
Mulutku sudah tidak tahan ingin membalas segala ucapan kasar yang dia ucapkan padaku.
"Dasar women, memang enak mengandung anak di luar nikah. Memangnya setampan apa pria itu?, apa lebih tampan dariku?."
Membandingkan dia denganku adalah pilihan bagus, karena aku ini adalah pangeran tanpa kerajaan.
Ratna buang muka lalu berbalik pergi. Dia pasti terkejut tiba-tiba aku punya keberanian melawannya. Entah apa yang ada di dalam pikiranku, aku merasa tidak puas membully nya sekali jadi aku kejar dia dan aku bully sepanjang jalan.
Di momen itu aku melepaskan semua kekesalanku sampai dia menangis dan berusaha menampar diriku.
"eits, tidak kena! tidak kena!."
Ratna mulai marah, dia melempariku dengan batu, disaat itulah aku kabur sejauh mungkin.
Mood ku yang membaik terbawa sampai ke kantor. Aku dengar kabar dari mbak Siska kalau akhir pekan nanti bazar farfum akan kembali lagi.
Kali ini mungkin aku akan menemukan farfum Love Phobia Trauma Apple. Mengingat kata-kata wanita itu belum tentu valid, jadi masih ada harapan.
Pak Naryono datang membawa 2 buah kotak makan siang lalu dia letakkan di meja di depanku. Aku disuruh menebak apa isinya.
Spontan saja aku jawab. "Nasi goreng nugget yang kiri, lontong telur yang kanan."
"Benar."
Pak Naryono memberikan bekal nasi goreng nigger padaku. Katanya itu hadiah karena aku sudah bekerja keras. Sejujurnya aku mengharapkan hadiah yang lebih baik, ahh sudahlah.
"Jadi bagaimana pencarianmu di pasar farfum?."
"Rupanya bapak tahu. Tapi saya punya alasan pergi kesana. Apa bapak mau mendengar cerita saya?."
Pak Naryono menggangguk.
Aku pun menceritakan kejadian hari itu, teori asal kekuatan penciuman ini dan soal farfum itu. Semakin banyak yang tahu soal farfum LP Trauma Apple akan semakin mudah juga menemukannya. Begitulah yang aku pikirkan saat menceritakannya pada pak Naryono.
"Aku tidak bisa bilang apa-apa soal teorimu. Tapi tadi kau bertemu dengan siapa?."
"Wanita yang membawa banyak buku dan kelihatan seperti kutu buku bernama Carol, wanita dengan tatapan tajam yang tampak kaya raya, dan wanita cantik yang dijaga bodyguard tinggi, besar, botak, kasar. Bapak kenal salah satunya?."
"Tidak juga. Tapi kau bicara dengan banyak wanita cantik di bazar itu. Apa aku boleh pergi ke bazar juga?."
__ADS_1
"Hahahahahahahaa..." Aku tertawa geli mendengarnya.
Pak Mulyadi membawakan berkas kasus lagi. Melihat kasus kali ini dibuat secara tertulis kemungkinan besar panggilan ini datang dari kepolisian.
"Seorang pemakai jasa dokter pribadi dilarikan ke rumah sakit setelah penyakitnya makin parah. Diduga sang dokter salah memberikan obat, tapi sang dokter menyangkal kelalaian tersebut, jadi mereka memanggil BPOM."
"Penyakit apa itu?."
"Osteoporosis."
Bertepatan dengan datangnya permintaan itu datang seorang anggota baru. Anggota perempuan pertama divisi lapangan namanya Desvita Hajeera. Berbeda denganku, dia adalah pindahan dari kantor lain jadi dia cukup mahir dalam pekerjaannya.
Pak Naryono mengirim aku dan Hajeera. Karena aku dianggap sudah senior jadi giliranku mengajari junior.
Kami pergi dengan mengendarai mobil pak Mulyadi, orang tua itu selalu bermuka masam setiap kali aku membawa mobilnya.
Sesampainya di lokasi pelapor yang berada di sebuah komplek perumahan elit, junior yang aku bawa langsung menjadi gesit, seolah baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah.
"Jaga sikapmu mbak Hajeera."
Teguranku membuat wanita itu bungkam. Secara watak tidak ada yang menarik dari wanita berumur 26 tahun ini. Mungkin setelah ini aku harus mengajaknya ke warteg untuk mendekatkan diri.
"Kami tidak selalu mencari racun di antara obat. Tapi akan aku lakukan untukmu."
Aku meminta resep obat dari si dokter yang tertahan di rumah pasien. Beruntung obat yang dia berikan adalah obat yang umum ada di warung. Ini semakin menguatkan kecurigaan kalau dokter ini amatir. Tetapi mengapa dia tiba-tiba menjadi amatir itulah yang menjadi tanda tanya besar.
Aku menghirup bau obat obatan itu. Dugaanku obat obatan ini sudah masuk masa kedaluwarsa. Kalau benar maka saat ditumbuk akan keluar aroma yang berbeda.
Hidung manusia biasa bisa menangkap perbedaan bau itu.
Aku sodorkan sendok berisi obat ke Hajeera, dia juga menyadari kalau bau obat itu berbeda dari yang seharusnya. Walaupun teoriku sudah terbukti benar 99% si dokter tetap menyangkal.
"Anda meragukan penyelidikan anggota BPOM?. Anda telah teledor dalam memberikan obat untuk pasien, untuk itu kami berikan satu suara membawa anda ke pengadilan!."
Polisi yang berjaga di rumah itu pun langsung menyeret si dokter. Mungkin dia akan dibawa ke kantor polisi.
Kasus pun ditutup dan kami pulang.
"Maaf saya tidak membantu apa-apa hari ini pak Hasan."
__ADS_1
"Tidak apa-apa,"
Seperti yang sudah direncanakan aku mengajak Hajeera ke restoran untuk lebih mendekatkan diri dengannya. Semenjak memiliki berkah indera penciuman ini kepercayaan diriku meningkat pesat sampai berani mengajak wanita makan di restoran.
Padahal kalau diingat ingat lagi aku yang dulu tidak imun di dekat wanita.
Seiring bertambahnya kepercayaan diriku, aku pun menyadari kalau indera penciumanku semakin menajam. Seolah pedang itu bisa diasah tanpa henti. Menuju ke tingkat ketajaman yang dapat memotong tulang dalam satu ayunan kecil. Metafora itu sangat cocok menggambarkan indera penciumanku.
Aku hanya memesan sepiring nasi goreng tapi aroma yang ku cium berbeda beda. Aku bisa mencium semua hidangan yang disediakan warung ini dan warung yang berada di seberang jalan sana. Ability ini memang bagus untuk pekerjaan.
Tapi sebagaimana pedang yang tidak bisa disarungi karena terlalu tajam, indera penciuman ini pun tidak bisa disarungkan. Sepanjang hari aku terus mencium aroma aroma yang tidak ingin aku cium, dan itu sangat mengganggu. Biasanya aku menutupi hidungku dengan farfum buah yang aku beli. Membuat hidungku menjadi sangat peka terhadap aroma apel.
Seusai mengajaknya makan dan membayar makanan tapi dia tidak mau aku traktir, aku langsung pulang ke rumah karena kebetulan sudah jamnya pulang.
***
Pekan kedua bazar farfum. Aku sampai berhutang dengan mbak Melinda sebelum pergi kesini. Aku memiliki firasat bagus hari ini kalau akan mendapatkan farfum apel trauma itu.
- Pergantian sudut pandang ke Narator -
Carol dan Mary kembali lagi ke bazar farfum akhir pekan. Mereka masuk lewat pintu selatan dan bertemu seorang peramal.
"Loh bukannya seharusnya disini tempatnya penjual mainan, atau apa sih itu di minggu kemarin?." Tanya Mary yang bingung dengan denah bazar yang berubah.
"Penjual merchandise nya masih ada disini. Cuma peramal ini yang beda sendiri. Ayo coba!!." Carol menarik tangan Mary.
"Jangan!, dia mencurigakan!!." Mary kalah kuat sehingga dia mau tidak mau harus ke tempat peramal itu.
"Hohoho, siapa yang mau diramal?, mbak kacamata atau mbak kaya raya?." Tanya peramal itu yang seketika membuat Carol takjub.
"Tuh kan! dia tahu kau orang kaya!, tuan peramal tolong ramal keberuntungan saya hari ini." Pinta Carol.
Si peramal pun menyanggupi permintaan customer nya. Dipintanya Carol membuka tangannya agar si peramal bisa membaca garis tangannya.
"Pergi dari sini. Musibah akan menimpa tempat ini."
Carol tidak mengerti apa yang dikatakan si peramal karena bicara terlalu cepat.
Tak lama kemudian terjadi ledakan ditengah bazar farfum.
__ADS_1
***