A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
67. Undangan misterius


__ADS_3

Ren Kagume tidak banyak berbicara, selama menunggu bos mereka berkencan kedua pengawal pribadi itu berdiri berdampingan.


Hasan tidak tahan mengajak bicara, namun dia tidak merespon sedikit pun.


Ren Kagume tidak terbiasa berbicara dengan orang lain, sifat itu membuatnya tidak memiliki teman, namun itu tak masalah bagi Ren.


Hasan sedang melihatnya, Ren memiliki otot yang sangat kuat, dan tubuh penuh luka tembak di bagian atas.


Berkonfrontasi dengan orang yang sering berhadapan dengan peluru bukanlah ide yang bagus. Lebih baik saling cuek.


Hasan permisi sebentar untuk mengangkat panggilan istrinya. Carol mengizinkan tapi Mitsuda tidak.


Mitsuda mengkritik kelonggaran yang diberikan Carol ke Hasan.


"Seharusnya pengawal pribadi tidak pergi kemanapun, apa kau tidak pernah diajari hal itu oleh Departemenmu?" Tanya Mitsuda dengan ketus.


"Maaf tuan, saya hanya mau mengangkat telepon sebentar. Saya akan gerak cepat kalau terjadi sesuatu di tempat yang aman ini."


Hasan tetap mengangkat telepon.


Setelah menelepon Hasan kembali ke posisinya, berdiri memandangi dua orang yang sedang makan membuatnya jenuh.


Hasan tidak bisa mengeluh karena sudah disinggung oleh tunangan bos nya.


Hasan akhirnya bisa pulang di jam setengah 12 malam.


Cara Mitsuda mengusirnya benar-benar mengganggu pikirannya. Kelihatan sekali dia tidak sabar ingin main kuda kudaan dengan nona Carol.


"HATI-HATI AGEN HAS...!!!!" Teriak Carol dari lantai dua pada Hasan yang sudah di depan pagar.


Hasan balas melambaikan tangan ke Carol untuk memanas manasi kacamata menyebalkan yang tidak lain adalah Mitsuda yang sedang memegang minuman di samping Carol.


"Kau tidak memiliki hubungan spesial dengannya kan?" Tanya Mitsuda dengan bahasa jepang.


"Tentu saja tidak. Tapi kau tidak lupa dengan janji kita kan? Tidak ada hubungan intim sampai kita menikah."


Mitsuda mengangguk.


"Aku tidak akan melanggarnya. Karena aku pria sejati." Sahut Mitsuda.


Hasan diantar menggunakan mobil oleh bawahan Mitsuda.


"Tunggu! Bagaimana dengan mobil saya!!? Antarkan saya ke Grace Company, tolong...!"


Hasan mengambil mobilnya lalu pulang ke rumah. Beruntung Siska bukan tipe istri pemarah yang menyuruh suami tidur di luar hanya karena pulang terlambat. Buktinya Hasan diberi kunci cadangan untuk mengantisipasi pintu depan terkunci secara alami.


Karena lampu ruang tamu dimatikan Hasan tidak melihat sebuah kaki di depannya. Hasan pun terjatuh tepat ke atas matlas yang empuk.


******* itu terdengar tidak asing, itu badan Hajeera, pembantu baru mereka. Entah kenapa malam ini dia memilih tidur di ruang tamu bukannya di kamar yang sudah mereka siapkan.

__ADS_1


Kecelakaan yang sangat tragis untuk laki-laki yang sudah bersuami, di satu sisi terasa sangat nyaman.


"Pak, bisa bangun gak?"


"Ma-maaf, kalau istriku melihat kejadian kita akan diusir dari rumah." Terang Hasan dengan panik.


"Yakin mbak Siska akan marah?"


Hajeera menggoda Hasan dengan bibirnya yang merah.


Cukup aneh melihatnya mempertahankan lipstik saat ingin tidur.


"Kau sedang menungguku. Apa aku benar. Hajeera?"


Hajeera mengalihkan pandangannya dengan lambat ke badan Hasan, lalu turun dengan cepat saat melihat pedang milik Hasan berdiri.


Hajeera memainkan tangannya di sekitaran pedang Hasan.


"Katakan alasannya Hajeera? Apa alasanmu melakukan ini??"


"Apa lagi? Karena kau tampan dan kaya raya."


Hajeera terus menggoda Hasan, permainan tangannya seliar Siska. Hasan pun mulai terangsang.


Hasan menarik Hajeera ke ruangan dapur yang berada di lantai 1 rumahnya.


Dikira sesuatu yang buruk akan terjadi, ternyata Hasan memarahi Hajeera disana.


"Jadi kau menolak tawaranku? Yakin tidak mau ini?" Hajeera mengangkat singlet putihnya ke atas.


Hasan menjawab "Tidak!" Dengan tegas.


Suara tepuk tangan terdengar dari arah tangga yang bisa dilihat dari dapur. Rupanya aksi menikung Hajeera ini direncanakan oleh Siska untuk melihat apakah Hasan laki-laki yang setia seperti di bayangannya, ataukah buaya darat.


Hasan berhasil melewatinya dengan nilai sempurna, walaupun Hasan sempat tergoda saat Hajeera menyentuhnya.


"Jangan lakukan ini lagi Siska. Aku dan Hajeera sampai berbenturan di lantai tadi." Hasan melototi Siska. 


Siska yang santai dengan entengnya meminta maaf. Pasangan suami istri itu pun kembali ke kamar mereka, sedangkan Hajeera pergi ke kamarnya di lantai satu.


Hasan merasa bersalah. Dia mengkhianati istrinya jauh sebelum ini. Teringat dengan Melinda Hasan pun berencana menemuinya besok.


***


Besoknya adalah hari minggu, Hasan bangun jam 9 pagi. Sang istri yang sudah bangun lebih dulu tidak tega membangunkan Hasan karena tahu suaminya itu kelelahan.


Dengan cepat Siska membersihkan noda bekas pertempuran tadi malam, lalu membangunkan suaminya karena jam sudah menunjukkan pukul 10.


"Bangun sayang, matahari sudah tinggi."

__ADS_1


Hp Hasan berdering, Siska tidak bisa melihat nama si penelpon karena hanya terdiri dari rangkaian angka, alias nomor baru.


"Halo...?"


[Halo. Anda bukan agen Hall Fame. Siapa anda?]


"Saya istrinya. Agen Hall Fame sedang sibuk, kalau mau saya bisa menyampaikan pesan anda."


[Baiklah sampaikan pesan ini. Ketua divisi penyelidikan DKK Selatan ingin bertemu dengannya. Datanglah ke alamat ini, **** **** dalam 2 jam. Jika terlambat barang semenit saja dia akan tahu akibatnya.]


"Bangun sayang...! Ada telepon dari departemen."


Siska mengguncang badan Hasan. Liur basinya terciprat ke mana mana.


"Ada apa Siska...?" Tanya Hasan masih dalam keadaan setengah sadar.


"Ada telepon dari departemen. Kamu disuruh datang alamat **** **** sebelum 2 jam. Tidak boleh terlambat barang semenit pun."


Hasan mengusap matanya, melakukan peregangan tangan, lalu bangun dengan lompatan keren. 


"Terima kasih sudah bangun duluan Sis. Tanpa kau aku mungkin tidak akan menerima pesan itu."


Hasan menampar pantat kenyal istrinya sebagai hadiah.


Di tempat yang Hasan tuju ada seorang pria menyeramkan dengan cincin tengkorak di setiap jarinya. 


Hasan sampai di alamat yang dimaksud dan mendapati logo DKK yang tersembunyi di area parkir gedung kecil itu.


"Kenapa logo DKK disembunyikan seperti itu ya?"


Ini adalah sebuah restoran cina, pelayan di tempat itu sangat cantik dan merupakan keturunan tionghoa asli, dan percayalah, saat lewat tengah malam para pelayan itu akan tampil sangat minim dan restoran itu berubah menjadi tempat eksploitasi.


Hasan belum mengetahui hal itu, tapi dia sadar ada banyak keanehan disana, salah satunya banyaknya ruang kamar di belakang restoran.


"Jangan bilang ini tempat eksploitasi? Aku pernah dengar berita ngaco soal restoran yang bertransformasi menjadi rumah bordil saat malam hari." 


"Bukan kan? Kan?"


Hasan melirik ke pelayan wanita yang menjaga pintu masuk. Di balik Chinese Dress itu dia mengenakan pakaian dalam yang sangat intim. Hasan pun semakin yakin kalau tempat itu adalah restoran bordil yang pernah muncul di headline berita.


"Selamat datang tuan yang tampan. Kursi anda di sebelah sana."


Hasan dibawa ke tempat yang berbeda dari pelanggan lain tapi masih di bangunan yang sama.


Hasan bertanya ke pelayan cantik siapa yang akan dia temui. Hasan sudah melihat wajah orang itu dengan X-ray nya.


"Beliau tamu yang sangat penting, anda pasti akan menyukainya."


Ruangan privat adalah tempat yang dipilih sebagai tempat pertemuan dengan agen DKK.

__ADS_1


Pria bercincin tengkorak itu memanggil Hasan dengan sebutan agen terhebat DKK Selatan.


***


__ADS_2