
Tanpa senjata, tanpa strategi, hanya berbekal ilmu terapan. Dua bilah garpu dia ayunkan untuk mengikis kulit lawan.
Hasan tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Latihan Eskrima membuat tubuhnya menkadi sangat ringan dan cepat. Mendaratkan pukulan bukanlah masalah besar. Sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan.
Lantas mengapa tadi dia tidak bisa melakukannya?
Senjata kecil itu menebas wajah Pachin hingga mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Pachin pun terluka dan dilarikan ke rumah sakit, sementara Hasan sama sekali tidak disalahkan atas kejadian itu.
"Lebih baik kau jadi kutu buku saja." Hasan menggerutu pada CEO cantik yang tersenyum di belakang orang lain.
Sang CEO pun mengangkat Hasan sebagai kepala pengawalan.
***
Tugas pertama Hasan sangatlah mudah, dia hanya harus mengusir semua pegawai yang terlambat lebih dari 5 menit.
Cuaca mendung, banyak orang yang akan terlambat jika hujan turun, itu artinya tugas Hasan tidak semudah yang dikatakan CEO.
"Kau dari departemen kepolisian khusus kan? Berapa gaji disana?"
Hasan memutar kepala, lalu menjawab pertanyaan pria yang berdiri berseberangan dengannya.
"Kenapa kau mau tahu itu?"
"Aku hanya bertanya. Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahukannya."
Si penjaga pintu memutar kepalanya ke depan.
Memang benar ada beberapa orang yang terlambat datang malah mereka datang dengan baju basah kuyup.
Para pegawai itu membela diri, mereka memaksa masuk walaupun hanya ke bilik toilet untuk mengganti baju.
6 pegawai yang terdiri dari 2 pria dan 4 wanita itu pun langsung mendapat pelajaran dari agen Hall Fame karena tidak mematuhi perintah atasan.
"Maaf aku melakukan ini. Ini untuk membuat kalian paham."
Hasan menarik salah satu pria dan membantingnya. Tak cukup hanya membanting Hasan juga menendangnya hingga jatuh ke bawah tangga yang terdiri dari 4 tingkat.
__ADS_1
Tindakan kasar itu sukses menciutkan nyali mereka, mereka hanya berani menatap Hasan dari jauh dengan tatapan sedingin es dan mengumpat.
Carol yang melihat itu dari gedung seberang langsung bertindak dengan memindahkan Hasan ke tempat yang tertutup dan cocok untuknya.
Hasan dipindahkan tugaskan menjadi penjaga ruangan kantor CEO.
Kantor nona Carol yang aslinya milik Mary berada di lantas teratas yang hanya memiliki 2 ruangan. Yaitu ruangan kantor Mary/Carol yang lebih luas dari lapangan futsal, dan ruang kosong di luar kantor, tempat para pengawal berjaga.
Hasan dipanggil ke dalam kantor untuk ditunjukkan sesuatu.
Carol mengambil sepucuk kertas sobek dari dalam lemari yang berisi ancaman dari pembunuh.
"Seperti yang bisa kau lihat, CEO Grace Company mendapatkan surat ancaman pembunuhan dari orang tidak dikenal. Noda darah yang dipakai disini tampak sangat nyata dan berbau amis saat aku mendapatkannya. Dalam surat ini tertulis kalau si pembunuh akan melancarkan aksinya di hari ulang tahun Grace Company yang akan diadakan besok. Karena alasan inilah aku menyewa petugas DKK." penjelasan sang CEO terdengar dangkal di telinga Hasan.
Hasan meminta surat itu dan membacanya sendiri.
Tulisan tangan orang ini sangat amburadul di awal tapi menjadi bagus di akhiran. Seperti ada 2 orang yang menulisnya atau mungkin satu orang yang iseng menulis dengan 2 gaya yang berbeda.
"Mulai saat ini tetaplah berada disini. Jujur saja aku takut mati muda." Kata si CEO disertai helaan nafas panjang.
"Jangan khawatir bu, saya akan berjaga disini mulai hari ini."
Saat Hari H tiba, Hasan tiba di kantor dengan penuh kewaspadaan. Dia menggunakan kekuatan penglihatannya yang tembus pandang untuk melihat melalui dinding dan memastikan tidak ada kehadiran yang mencurigakan di sekitar area tersebut. Setiap gerakan kecil dipantau oleh refleks luar biasanya, yang membuatnya siap merespon dengan cepat jika ada bahaya yang mengintai.
"Dimana kau pembunuh? Akan aku tangkap kau sebelum menampakkan batang hidungmu."
Hasan selaku pimpinan baru memerintahkan Pachin untuk mengawasi lantai satu, sementara dia akan mengawasi lantai 3 tempat diadakannya perayaan ulang tahun.
Perayaan ulang tahun Grace Company tidak dilakukan di gedung seharusnya karena ancaman pembunuhan itu membuat si CEO paranoid. Sebagai gantinya, pesta ulang tahun dilaksanakan di gedung pertama Grace Company yang sudah ditinggalkan yang terletak di pinggiran kota.
Hasan berjalan mengitari lantai 3, lantai teratas gedung itu. 4 pengawal ditempatkan di samping sang CEO.
Para pengawal saling bertukar informasi menggunakan alat komunikasi.
Penciuman Hasan menangkap bau yang aneh, samar seperti bau bubuk mesiu.
Bubuk mesiu adalah komponen dalam senjata api yang berfungsi untuk membuat ledakan dan menembakkan peluru.
Sebelum peluru itu ditembakkan Hasan harus segera menemukan si pembawa pistol.
__ADS_1
Disaat saat terakhir saat Carol melakukan pidato di depan pegawainya Hasan berhasil menemukan orang yang memiliki pistol, dia berdiri tepat di depan Carol dan merupakan salah satu teman baik sang CEO.
Hasan merebut pistol itu tepat sebelum pelatuk di tarik.
"Beraninya kau mengarahkan pistol CEO Grace Company yang tercinta!!!"
Hasan mematahkan gigi bajingan itu dengan satu tinjuan di pipi kanannya.
Carol yang menyaksikan aksi heroik Hasan, merasa berhutang budi. Carol bergegas menghentikan Hasan yang sibuk menghajar si pembunuh.
"Bu CEO, saya yakin dialah pembunuh yang mengirimi surat ancaman itu!" Tutur Hasan.
"Kerja bagus pak Has. Aku akan menelepon polisi."
Hasan segera memborgol si pembunuh lalu menghancurkan pistolnya.
Setelah menginjak injak bubuk mesiu yang terdapat di dalam pistol, Hasan kaget karena baunya bukannya menghilang justru tambah kuat dan taja
Kekhawatirannya ternyata benar, ada satu orang lagi yang membawa senjata api beraroma mesiu kuat. Ternyata dia adalah salah satu wanita yang Hasan usir kemarin.
Wanita itu menodongkan pistol ke arah Hasan, membuatnya dalam posisi rentan bisa tertembak kapan saja.
"Kau tidak makan hati setelah aku usir kemarin kan?" Tanya Hasan dengan harapan bisa mengalihkan perhatiannya.
"Jangan banyak bicara. Harusnya ini jadi pekerjaan yang mudah, gara-gara kau kami gagal!"
Si wanita menembakkan pistol.
Refleks super Hasan bereaksi, dipadukan dengan kecepatannya yang jauh berkembang membuat Hasan bisa menghindari 3 kali tembakan dan merebut pistol si wanita.
Pada akhirnya, Hasan berhasil merebut pistolnya meski tangannya harus tertembak satu kali.
Wanita itu mendapatkan balasan tinju uppercut dari Hasan.
***
.................................................................................
Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.
__ADS_1
Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁
.................................................................................