
Hasan duduk di ruang bawah tanah toko, wajahnya penuh perhatian saat bertanya kepada Pak Mello. "Pak Mello, bisakah Anda jelaskan di mana letak sumur itu? Saya ingin tahu lebih detail tentang keberadaannya untuk persiapan penjelajahan," ucapnya dengan antusias.
Pak Mello tersenyum pahit, dia tidak menyangka Hasan justru ingin mendatangi tempat yang mengerikan itu. "Tentu saja, pak Hasan. Sumur itu terletak di bawah reruntuhan kota kuno yang dikenal sebagai Ramesh," kata Pak Mello. "Kota ini terkubur dalam pasir selama berabad-abad, dan tidak banyak orang yang tahu tentang keberadaannya. Tapi, aku berhasil menemukan petunjuk-petunjuk yang akan membawamu ke tempat tersebut, tapi ada biayanya."
Hasan mengangguk, mendengarkan dengan seksama. "Soal bayaran itu gampang, asalkan dibawah 200 juta aku akan mengambilnya."
Akhirnya pak Mello setuju menjual petunjuknya karena melihat potensi dalam diri Hasan. Potensi menjadi mayat maksudnya. Pak Mello tidak berharap Hasan berhasil menemukan sumur itu, dia hanya berharap anak muda ini selamat dan menyadari kebodohan lalu pulang ke keluarganya.
Hasan membayar jasa pak Mello senilai Rp 199.900.000,00/Seratus sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus ribu rupiah.
Namun karena Hasan tidak bisa membaca petunjuk yang ditulis dengan bahasa orang buta Hasan pun meminta pak Mello menerangkan isi petanya.
"Kau harus mengikuti petunjuk dari naskah-naskah kuno yang aku teliti. Bahasa kuno Mesir menjadi kunci untuk membuka misteri di dalam reruntuhan tersebut. Setiap tanda dan simbol memiliki makna tersendiri, dan itulah yang akan membantumu menemukan lokasi sumur. Akan aku buatkan salinan yang lebih mudah untuk dimengerti, tapi akan memakan waktu 2 hari."
Hasan merasa semakin tertarik dengan cerita Pak Mello. "Itu benar-benar menarik, Pak Mello. Saya yakin Anda memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang bahasa kuno Mesir."
Pak Mello tersenyum rendah hati. "Saya telah mendalami bahasa ini selama bertahun-tahun, dan pengetahuan ini membantu saya dalam banyak penjelajahan sebelumnya."
Namun, Pak Mello tidak lupa memberi peringatan penting, "Namun, Anda harus waspada, Hasan. Reruntuhan kota ini juga memiliki perangkap gas alami yang melindungi sumur tersebut. Gas beracun dihasilkan oleh batu vulkanik tertentu yang tersebar di sekitar sumur. Gas ini sangat berbahaya dan bisa membahayakan nyawa kita jika tidak berhati-hati."
Hasan mengangguk serius, menyadari pentingnya keselamatan dalam petualangan ini. "Tentu saja, Pak Mello. Berkat pertemuan ini aku sadar kalau keselamatan adalah yang nomor satu. Saya akan menyiapkan alat pendeteksi gas dan masker gas sebagai tindakan keamanan tambahan."
__ADS_1
Hasan merasa yakin kalau persiapan sudah matang. "Terima kasih banyak, Pak Mello. Saya tahu Anda adalah ahlinya, maksud saya dulu ketika anda masih muda."
Hasan berhasil menipu pak Mello dengan berpura-pura polos. Dia membayar 199,908 ribu rupiah untuk sebuah informasi yang belum tentu kebenarannya. Dalam buku hukum Singapura tindakan ini sama saja dengan penipuan. Oleh karena itu Hasan mengingatkan pak Mello soal bunyi pasal itu yang langsung membuat pak Mello panik.
Namun, Hasan berjanji tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum asalkan pak Mello memberikan sebotol penuh farfum berharganya, tanpa pembagian seperti yang mereka sepakati di awal.
"Apa! Itu tidak adil!!"
Hasan tidak menghiraukan pak Mello, sejak awal pak Mello lah yang coba menipu Hasan, jadi Hasan membalasnya dengan cara yang sama. Setelah berdebat cukup lama akhirnya Hasan berhasil menang dan farfum LP Trauma Apple jatuh ke tangannya.
...***...
Di tengah reruntuhan kota kuno Ramesh, Silverblade dan Lim berjalan dengan hati-hati, menggunakan jaringan data milik Burn Shadow sebagai panduan. Mereka mencari jalan masuk ke tempat tersembunyi yang menurut legenda, menyimpan sumur misterius yang menjadi tujuan mereka.
Namun, Silverblade tetap fokus dan tak mengindahkan keluhan Lim. Dia tahu betapa pentingnya menemukan tempat itu tanpa banyak hambatan. "Kita harus tetap fokus, Lim. Jangan teralihkan oleh hal-hal kecil," kata Silverblade tegas.
Lim sedikit kesal dengan respon Silverblade yang tampak mengabaikannya. Namun, dia juga menyadari bahwa mereka sedang berada di tengah misi penting. "Baiklah, aku mengerti," ucapnya singkat sambil meneruskan langkahnya.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Silverblade dan Lim menemukan reruntuhan yang tersembunyi di balik dinding besar. Mereka menyusup ke dalam dan menemukan lorong rahasia yang mengarah ke dalam kota kuno. Reruntuhan itu menawarkan keindahan arsitektur zaman dulu yang menyentuh hati.
Meski merasa panas dan lelah, Lim tidak bisa menahan rasa kagumnya melihat keindahan sejarah di hadapannya. "Wow, tempat ini benar-benar menakjubkan," katanya dengan suara terkesiap.
__ADS_1
Silverblade melihat ekspresi Lim dan menyadari bahwa dia juga merasakan keajaiban yang sama. "Ya, tempat ini memang luar biasa. Tetap fokus pada tujuan kita, dan kita akan mencapainya," kata Silverblade, memberikan semangat pada Lim.
Ketika Lim tanpa sengaja memicu perangkat yang mengaktifkan semburan gas beracun, keduanya dengan cepat mengenakan masker gas yang telah disiapkan sebelumnya. Mereka merasa bersyukur atas persiapan tersebut karena gas beracun mulai terlepas dan mengisi udara sekitar mereka. Dengan hati-hati, Silverblade menarik tangan Lim dan menyembunyikan diri mereka di balik dinding reruntuhan yang tinggi.
Tepat saat mereka bersembunyi, muncul penjaga reruntuhan yang berpatroli sepanjang waktu. Mata mereka saling bertemu, dan Silverblade mengisyaratkan untuk tetap diam dan tidak bergerak. Mereka harus menunggu kesempatan yang tepat untuk bergerak tanpa terdeteksi oleh penjaga.
Dalam keheningan, Lim mengepulkan napasnya dengan pelan dan mengatur detak jantungnya agar tetap tenang. Dia merasa tegang namun juga bersiap untuk bertindak dengan cepat jika ada kesempatan.
"Jangan lakukan apapun pada penjaga Lim. Kita datang kesini dengan damai, maksudku menyusup dengan tujuan damai." ucap Silverblade seolah tahu yang dipikirkan Lim.
Lim mendekatkan wajah ke Silverblade sontak membuat jantung pria itu berdetak kencang. Lim berbisik. "Lihat para penjaga itu, mereka bisa melalui jebakan yang terpasang dengan mudah. Bukankah kita bisa memanfaatkan salah satu dari mereka?"
"Benar, tapi aku punya cara yang lebih baik daripada ketahuan karena mengikuti caramu itu."
Silverblade memasangkan manuver gear ke pinggang Lim. Beberapa hari yang lalu dia sempat bertemu dengan Ren, hanya dengan sekali lihat Silverblade dapat membuat prototipe manuver gear yang Ren bawa dari Jepang.
Beberapa menit berlalu, dan penjaga tampaknya bergerak menjauh dari tempat mereka bersembunyi. Silverblade memperhatikan gerak-gerik penjaga dengan cermat dan menyaksikan bahwa mereka telah memiliki peluang untuk melanjutkan perjalanan mereka.
"Mari kita gerak cepat, tapi tetap waspada," bisik Silverblade pada Lim.
Dengan hati-hati, keduanya bergerak merangkak di balik reruntuhan dan menjauh dari penjaga yang berpatroli. Mereka berusaha tetap tak terlihat, menyelinap dengan hati-hati di antara reruntuhan yang sunyi.
__ADS_1
...***...