
POV Hasan -
Hidungku sakit beberapa hari ini mencium aroma racun. Apa dengan ini diriku sudah berkembang.
Dokter Brian menyiapkan 2 toples kaca berisi cairan asam yang sangat kuat. Setiap kali aku menutup mata dan membiarkan hidung ini bekerja. Mendekati cairan yang dapat melelehkan kulit ini membuat indera ku yang lain ikut berkembang.
Indera peraba ku mulai merasakan bahaya dari sekitar seperti seekor laba-laba super. Perasaan ini mulai membuatku tidak nyaman, aku meminta waktu rehat sebentar dari pelajaran yang melelahkan.
Di samping pipiku di gantung jamur beraroma kuat untuk melatih penciumanku. Pegawai lain yang melihat keadaanku hanya berdiam diri, tapi dari sini aku bisa mendengar kata-kata tajam mereka.
Semenjak aku terpaksa bergaul dengan dokter Brian, orang-orang mulai menjauhiku karena di tubuhku selalu ditempeli racun. Aku tidak tahan lagi.
"Dokter Brian, saya ingin berhenti jadi kelinci percobaan anda." Ucapku dengan tegas.
"Kenapa tiba-tiba begitu pak Hasan? Padahal sedikit lagi kau bisa mencapai level maksimum dari bakatmu."
"Level maksimum itu hanya ada dalam imajinasimu. Sekarang aku sudah cukup pintar untuk tidak lagi menuruti perkataanmu."
Kami saling menatap dengan intens. Rasanya aku menghembuskan asap beracun ke wajahnya.
"Kalau kau memang sudah tidak sanggup aku tidak akan memaksa. Tapi jangan bicara seolah aku melakukan hal jahat kepadamu. Bagaimana kalau kita minum bareng?"
***
- POV Narator -
Hasan menerima ajakan Dokter Brian, lokasi dipilih oleh Dokter Brian sendiri. Dengan baik hatinya Dokter Brian mentraktir Hasan makan besar di cafe manisan.
"Kau suka dessert? Kalau tidak suka berikan saja kepadaku. Aku ini sangat suka makanan manis." Tutur Dokter Brian dengan muka berseri-seri. Dia menyendok satu persatu dessert ke mulutnya, dengan lahap tanpa bernafas. Dia memiliki kebiasaan tidak bernafas saat menyendok makanan ke mulutnya.
Kebiasaan tidak menyehatkan itu dia miliki sejak kecil.
Berbeda dengan Hasan, dia menyuap dengan berat hati, makanan manis memang lezat dan memberikan kebahagiaan karena zat adiktif di dalamnya. Tapi kalau terlalu banyak bisa memicu diabetes.
__ADS_1
Hasan menggeser piring dessert nya ke dekat Dokter Brian, Dokter Brian pun langsung melahap habis semuanya. Merasa dirinya tidak sopan pada Hasan karena telah memakan bagiannya sampai habis tak bersisa Dokter Brian pun meminta maaf.
"Tidak apa-apa dok, aku bisa memahami obsesimu pada makanan manis." Ucap Hasan dengan lugas.
"Lalu apa obsesimu pak Hasan. Apa itu terhadap bau?."
"Benar sekali. Saya sedang mencari farfum yang bernama Love Phobia Trauma Apple."
Dokter Brian terbatuk meludahkan makanan ke meja.
"Maafkan aku, tapi nama macam apa itu...?"
Dokter Brian menahan tawa dengan menyumbat mulutnya menggunakan kue kacang.
"Aku juga tidak tahu pasti nama asli farfum itu. Aku mengetahuinya dari seseorang ketika pergi ke bazar farfum yang terjadi insiden ledakan tempo hari. Farfum itu memiliki aroma apel yang sangat kuat, bahkan aku sampai termabuk saat menghirupnya. Sebagai seorang yang kenal dengan bermacam macam bau apakah anda pernah mendengar tentang farfum apel yang dapat menggetarkan jiwa?"
Dokter Brian berpikir dengan memandang sekitarnya.
"Aku tidak pernah mendengar ada farfum dengan kekuatan sebesar itu. Tapi kalau zat kimia ada."
"Tidak mungkin zat kimia diletakkan di badan manusia. Pasti bukan itu yang aku cari."
Lalu petunjuk datang tanpa diduga. BPOM mendapat laporan khusus dari pabrik farfum yang diduga merupakan pemasok dari farfum beraroma buah yang Hasan temui di bazar.
Secara teknis BPOM tidak mengurus farfum. Mereka mengurus zat berbahaya yang tercampur di dalam botol farfum.
Hasan menerima pekerjaan ini dengan senang hati. Dia dan Pak Naryono melesat dengan kecepatan tinggi karena katanya farfum beracun itu harus segera ditarik peredarannya.
"Tugas kita adalah menemukan merek yang tercampur racun. Inilah saatnya menunjukkan hasil kerja kerasmu pak Hasan."
"Siap pak!," Sahut Hasan dengan lugas.
Sesampainya di lokasi Hasan sedikit kecewa karena dia dengan mudahnya dapat menemukan merek mana yang bermasalah. Di satu sisi pak Naryono sangat senang karena dia berhasil merekam aksi Hasan ketika bertugas.
Tanpa sepengetahuan Hasan tapi dengan izin Hajeera, pak Naryono meng upload video itu ke Youtube.
Alhasil nama Hasan pun makin terkenal, dan pabrik yang menjual farfum bermasalah itu mendapatkan citra buruk dari masyarakat.
__ADS_1
Saat itu baik Hasan maupun pihak pabrik belum tahu kalau nama mereka viral. Hal itu disebabkan karena kebanyakan pegawainya kakap teknologi.
Hasan menggali gali informasi LP Trauma Apple di pabrik itu. Dia menanyai satu persatu orang, namun karena mereka hanya pegawai biasa yang bekerja di pabrik pembuat farfum tidak terkenal, mereka pun tidak tahu apa-apa selain merek farfum yang mereka jual.
Alhasil Hasan pun kembali ke mobil dengan perasaan kecewa.
"Dari raut mukamu, sepertinya mereka tidak tahu apa-apa ya?"
Pak Naryono menyalakan rokok di mulutmu. Merokok sambil bersandar di kap mobil, rasanya sangat nyaman untuk orang tua sepertinya.
"Begitulah. Menurut anda apa saya harus mencari farfum itu ke seluruh pelosok Indonesia?"
"Tidak perlu sampai segitunya. Kalau farfum itu memang sangat harum pasti itu merek terkenal. Jadi farfum itu pasti salah satu dari ribuan merek yang tidak kau kenali di luar sana." Pak Naryono memberikan pendapatnya.
Lalu menarik bahu Hasan ke dalam mobil.
Tepat saat pak Naryono dan Hasan pergi pemilik pabrik melihat video pabriknya bermasalah di youtube. Caption dan judul video itu memang tidak memojokkan secara sepihak tapi penjelasan suara amatir di dalamnya cukup membuat pemilik pabrik ketar ketir.
Pak Naryono tahu apa yang diperbuatnya dan konsekuensinya. Dia menurunkan Hasan di depan warung pinggir jalan atas permintaannya.
Hasan yang baru dapat uang makan dari bosnya memutuskan untuk menggunakannya demi kebaikan. Dia membelikan nasi goreng lengkap dengan lauknya untuk tetangga lamanya yang membutuhkan.
Namun ketika sampai di depan rumahnya Hasan terkejut mendapati bendera hijau di terpasang di pekarangan rumah.
"Siapa yang meninggal?" Batin Hasan.
Hasan melewati para perayat, dengan lirih dia mengucapkan permisi lalu sesampainya di depan pintu ada 2 mayat yang terbaring disana.
Mereka adalah 2 anak kecil di keluarga ini, yang satu berumur 7 tahun, satu lagi 9 tahun.
Hasan mematung melihat tubuh tak bernyawa kedua anak yang selalu tersenyum bahagia melihat kedatangannya itu. Apa yang membuat mereka dikafankan di waktu yang bersamaan?.
Sang ibu tidak bisa diajak bicara begitupun dengan sang ayah. Mereka terlarut dalam kesedihan mendalam.
Hasan bertanya pada salah satu perayat yang tampak rutin membenarkan kain penutup yang tersingkap saat ditiup angin.
Perayat itu menjelaskan, kedua anak ini mati karena keracunan makanan.
__ADS_1
Lebih jelasnya mereka berdua meninggal setelah makan ikan kaleng yang sudah kedaluwarsa.
***