
Pes adalah penyakit yang disebabkan oleh tikus, tingkat kematian penyakit ini mencapai 60%.
Secara prosedur peran BPOM sudah selesai saat mengambil sampel makanan dan mencari tahu penyebab keracunan massal ini. Tapi pak Naryono yang berkeinginan menjadi seorang polisi bersikukuh ingin mencari tahu lebih mendalam perihal kasus ini.
"Tetaplah disini pak Hasan. Dan jangan terlalu banyak sering bersama mbak Siska, dia gebetanku."
Mendengar itu aku langsung menanyakan hal tersebut ke mbak Siska.
"Tidak, saya bukan pacar pak Mulyadi. Kenapa memangnya mas?."
Aku tidak bisa menahan tawa. Si sombong itu berpikir dia disukai oleh mbak Siska padahal nyatanya tidak.
Saat aku berbalik mbak Siska sudah tidak di tempatnya. "Mungkin dia ke toilet." Pikirku.
Aku menghabiskan waktu dengan bermain tetris yang terinstal di komputer pak Naryono. Sesekali aku membuka word untuk menulis kelanjutan novel yang sedang dikembangkan.
Lalu sebuah berkas jatuh ke mejaku. Karyawan lain memintaku menyalin tulisan di berkas itu dan menyimpannya ke komputer pak Naryono.
Aku menolak mengerjakannya karena tidak paham komputer dan tugasku pun bukan di belakang meja. Tapi pegawai itu tetap kekeh ingin aku mengerjakan pekerjaan yang bukan bagianku ini.
Aku yang tidak mau bertengkar dengan pegawai lama akhirnya menyerah dan mempelajari caranya dari youtube. Ternyata menyalin dokumen tidak sesulit yang aku kira. Namun, setelah itu berkas datang lagi, lagi, dan lagi, sampai pak Naryono kaget melihat banyak berkas kasus di mejanya.
"Kamu menerimakan kasus sebanyak ini?." Tanya Pak Naryono dengan terkejut.
"Bukan pak, saya sedang menyalin ketikan di surat ini. Totalnya ada 10 surat yang sudah saya salin."
Brak!!
Aku kaget karena pak Naryono tiba-tiba memukul meja ku dengan keras. Beliau memarahi pegawai yang memaksaku mengerjakan ini. Dengan tegasnya beliau menunjuk si pegawai berbaju pink lalu melemparkan kertas yang aku kerjakan ke wajahnya.
Kertas itu pun berhamburan di lantai yang dipungut oleh pegawai lainnya yang merupakan asisten pegawai berbaju pink.
Itu adalah pertunjukkan yang seru. Pak Naryono memarahi karyawan divisi lain yang menyuruhku mengerjakan tugas mereka. Dan Mbak Siska memujiku karena membantu orang lain.
"Jangan terima pekerjaan apapun yang bukan kasus lapangan, ingat itu pak Hasan!."
__ADS_1
"Kamu pikir pekerjaan lapangan itu mudah sehingga kamu memberi kami pekerjaan tambahan?!. Pekerjaan lapangan itu perlu kesabaran dan kehati hatian. Tadi pak Mulyadi kena lemparan telur dari warga. Pecahan telur hampir mengenai matanya, bla bla bla bla..."
Tercium aroma lezat dari kejauhan. Siapapun yang membawa sepiring sate ini dia datang di waktu yang tepat.
Aku harus mengalihkan perhatian atau melakukan apapun agar amarah pak Naryono dapat mereda.
Tukang buat kopi datang membawa sate. Aku pun langsung mengajak yang lainnya makan, dan meminta pak Naryono menyudahi pidato.
"Ini ada air, minum dulu pak." Aku sodorkan segelas teh es padanya dan dia menerimanya.
"Kali ini kamu saya maafkan, kalau lain kali begini lagi saya akan laporkan kamu atas dasar penyalahgunaan kekuasaan." Ancaman pak Naryono pasti membekas di ingatan Pink Man. Dia sering memakai baju pink makanya karyawan lain di belakangnya memanggilnya pink man.
Setelah itu pak Naryono mengajakku pergi ke luar. Tidak disangka sangka pak Naryono menyuruhku belajar mengendarai mobil.
Aku yang tidak siap pun gugup setengah mati saat duduk di kursi samping supir.
"Baiklah, pertama putar kunci mobil, lalu..."
"Saya tahu cara menyalakan mobilnya pak.
Karena aku merasa tidak nyaman mengendalikan mesin yang jauh lebih besar dari badanku. Ditambah lagi aku phobia tempat sempit dan tertutup, mobil salah satunya.
Tapi untuk bertahan dalam pekerjaan ini mau tidak mau aku harus membiasakan diri, lagi.
"Kau gugup mengendarai mobil selama seminggu. Bukankah dulu kau bekerja sebagai supir selama bertahun-tahun?."
"Darimana bapak tahu saya bekerja sebagai supir?."
"Dari biodata yang kau tulis tentunya. Kau mengalami kecelakaan tragis karena disenggol oleh minibus dari belakang. Setelah menabrakmu mobil itu jatuh ke jurang yang dalam dan pengemudinya tewas. Begitu kan kasusnya?."
"Semenjak kecelakaan itu saya jadi parno disenggol. Hahahaa..."
Meski pandanganku ke depan aku tahu di belakangku ada orang yang iri pada kedekatan kami. Sayang sekali kami berada di kantor yang sama.
Ketegangan kasus keracunan massal pun mulai mereda. Aku tidak tahu kelanjutan kasus itu. Yang aku tahu hari ini adalah hari gajihan.
__ADS_1
Sudah sebulan sejak aku masuk kerja di kantor kecil ini. Aku mendapatkan gaji pertamaku sebesar 1,2 juta rupiah. Gaji di bawah UMP ini setidaknya cukup untuk biaya satu bulan.
Aku pergi ke pasar buah itu lagi, kali ini bersama ayahku yang lumpuh. Alih alih berbelanja kami malah mendapat pukulan secara tidak langsung.
Para pedagang yang dendam padaku melemparkan pisang busuk dari belakang, bahkan ayahku terkena lemparan dari depan, syukur tidak semua pedagang disini membenciku.
Ibu penjual yang paling pertama terjaring raziaku masih mau menjajakan semangkanya pada kami.
Kami pulang dengan keadaan yang sangat kotor. Ibu yang tidak terima ingin mendatangi pasar itu tapi dia menyadari kondisinya. Ibu pun menangis. Sejak hari itu aku bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di pasar itu lagi. Kecuali untuk menyelidiki mereka.
•
Di sebuah gedung penyedia jasa set pengantin mewah.
Mary Leadswan sang CEO sedang menemani adiknya mengurus pesta pernikahan. Sang adik yang tidak terima puas dengan pernikahan pertamanya lantas ingin mengulang resepsi pernikahan.
Mary Leadswan mendapat telepon dari bawahannya. Melalui percakapan mereka terungkap kalau Nona Leadswan adalah pemilik perusahaan yang mendanai banyak klinik kecantikan. Saat ini dia tengah berada di cabang perusahaannya yaitu di Indonesia.
"Asisten!."
"Iya bu."
Mary menulis nominal angka di atas kertas kecil lalu memberikannya kepada asistennya.
"Berikan uang itu pada pihak yang dirugikan oleh klinik kecantikan Maurice." Perintah Mary.
"Tapi bu, menurut hasil penyelidikan klinik kecantikan tidak salah. Pasienlah yang sembarangan melakukan suntik lemak sehingga wajahnya membengkak. Kalau anda mempercayai tuduhan orang-orang itu, reputasi klinik pak Maurice bisa jatuh. Maaf, saya terlalu terbawa."
Mary Leadswan seolah tidak peduli dengan risiko itu. Dia hanya memberikan sokongan dana untuk membantu klinik kecantikan yang diketahui milik seorang pria bernama Maurice.
"Aku membiarkan suami bodoh itu menangani masalahnya sendiri. Jika kali ini pun kacau lagi aku bersumpah akan menggugat cerai dirinya. Sampaikan itu pada Maurice."
Dengan perasaan bercampur aduk si asisten menelepon pak Maurice, suami dari si CEO, menyampaikan pesan dari Mary yang lebih mirip sebuah ancaman.
Pak Maurice pun langsung mengamuk kepada si asisten dengan menyebutnya ****** tidak tahu terima kasih.
__ADS_1
***