A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
50. Balas dendam (1/2)


__ADS_3

Silverblade merasakan kakinya bengkak.


"Sudah cukup! Aku tidak mau melawanmu lagi!"


Sayang sekali, padahal Hasan sudah meniru gaya Jeet Kuno Do Silverblade.


Melihat Hasan meniru tekniknya minat Silverblade pun kembali. Dia menantang Hasan beradu tinju 1 inci dengannya.


Hasan pun menerimanya.


"Oh tidak," Lim memejamkan mata.


Tinju satu inci dari keduanya berbenturan, walaupun Hasan bisa meniru kekuatan yang dimiliki tidak sebesar Silverblade yang sudah ahli.


Krak! Bunyi tulang tangan bergema di telinga mereka.


Entah tangan siapa yang mengeluarkan bunyi gurih itu, yang jelas keduanya nampak baik-baik saja.


Hasan merangkul Silverblade.


"Tinjumu kuat sekali, rasanya tulangku mau patah," Gumam Hasan.


"Jadi kau mengakui kalau bunyi tadi dari tanganmu? Hahahaa...!"


Hasan puas bisa menguji kemampuannya, tapi masih ada yang mengganjal.


"Oh ya, bagaimana dengan para begal yang memukuliku seminggu yang lalu?"


"Lim sedang mengatasinya, mereka sangat pintar bersembunyi, rencananya saat kau sadar kalian berdua akan bekerja bersama lagi."


Lim tersenyum pada Hasan. "Senang kau sudah sembuh partner lapangan."


Hasan balas tersenyum ke Lim.


Hasan tahu kalau Melinda turut bantu menyelamatkannya, bahkan wanita itulah yang menjaganya ketika di rumah sakit sebelum Siska datang.


Perasaan berdosa ini membuat dadanya sakit.


"Kemana mbak Melinda, kalau tidak salah tadi dia ikut kita ke sini?"


"Melinda hanya mengantarkan kita pulang dengan mobilnya, dia tidak pernah singgah." Sahut Siska.


Hasan merasa lega.


Pandangan ketiga agen mengarah ke Hasan, mereka menatapnya dengan tajam terutama Lim yang tatapannya paling seram.


"Apa?" Hasan bertanya alasan Lim menatapnya dengan begitu tajam.

__ADS_1


"Gara-gara kau pingsan aku jadi harus mengurus 2 misi sekaligus." Lim mengalihkan pandangannya. Jelas sekali yang dia katakan tadi bohong. Sebenarnya Lim merasa jijik pada Hasan yang tidak setia, hanya saja dia tidak bisa mengatakannya.


Masalah lainnya datang dari kedua orang tua Hasan. Ayah dan ibu Hasan meminta anaknya untuk tidak bekerja lagi.


Dengan lembut Hasan bicara ke ayah dan ibunya.


"Ayah, ibu, Hasan baru bekerja disana selama 2 minggu lebih beberapa hari. Tidak mungkin Hasan resign sekarang. Lagipula kecelakaan dan musibah itu sudah jadi bagian dari takdir Hasan."


"Tapi kamu bisa bekerja di tempat lain yang lebih aman. Bapak tidak mau kamu bekerja di kepolisian!" Bentak sang ayah.


Sang ibu sudah pasrah karena dia yang paling tahu sifat anaknya. Sekali Hasan sudah membuat keputusan tidak ada yang bisa mereka lakukan.


"Baiklah nak, kamu boleh bekerja disana. Tapi kalau terjadi sesuatu lagi, ibu rasa ibu tidak akan kuat mendengarnya." Kata sang Ibu.


"Tenang saja bu. Seminggu yang lalu aku masih pemula, sekarang aku sudah paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pekerjaanku."


Lim memiringkan kepalanya.


Sang ayah masih tidak setuju, namun Hasan juga batu tidak ingin meninggalkan pekerjaan itu.


"Aku akan kembali ke departemen mau ayah setuju ataupun tidak. Seharusnya ayah tahu kalau aku tidak pernah menarik kata-kataku."


Sang ayah berusaha mengejar Hasan yang pergi ke gedung departemen dengan mobil Silverblade.


Khairun si art menjadi saksi drama keluarga itu. Sang anak pergi dari rumah meninggalkan istri dan orang tuanya selama satu hari, si anak berjanji akan pulang besok malam setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Kenapa tidak, aku lihat kamarnya cukup bagus." Jawab Hasan.


"Istrimu sangat panik saat kau mengambil tas. Pasti dikiranya kau bertengkar dengan ayahmu dan kabur membawa baju. Ternyata tas yang menjadi biang kepanikan itu berisi buku."


Hasan membawa volume ke 1 - 12 novel Hunter and The System untuk dibaca di kantor.


"Ini adalah novel legendaris di jaman sekolahku dulu, kau pasti tidak tahu karena sibuk memimpin revolusi di India. Judulnya Hunter and The System. Premis awalnya adalah tentang seorang pria yang tidak memiliki sihir, namun suatu hari dia mendapatkan warisan penyihir legendaris yang membuatnya menjadi non penyihir terkuat di dunia."


"Kedengarannya menarik, kau bawa volume satunya?" Silverblade ingin coba membaca cerita itu walaupun baginya terdengar seperti omong kosong anak-anak.


"Tentu saja," Hasan mengeluarkan volume pertama HATS.


"Ngomong-ngomong apa kau akan memenuhi undangan Neon Blood?" Tanya Lim ke Hasan.


"Sepertinya tidak, aku takut dengan dokter aneh." Sahut Hasan.


Lim nampak tertawa kecil. Perhatian Hasan tertumpuk sepenuhnya ke gadis manis di sampingnya.


"Apa yang membuatnya tertawa?" Pikir Hasan.


"Aku sudah sering melihatnya tersenyum tapi jarang kalau tertawa. Apa yang lucu Lim?"

__ADS_1


"Kau yang lucu. Sebelum menjadi agen kau sudah bertemu banyak agen hebat dan kau tidak menyadarinya."


Lim menjelaskan lebih detail siapa siapa saja agen yang pernah Hasan temui.


"Pertama kolonel Graham. Kedua Neon Blood, dia adalah dokter ahli anatomi tubuh yang kau temui bersama nona Melinda beberapa bulan yang lalu."


Hasan terkejut mendengarnya. Dokter muda yang tampak aneh itu adalah Neon Blood. Hasan ingat pernah melakukan tes penciuman dengan bantuannya. Dia juga salah satu dari sedikit orang yang mengetahui asal muasal munculnya kekuatan penciuman yang dia miliki.


Karena sudah memiliki gambaran tentang sosok Neon Blood Hasan makin tidak ingin menemuinya.


"Aku tidak ingin bertemu dengannya walaupun dia dan Melinda pernah membantuku. Aku akan meregangkan badanku dengan latihan Arnis sebelum pergi ke lapangan."


Silverblade masih merasakan nyeri di kakinya akibat sikutan Hasan.


BB siap melatih Hasan kapanpun saat di tempat kerja.


***


Mulai hari ini Hasan mendapatkan senjatanya sendiri, sepasang baton yang kuat dan bisa dipendekkan.


Dalam latihan Arnis itu Hasan merasakan tubuhnya semakin terbiasa menyerang dengan posisi badan yang sulit, intuisi dan refleksi tubuhnya makin cepat sehingga BB kesulitan mendaratkan pukulan.


Yang seharusnya Hasan mudah dipukul sekarang menjadi sangat sulit. Perkembangan skill bertarung itu berkat sensitivitas super tinggi yang dirasakan Hasan melalui getaran udara ditambah kecepatan berpikirnya yang 3 kali lipat kecepatan pengambilan keputusan manusia normal.


"Apa yang terjadi padanya selama koma? Kenapa dia jadi sekompeten ini hanya dengan tidur!?"


Hasan melakukan serangan berputar yang mirip seperti Silverblade, bedanya fokus serangannya adalah dari batonnya ke baton lawan.


Serangan ini Hasan buat berdasarkan pengalamannya sendiri.


"Dia terlalu cepat saat menangkis serangan, satu satunya pilihanku adalah memukul batonnya dan memberikan damage ke pergelangan tangannya." Hasan membuat rencana yang sangat sederhana, mengulang serangannya berkali kali hingga pergelangan tangan lawan sakit.


Namun BB juga tidak sebodoh itu dengan hanya menangkis serangan Hasan. Dia memukul pergelangan kaki Hasan dan melemparkan lawannya ke udara.


Disaat melayang itulah Hasan melancarkan pukulan tidak terduga ke muka BB, hingga hidung BB berdarah.


Walau pendaratan Hasan tidak sempurna setidaknya dia berhasil memukul wajah mentornya.


***


.................................................................................


Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.


Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁


.................................................................................

__ADS_1


__ADS_2