
Hasan berucap dengan nada serius ke nyonya Yin. "Nyonya Yin, saya mohon, pertimbangkan untuk menutup bisnis rumah bordil ini."
Nyonya Yin menatap Hasan dengan tajam bak mata seekor serigala salju.
Hasan membalas tatapan tajam itu dengan tatapan penuh kelembutan, menunjukkan keseriusan dan perwakilan perasaannya yanh lembut.
Nyonya Yin memandang Hasan dengan penuh pengertian, lalu membalas. "Hasan, saya menghargai tekad dan kebaikan hatimu. Namun, kamu harus memahami bahwa menutup bisnis ini berarti menghilangkan mata pencaharian dan sumber penghidupan bagi 30 talent wanita yang bekerja di sini. Bagaimana mereka akan bertahan?"
"Nyonya Yin, saya mengerti bahwa mereka membutuhkan mata pencaharian. Tapi bisnis ini melibatkan kehidupan mereka dan menghancurkan martabat mereka. Kita bisa mencari alternatif yang lebih baik, misalnya membuka usaha yang lebih menghormati mereka."
Nyonya Yin menggeleng. "Hasan, kamu perlu memahami bahwa rumah bordil ini bukanlah pilihan pertama bagi mereka. Banyak dari talent wanita di sini menghadapi situasi yang sulit dalam hidup mereka sebelum bergabung dengan bisnis ini. Rumah bordil memberikan mereka kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang layak dan menghidupi diri mereka sendiri."
Hasan mempertimbangkan ucapannya selanjutnya. Dia sangat paham dengan maksud nyonya Yin bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Namun Hasan mencoba berpikir lebih jauh dengan menyalahkan nyonya Yin sebagai pihak 'berduit' yang seharusnya bisa memberikan lapangan pekerjaan yang lebih layak untuk mereka, tapi tidak dia lakukan karena suatu alasan.
Hasan melanjutkan pembicaraan dengan menambahkan lebih banyak moralitas ketimbang logika. "Tapi, Nyonya Yin, apakah mereka benar-benar bahagia? Apakah mereka benar-benar merasa dihargai? Bisnis ini hanya memanfaatkan kebutuhan mereka dan menjebak mereka dalam lingkaran yang memenjarakan."
"Aku mengerti maksudmu. Tapi kita tidak bisa melihat semuanya dengan sudut pandang yang sama. Bagi beberapa talent wanita di sini, rumah bordil ini adalah pilihan yang mereka buat secara sadar. hidup itu kompleks. Tidak ada solusi instan yang bisa memuaskan semua pihak. Tapi, jika kamu benar-benar peduli dengan talent wanita disini, mengapa kau tidak mencoba menjadi orang yang berpengaruh dalam pemerintahan, atau menjadi seorang crazy rich yang derwaman. Dengan begitu kau bisa mengeluarkan mereka dari dunia hitam ini.
Hasan mempertimbangkan saran nyonya Yin. Sejak dulu dia memang bercita cita menjadi crazy rich, namun kehidupannya menjatuhkannya ke titik terendah yang membuatnya melupakan mimpinya tersebut.
Hasan tidak mau hanya beromong kosong ditambah rasa ibanya kepada para wanita di sini membuat tekadnya membara.
"Baiklah."
"Aku akan menjadi seorang crazy rich, agar bisa membuka lapangan pekerjaan yang lebih layak untuk mereka."
Hasan merenung. Dia teringat dirinya yang dulu penuh kealiman sekarang berubah menjadi pria brengsek yang suka selingkuh dan main tangan. Dia bertekad kembali ke jalannya yang dulu, menjadi orang baik yang rendah hati. Namun bukan sebagai Hasan yang meringkuk di kalangan bawah melainkan sebagai orang di kalangan atas.
Hasan terkejut hp nya berdering padahal itu hanyalah penglihatan masa depannya yang terpicu. Walaupun malu kaget tanpa sebab setidaknya Hasan jadi tahu kalau Foresight nya bisa dipicu oleh kejutan yang aman bukan hanya kejutan yang mematikan.
Burn Shadow menghubungi Hasan menyuruhnya untuk bergabung dengan video call grup yang katanya sedang menyiarkan rekaman langsung penyerangan di kantor gubernur kalimantan tengah.
__ADS_1
The Flow muncul lagi. Kali ini mereka menargetkan gubernur Kalimantan Tengah. Motif mereka masih tidak diketahui karena anggota yang tertangkap di Kalimantan timur semuanya mati mendadak karena serangan jantung. Seolah ada yang membunuh mereka dari jarak jauh.
Nyonya Yin menempatkan diri di samping Hasan untuk melihat siaran itu lebih jelas.
...***Di Kalimantan Tengah***...
Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan yang padat, suara sirine mobil polisi menciutkan nyali para koboi jalanan. The Flow pria dan wanita, duo pembuat masalah kembali beraksi dan berhasil menculik gubernur kalimantan tengah tepat saat beliau ingin berangkat ke kantor. Istri sang gubernur tewas dalam upaya mencegah penculikan sang suami, menjadikan kejar kejaran ini semakin dramatis karena satu nyawa sudah melayang karenanya.
The Flow pria melirik kaca spion, terlihat puluhan mobil polisi mengejar dan sebuah helikopter.
"Wahh aku tidak menyangka akan ada helikopter. Kita harus keluar dari sini! Jangan biarkan mereka menghentikan kita!" Pekik si pria.
"Aku tahu brengsek! Sebaiknya kau cari jalan pintas ke sungai kapuas. Air yang dalam adalah solusi pelarian kita."
Pak gubernur terikat di belakang dengan wajah ditutup kain hitam.
Saat mobil mereka bermanuver dengan keahlian di antara lalu lintas yang padat, serangan peluru mulai meledak di sekitar mereka.
Pemimpin operasi pengejaran Kolonel Archid Barn, mengamuk pada orang yang menembakkan peluru ke mobil si penculik.
"Jangan tembak bodoh!! Kita akan mengenai pak gubernur. Tugas menembak sudah diserahkan pada sniper yang ikut di rombongan mobil polisi. Tugas kalian kru helikopter hanya mengawasi jalur mereka agar kami bisa membersihkan dan memblokade!" Teriak kolonel Archid di alat komunikasi.
[Baik kolonel!!!]
...***...
The Flow pria menarik senjata dari bawah kursi yang diduduki pak gubernur, lalu menarik pembatas yang memperkecil ukuran senjata itu. Rupanya itu sebuah bazooka.
The Flow menembak helikopter dengan bazooka sebanyak dua kali. Helikopter yang bukan helikopter tempur itu pun jatuh ke tanah dan meledak.
"Haha! Headshot!!"
__ADS_1
The Flow wanita mengarahkan mobil meluncur di antara gedung-gedung. Dia sangat mahir melakukan drift dan mobil yang dia gunakan sudah dimodifikasi dengan turbo dan anti benturan saat mendarat ke tanah dengan keras.
Ledakan demi ledakan mengguncang tanah. Satu persatu mobil polisi yang mengejar disingkirkan. Banyak nyawa hilang dalam aksi tembak-tembakan itu, menciptakan pemandangan yang penuh kehancuran.
The Flow pria berteriak dengan nafas tersengal-sengal. "Seberapa jauh lagi!? Peluruku tinggal dua!!"
Si wanita menikmati aksinya yang penuh kekacauan ini, terlihat dari matanya yang berbinar saat membanting setir ke kanan dan kiri guna menghindari kejaran polisi. Untuk sesaat dia mencium bau yang aneh. Rupanya pak gubernur mengalami sesuatu yang membuatnya tidak kuat menahan kencing.
The Flow wanita tertawa melihat targetnya tegang sampai kencing di celana. Dia berhasil membawa mobil ke jalan tol lalu memacu mobil mereka ke batas maksimum.
Seorang sniper di mobil polisi yang masih bertahan di jalanan mengarahkan moncong senjatanya ke ban mobil, dalam sekejap meledakkan ban mobil si teror*s.
Tapi itu hanya terjadi dalam imajinasinya. Ban mobil The Flow dilindungi dengan langka baja di segala sisinya sehingga tahan peluru.
Merasa perlu menebus kesalahannya si sniper lalu mengarahkan bidikannya ke kaca belakang yang tidak terlindungi, namun dia terlambat sebab The Flow menyalakan turbo pada mobilnya dan melaju dalam kecepatannya tinggi.
"Ini adalah kesempatan terakhir kita!! Ayo habisi pria ini dan buat Departemen Kepolisian Khusus disalahkan atas ketidakmampuan mereka menangkap kita!!!" Teriak The Flow pria.
"Di ujung jalan ini adalah sungai tanpa pembatas yang berada di bawah jembatan gantung!! Kita akan menenggelamkan mobil ke sungai!!!" Sahut si wanita.
Pak gubernur berdoa dalam hatinya. Di tangannya diletakkan sebuah bom waktu sebagai alat untuk jaga jaga seandainya rencana A para teror*s gagal. Yaitu menenggelamkannya ke sungai sebagai bentuk karma atas perbuatan mengkorupsi pajak pembangunan.
Mobil mereka mencapai akhir jalan raya dan melompat ke sungai yang sangat dalam.
"WUUHUUUU...!!!!!" The Flow wanita mengekspresikan kegembiraan, lalu keluar dari mobil yang lantainya dipenuhi batu batu pemberat. The Flow melarikan diri lewat jalur laut. Mereka memiliki alat yang membantu mereka bernafas selama satu jam di dalam air. Sedangkan mobil yang mereka tumpangi mengapung ke permukaan air.
Detik itu, segalanya menjadi hening. Mobil yang mengapung perlahan bagian dalamnya dipenuhi air, termakan oleh sungai sedikit demi sedikit. Tidak adanya teknologi yang bisa mengangkat mobil itu dengan cepat menjadi penyebab kematian sang gubernur. Kal-Teng akan segera berkabung setelah mengetahui hal ini.
Siaran berakhir dengan memperlihatkan mobil teror*s yang berhasil dianggap ke permukaan air dengan ditarik helikopter.
...***...
__ADS_1