
"Baiklah kalau kau tidak mau membantuku, aku akan minta bantuan Lim."
Lim bersedia membantu Hasan dengan bayaran kue manis limited edition bikinan Siska. "Siska sedang sakit dan kau memintanya membuat kue?"
"Justru itu bisa jadi alasan tambahan yang mendorong untuk sembuh lebih cepat." Hasan setuju dengan pemikiran Lim. Ia pun berjanji, dan kalau tidak bisa Hasan yang akan membuatnya.
Seperti yang sudah pernah dijelaskan Lim menguasai bela diri Krav Maga asal Israel. Fakta bahwa dia dikalahkan oleh orang-orang yang menggunakan bela diri israel membuat Hasan sangat marah.
Sambil beradu pukulan Hasan bertanya mengapa Lim mempelajari bela diri itu. "Kenapa kau mempelajari Krav Maga, Lim? Bela diri ini kan berasal dari negara penyebab perang."
"Aku memilih Krav Maga karena sangat mudah dipelajari di waktu luang. Yang terpenting dari Krav Maga adalah pemanfaatan sekitar dan serangan ke titik lemah musuh. Tidak masalah kehilangan harga diri dalam pertarungan, yang penting adalah kemenangan. Itulah prinsip Krav Maga sejati..!!"
Lim mengeluarkan sebuah taser gun imitasi. Karena imitasi sulit untuk mengendalikan tegangan listriknya. Lim benar benar tidak menahan diri, dia menembak Hasan dengan taser gun lalu membantingnya ke tanah.
"Bagaimana? Sudah tahu seberapa berbahayanya praktisi Krav Maga."
Hasan pingsan karena kelelahan tepat setelah Lim membantingnya. Ucapan Beyond Birthday terbukti benar, tubuh Hasan tak mampu lagi melanjutkan pertarungan.
***
Nameless sedang merancang ide untuk ujian ketiga Hasan. Dia tengah berada di kediaman sementaranya di kalimantan selatan.
Di antara tulisan yang dicoret dengan tinta merah, ada satu tulisan yang di coret dengan tinta hijau. Tulisan itulah yang akan menjadi ujian ketiga Hasan.
Berbeda dengan dua ujian sebelumnya, ujian ketiga dilangsungkan di game center, dan Hasan diharuskan membawa keluarganya yaitu Siska dan Amara.
[Ujian ketiga]
Tempat : Game Center Ramayana
Waktu : 5 hari sekarang, 11:00 Wita
Subjek : Mainkan 10 game baru, peserta dinyatakan lulus jika dapat juara 3 besar di 8 permainan.
Pesan yang sangat singkat itu dikirim oleh Nameless. Hasan sempat ingin menunda ujian ini karena istrinya baru keluar dari rumah sakit.
Nameless [Istrimu sudah beristirahat cukup lama, dia akan baik-baik saja. Sebaiknya jangan mengecewakanku Hall Fame.]
__ADS_1
Hasan bergegas mendatangi Lim, memintanya menemaninya ke game center. Namun Lim menolak karena dia sedang punya masalah kewanitaan yang perih. "Aku sedang datang bulan goblok!"
Selanjutnya Hasan mendatangi Kyle dan kakaknya Shadow. Mereka juga menolak membantu Hasan karena takut pada sosok Nameless yang pasti akan muncul di sana. "Ayolah, tidak perlu takut. Dia cukup tampan, sopan, dan baik hati." Hasan membujuk dengan menjual nama Nameless, tapi kedua gadis itu tetap menolak.
"Dia memintamu membawa keluargamu ke arena ujian? Itu terdengar sangat aneh. Tapi sebagai orang baik dia tidak mungkin melakukan hal yang akan membahayakan istri dan anak orang lain kan? Kau saja yang terlalu overthinking."
Hasan menggaruk kepalanya, dia membutuhkan pengawal untuk menjaga anak dan istrinya seandainya dia harus meninggalkan mereka. "Apa aku minta tolong pada Silverblade saja? Dia pasti mau membantu!"
Kenyataannya Silverblade tidak mau membantu karena dia juga sedang dalam masa ujian masuk divisi cryno. Bagi Silverblade Hasan adalah saingan berat.
Hasan semakin bingung harus kemana lagi. Disaat dilanda kebingungan inilah dia teringat dengan sosok wanita yang bernama Bounty Hunter. Dia adalah agen dkk pusat yang dipindah tugaskan ke kalimantan selatan sejak The Underwave mengincar kepala para gubernur.
Hasan pun kembali lagi ke kamar Burn Shadow untuk mencari informasi wanita itu.
Bounty Hunter saat ini tinggal di Bangka Belitung, dia memiliki aset pribadi berupa sebidang tanah dan rumah kayu sederhana yang berdiri di atasnya. Bounty Hunter sangat menyukai kesunyian rumah kayunya itu dan menghabiskan waktu luangnya menyendiri di dalam rumah, hingga ketukan terdengar dari pintu depannya.
"Siapa?"
"Ini aku, Hasan."
"Hasan siapa?"
Bounty Hunter membukakan Hasan pintu. Dia menepuk bantalan pada kasur yang berdebu sebelum diduduki Hasan. "Maaf aku tidak punya apapun. Tunggu sebentar, akan aku beli minuman dingin."
"Tidak perlu yang terlalu mahal, air putih dingin pun tidak apa-apa." ucap Hasan dengan senyum cerah.
Bounty Hunter kembali dengan soda dingin dan cemilan kue dan coklat beku. Jamuan yang menggiurkan untuk tamu yang datang tanpa pemberitahuan.
"Jadi ada urusan apa Hall Fame?"
"Aku akan berterus terang. Keluargaku dan aku hendak pergi ke Timezone Ramayana, tolong temani kami sekeluarga, nanti akan aku bayar dengan harga yang pantas."
Bounty Hunter tidak banyak bicara soal ini. Dia langsung melakukan negosiasi harga, saat bayaran yang ditawarkan Hasan cukup baginya dia akan langsung setuju. "Baiklah aku akan menjaga kalian saat bepergian besok." ucap Bounty Hunter dengan senyum manis.
"Tapi kau tidak boleh berangkat bersama kami. Tugasmu adalah menjaga kami dari jauh." Tutur Hasan.
"Tidak masalah, aku akan mengikutimu di jarak 10 - 30 meter di belakangmu."
__ADS_1
...***...
...***...
Akhirnya hari yang ditunggu tunggu untuk ujian ketiga tiba. Hasan membawa keluarganya berangkat ke Time Zone Ramayana. Saat naik ke lantai 3 lewat eskalator Nameless muncul secara tiba-tiba di samping Hasan. Tujuan kedatangannya adalah untuk menerangkan lebih detail soal ujian ini.
"Dalam ujian ini akan ada orang-orang yang mengganggumu. Inti dari ujian ini adalah tetap fokus meski di tengah gangguan."
"Saya siap bos Nameless."
Game baru yang dimaksud berjajar di ujung lorong. Dengan cat dan stiker yang masih baru dan desain klasik yang menarik kembali kenangan tahun 90 an.
Arcade game pertama berjudul 'Fire Hole'. Namanya mengingatkan Hasan dengan insiden lubang api persia yang erat kaitannya dengan para teror*s.
"Ini bukan game yang cocok dimainkan berdua apalagi oleh anak kecil. Ngomong ngomong Amara cukup tenang di tengah keramaian." Hasan mengusap pipi Amara dengan lembut.
"Siska, aku mengajakmu kesini untuk bersenang senang. Tapi sebelum itu ada 10 game yang harus aku selesaikan,"
Siska mengangguk. Siska dan Amara pun menunggu di kursi ayun yang cukup jauh dari Hasan.
Game 'Fire Hole' dimulai. Game tembak tembakan helikopter itu sekilas mirip dengan game android, yang membedakannya adalah kesulitannya. Beruntung Hasan cukup mahir memainkan arcade game.
Nameless mengirim 2 orang pemuda ke tempat Hasan. Kedua pemuda itu awalnya Hasan menonton Hasan main game namun lama kelamaan mereka mulai mengganggunya dengan terus berteriak di telinganya.
"WOOIII...!!! JAGO JUGA LU MAINNYA...!!! BELUM PERNAH ADA YANG SAMPAI LEVEL INI SELAIN LU...!!!!"
Tidak tahan dengan gangguan itu Hasan pun menendang pemuda di sisi kirinya hingga masuk ke keranjang sampah.
"WOII JANGAN MAIN FISIK DONG..!!!"
Satu pemuda lagi dia ikat dengan bajunya kemudian memukul perutnya sampai pemuda itu muntah.
"Siapa suruh kalian menganggu agen yang sedang ujian. Apa kalian jagoan disini? Atau kalian suruhannya Nameless?"
Kedua pemuda itu dibuat kocak kacir setelah melihat sikap Hasan yang keras.
Hasan menelepon Nameless di tengah permainan. Nameless mengangkat telepon itu. "Halo... "
__ADS_1
[Tidak masalah kan pak. Aku berusaha menyingkirkan gangguan di sekitarku, karena aku yakin bisa melakukannya dan mendapatkan peringkat 3 besar di dalam game.] ucap Hasan dengan percaya diri.
...***...