
PEMBERITAHUAN
PERGANTIAN SUDUT PANDANG AKAN MUNCUL SECARA ACAK
SETIAP PERGANTIAN SUDUT PANDANG AKAN DITANDAI DENGAN MUNCULNYA ( - POV - ) SEBELUM PARAGRAF BARU
- POV Hasan (Tokoh) - >>>> - POV Narator -
.................................................................................
- POV Narator -
Mulyadi akan menjalankan rencana lanjutannya. Yaitu datang ke rumah Hasan untuk syuting lalu berpura-pura menyenggol pot kembang itu saat kamera on. Dengan begitu dia dapat memfitnah Hasan dengan bukti kamera di dalamnya.
Sementara itu Hasan membuat rencana untuk meng counter balik si maling jika benar dia adalah Mulyadi.
Mulyadi datang ke rumah Hasan untuk syuting konten. Untuk beberapa alasan Mulyadi menyarankan agar mereka syuting di luar rumah.
Tujuan Mulyadi tidak lain untuk mengambil plastik berisi uang di depan kamera. Hajeera pun setuju.
Lalu saat sedang syuting Mulyadi memaksa ingin menjadi figuran di samping Hasan.
Gelagat Mulyadi yang aneh membuat Hasan semakin mencurigainya. Hingga momen yang ditunggu tunggu pun tiba.
Mulyadi berpura-pura menyenggol pot kembang sampai jatuh.
Pot kembang itu pun pecah, Hasan terkejut dan langsung membersihkan pot kembang itu, tapi Mulyadi menepis tangannya.
"Apa yang kau lakukan pak Mulyadi?," Tanya Hasan geram.
"Memeriksa sesuatu."
Ditemukanlah kantong plastik hitam yang terbungkus tanah.
"Apa isinya pak Hasan?," Tanya Mulyadi berusaha menekan Hasan.
Seperti yang sudah dia rencanakan. Uang 200 juta rupiah pak bos akhirnya ditemukan di dalam pot kembang milik Hasan.
Mulyadi pun langsung memakinya di depan kamera, dia mengancam akan mengadukan hal ini pada bos.
Hasan yang merasa tidak bersalah pun akan membela dirinya di hadapan bos.
__ADS_1
Dengan terburu-buru si bos berangkat ke kantor untuk menghukum Hasan, begitu juga dengan Pak Naryono yang langsung menarik diri dari lapangan.
Disaksikan oleh bos, kepala divisi, dokter, asisten dokter, dan beberapa pegawai yang bekerja lembur, Mulyadi menunjukkan temuannya.
Dia menghitung jumlah uang yang ditemukan dalam kantong plastik dalam pot kembang Hasan.
"Jumlahnya pas 200 juta. Saya tidak menyangka pak Hasan seserakah ini!."
Mulyadi berbalik, memaki sambil menunjuk nunjuk ke muka Hasan.
Hajeera tidak memiliki niatan membantu Hasan, setidaknya sampai Hasan memberitahukan hal yang sebenarnya.
"Berhenti melawak badut tua. Lihat baik-baik duit yang kau temukan. Apa semuanya asli?."
Pak Naryono mengecek keaslian uang itu. Ternyata uang asli hanya 20 lembar sedangkan sisanya 198 juta adalah uang mainan.
Mulyadi yang tidak sadar dirinya ditipu langsung pucat pasi dan tambah menyalahkan Hasan.
"Kau kemanakan uang yang asli?!!." Mulyadi menarik kerah baju Hasan.
"Sebelum aku menjawabnya, aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau menaruh uang bos di dalam potku?, kalau tidak senang denganku bilang saja! jangan bertindak berlebihan seperti ini!!."
"Apa maksudmu...??," Mulyadi masih bertahan dalam kebohongannya.
Hajeera memperlihatkan rekaman seorang misterius mengendap endap ke pekarangan rumah Hasan, dan membenamkan sesuatu ke dalam pot kembangnya.
"Pria itu adalah pak Mulyadi. Dan barang yang dia tanam adalah plastik hitam berisi uang 200 juta yang asli. Saya menemukannya setelah memvideo kan aksinya. Hajeera juga ada disana, kemarin dia bermalam di rumah saya."
Hasan mengeluarkan ikatan uang 200 juta yang asli. Hasan tidak mengizinkan uang itu dihitung sebelum penjelasannya kasusnya selesai.
"Saya memang tidak melihat wajah si pelaku, tapi saya sadar kalau pelakunya adalah pak Mulyadi karena 2 faktor. Pertama, pak Abigail pengawas cctv tidak sadarkan diri saat pak Mulyadi bertamu ke rumahnya. Kedua, pak Mulyadi memaksa ingin memeriksa isi dari kantong plastik seolah dia sudah tahu apa yang ada di dalamnya." Papar Hasan.
"Heh!! Bukankah sudah aku bilang, pak Abigail pingsan itu karena saya tidak sengaja menjatuhkan obat tidur saya ke dalam mangkuk makanan!." Mulyadi membela diri.
"Pak Mulyadi, apa bapak mandi tadi pagi?," Tanya Hasan tiba-tiba.
"Memangnya apa urusanmu?."
"Perlihatkan video saat kota syuting tadi Hajeera."
Hajeera menunjukkan rekaman penemuan kantong plastik yang tadi. Harusnya Mulyadi menggunakan video itu untuk memfitnah tapi Hasan yang bijaksana dan cekatan berhasil menjadikan video itu sebagai bukti terkuatnya.
__ADS_1
"Lihatlah baik-baik tangan pak Mulyadi saat memegang kantong plastik. Padahal plastik itu tidak diselimuti banyak tanah tapi kuku pak Mulyadi sangat kotor seperti habis menggali tanah. Lihatlah kukunya."
Mulyadi pun mati secara mental saat menunjukkan kukunya yang kotor seperti kuku hitam penyihir.
Hasan menutup penjelasannya dengan finishing yang sempurna. "Makanya tadi aku bertanya kau mandi atau tidak, kalau kau jawab tidak kau akan tertangkap kalau iya pun kau juga akan tertangkap. Terima kasih juga karena sudah menarik kerahku tadi."
Si bos marah besar, dia memanggil sekuriti untuk menahan Mulyadi sampai polisi datang. Tapi begundal satu ini malah melawan dengan kuat. Dia mengambil sapu mematahkan tengahnya lalu berusaha menusuk pak bos.
Beruntung dengan kombo serangan Hasan dan Pak Naryono, Mulyadi dapat ditumbangkan dengan satu pukulan.
Mulyadi pun pingsan setelah 2 tinju besar mendarat di hidungnya.
Semua pegawai bertepuk tangan, mereka kagum pada Hasan yang tidak hanya dapat menemukan kebusukan pada makanan tetapi juga dapat menemukan kebusukan manusia.
"Kamu latihan meninju dimana?," Tanya pak Hasan dengan wajah penuh kemarahan. Tentu saja kemarahannya tidak ditujukan ke Hasan.
"Saya belajar silat dan karate di tongkrongan." Jawab Hasan sambil teringat hari pertama dia belajar bela diri di bundaran.
"Cepat angkat pembawa masalah ini ke depan kantor, polisi sudah ada di bawah." Perintah bos.
- POV Hasan -
Kejadian ini menghambat siaran youtube kami. Padahal rencananya kami ingin membuat video selingan sebelum hari sabtu.
Pak bos memanggil aku dan rekanku Hajeera ke kantornya.
"Terima kasih sudah menemukan uang saya dan memberhentikan pegawai yang tidak becus." Kata pak bos full senyum.
"Kapan kami memberhentikan karyawan?,"
"Hahahahahaa.. kamu memang polos Hajeera. Sifatmu sangat kontras dengan pekerjaanmu, saya harap kamu senang bekerja disini. Ini sedikit hadiah untuk kalian."
Pak bos memberi kami masing-masing amplop coklat. Dari baunya ada lembaran uang baru di dalam amplop ini.
Pak bos kami orangnya baik dan tidak perhitungan, tapi sekali terjadi hal hal berbau pengkhianatan seperti pencurian, penggelapan uang kas, atau korupsi di kantornya. Dia akan langsung mengamuk dan memecat pegawai yang menyebabkan masalah itu. Info ini berasal dari pak Naryono.
Bahkan Abigail dan satpam pun mendapatkan uang kompensasi sebagai permintaan maaf dari pak bos. Permintaan maaf karena telah membuat gendang telinga mereka sakit.
Amplop ku berisi uang 6 juta, tidak termasuk yang aku campuran di uang palsu tadi. Hajeera juga dapat 6 juta, tidak termasuk uang yang dia campurkan di uang palsu.
Begitulah akhir dari pencurian amatir yang dilakukan oleh pegawai BPOM sendiri.
__ADS_1
Total kerugian : Pot kembang keramik pecah, gendang telinga pak Abigail dan satpam berdarah.
***