
Sang asisten pun sadar kalau bukan karena pak Maurice dia tidak akan bisa mencapai posisinya sekarang.
Saat sang asisten menerima kemarahan suaminya, sang CEO yang kesal pun langsung merebut telepon itu dan hampir saja memaki suaminya di telepon.
"Aku tahu apa yang terjadi di klinikmu. Sebagai istri aku sudah membantumu dengan memberikan cek yang sangat besar untuk modalmu menang di pengadilan. Jika kali ini kau gagal mengatasi masalah ini, akan aku pecat kau jadi suamiku!!."
Nyonya Leadswan merasa stress setiap kali mengingat keadaan suami payahnya.
Sang asisten pun mengajak bos nya itu pergi ke pasar farfum akhir pekan ini.
"Seperti namanya disana banyak orang yang menjual farfum, mulai dari yang beraroma buah, dan banyak lagi. Bos belum pernah ke tempat seperti itu kan?." Si asisten yang bernama Carol ini cukup dekat dengan Mary.
Pertemanan Carol dan Mary dimulai dari kedekatan mereka di kantor. Carol kerab kali membuatkan bekal makan siang untuk Mary.
Awalnya Mary melihat inisiatif itu sebagai upaya untuk mendekatinya dan membangun relasi yang baik dengannya, kurang lebih dia memandang Carol sebagai rubah licik yang mendekatinya untuk mendapatkan posisi yang tinggi di perusahaan.
Tapi semakin dia mengenap Carol semakin dia memahami sifat baik hati dan perhatian yang ditunjukkan Carol padanya tidaklah sebusuk yang dia pikirkan.
Mary dengan senang hati menerima ajakan teman baiknya.
"Tapi ini bukan janji. Karena mood ku bisa semakin memburuk tergantung keputusan yang diambil Maurice." Papar Mary.
"Kalau begitu sebelum kepalamu meledak ayo kita rehat sejenak dari pekerjaan yang melelahkan ini."
Mary dan Carol pun bersantai di balkon lantai 30 sambil menyeruput teh herbal.
Disaat yang sama di kantor BPOM aku menerima pesan dari mas Fazar. Memberitahunya kalau di akhir pekan akan ada bazar farfum. Kemungkinan farfum apel itu ada disana. Kalau tidak berarti farfum itu merek mahal yang hanya sedikit orang tahu.
[Terima kasih infonya mas Fazar.]
Tring~
[Ehh jangan mas dong. Panggil aja freza.] Balas mas Fazar.
[Oke Freza.]
__ADS_1
Selesai chat an dengan musuh son goku itu, aku langsung bergegas pulang karena badan ini sudah ripuh.
***
Singkat cerita akhir pekan yang dinantikan tiba. Aku membawa uang yang banyak bersiap kalau menemukan farfum apel itu.
Untuk lebih menajamkan indera penciumanku aku sengaja tidak pakai farfum hari ini.
Aku beruntung karena berhasil membodohi pak Mulyadi sehingga dia sekarang sedang mengerjakan bagianku. Harus aku akui dia orang yang baik tapi juga menyebalkan dan kasar.
Perburuan farfum dimulai saat melangkah ke garis antara dua dunia ini. Dari jalanan penuh polusi ke taman penuh wewangian yang bercampur aduk. Wewangian yang bercampur aduk adalah salah satu tantangan memasuki bazar ini.
Orang yang tidak kuat pasti akan pusing dan berlari keluar bazar, tapi aku tidak. Menghirup bau menyengat bahkan yang bau busuk tahi ayam sudah menjadi makanan sehari hariku.
Semua kios menjual farfum dengan berbagai bentuk dan kemasan nama. Lebih amazingnya lagi di pintu masuk taman ada orang tertopeng karakter animasi yang menjadi maskot bazar, serta ada denah di sampingnya.
Isi denah itu antara lain petunjuk pembagian 3 wilayah bazar. Yang pertama adalah bazar farfum, kedua bazar buku, ketiga bazar boneka. Bisa dibilang ini sebuah festival. Aku lupa bilang kalau ada tiket masuknya seharga 20 ribu rupiah.
Begitu nyamannya bebauan yang tercampur aduk ini sampai membuat mataku berair.
"Huek!."
Namun tiba-tiba saja aku mencium bau busuk entah darimana. Saat aku cari ternyata sumber bau busuk itu berasal dari sebungkus kebab yang jatuh ke tanah dan terinjak oleh pengunjung.
"Kenapa kebab bisa mengeluarkan bau busuk setajam ini." Karena bau dan merusak indahnya lingkungan aku pun memungutnya dan mencari tempat sampah. Lucunya tak ada tempat sampah disana. Tidak heran orang membuang sampah ke tanah, bak sampahnya saja tidak disediakan.
Aku pun pergi ke luar bazar untuk membuang sampah itu ke tempat sampah di dekat halte bus. Namun saat akan kembali lagi aku malah disuruh membayar tiket lagi oleh penjaga bazar.
"Tidak apa, tidak apa bayar 20 ribu lagi. Saya akan bayar berapa pun." Ucapku kesal sebelum menarik tiket lalu berjalan cepat ke dalam.
"Baiklah saatnya fokus Hasan. Ikuti bebauan itu, itu keahlianmu, melacak bebauan."
Aku mendatangi pedagang yang dikerumuni banyak orang tua dan anak-anak. Kios itu adalah satu dari 4 kios yang menjual farfum beraroma buah.
Aku sempat berebut farfum apel dengan seorang anak dan tidak sengaja membuatnya menangis. Akhirnya aku kembalikan farfum itu karena tidak tega pada anak itu. Jadi aku bukannya takut dengan ayah anak itu, tapi tidak tega, makanya aku kembalikan.
__ADS_1
Di kios kedua hidungku menjadi lebih sensitif karena mencium aroma susu fermentasi alias keju.
"Silahkan dipilih! Dipilih! Farfum merek baru! Rasakan wanginya keju francis di genggaman tanganmu."
"Keju Francis?."
Aku tertarik dengan baunya lalu membeli satu kotak. Harganya lumayan ramah di kantong yaitu 40 ribu rupiah. Maksudku ramah di kantong orang yang baru gajian.
Lanjut mencari di kios kedua aku menemukan farfum keju lagi. Kenapa banyak sekali yang menjual farfum keju?.
Karena baunya sama saja aku pun men skip warung ketiga ini. Barulah di warung keempat aku mendapatkan apa yang aku cari, farfum beraroma apel. Walaupun tidak sewangi farfum di hari itu, setidaknya aku punya satu di rumah.
Tujuanku sudah tercapai. Aku mendapatkan farfum apel yang ku inginkan, jadi aku memutuskan untuk segera pulang.
Namun langkahku terhenti saat melihat cover novel yang tidak asing di salah satu etalase kios buku.
"Itu adalah novel Hunter and The Sytem (HATS)." Gumamku.
Aku membeli 2 volume awal novel itu dengan harga 160 ribu rupiah. Dilihat dari harganya kemungkinan novel ini asli alias bukan copyright. Sayang sekali aku tidak punya cukup uang untuk membeli ke 28 volumenya.
Sedikit cerita tentang novel ini. Dulu saat smk aku sering membacanya karena novel ini memang booming di masa itu. Aku sampai membayangkan diriku menjadi tokoh utamanya dan berakhir dipukuli oleh berandalan di gangku. Setelah itu aku bangkit kembali karena mengingat kata-kata motivasi sang mc dan menghajar balik berandalan itu sampai dia kencing di celana.
Benar-benar masa kecil yang indah.
"Kira-kira berapa lama full volume novel ini akan bertahan di etalase?." Tanyaku pada pedagang buku.
"Mungkin sekitar 2 - 3 bulan. Ini novel lama saya yang sudah saya baca sampai jenuh jadi saya menjualnya. Apa mas mau mencicil semuanya?."
"Kira-kira berapa harga semuanya?."
"2 juta 200 ribu termasuk 2 volume yang sudah mas beli tadi."
Gajiku hanya 1,2 juta. Mungkin inilah saatnya aku meninggalkan kenangan masa kecilku untuk selamanya.
Aku tidak jadi membeli kelanjutan novel itu.
__ADS_1
***