
"Apa yang kau lakukan di Mesir Hall Fame?" tanya Lim dengan rasa senang.
"Sebenarnya misi pengawalan itu hanya akal akalanku untuk pergi ke tempat ini. Aku mengincar sumur afrodisiak yang tersembunyi di area terdalam." Jawab Hasan.
"Mengapa kau membutuhkannya?"
"Karena air itu akan sangat mahal jika dijual, selama belum di klaim orang kita bisa mengambil sebanyak mungkin. Jangan pedulikan para penjaga, mereka hanya meng-klaim tempat ini sebagai warisan budaya bukan sebagai tambang senjata biologis!"
Hasan bertukar tangan dengan Lim, Silverblade masih lemah dan harus digendong.
Hasan mengarahkan mereka ke area yang lebih dalam yaitu area yang disebut Ancient Cyber City. Area yang berada di lapisan ketiga ini juga merupakan bekas tempat tinggal, tetapi dilihat dari ukuran dan struktur rumahnya area itu dulunya dihuni oleh masyarakat kalangan berada.
"Sebelah sana! Kita bersembunyi dulu."
Waktu berjalan ke tengah malam, penjagaan sudah kembali seperti semula. Dan trio DKK sudah sampai di lapisan terdalam yang dikenal sebagai The Sink Hole. Sesuai namanya lapisan terdalam ini berupa sebuah Sink Hole atau lubang tanah dengan bentuk tidak beraturan.
Sebuah sinkhole adalah fenomena geologi yang terjadi ketika tanah atau batuan di permukaan bumi runtuh atau kolaps, membentuk sebuah lubang yang dalam dan besar. Sinkhole biasanya terbentuk karena proses alamiah yang disebabkan oleh pelarutan batuan atau tanah di bawah permukaan bumi.
Sebelum penjaga datang Hasan mencari jalan aman untuk turun ke dalam Sink Hole. Di bawah langit langit dia melihat ada tangga tali yang kemungkinan digunakan oleh para penjaga untuk turun naik.
"Aku akan turun lebih duluan dengan Silverblade, akan kami pastikan keamanan di bawah sebelum kau turun."
Silverblade sudah mulai pulih sedangkan Hasan mencoba tetap kuat untuk berdiri, dia sudah berlarian selama 12 jam di siang dan malam hari.
Lim turun dengan cepat dan jatuh menimpa Hasan. Keduanya tertawa geli melihat tingkah mereka.
"Baiklah sekarang kita harus kemana pak navigator?"
Hasan memiliki peta pemberian pak Mello.
...***Flashback***...
Pak Mello mendatangi hotel tempat Hasan tinggal 2 hari sebelum mereka berangkat ke Mesir.
__ADS_1
Setelah diberitahu oleh resepsionis kalau ada yang mencari di ruang lobi, Hasan turun dengan cepat. Pertengkaran kecil pun terjadi.
"Kembalikan farfum yang kau rampas!!"
"Tidak bisa. Aku sudah membelinya dengan harga mahal, kau tidak bisa meminta kembali barang yang sudah diberikan selama benda itu tidak membahayakan lingkungan bukan?"
"Tapi benda itu adalah kenang kenangan!"
"Aku memerlukannya untuk mengharumkan tubuhku!"
Mary yang mendengar keributan itu dari asistennya lantas menyusul dengan tergesa gesa.
Mary tidak tahu kalau farfum yang dibawa Hasan kemarin bernilai sangat tinggi bagi seseorang.
Dengan bertindak sebagai penengah Mary dapat mengetahui apa yang terjadi di antara mereka berdua. Penjelasan Hasan terdengar lebih masuk akal baginya.
"Anda menjual informasi yang belum tentu kebenarannya seharga hampir 200 juta. Itu benar-benar keterlaluan. Seharusnya anda senang dia tidak melapor ke polisi, kalau masuk penjara semua properti bapak akan disita."
Itu hanyalah janji kosong untuk menenangkan Mello.
Ditekan oleh dua pihak sekaligus membuat dada Mello menjadi sesak. Daripada kena serangan jantung ia pun merelakan farfum itu diambil Hasan. Ditambah bantuan Mary Hasan mendapatkan peta secara cuma cuma.
...***...
Petunjuk dalam peta sangat sulit dibaca tapi di beberapa bagian gambar sama persis dengan keadaan kota kuno saat ini. Mereka merawat tempat ini dengan baik, bahkan kondisi dan posisi bebatuannya sama persis dengan ingatan Mello puluhan tahun yang lalu.
"Ke bawah sini. Turuni dengan pelan pelan, gunakan kaki kananmu untuk turun." Hasan bertingkah seperti pemandu tetapi memang itulah yang mereka butuhkan.
Semua berjalan mulus tanpa adanya pengganggu hingga mereka menemukan ujung dari peta yang ditulis Mello. Ruangan yang diberi nama Daredevil, dan nama itu dituliskan dengan tinta merah oleh Mello. Di tempat itulah teman teman Mello melakukan bundir karena terpengaruh oleh gas beracun.
"Di tempat ini ada jebakan alami yang membunuh banyak penjelajah. Aku bertemu salah satu mantan penjelajah itu di Singapura. Dia bilang teman temannya menjadi gila dan melakukan bunuh diri massal di lorong depan sana." Tutur Hasan.
Lim menelan ludah.
__ADS_1
"Kalau kita bertiga selamat kita harus meminta gaji 100x lipat dari kolonel!!" ucap Silverblade dengan geram. Dia geram karena harus mempertaruhkan nyawanya berulang kali untuk mendapatkan sesuatu yang tidak jelas.
"Tenanglah Silverblade, biar aku yang maju duluan. Siapkan masker gas kalian."
Hasan memasang masker gas yang di curi dari penjaga di area pertama.
Teman teman Mello memicu jebakan karena mereka tidak memperhatikan batu batu menonjol yang menutupi seluruh lantai. Tapi Hasan dengan mata X-ray bisa melihat pipa yang tersembunyi di bawah lantai. Jika batu yang dibawahnya ada pipa diinjak maka gas akan terpicu dan keluar melalui celah sempit di dinding. Mungkin jebakan ini tidak sepenuhnya alami melainkan dibuat oleh masyarakat kota kuno, mekanismenya yang primitif namun cerdik berkata seperti itu.
Jadi, Hasan harus menginjak batu yang di bawah tidak ada pipa yang jumlah sangat sedikit namun berukuran lebih besar dari batu lainnya.
Hasan berhasil melewati lorong jebakan itu tanpa harus mati seperti teman teman Mello.
"Lihat kan, ini mudah! Sekarang kau Silverblade."
Silverblade menembakkan kawatnya ke langit langit di tengah lorong lalu melompat sambil berayun sampai ke ujung lorong. Tertinggal Lim seorang diri, Silverblade menepuk jidatnya, dia lupa membawa Lim si amatir yang anehnya tetap amatir meski sudah banyak menyelesaikan misi dari DKK.
"Jangan takut Lim. Ikuti arahan dariku, injak batu batu yang aku tunjuk tanpa menginjak batu lainnya. Ini tidak sulit." teriak Hasan.
"Baiklah," Kepercayaan diri Lim kembali meningkat saat bertemu Hasan. Lebih tepatnya aroma farfum yang dikenakan Hasan memiliki efek supranatural meningkatkan rasa nyaman serta kepercayaan diri orang lain terutama kaum hawa.
Di tengah Lim melakukan kesalahan, dia menginjak batu yang salah dan memicu perangkat gas.
Asap berwarna merah darah keluar dari celah batu menutupi seluruh tubuh Lim dan melenyapkannya dari pandangan kedua orang temannya.
"Pegang masker gas ku Silverblade!"
Silverblade terkejut akan tindakan Hasan memasuki asap tanpa memakai masker. Hasan tentu tidak senekat itu kalau dia tidak tahu dirinya kebal racun afrodisiak.
Saat serangan teror*s dia mampu menahan efek afrodisiak bom gas yang dilempar Yupi. Sekarang pun masih sama. Jebakan gas itu tidak bisa mempengaruhi pikiran Hasan.
Dia menemukan Lim dalam keadaan kejang kejang di lantai, bergegas dia bawa Lim ke tempat aman dan mulai menghisap keluar gas afrodisiak dari tubuh Lim dengan cara melakukan nafas buatan terbalik.
...***...
__ADS_1