
Di tengah perjalanan pulang nurani Hasan dihadang oleh 2 preman yang sedang menghitung uang hasil memalak.
Pakaian mereka sangat norak untuk seorang preman.
Hasan memutuskan mengikuti mereka karena pungli tidak bisa dimaafkan.
Kedua preman itu memalak wanita berumur yang lewat di depan mereka disaat itulah agen Hall Fame beraksi.
"Hei! lepaskan tasnya! Dasar kalian para pengangguran!"
Hasan memukul salah satu preman dengan cukup keras sampai dia terjatuh sementara satu orang lagi melarikan diri.
Hasan mengembalikan tas yang dirampas dari si wanita tua lalu memintanya segera pulang.
"Untuk saat ini aku biarkan kalian. Tapi kalau besok kita bertemu lagi dalam situasi yang sama, siap siap saja dijebloskan ke dalam penjara!" Ancam Hasan.
Aktivitas malam Hasan seperti biasanya adalah mandi, makan setengah porsi dari porsi makan siang, kemudian tidur, atau bergaul dengan istri dahulu baru tidur.
Khusus untuk malam itu Hasan tidak ingin menggauli istrinya. Sebagai gantinya besok malam mereka akan bermain sampai puas.
***
Hasan berangkat kerja dengan penuh semangat.
Kolonel Graham yang selama satu minggu ini hanya dia dengar dari cerita yang lain kini berada di hadapannya.
Kolonel Graham menyapa Hasan seolah mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Lama tidak jumpa Hall Fame, aku yakin kau tidak ingat pernah bertemu denganku." Kata Kolonel yang begitu disegani oleh 3 orang lainnya.
Hasan mencoba mengingat dimana dia pernah bertemu dengan si kolonel. Dia memiliki wajah orang Indonesia yang cukup tampan dengan brewok tipis, postur badan tinggi dan bagus, kulitnya putih, dan kharismanya kuat.
Tidak mungkin Hasan lupa pernah bertemu orang berkharisma sekuat dia, pasti saat bertemu dia tidak melihat wajah kolonel Graham.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak ingat. Perkenalkan, aku agen Graham, nama samaranku Rum Candle."
"Senang berkenalan dengan anda, nama samaran anda sangat keren. Tapi saya masih tidak bisa mengingat kapan kita pernah bertemu." Ucap Hasan.
"Hahahahahaa, nanti kau pasti akan mengingatnya. Biar aku beri petunjuk, satu kata petunjuk 'Novel'."
Novel adalah petunjuknya. Hasan ingat kalau terakhir kali dia melihat novel adalah saat di bazar farfum.
Hasan pun main sambung kata dengan kolonel Graham.
"Hunter and the System." (Hasan)
"Full volume." (Kolonel)
__ADS_1
"Sangat mahal." (Hasan)
"Benar." (Kolonel)
Hasan pun tahu kalau Kolonel Graham adalah penjual buku yang dia temui di bazar farfum beberapa bulan yang lalu.
Seingatnya kios buku itu terkena serangan bom dan pemiliknya terluka parah. Orang itu adalah Kolonel Graham, dan sekarang dua sudah pulih dari luka akibat insiden itu dan mulai masuk kerja kembali.
Hasan menepuk kepalanya. "Jadi anda pedagang itu. Pantas saya mengenali anda, saat itu anda memakai topi."
"Ngomong-ngomong apa volume lengkap Hunter and The System masih ada? Sekarang saya bisa membelinya."
"Tentu saja ada. Tapi novel aslinya hangus dalam ledakan itu, jadi aku hanya bisa memberikan salinannya yang aku buat sendiri."
"Tidak apa-apa! Aku beli semuanya!"
Silverblade bingung melihat kolonelnya begitu akrab dengan anak baru, terlebih lagi dia tidak mengetahui novel apa yang sedang mereka bicarakan.
Hasan bersedia mengeluarkan uang lebih banyak dari harga awal yang ditawarkan kolonel Graham ketika di bazar, yaitu 30 juta rupiah untuk salinan full volume novel tersebut.
Kolonel menerima uangnya dan Hasan pun mendapatkan kunci brankas berisi full volume novel HATS yang berada di kamar pribadi kolonel Graham.
"Nanti pas pulang akan saya ambil." Hasan menyimpan kunci itu di dalam jaketnya.
Kolonel Graham memberitahukan maksud kedatangannya yang terhitung sangat pagi, dia ingin memberikan misi lapangan kepada ketiga bawahannya yang belum berpangkat kapten.
"Siap pak! Akan saya bawa berapa banyakpun pimpinan mereka!"
"Letnan BB! Ada laporan pembegalan massal di bangka belitung. Buat para pembegal itu jela dengan menghajar mereka, jangan kembali kesini kecuali tidak terjadi pembegalan selama seminggu setelah kau menyelesaikan tugasmu."
"Baik pak!"
"Kopral Has! Ingat gerombolan pencopet yang kau dan Lim tangani seminggu yang lalu? Aku ingin kau mendatangi markas besar mereka dan semua sampah masyarakat itu! Jangan kembali ke sini kecuali dalam seminggu tidak terjadi aksi kejahatan di pasar!"
"Siap pak!"
Hasan berceloteh di dalam hatinya. "Kenapa hanya aku yang ditugaskan ke pasar? Tapi bagus juga sih, kalau ke tempat lain aku tidak percaya diri. Setidaknya di pasar banyak orang yang bisa dimintai pertolongan."
Hasan merasa beruntung karena dia anak baru tugas yang diberikan pun tidak terlalu sulit.
"Kalian juga diizinkan menggunakan peralatan canggih kantor ini jika memang diperlukan. Semoga berhasil."
Hasan mengikuti kolonel Graham ke kantornya.
"Kenapa kau mengikuti Has?"
"Saya berubah pikiran. Saya ingin mengambil novel itu sekarang, supaya istri saya tidak kerepotan merapikannya."
__ADS_1
Kolonel Graham pun mengantar Hasan ke kamarnya yang pintu masuknya berada tepat di belakang kursi dan meja kerja kolonel.
Kolonel Graham menunjukkan brankas berisi harta karun itu kemudian Hasan membukanya.
Setelah itu Hasan menelpon Grap dan mengirimkan semua buku itu dengan alamat tujuan rumahnya.
"Saat sampai bantu letakkan buku ini ke teras rumah ya. Ini tip untukmu." Ucap Hasan ke supir grap.
Setelah itu Hasan pamit karena dia akan mulai melacak komplotan pembegal yang meneror pasar.
Hasan bertolak dari kantor ke pasar dengan sepeda motor. Di tengah jalan dia mampu sebentar membeli tongkat pramuka.
Tongkat itu lalu dia potong dengan gergaji di tengahnya menjadi 2 tongkat kecil Arnis.
"Kalau membawa baton yang tidak bisa dipendekkan identitasku sebagai polisi akan ketahuan karena baton model itu hanya dimiliki oleh anggota kepolisian. Aku harus menggunakan senjata apapun untuk memperkuat diriku dalam pertempuran yang akan terjadi."
Hasan memarkirkan motornya dan mulai berpatroli.
Kehadiran Hasan disadari oleh satpam pasar yang kerjanya hanya duduk dan menonton tv. Dia memanggil Hasan.
"Kau dari kepolisian kan? Dimana temanmu yang cewek itu?" Tanya satpam tambun itu.
"Dia ditugaskan ke tempat lain. Ngomong-ngomong setelah kejadian begal waktu itu apa ada hal serupa yang terjadi?"
"Banyak malah,"
"Dimana?"
Pak satpam itu memutar tangannya seperti orang tidak waras, menunjukkan kalau di seluruh penjuru pasar ini terjadi hal yang serupa.
Hasan pun menggunakan taktik ber budget cukup tinggi. Hasan menyewa beberapa tukang ojek wanita untuk menyamar menjadi pengunjung pasar.
Selanjutnya bisa ditebak, Hasan menyuruh mereka berjalan ke tempat yang rawan terjadi pembegalan.
Para gojek perempuan itu mau mau saja karena di tempat itu ada banyak orang yang bisa dimintai tolong, dan Hasan menjanjikan bayaran 200 ribu jika mau jadi umpan.
6 buah umpan di kirimkan ke 4 titik yang berbeda.
***
.................................................................................
Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.
Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁
.................................................................................
__ADS_1