A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
22. Makan racun atau diracun?


__ADS_3

Hasan ikut menguburkan kedua anak itu. Rasa sedih tak bisa dia bendung saat mengingat percakapannya dengan kedua almarhum.


Malam itu, saat Hasan masih bekerja sebagai supir angkot dia datang ke rumah mereka untuk membelikan nasi uduk sebagai mana hari hari biasa.


Kedua anak kecil itu makan dengan lahap. Hasan bertanya apa mimpi mereka. Anak bungsu menjawab 'ingin jadi pilot', anak sulung ingin menjadi aktris, walaupun wajahnya di bawah standar.


Siapa yang menyangka anak anak itu akan mati di usia muda.


Sepulangnya dari kuburan Hasan mengambil kaleng ikan salden yang menjadi penyebab kematian tetangganya.


Mayat kedua anak itu tidak diotopsi. Dugaan mereka mati keracunan dibuat oleh tetangga korban yang melihat mulut mereka dipenuhi busa saat meninggal.


Hasan mengambil kaleng itu, bertindak sebagai polisi untuk mencari tahu kebenaran. 


***


Keesokan harinya, Hasan diminta menyelidiki kasus keracunan anak-anak di dekat rumahnya yang dulu.


Rupanya orang tua kedua anak itu baru tahu Arqan petugas BPOM, badan yang mengawasi obat obatan dan makanan. 


Dengan sangat menyedihkan mereka berdua mendatangi kantor BPOM dan berlutut di depan Hasan yang masih tidak mengerti apa yang terjadi. 


"Tolong selidiki kematian anak anak kami pak Hasan." Pinta mereka dengan pilu.


Sayangnya Hasan memiliki banyak pekerjaan sehingga tidak bisa datang dengan cepat. Namun ibu dari anak-anak itu malah meneriaki Hasan kemudian mencaci maki dirinya.


"Dasar orang jahat! Apa kau melakukan sesuatu hanya jika kau menginginkannya? Jadi selama ini kau berbuat baik kepada kami hanya untuk kepuasanmu sendiri?! Tapi saat kami berinisiatif meminta bantuanmu kau malah menolak dengan alasan sibuk bekerja!!"


Mendengar itu Hasan pun sadar dan memilih mengambil kasus itu. 


Hasan mengajak pak Naryono ke lab untuk mengambil kaleng ikan kemarin dari tangan Dokter Brian.


"Kenapa kau meminta bantuanku kalau hanya untuk mengambil barang dari Dokter Brian?" Tanya Pak Naryono dengan heran. 


"Saya hanya agak malas bicara dengannya. Da tipe yang tidak mau berhenti bicara." ungkap Hasan berdasarkan pengalamannya belajar selama seminggu dengan orang itu.


"Aku tidak tahu dia seperti itu." Sanggah pak Naryono.

__ADS_1


Ternyata Dokter Brian tidak ada di lab. Hasan pun mengambil kalengnya berserta tetesan saus yang diletakkan di dalam kantong plastik. 


Tetesan yang berada di dalam kantong plastik itu adalah sampel yang sudah diteliti.


Hasan menunjukkan kedua barang itu bapak dan ibu korban lalu menjelaskan kalau dugaan mereka soal kedaluwarsa membunuh anak mereka adalah benar. 


Hasan mengutip kalimat dokter Brian sesaat setelah meneliti sampel ikan kaleng.


"Produk yang sudah melewati batas kedaluwarsa sejak lama dipenuhi bakteri yang sama mematikannya dengan racun. Itulah alasan mulut kedua anak kalian mengeluarkan buih. Mereka keracunan bakteri di dalam makanan busuk itu."


Setelah Hasan menyelesaikan penjelasannya tiba-tiba si ibu meraung dengan keras. Diteriakkannya nama Fatma berulang kali.


Info dari sang ayah, Fatma adalah pengusaha warung yang memberikan ikan kaleng itu secara cuma cuma padanya.


Polisi dan seorang anggota BPOM pun dikirimkan untuk menangkap Fatma. 


Hasan tidak diturunkan karena Hajeera mengajukan dirinya terlebih dahulu.


"'Hajeera.. memangnya kau bisa menemukan makanan kedaluwarsanya?"


"Kalau kau terus yang pergi karirku bisa terancam. Sesekali aku harus melaksanakan tugasku sendiri, selain itu aku bukan amatir jadi tidak perlu khawatir."


Sikap manis Hajeera ke Hasan membuat para pria iri, terutama di Pink Man.


Hasan pun melambaikan tangannya ke Hajeera sebagai bentuk salam balasan.


Dokter memegangi bahu Hasan lalu menariknya ke lab, disaat yang bersamaan mbak Siska memegang tangan Hasan. Perseteruan keduanya pun tidak dapat terhindarkan. 


Dokter Brian ingin menunjukkan sesuatu pada Hasan di laboratorium, sementara mbak Siska ingin mengajak Hasan makan siang bersama.


Di kursi bagian belakang, Pink Man menikmati penderitaan Hasan yang ditarik oleh dua orang ke sisi yang berlawanan.


"Jangan keras kepala mbak Siska, ini demi pekerjaannya."


"Istirahat dan makan siang yang berkualitas juga berpengaruh pada karir masa depannya. Jika ditinjau secara teori mood yang baik berpengaruh besar pada kinerja karyawan... "


Hasan yang lelah dengan pertengkaran mereka secara tidak sengaja menarik tangannya dengan kuat. Dokter Brian dan mbak Siska yang masih memegang tangannya pun terbawa dan berbenturan satu sama lain.

__ADS_1


Sebelum mereka marah Hasan lalu menerima ajakan mbak Siska makan siang bersama, sementara si dokter di nomor duakan.


Mbak Siska yang merasa menang dari si dokter lantas meledeknya dengan muka konyol di belakang Hasan.


"Dasar perempuan gatel..!!"


Dokter Brian kembali ke lab dengan perasan jengkel.


Hasan menelan makanan dengan hambar. Bahkan saat mbak Siska menyuapkan kue susu padanya Hasan hanya mengunyah tanpa memikirkan rasanya.


"Ada apa Hasan? Kau tampak tidak nafsu makan? Apa karena kue buatanku tidak enak?" Tanya mbak Siska dengan khawatir karena tidak biasanya Hasan menunjukkan tatapan kosong seperti saat ini.


"Aku memikirkan kedua orang itu. Mereka adalah tetangga yang senasib denganku, kami sering berbagi keluh kesah bersama. Dan mereka mati karena keracunan makanan. Sang ayah bekerja sebagai satpam komplek, istrinya bekerja sebagai buruh di pabrik kerupuk, jadi mereka sangat sedikit, aku pernah melihatnya. Setiap hari uang yang mereka dapatkan digunakan untuk makan. Pasangan tua itu berharap kedua anaknya menjadi orang sukses suatu hari nanti, tapi seperti yang kau lihat hari ini mereka... "


Hasan menyapu air matanya dengan tisu pemberian mbak Siska.


Mbak Siska mengusap punggung Hasan lalu perlahan dia tempelkan kepala ke bahu Hasan.


"A-anu mbak Siska, kalau kelihatan yang lain nanti jadi gosip yang tidak tidak." Bisik Hasan dengan pelan. 


"Kalau begitu kita wujudkan saja."


Mbak Siska memeluk lengan Hasan dengan kuat, dan tanpa menatap lawan bicaranya mbak Siska bertanya kepada Hasan dengan suara lirih dan terbata-bata.


"Ma-mau tidak mas me-menikah denganku?,"


Mata Hasan terbelalak. Wanita yang montok ini tiba-tiba mengajaknya kawin. 


Sebagai seorang pria yang sudah lama ingin menikah tapi tak kesampaian, saat diajak menikah oleh wanita yang telah lama dia kenal, logika Hasan pun langsung mati. Dia tak kuasa menolak dan malam itu juga mereka pergi ke suatu tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya.


"Kamu yakin mau melakukannya disini mas? Harga satu kamarnya lumayan mahal loh?" Tanya mbak Siska.


"Kalau hanya untuk satu malam aku sanggup. Ayo masuk."


Hasan yang selama ini kita kira pria baik ternyata gelap mata hanya dengan satu ajakan sederhana.


Kelanjutannya, di motel itu mereka berdua memadu kasih layaknya suami istri hingga fajar menyingsing.

__ADS_1


***


__ADS_2