
"Boleh kan saya membelahnya mas Arya?."
"Boleh, tapi apa anggota BPOM maunya begitu?."
Mas Arya mempertanyakan kepemimpinanku dalam hal ini. Untung saja anggota BPOM mengizinkan.
Semangka di belah dan kami menemukan semangka dengan warna merah yang sangat pekat.
"Dimana bapak mendapatkan semangka ini?." Tanya anggota BPOM.
"Saya menanamnya sendiri."
Itu bohong karena mbak Melinda pernah bilang padaku kalau tidak ada yang orang yang menanam semangka selain dirinya disini. Aku gunakan saja alasan itu untuk menyerangnya.
"Jangan bohong mas Arya, saya bekerja di kebun buah dan bos saya bilang tidak ada yang membudidayakan semangka selain dia. Jadi sudah jelas mas dapat buah ini dari pemasok."
"Bapak tidak pernah sekolah kah?, saya menanamnya di luar kota." Balas mas Arya.
"Cukup cukup!, biar kami yang memutuskan. Pak Arya, bapak kedapatan menjual semangka dengan pewarna buatan. Kali ini kami beri peringatan jika selanjutnya kami mendapatkan laporan lagi maka kami terpaksa menutup toko bapak dan mempolisikan bapak. Dan tempat produksi serta kebun semangka bapak akan kami selidiki."
"Baik pak, saya berjanji akan membuang semua semangka yang ditambahkan pewarna buatan."
Aku tidak puas dengan yang satu ini. Tapi biarlah untuk awalan, lagipula tujuan akhirku bukan mengeliminasi semua pedagang disini. Tujuanku adalah membentuk relasi dengan BPOM.
Kami melanjutkan ke kedai buah sebelahnya.
Sekitar 2 jam aku dan BPOM melakukan razia, dan hanya 2 warung yang tidak kedapatan melakukan kecurangan. Keadaan ini membuat anggota BPOM bingung. Kebingungan mereka bisa kupahami. Bayangkan tempat yang selama ini dianggap higienis dan terpercaya menyediakan buah buahan segar untuk warga menengah ke bawah ternyata buah buahan yang mereka jual jauh dari kata segar.
Seberapa hancur hati masyarakat yang pernah berbelanja disini.
Berkat razia itu juga kemampuanku jadi dikenal oleh anggota BPOM. Dan sebentar lagi mereka akan memanggilku.
"Pak Hasan, saya baru pertama kalinya bertemu orang dengan kemampuan unik seperti bapak. Jika bapak berkenan bisakah datang ke kantor BPOM besok."
Bibirku menyeringai.
"Saya harus minta izin bos saya dulu pak. Kalau diizinkan saya bisa datang." Aku tidak bisa memberikan kepastian saat ini.
"Baiklah. Ini nomor telepon saya. Saya harap bapak bisa datang ke kantor BPOM dalam waktu 3 hari ini. Karena saya hanya akan berada di kantor selama 3 hari ke depan." Kata bapak Naryono, yang membuatku penasaran siapa dia sebenarnya. Apa jabatannya di kantor BPOM.
Berkat razia ini juga kisahku jadi menyebar di kantor BPOM.
***
__ADS_1
Saat sampai di rumah Ayah dan Ibu nampak khawatir. Aku menjelaskan ke ibu kalau usiaku 30 tahun dan aku mahir bela diri.
"Tapi kamu besok harus kerja dan kamu sedang sakit. Jangan keluyuran tengah malam begini."
Tanpa sadar aku sudah bekerja sampai jam 11 malam. Akhirnya aku minta maaf dan memutuskan menceritakan kejadian hari ini besok saja. Nyeri di dadaku akan meronta ronta kalau tidak segera beristirahat.
***
Aku minta izin cuti satu hari ke mbak Melinda.
"Saya tidak menerima cuti kalau untuk mas hanya ingin bermalas malasan. Kemarin saya lewat depat rumah mas dan ternyata mas tidak ada si rumah." Papar mbak Melinda.
Ayah dan ibu tidak memberitahuku kalau bos datang ke rumahku. Aku sedikit kesal pada ayah dan ibu. Ahh, mungkin mereka lupa memberitahuku.
"Sebenarnya saya ingin pergi ke kantor BPOM hari ini. Kalau tidak bisa hari ini saya bisa pergi besok atau lusa, tergantung mbak memperbolehkannya kapan."
Mbak Melinda akhirnya mengizinkanku cuti besok.
Aku pun langsung membuat janji temu dengan pak Naryono besok pagi.
Singkat cerita keesokan harinya aku pergi ke kantor BPOM untuk bertemu pak Naryono.
"Silahkan lewat sini pak. Pak Naryono yang bapak cari ada di kantor pengawas."
Aku jadi terpikir kenapa pegawai administrasi itu selalu wanita?.
Sebenarnya aku agak malu masuk kesini, karena baju yang aku kenakan sangat mencerminkan status sosial kalangan bawah.
"Permisi, apa pak Naryono ada?."
Pak Naryono yang duduk di ujung ruangan melambai padaku.
Dengan jalan lambat dan badan membungkuk aku melewati orang-orang kantoran yang bekerja di depan komputer. Rasa tidak percaya diri menyelimuti diriku yang tampak mencolok diantar orang-orang berpakaian sama.
"Kenapa jalanmu lambat begitu?. Kemarin malam jalanmu sangat cepat."
Petugas lain yang kemarin datang bersama pak Naryono menepuk pundakku. Bapak ini bernama Mulyadi.
"Hawa disini berat sekali pak, orang seperti saya yang sering bekerja sendiri sendiri tidak terbiasa dengan tempat ini." Jawabku asal asalan.
"Maksud kamu disini bau keringat?. Duduk dulu sana!."
Pak Mulyadi mendorong untuk mempercepat langkahku. Lalu mendudukkanku di kursi depan pak Naryono.
__ADS_1
Pak Naryono menjanjikan pekerjaan di kantor BPOM padaku, tentunya kalau aku melewati tes yang disediakan.
Tes tersebut adalah ujian tertulis yang tidak mengacu pada ilmu pengetahuan melainkan pada diri sendiri, mirip seperti mengisi biodata diri. Ini pasti karena aku bilang ahli buah kemarin.
Dengan doa disertai ikhtiar aku melewati tes itu dengan tenang.
Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara aku, pak Naryono, dan pak Mulyadi.
Mereka bertanya apakah aku sudah memiliki pekerjaan yang tetap. Aku jawab 'tidak'. Pertanyaan ini juga ada di kertas soal tadi.
Selama sesi tanya jawab itu aku terus bergumam dalam hati. Kalau perkiraanku benar mereka akan menawariku suatu posisi di kantor itu. Harus seperti itu.
Bagaimanapun aku sudah bekerja keras tadi malam. Hatiku berdegup kencang setiap kali buah pilihanku dibelah. Takut penciumanku salah dan orang-orang kehilangan kepercayaan padaku. Tapi hal itu tidak terjadi tadi malam.
Tidak ada alasan untuk khawatir.
Lalu kalimat yang aku tunggu tunggu datang.
"Pak Hasan kami kagum dengan keahlian bapak membedakan buah kemarin malam. Kalau bapak berkenan berhenti kerja sebagai petani, bapak bisa bekerja disini mulai minggu depan sebagai bagian divisi lapangan bersama kami. Bagaimana?."
"Tergantung berapa gaji saya setiap bulannya?."
"Gaji pokok 1 juta ditambah uang makan, itu standar pegawai baru kalau bapak kerjanya rajin gaji bapak bisa naik jadi 2,5 juta, dan masih bisa lebih tinggi lagi tergantung jabatan bapak nantinya."
Nominal itu lebih besar dan statusnya lebih terpandang dari petani. Tapi pekerjaan ini akan sulit jika aku tidak berada di lapangan. Untuk memastikan aku terus berada di lapangan aku harus menunjukkan performa yang terbaik. Melatih hidung ini sampai bisa aroma racun di dalam obat.
"Saya mau bekerja disini!. Bagaimana caranya mendaftar?."
Pak Naryono tersenyum lalu memberitahuku caranya.
"Karena saya sedang sibuk jadi bapak lakukan sendiri ya. Cukup ikuti tutorialnya di link yang saya kirimkan dan tulis apa kelebihan anda di bidang ini." Pak Naryono mengacungkan jempol.
Aku pulang ke rumah dan mengisi link yang disediakan.
***
Malam harinya datang email dari pengguna subpkjsbpom@gmail.com.
Aku diterima bekerja di BPOM dan bisa mulai 2 hari lagi.
Hatiku teramat senang sampai dada yang sakit tidak menjadi halangan.
"Semoga mbak Melinda tidak benci padaku."
__ADS_1
***