A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
9. Menyelidiki penjual pentol telur


__ADS_3

Lalu aku menyadari pak Mulyadi adalah orang yang toxic.


"Begitulah." Jawabku singkat. 


Dadaku semakin panas saat pak Mulyadi bertanya seberapa miskinnya diriku, orang ini bahkan tidak ragu membawa bawa keluarga. 


"Keluarga saya miskin sejak zaman nenek saya. Soal seberapa miskinnya, kami setiap pagi mendapat sedekah nasi dari tetangga baik hati. Bagi saya bisa makan ayam sebulan sekali saja adalah berkah."


Aku memaksa pak Mulyadi menyudahi perbincangan yang memuakkan itu dengan bertanya soal pekerjaan di lapangan. 


Secara garis besar ada 2 hal yang harus kami lakukan saat terjun ke lapangan. Pertama, melakukan razia pada produk-produk makanan. Cenderung ke pasar non swalayan, tapi bisa juga ke swalayan. Kedua, melakukan pengecekan pada obat obatan. Biasanya yang dijual di apotek dan obat racikan di pos pelayanan masyarakat. 


Sepanjang jalan hidungku dimanjakan oleh bebauan yang bermacam-macam. Apalagi saat melewati pasar. Aroma makanan lebih kuat ketimbang bau tanah becek.


"Masukkan kepalamu ke dalam mobil mas Hasan!. tidak peduli seberapa bawahnya kelas sosialmu, jangan bertingkah di dalam mobil." Kata pak Mulyadi.


Bekerja bersama rekan yang menyebalkan dimulai hari ini.



Ketika turun dari mobil pak Mulyadi menyuruhku memperbaiki postur jalanku, tidak boleh terlalu bungkuk. Lalu jangan membuat gerakan yang tidak berguna seperti mengupil dan menggaruk rambut.


Pak Mulyadi begitu mementingkan penampilan saat bekerja. Aku mengikutinya karena pak Naryono menyuruhku begitu.


Pekerjaan kami hari ini adalah menangani laporan pedagang kaki lima yang bertempat di satu titik. Penjual pentol telur itu kedapatan menjual pentol dengan isian yang busuk.


Sayang sekali, padahal pentol telur adalah jajanan favoritku selain pentol kering isi tulang.


"Karena ini tugas lapangan pertamamu kamu harus melakukannya seorang diri." Kata pak Mulyadi melempar tanggung jawabnya padaku.


"Loh? Bukannya harusnya bapak mengajari saya di hari pertama?. Bagaimana bertutur bahasa yang baik pada pedagang dan semacamnya?." Protesku.


"Pak Naryono juga mengajariku dengan cara ini. Nanti kalau ada yang mengamuk barulah aku turun tangan."


Aku yakin ide yang tidak masuk akal ini tidak akan berakhir baik. Aku tidak tahu harus bersikap tegas sampai seperti apa, dan bersikap lunak seperti apa.


Untuk memberikan bukti aku dibiarkan bekerja seorang diri aku pun merekam aktivitasku hari ini dengan rekam suara.


Kasus pertama; Warung pentol yang menjual pentol isian telur busuk.

__ADS_1


Nama; Bapak Majas.


Watak penjual; Buruk. 


"Selamat siang pak Majas, saya dari BPOM datang karena mendapat laporan dari masyarakat kalau bapak memasukkan telur busuk ke dalam pentol. Entah bapak sengaja melakukannya atau tidak, tapi perbuatan ini akan mengurangi jumlah pelanggan bapak." Paparku.


Si bapak pedagang menyerahkan sendok kuah ke perempuan yang kemungkinan adalah istrinya. Dia menyilangkan tangan dan melempar tatapan tidak senang ke wajah anggota BPOM.


Aku yang amatir pun membalas dengan tatapan yang sama.


"Kata siapa itu? kok saya tidak pernah dengar ada pelanggan yang mengeluh?."


"Mungkin itu pelanggan yang pesanannya di bawa pulang."


"Bapak lihat tulisan ini?."


Pak Majas menunjuk pada stiker yang tertempel di depan gerobak.


Pesanan tidak boleh di bawa pulang.


Ini sulit. Jika aku bersikeras pelapor di rumah aku juga tidak punya bukti. Karena buktinya ada di tangan Pak Mulyadi yang entah berada di mana sekarang.


Tak lama kemudian pak Mulyadi mengirimkan screenshot laporan dari orang tersebut. Cara ini benar-benar tidak efektif karena sang pelapor tidak ada bersama kami. Harusnya pelapor tidak meninggalkan lokasi seperti yang aku lakukan di pasar buah malam itu.


Pak Majas mengizinkanku memeriksa produk jualannya. Jika memang tidak ada apa-apa aku akan langsung pergi. Fakta warung kecil ini tetap ramai pembeli semakin mengecilkan tuduhan orang itu tentang adanya telur busuk. 


Aku yang mengandalkan indera penciuman sampai melakukan trigger khusus agar hidungku bisa mengenali bau busuk dari telur. Dengan cara memecahkan telur busuk tepat di depan hidungku dan mengingat baunya.


"Bapak melakukan apa daritadi?."


"Anggota BPOM lapangan dibekali keahlian khusus mencium aroma makanan. Jika saya mencium bau busuk diantara tumpukan pentol ini..."


Setelah mencium aku tidak menemukan bau busuk, aku pun mulai membeli beberapa butir pentol dan memakannya. Rasa pentolnya enak dan tidak ada yang busuk. Apa mungkin ada yang memberikan laporan palsu. 


Aku kembali menemui pak Mulyadi yang tiba-tiba ada di seberang jalan. 


"Pak, saya tidak menemukan pentol busuk seperti yang dilaporkan."


Pak Mulyadi berdiri lalu mengajakku kembali ke warung itu. 

__ADS_1


Pak Mulyadi datang hanya untuk memfinishing masalah ini yaitu dengan bicara. Lalu kami pergi untuk menyelidiki siapa pelapor itu. Setidaknya begitulah yang aku pikirkan. 


"Kita tidak perlu menyelidiki pelapor itu, biar si PKL yang menentukan. Karena tugas kita hanyalah mengurus pedagang yang membuat kecurangan bukan penipuan atau pencemaran nama baik."


"Tapi bukankah orang ini telah membuat laporan palsu yang menyusahkan kita?."


"Itu juga tergantung pak Naryono. Kalau menurut beliau tidak perlu mengurusnya maka tidak perlu. Selain itu kita punya kasus kedua."


Kasus pertama (tuntas)



Kasus kedua; Dugaan kesalahan peracikan obat.


Dan seterusnya.


Berkat pekerjaan ini indra penciuman meningkat pesat. Walaupun tidak bisa diukur secara khusus, kini aku bisa membedakan batu obat obatan juga.


Aku juga berlatih mengenali bau hewan, siapa tahu nanti akan berguna.


"Aku harus mengembangkan kemampuan ini sebaik mungkin. Setidaknya aku akan bekerja 1 - 2 tahun di BPOM."



Malam hari di kontrakanku. Aku mendengar kabar seorang anak tergigit anjing. Ngerinya anjing yang menggigitnya memiliki mulut yang dipenuhi buih. Tidak salah lagi itu adalah anjing rabies. 


Aku buru-buru menutup pintu dan jendela karena tetanggaku bilang anjing itu masih berkeliaran di kawasan ini. 


"Kenapa kamu tutup pintunya nak?." Tanya ibuku.


"Ada anjing gila berkeliaran. Kalau tergigit kita bisa mati!."


"Hahh?!. Tapi tadi siang ibu digigit anjing..."


Ibu menunjukkan bekas gigitan anjing di tangannya. Tanpa pikir panjang aku langsung membawa ibu ke rumah sakit untuk vaksinasi. Beruntung vaksin untuk rabies tersedia di rumah sakit daerah sini. Kalau saja ibu tidak memberitahuku tadi beliau mungkin akan meninggal dalam waktu seminggu. 


"Aku tidak bisa membayangkan kehilangan ibu." Aku menangis di pangkuan ibu, hampir saja, benar-benar hampir. Rabies adalah virus yang tingkat kematian di suruh dunia mencapai 99%. 


Seorang yang terjangkit rabies dinyatakan tidak akan selamat apabila mengalami gejala sakit pada tenggorokan saat minum air. Tapi ibuku berbeda, dia belum mengalami fase tersebut yang itu artinya nyawanya masih bisa diselamatkan.

__ADS_1


Entah anjing itu sudah tertangkap atau tidak. Yang pasti aku juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menyingkirkannya.


***


__ADS_2