A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
34. Kampung anak-anak berkebutuhan khusus


__ADS_3

"Baiklah, kita pergi ke lokasi berikutnya. Kali ini laporan datang dari seorang tukang servis tv yang menggelar acara hajatan. Saat membeli 11 bos nugget tetangganya dia mendapati bau yang tidak sedap di salah satu box. Seperti bau kalut, entahlah bau apa itu, kita akan tahu saat memeriksanya langsung." Tutur pak Naryono.


Pak Naryono masih gemetar setelah menembak orang sebelumnya, dengan susah payah dia sembunyikan tangannya yang gemetar.


Hasan tidak ingin melanjutkan perjalanan, tapi dia adalah inti dari penugasan ini. Bos  bilang begitu sebelum mereka bertiga berangkat.


Sedangkan Pink Man muntah-muntah dan kepalanya pusing setelah dicekik oleh tersangka A.


Selain pak Naryono tidak ada yang siap melanjutkan perjalanan.


Mbak Khairun menghampiri mereka. Dia kesulitan berkata-kata karena jasa petugas BPOM hari sangat luar biasa. Mbak Khairun mewakili semua warga yang dirugikan mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya pada BPOM, terutama pada Hasan.


"Tidak usah sungkan mbak. Btw, ada yang jualan perban enggak disini? Tangan saya kram." Tanya Hasan sambil tertawa.


***


Setelah keluar dari area hutan akhirnya telepon bisa digunakan lagi.


"Akhirnya aku bisa menelepon Siska." Gumam Hasan.


Hasan menekan dengan lambat karena tidak terbiasa dengan tangan kiri, sementara tangan yang satunya di perban.


"Halo Sis,"


[Halo mas.] (Siska)


"Kayanya kita gak bisa main malam ini soalnya tangan kananku diperban."


Pink Man dan pak Naryono langsung melirik ke Hasan.


[Loh loh kenapa tanganmu diperban mas?!]


"Tadi aku dicekik dari belakang, terus di depanku ada sop panas aku ambillah sop itu lalu aku usap ke muka si penyerang. Gara-gara itu tanganku jadi melepuh terus diperban deh."


Hasan bicara dengan santai seolah sedang berada di rumahnya.


Berita kanibalism anak dibawah umur dan aksi heroik ketiga petugas BPOM ini akan viral keesokan harinya.


"Kita kelihatan keren saat berduet melawan penjahat, bagaimana kalau kita membuat tim yang bernama... Tim Bad Food! (makanan jahat!)"


"Tidak." Jawab pak Naryono singkat.


"Bad Food, apa artinya?" Tanya Pink Man.

__ADS_1


"Makanan busuk." Kata Hasan.


"Bahasa inggrismu bodoh! Yang benar Rotten Food. R-O-T-T-E-N F-O-O-D."


"Itu! Baru saja aku mau bilang. Mulai sekarang kita bertiga adalah trio Rotten Food dari BPOM cabang Banjarmasin."


Hasan memiliki cara unik menghibur dirinya. Baru kali ini Pink Man setuju dengan Hasan. Pak Naryono dimanipulasi oleh Hasan untuk bergabung dalam tim itu.


"Anak-anak zaman sekarang suka membentuk tim atau kelompok. Dengan menjadi anggota tim Rotten Food anda bisa ikut tampil dalam acaraku. Bapak bisa tampil modis ala anak-anak zaman atau tampil berkelas, atau tampil dengan style bapak yang emm... agak kuno menurut saya." Hasan berbisik di telinga pak Naryono.


"Apa! Kuno kamu bilang?! Dulu waktu muda aku ini anak band, jangan kira rambut sudah beruban sama dengan tidak tampil bergaya. Baiklah aku ikut!"


Tempat kedua tempatnya 4 kilometer dari tempat yang pertama, namanya adalah 'perumahan terbelakang'. Mengapa disebut demikian? Karena semua warga yang tinggal di perumahan ini adalah orang-orang dengan mental yang tidak sempurna.


Perumahan itu dibeli oleh seorang duda konglomerat 20 tahun yang lalu untuk menampung anak-anak berkebutuhan khusus, autis, dan lain semacamnya yang tidak memiliki keluarga. Sungguh perbuatan mulia yang langka.


Di masa kini perumahan itu semakin meluas seiring bertambahnya jumlah anak abk.


"Kalau anak-anak abk itu sudah besar kemana mereka akan dibawa?" Tanya Pink Man ke pak Hasan.


"Mereka tetap tinggal disana, karena itulah perumahan itu diperbesar setiap tahunnya."


"Kok seram ya, kedengarannya seperti tempat karantina untuk anak-anak spesial."


"Jangan marah padaku, guru-guru di sekolahku lah yang mengatakan bahwa mereka spesial."


"Orang berkebutuhan khusus memang spesial pak Hasan. Salah satunya adalah mereka spesial di mata tuhan karena di mata kita mereka tampak sebelah mata. Bisa dibilang karena lahir tidak sempurna itulah yang membuat mereka lebih spesial dibandingkan kita."


"Aku tahu itu, tapi pikiran seperti itu justru akan membuat mereka merasa tidak perlu memperbaiki diri. Bayangkan jika ada orang autis yang ingin menjadi atlet renang, atlet lari maraton dan sebagainya tapi tidak ada yang mau melatih mereka karena melatih orang berkebutuhan khusus perlu tenaga ekstra. Apa si pelatih akan menolaknya dengan mengatakan kalau dia sudah spesial?"


Pak Naryono terkejut dengan pemikiran mendalam Hasan. Tentu saja dia tidak bisa memberikan jawaban pasti terkait hal itu.


Seisi mobil menjadi diam memikirkan jawaban pertanyaan Hasan, tidak terasa mereka sampai ke perumahan terbelakang.


Setelah memarkirkan mobil di samping lahan pertanian warga, pak Naryono meminta kedua anak buahnya turun. "Kita sudah sampai, jadi cepat turun Hasan!"


Hasan tidak mau turun dan terus mengeluh tangannya kram.


Sikap malas Hasan membuat Pink Man yang sudah turun kehilangan setengah semangatnya. Apalagi hari mulai malam.


Harusnya kami beristirahat di rumah sekarang. Protes Hasan.


"Tapi klien kita sedang menunggu, bukankah kau bilang akan bersikap profesional saat di lapangan pak Hasan?"

__ADS_1


Hasan menggaruk lehernya dan akhirnya keluar dari mobil. Dengan sangat terpaksa dia berjalan seperti zombie yang menyeret nyeret kakinya.


Sesekali pak Hasan menengok ke belakang dengan cepat, dan Hasan pun memperbaiki postur berjalannya, namun saat pak Naryono menghadap depan lagi Hasan kembali berjalan dengan menyeret kakinya.


Tiba-tiba Pink Man terperosok ke dalam lubang yang tersembunyi di balik kain tertutup tanah.


Hasan pun menertawakan Pink Man.


"Lagian kenapa kau berjalan di pinggir? Hahahahahaa...!!"


Tiba-tiba sekelompok orang autis datang menghampiri mereka.


Mereka malah pada Pink Man yang merusak jebakan kelinci mereka.


"Akan aku berikan kalian kelinci yang banyak, asal berhenti berteriak padaku. Orang-orang aneh..." Bagian terakhir itu dikatakan dengan suara pelan. 


Pink Man bersembunyi ke belakang Hasan. Entah mengapa para abk itu tidak berani mendekati Hasan, mungkin karena wajahnya yang kaku dan tidak friendly.


"Kayaknya gua pernah liat dia deh, detektif tai bukan sih?"


Urat leher Hasan muncul, pertama kalinya dia marah sampai urat lehernya terlihat.


Hasan pun segera menjauh dari orang-orang itu.


'Sabar tuan-tuan, kekesalan kalian akan terbayar dengan kenaikan gaji." Ucap pak Naryono.


"Benarkah pak? Gaji kami naik?" Pink Man yang bodoh dikecewakan oleh jawaban pak Naryono.


Suara orang mengaji mulai memenuhi langit senja. Maghrib akan segera datang. Hal pertama yang dipikirkan Hasan adalah mencari tempat untuk menginap. Walaupun di desa pasti ada suatu tempat untuk menginap Hasan.


Hasan bertanya. "Apa kita akan menyelesaikan pekerjaan ini malam ini juga pak Yono?"


"Kalau tidak ada masalah besar seperti di tempat pertama kita bisa pulang malam ini."


Nampak anak-anak berkebutuhan khusus sedang bermain lompat tali di pinggir sebuah rumah kayu. Yang menjadi pusat perhatian Hasan dan yang lainnya adalah wanita cantik berkemeja putih berok kotak-kotak yang memperhatikan anak-anak abk itu seperti sedang mengawasi mereka.


Hasan menampar pipinya dengan keras mengaktifkan x-ray nya lalu menampar sekali lagi untuk mematikan x-ray.


"Singkirkan pikiran kotor itu Hasan! Sudah berapa banyak wanita yang kau targetkan seminggu ini? Istrimu sendiri, mbak Melinda, mbak Khairun, kalau tambah lagi rasanya aku akan kena karma." Hasan menahan dirinya untuk tidak melampaui batas seorang playboy.


Hal sebaliknya terjadi pada pak Naryono, pria tua itu seakan tidak bisa melepaskan pandangannya dari wanita muda yang cantik itu.


"Dia mirip... keponakanku yang kabur dari rumah..."

__ADS_1


***


__ADS_2