sedikit merasa bersalah. Tapi disaat yang sama aku puas dengan berkahku ini.
Selanjutnya adalah mengarahkan anggota BPOM untuk memeriksa semua pedagang.
"Permisi pak, saya orang yang melaporkan ibu ini. Apakah bapak bisa menemani saya memeriksa barang dagangan penjual lainnya?." Tanyaku.
"Mas ini siapa ya?."
Inilah saatnya berakting, Show Time!.
"Saya ahli buah. Walaupun tidak punya sertifikat saya memiliki kemampuan mencium aroma buah berformalin. Selain itu saya juga bisa mencium aroma lain yang tercampur di dalam buah."
"Saya tidak pernah dengar ada ahli buah selain di BPOM. Ya sudah, mohon bantuannya pak...?"
"Hasan."
Kami pun mulai menyisir dari pintu masuk pasar yang kiri, tempat berdirinya warung mas Arya.
"Apa orang ini datang untuk balas dendam tempo hari...?. Jangan-jangan dia tahu aku sengaja."
Begitulah Kira-kira isi hati mas Arya saat melihat membawa anggota BPOM. Tebakanku akan benar 100 persen jika ada buahnya yang busuk.
"Kalau bapak-bapak ingin memeriksa buah buahan saya, periksa saja satu persatu. Saya jamin tidak ada buah berformalin seperti yang dijual bu Lala." Ucap mas Arya.
"Biar saya yang mengurusnya pak. Bapak bisa percaya sepenuhnya pada saya."
Aku mendekatkan hidung ke buah buahan yang berjejer. Pedagang yang satu ini cukup licik. Dia tahu mana buah yang busuk dan meletakkan di bagian belakang. Berbeda dengan ibu penjual disana yang polos dan asal jual. Mas Arya nampaknya tidak bisa ditipu oleh pemasok nakal.
__ADS_1
"Ini apa mas Arya?. Semangka ini ada sesuatunya kan?." Kataku dengan senyum sumringah yang hanya dapat dilihat olehnya.
***