
Di balik gempuran kekacauan, Hasan menemukan Siska, istrinya, menggeliat di lantai belakang panggung. Tatapan gelisah mengisi matanya saat menyadari bahwa saat-saat bahagia mereka sebagai orangtua akan segera tiba. Namun, kepanikan dan kebingungan merajai pikirannya karena situasi mall yang terasa seperti neraka akibat serangan *******. Dia merasa terpencil, terputus dari bantuan yang seharusnya dapat mereka peroleh.
Dalam angan dan kecemasannya yang meluap, Hasan berlari menghampiri Siska dan merangkulnya dengan penuh kasih. Dia merasa keberanian dalam dirinya meledak, tahu bahwa dia adalah satu-satunya harapan bagi istrinya dan bayi yang akan segera lahir. Hasan tak ragu, dia melepas jaketnya dan mengguncangnya untuk menutupi baju basah Siska akibat air pemadam kebakaran.
Dalam cahaya redup yang masih terlihat, Hasan mengenang setiap momen kebersamaan dan janji-janji cinta yang pernah mereka ucapkan. Dia merasakan denyut kehidupan yang tak terpisahkan dari tubuh Siska, dan tekadnya semakin kuat untuk melindungi mereka berdua. Lalu, dengan penuh perasaan, dia berlutut di samping istrinya yang sudah dalam proses melahirkan dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Siska, bersabarlah, sayang," bisiknya lembut, seolah memberikan kekuatan kepada sang istri yang melahirkan. "Kita akan melalui ini bersama-sama, kalian berdua adalah segalanya bagiku."
Saat rintihan Siska mencapai puncaknya, Hasan merasa ia juga ikut merasakannya. Dia tak henti-hentinya memberikan semangat dan dukungan, memastikan Siska bahwa dia tidak sendirian. Dalam pertolongannya yang penuh kasih, Hasan merasa seperti penyelamat yang berusaha menyelamatkan dunia kecil mereka dari badai mengerikan.
Akhirnya, di tengah kekacauan dan kegelapan, Hasan mendengar tangisan bayi yang memecah hening malam. Saat menatap wajah mungil sang bayi yang selamat di pelukannya, perasaan bahagia dan haru mencampuri hatinya. Meskipun dihantui oleh ketakutan dan ancaman, Hasan berhasil membawa kehidupan baru ke dunia ini dan menemukan keajaiban dalam kegelapan yang menyelimutinya.
Suara tangisan bayi terdengar sampai ke telinga Levi yang sedang mengganti magazine senjata dan Ren yang sedang bersembunyi.
Ren meminta Hasan untuk tidak keluar dari tempat persembunyiannya saat itu dimanapun itu.
Dengan tegas Ren berkata ke Hasan.
Aku bisa mendengar suara tangisan bayi dari sini. Akan sangat berbahaya jika istrimu melahirkan di situasi ini. Tetaplah disana, jangan keluar sampai aku menyuruhmu. Keluarga Kagume tidak pernah melupakan balas budi.
"Apa apaan itu? Ketikannya cepat sekali!" Batin Hasan.
Siska meletakkan tangan di paha suaminya yang sedang menggendong bayi mereka. Hasan lupa kalau dia sudah menghafal ucapan selamat untuk istrinya setelah melahirkan namun sekarang bukan saat yang tepat.
Tawa kecil keluar dari bibirnya saat melihat istri dan gadis kecilnya selamat. Air matanya menyatu dengan hujan di atas kepalanya. Tubuhnya lemas karena bahagia sekaligus syok, karena itulah Hasan menyerahkan yang diluar sana pada Ren.
__ADS_1
"Ternyata kau bersekongkol dengan DKK. Bagaimana bisa? Padahal kami sudah mengamankan tempat ini dari polisi dari jam 12 malam?" Tanya Levi pada Ren yang bersembunyi di belakang meja besi tempat hidangan plasmanan.
"Aku bukan polisi. Aku prajurit dari Jepang." Seru Ren.
"Wanita yang kau bunuh adalah pacar sewaan. Walaupun aku tidak mengenalnya aku tetap akan membalaskan dendam kematiannya." Tambahnya.
"Kau kejam Ren. Menggunakan orang lain sebagai umpan." ucap Levi sambil tertawa geli. Walaupun menyebut perbuatan Ren kejam namun sebenarnya Levi menyukai tindakan tidak bermoral yang dilakukan Ren.
Genangan air menjadi benteng tak kasat mata yang membatasi pergerakan mereka, menyulitkan langkah para petarung yang telah siap mempertaruhkan segalanya.
Dengan ketenangan yang membangkitkan rasa takut, Levi terus menembaki tempat persembunyian Ren, hujan peluru tak henti menghujani sasaran yang tak terlihat.
Namun, seperti prajurit yang telah belajar dari medan tempur, Ren dengan cepat berpindah dari tempat persembunyiannya, menghindari hujan tembakan yang berbahaya.
"Rasanya seperti mengenang masa lalu... Berapa banyak peluru yang dimiliki wanitai itu?" Ucap Ren di tengah gempuran peluru.
Ren menggenggam sumpit kecil, namun jumlah peluru yang terbatas menjadi tantangan tersendiri di tengah hujan tembakan musuh yang tak henti-hentinya.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang mantan cahaya asia!?!? Kau tidak berani keluar karena lawanmu menggunakan senjata api?!?!"
Di relung hati Levi, dendam pribadinya terhadap orang Jepang tumbuh subur, seperti benih kebencian yang tak terkendali. Baginya, orang Jepang adalah simbol dari masa lalu kelam yang tak pernah terlupakan. Mereka adalah alasan mengapa pasukan elit Israel harus menanggung derita dan kehancuran di kota mati yang menjadi lautan api setelah peperangan. Dalam memori Levi, lubang api Persia mencuat seperti simbol kehancuran yang tak termaafkan, dan setiap orang Jepang yang ada di hadapannya menjadi target kebenciannya yang terpendam.
"Aku tidak akan lari darimu. Kalian sudah mencabut nyawa kakak tertua pertamaku." Gumam Levi lalu dilanjutkan dengan seruan lantang. "Kenapa pasukan jepang ikut campur di pertempuran kota mati sehingga menyebabkan insiden lubang api persia!!?"
Ren akhirnya sadar kalau Levi adalah salah satu dari 5 wanita iblis dari pasukan Israel. Dia ingat detik detik pesawat jepang mengebom kemah pasukan Levi di kota mati. Meskipun sangat tragis namun begitulah keadaan di medan perang yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Berhenti membicarakan masa lalu yang sudah lama lewat! Bukan kau saja yang mengalami nasib buruk!"
Wanita gila itu sudah membuang 3 magazine peluru yang total berjumlah 60 kali tembakan.
Ren tidak gegabah meskipun yakin peluru Levi sudah habis. Dia membidik di antara celah sempit lalu menembakkan sumpitnya.
Peluru sumpit mengenai leher Levi yang lantas membuatnya terkejut dan jatuh. Ren sadar racun pada sumpitnya tidak berefek karena tersiram oleh air.
Levi bangkit lalu meringkuk ke belakang meja kayu untuk tamu undangannya. Dia ingin mengejar saudarinya secepatnya, tapi tidak bisa karena dirinya terkepung oleh dua musuh. Di depan ada Ren dan di belakang ada agen DKK.
Dengan jantung berdebar dan nafas yang terhela, Ren berdiri tegak, sumpit yang berisi racun syarafnya siap menghantam. Dia tahu, momen ini adalah kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Momen itu, seakan berlangsung dalam kecepatan kilat, mengisyaratkan kesudahan yang tak terduga.
Namun sekali lagi Ren dikhianati oleh racun syarafnya sendiri. Sumpit itu hanya melumpuhkan tangan kiri Levi yang memegang pistol mengisyaratkan kalau dia kidal.
Tak ambil pusing Ren pun menembak tangan kanan Levi membuat kedua tangannya lumpuh.
Ren menyimpan sumpitnya karena pelurunya habis dan Levi nampak tidak berdaya.
Levi mengangkat kakinya berusaha menendang Ren. Rupanya dia belum selesai dan sekarang menantang Ren bertarung tangan kosong.
"Kau bertarung untuk membalaskan dendam orang yang tidak kau kenal kan? Kalau begitu aku akan bertarung untuk membalaskan dendam kakakku yang tewas terpanggang di insiden lubang api persia!" sumpah Levi dengan sorot mata serigala yang siap memutuskan leher lawannya.
...***...
__ADS_1