
Pergantian hari dimulai, pukul 00:01 restoran telah beralih fungsi sepenuhnya jadi rumah bordil.
Hasan berjaga di depan pintu masuk. Untuk menutupi identitas dia menggunakan topeng wanita kayu.
"Menjijikkan, pria memakai topeng wanita itu."
"Tapi dia juga sangat beruntung bisa bekerja di tempat impian."
Omongan tidak berguna para manusia menjijikkan itu sampai ke telinga Hasan.
Setelah menerima sekitar 10 tamu, Hasan masuk ke dalam gedung.
Kalau kalian ingat di bab sebelumnya Kolonel Graham meletakkan Hasan di pagi sampai siang saat restoran masih buka, dan Silverblade di saat jam malam. Nah karena itulah Hasan bisa bebas meninggalkan pos nya.
Hasan berjalan mengitari lantai 1. Suara ******* terdengar di mana mana membuat libidonya menggelora. Satu pelanggan bahkan tidak bermain di kamar melainkan di dapur, tempat lalu lalang banyak orang.
Hasan memfokuskan pandangannya. Sejauh ini tidak ada pelanggan wanita yang mirip dengan di sketsa.
Oh ya, rumah ini khusus untuk pria. Si pemilik tidak mendukung hubungan sesama jenis di tempat usahanya, jadi wanita itu datang hanya untuk makan.
Tak lama terjadi keributan antara pelanggan dengan talent. Hal seperti ini sudah biasa terjadi dan sudah menjadi tugas sekuriti untuk melelai mereka.
Karena Hasan paling dekat dengan lokasi jadi tugas itu jadi tanggung jawabnya.
"Permisi pak, jangan menarik rambut talent kami seperti itu." Ucap Hasan dengan lembut.
Talent itu nampak kesakitan dijambak di rambutnya.
"Tadi saya dengar dia menjerit kesakitan."
"Itu kan wajar." Pria hidung belang itu bersikukuh tidak bersalah.
Hasan mulai kesal adu mulut dengan pria itu. Hasan pun mengingatkannya tentang peraturan rumah bordil disini.
"Bapak tidak membaca buku panduan yang kami berikan bukan? Di halaman pertama buku itu tertulis peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh customer. Di paling atas tertulis aturan dilarang menyakiti talent, dan dilarang melakukan hubungan seksual secara berlebihan. Kalau ketahuan melanggar akan kami keluarkan dan nama anda akan di blacklist."
__ADS_1
Mendengar itu si customer kasar itu ciut nyalinya.
"Kalau sudah paham minta maaflah ke talent! Ini adalah kelanjutan peraturan nomor 1."
Rupanya pria itu memukul pipi si wanita beberapa kali selama main tadi. Dia tidak dikeluarkan karena kekerasan yang ia lakukan termasuk kecil.
Perasaan miris tidak terbentung memenuhi hati orang yang menyaksikan.
Hasan menaiki tangga ke lantai atas dan menemukan dua pelanggan sedang berkelahi. Masalahnya adalah pelanggan yang A tidak puas dengan talent yang melayaninya karena dia hanya bagus di fisik saja tapi kurang di wajah. Dia merasa dicurangi karena talent milik si B memiliki segalanya termasuk wajah yang cantik padahal dia membayar dengan biaya yang sama.
Hasan menyarankan mereka main bersama. Si A dan si B dengan talent, jadi bayarnya pun bisa mereka tanggung bersama. Namun talent lain yang ikut menyaksikan pertengkaran itu menyarankan si A untuk menunggu waktu si B habis.
Namun dasar manusia tidak sabaran, si A malah menampar talent wanita itu.
Hasan mengambil dua buah gelas kaca lalu menghajar si A karena telah menyakiti talent.
Bak! Buk! Bak! Tiga kali pukulan gelas kaca mendarat di wajah pria itu.
Perkelahian tidak terhindari, si A terang terangan mengungkapkan posisinya dalam pemerintahan untuk mengintimidasi Hasan.
"Kau di blacklist! Karena aku melihat sendiri kekerasan yang kau lakukan." Ucap Hasan dengan mata penuh amarah.
"Hahahahaa...!! Memangnya kau siapa berani mem blacklist sesuka hati..?! Selain itu pemilik restoran tidak mungkin mem blacklist customer yang merupakan sumber uangnya."
Hasan mendekati pria itu, wajahnya dia letakkan sangat dekat dengan si A supaya kata katanya yang halus terdengar oleh telinga pendosa itu.
"Kau berpikir segala hal bisa diatasi dengan uang. Apa menurutmu para talent disini bisa kau hajar sesuka hati kemudian memberikan uang sebagai permintaan maaf? Tidak. Alasan mengapa ada aturan dilarang menyakiti talent karena pemilik usaha ini masih menganggap mereka sebagai manusia, SDM yang harus dijaga, bukan hewan yang diperjualbelikan kesehatannya."
Hasan memegang badan pria itu supaya tidak bisa menjauh darinya.
"Sekarang naiklah ke lantai 3, temui wanita dengan sanggul dan katakanlah kau memukul talent, bertutur katalah yang sopan padanya."
Hasan mendorong pria itu sampai terjatuh membentur si B.
Kemudian Hasan membangkitkannya dan menyeretnya ke lantai 3.
__ADS_1
"Aku melihat semuanya. Pak Miguel, kau di blacklist. Sekarang angkat kaki dari sini!" Tegas nyonya Yin.
Sempat tidak percaya si A akhirnya menyerah juga.
"Kau akan menyesali ini ****** tua!" umpatnya sebelum pergi.
Silverblade yang mendengar keributan yang dibuat pria itu lantas menjahilinya saat melewati pintu depan. Silverblade meluruskan kakinya tepat saat pria itu melewati pintu.
Pria itu pun terjatuh karena tersandung kaki Silverblade, kepalanya berdarah karena terguling dan terbentur di tangga tiga tingkat.
Karena menanggung malu dan sakit di saat yang bersamaan mood pria itu langsung hancur. Dia mengumpat pada orang-orang restoran. Karena kesal nyonya Yin menyiramkan dengan sup bekas. Pria itu pun dijadikan bahan olok olokan oleh para talent yang melihatnya dari jendela.
"Berhenti tertawa!! Biarkan mantan pelanggan kita pergi dengan tenang." Teriak nyonya Yin.
Silverblade mencari cari keberadaan Hasan. Tak disangka Hasan sedang membantu wanita yang digangbang oleh 5 pria di gudang sebelumnya.
Hasan menatap sekitarnya dengan mata tanpa cahaya, benar-benar kosong seperti orang yang tidak memiliki harapan hidup.
Dia berusaha tutup mata atas apa yang ada disini.
Hasan berbicara pada dirinya sendiri soal aksi teror*sme asap beracun di gedung gubernur. Sekaligus membuat asumsi dan prediksi pergerakan si ******* di masa yang akan datang.
"Sudah seminggu lebih sejak aksi teror*sme yang meresahkan masyarakat itu. Apa tujuan teror*s itu menyerang gedung gubernur, apa pula dampak yang ditimbulkan jika gubernur kami terbunuh? Sepertinya dampaknya tidak terlalu besar pada pemerintah Kalsel, toh tinggal angkat gubernur yang baru. Teror*s ini sepertinya hanya iseng atau memiliki dendam. Yang paling masuk akal adalah dia hanya orang iseng yang gila. Kalau dia memiliki dendam pada warga gedung gubernur seharusnya dia beraksi kembali setelah berita yang menyatakan keselamatan semua korban muncul di tv."
"Apa yang sebenarnya orang ini inginkan?!"
Tiba-tiba sebuah kursi jatuh dari lantai 3 tempat nyonya Yin.
Nyonya Yin diserang oleh seorang pelanggan yang terlampau bernafsu.
Nyonya Yin bukan talent tapi orang-orang itu tidak peduli. Nyonya Yin diserang oleh 6 orang pemburu janda.
"Aduhh nyonya Yin. Kalau kesepian bilang saja ke kami mengapa harus ditanggung sendiri. Semahal apa perawatan kulit nyonya Yin sampai kelihatan semuda ini?" Katanya dengan raut muka menjijikkan.
***
__ADS_1