
Siska keluar dari kamar mandi disaat itulah dia menyadari tatapan cabul Hasan ke dirinya
"Enak ya bisa memiliki kekuatan super. Apa kamu menggunakan kekuatan ini untuk mengintip tubuh wanita lain juga?" Tanya Siska penuh kecurigaan.
Hasan menjawab dengan tenang. "Aku tidak pernah menyalakan x-ray ini untuk mengintip tubuh wanita lain. Kamu tahu kan, kalau di pipiku ada bekas tamparan berarti aku baru saja menyalakannya."
Hasan menunjukkan tanda merah di pipinya, yang tidak lain adalah bekas tamparan tangannya.
Siska tertawa geli melihat warna merah di pipi Hasan. "Masa kau tidak bisa mengendalikan tenaga tamparanmu?, ahahahahaa...!!!"
Sekilas keluarga ini nampak bahagia namun dibelakang Hasan mulai berubah menjadi seorang bajingan.
Keesokan harinya, Siska meminta dibelikan es krim mixue.
Setahu Hasan mengantre es krim itu sangatlah lama mungkin sekitar setengah jam tergantung seberapa banyak antreannya.
Hasan pun menggunakan kesempatan ini untuk mendatangi Melinda. Sementara tugasnya membeli es krim diserahkan pada tukang ojol.
"Easy peasy." Gumam Hasan yang sudah bersiap di atas sofa ruang tamu Melinda.
Sekali lagi Hasan berhubungan badan dengan Melinda.
"Tolong jangan terlalu sering kesini. Kalau kamu datang setiap hari tetangga sebelah bisa curiga."
Hasan memikirkan ucapan Melinda. Akhirnya Hasan memiliki ide untuk mengajak Melinda pergi ke motel, sebutan untuk mini hotel yang menerima segala jenis tamu.
"Besok datanglah ke motel ini jam 10 pagi. Kalau tidak datang aku akan memberimu hukuman di pertemuan kita berikutnya."
Melinda menutupi wajahnya dengan bantal saat Hasan menyalakan kamera hp nya.
Sekarang Hasan memiliki hobi aneh dengan mencatat perselingkuhannya di notepad. Untuk mencegah istrinya menemukan notepad itu Hasan pun menumpuk foto telanjang Melinda dengan foto telanjang Siska. Hasan juga menulis tanggal kunjungannya ke rumah Melinda. Jika istrinya bertanya tanggal apa itu Hasan hanya perlu menjawab kalau itu adalah tanggal 'ranjang' terbaik mereka.
"Aku memang jenius."
Hasan pulang dengan dua gelas es krim dan martabak manis, tersenyum dan bercanda dengan istrinya seakan tidak terjadi apa-apa.
Keesokan harinya Hasan kembali memanfaatkan waktu liburannya untuk selingkuh.
Di kamar motel dia mencoba berbagai gaya yang bahkan belum dia cobakan dengan istrinya.
"Gaya ini dilarang dilakukan dengan istri makanya aku lakukan pada simpananku." Hasan memiliki alasan yang pintar sekaligus tidak tahu malu.
Itulah perselingkuhan pertama Hasan yang sekarang bercita-cita menjadi king harem. Tapi sebelum itu dia harus mendapatkan farfum LP yang memiliki aroma pemikat bak ilmu pelet itu.
__ADS_1
***
Hasan dan Siska kembali masuk kerja setelah keviralan smell detective menurun. Berita tentang detektif bau tidak terlalu diminati lagi karena sudah lewat 4 bulan sejak kemunculan pertamanya. Para penonton lebih memilih beralih ke trend baru yang tentunya flesh. Meski begitu Hasan masih mendapat tantangan dari para fans nya setiap minggunya.
"Selamat datang kembali smell detective. Kau jadi miliarder sejak tampil di acara itu kan?"
"Senang bertemu lagi denganmu Pink Man."
Hasan meletakkan tasnya di bawah meja lalu meletakkan kaki di atas meja.
Pink Man yang melihat tingkah sok Hasan menjadi kesal dan menjauh darinya.
"Ini daftar laporan hari ini pak Hasan."
Hari ini juga Pink Man dialihkan ke divisi lapangan karena alasan yang tidak diketahui Hasan.
Hajeera membawa 3 buah berkas berisi laporan resmi. Laporan pertama datang pemilik kedai di sebuah mall yang berada di pelosok desa. Tempatnya sangat jauh dan memerlukan waktu 5 jam dengan mobil.
Bisa dibayangkan seberapa bosan Hasan dan kawan kawan selama perjalanan itu. Ditambah lagi, waktu perjalanan mereka semakin panjang karena jalanan yang penuh lubang bak permukaan planet mars.
Hasan dan pak Naryono bergantian menyetir, sedangkan Pink Man ketiduran di kursi belakang. Konon katanya Pink Man bisa tidur di dalam mobil yang terus bergoyang karena dulunya dia pernah menjadi penjaga fun park dan memiliki kebiasaan tidur di Roller Coaster yang sedang melaju. Wtf.
Perjalanan ke alfamart itu sarat akan halangan.
Maksudnya hanya Hasan dan Pink Man yang mendorong sedangkan pak Naryono dengan alasan sudah tua dia bisa bersantai di kursi pengemudi.
Setelah berhasil mengeluarkan ban mobil dari lubang masalah lainnya muncul. Ban itu tertusuk batang besi jalanan sehingga robek dan tidak bisa digunakan.
"Pink Man! Carilah bengkel mobil! Gunakan maps di hp mu, hp ku sedang tidak ada sinyal." perintah pak Naryono.
Pink Man menatap Hasan.
"Dia memang tegas di lapangan, lakukan saja perintahnya supaya kita cepat sampai." Hasan menegaskan lagi perintah pak Naryono.
Sayangnya bengkel terdekat berada di jarak 8 kilometer di depan. Hasan yang santuy dan bertenaga tidak keberatan jika harus mendorong mobil sampai sana, tapi akan makan waktu yang sangat lama.
Akhirnya pak Naryono menelepon kantor untuk meminta bantuan.
Mary yang mendengar pak Naryono terjebak di tengah jalan pun lantas mengajukan diri untuk menelepon mobil derek. Inisiatif disetujui oleh kepala divisi kantor yang baru pengganti Pink Man yang pindah divisi.
Mary pun menelepon temannya.
Tak lama kemudian sebuah mobil derek lewat di depan pak Naryono dan yang lainnya.
__ADS_1
Perjalanan kembali berlanjut setelah tersendat selama kurang lebih 1 jam.
Hasan duduk di kursi belakang. Dia iseng mengaktifkan x-ray untuk melihat barang apa saja yang dibawa pak Naryono di mobil ini.
Tidak ada yang spesial kecuali sebuah pisau lipat yang dibawa Pink Man. Pria itu meletakkan pisau lipat di pahanya dengan tali kemudian ditutupi dengan celana.
Hasan berusaha mengabaikan pisau lipat itu karena ada hal yang lebih penting untuk dia kerjakan. Bermain game sampai ke bengkel.
Sesampainya di bengkel pengemudi derek yang tadi langsung pergi.
"Sudah saya lakukan bu Mary."
Mary di seberang telepon menjawab. "Bagus. Kau tahu jalan pulang kan Louis?"
"Disini memang daerah di tengah hutan rimbun dan sinyal hp kerap kali terganggu, tapi bukan berarti saya tidak bisa menemukan jalan pulang." Jawab Louis si pengemudi mobil derek.
"Sinyal hp kerap kali terganggu katamu? Tapi kita masih bisa teleponan?"
"Kan tadi saya 'kerap kali' bukan 'selalu' terganggu. Sudah ya bu, sepertinya hari mau hujan."
Louis menatap langit yang tertutup sempurna oleh awan hitam.
"Tempat ini sangat dingin dan suasananya mirip seperti di film horor. Jalan setapak di tengah hutan yang sepi, langit yang mendung, hari yang gelap, sunyi dan jauh dari permukiman. Hiiii.... "
Louis langsung masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya mengisi ulang bensin di pinggir jalan.
"Hahh... dasar Louis penakut." Ledek Mary setelah mematikan telepon.
***
Hasan, Pink Man, dan pak Naryono akhirnya sampai di alfamart tersebut.
Satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan penampakan alfamart itu adalah 'horor'.
Cat dinding terkelupas, lumut di mana-mana, bahkan area parkiran sudah rata dengan tanah.
"Memangnya ada yang jualan di dalam bangunan ini?" Tanya Hasan pada pak Naryono.
"Tentu saja ada. Kalau tidak mana mungkin kita dapat laporan dari sini." Sahut pak Naryono tegas.
"Yahh bisa jadi kita di permainkan. Soalnya setahuku ada uud yang mengatur soal bangunan pasar. Tapi saat melihat langsung tempatnya aku jadi ragu." Keterangan Hasan ada benarnya.
Pak Naryono masuk ke dalam alfamart untuk menemui sang pelapor.
__ADS_1
***