A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
51. Balas dendam (2/2)


__ADS_3

"Bagaimana dengan itu? Kau tidak menduganya kan?"


BB tidak merespon ucapan Hasan. Dia memasang kuda kuda yang itu.


Hasan tahu kalau BB menggunakan kuda kuda itu maka pukulannya akan bisa mematahkan tulang Hasan. BB sendiri yang mengatakan itu sebelumnya.


BB maju menyerang.


PRANG!!!


Baton Hasan terlempar hingga memecahkan kaca jendela ruang latihan.


"Ada apa ini!!?"


Perbuatan mereka berdua langsung diketahui oleh kolonel Graham, beruntung kolonel Graham tidak marah karena itu adalah risiko berlatih di dalam ruangan.


Kolonel Graham meminta Hasan beristirahat di kamarnya. Sebelum itu kolonel Graham mempertanyakan kemampuan Hasan menyelesaikan misi itu. Kolonel Graham juga mengancam, jika Hasan tidak bisa menyelesaikan misi pertamanya maka dia akan diturunkan pangkatnya ke non militer yang gajinya sangat rendah.


"Saya berjanji tidak akan turun pangkat. Saya sudah mendapatkan pelajaran dari kejadian kemarin."


Hasan pergi kr kamarnya yang berada di area pinggir gedung untuk membaca novel HATS.


***


Keesokan harinya dengan 2 buah baton di tangannya Hasan siap melibas para pembegal itu. Kembali ke pasar tempat dia dihajar.


Untuk menutupi bekas jahitan Hasan menggunakan topi berwarna cream.


Lim yang ditugaskan bersama Hasan bergumam di dalam hatinya. "Kenapa dia tampak yakin sekali? Dan lagi apa apaan tatapan berapinya itu?"


Dalam hati Hasan. "Kenapa aku tidak kepikiran sebelumnya, jika ada yang membawa dompet lebih dari satu itu berarti dia adalah pencopet. Aku hanya harus fokus dengan X-ray ku, para begal itu pasti bersembunyi di salah satu bangunan disini!"


"Aku akan mendukung cara apapun yang kau lakukan, Hall Fame. Toh aku hanya harus bertarung kan?"


Hasan mengangguk.


Hasan dan Lim mengitari pasar, akhirnya di dalam sebuah bangunan pabrik Hasan melihat wajah dua orang yang dikenalinya. Mereka adalah bajingan sialan yang menjadi dinding saat dia dipukuli.


Masalahnya sekarang adalah, bagaimana cara menangkap orang itu? Tidak ada barang bukti dan mereka satu komunitas yang besar.


Hasan menyentuh jahitan di kepalanya.


"Persetan dengan rencana, akan aku hajar mereka sampai mengakui perbuatannya."


Hasan mengarahkan Lim ke suatu tempat untuk bersembunyi. Di belakang gerobak tukang buah mereka menunggu kedua orang itu keluar.


"Aku melihat dua orang yang menyerangku di dalam pabrik itu. Dari 20 orang yang menyerangku hanya mereka berdua yang bisa aku temukan. Kemungkinan 18 orang lainnya sudah beralih berpindah lokasi." Terang Hasan.


"Kapan kau melihat mereka? Sejak tadi kau terus di sampingku kan?" Tanya Lim dengan tatapan aneh.


"Apa kau bisa menyimpan rahasia Lim? Ini hanya diantara kita berdua." (Hasan)


"Katakan saja kalau itu berhubungan dengan kemampuan prediksimu." (Lim)

__ADS_1


"Aku punya penglihatan X-ray sejauh 20 meter." Membatasi informasi adalah salah satu ciri khas Hasan.


"Ahh itu tidak mungkin."


"Aku bisa menebak warna bh mu. Kau memakai bh warna pink yang ketat, iya kan."


Lim terdiam, dia masih tidak percaya, Hasan pun memfokuskan pandangannya lagi.


"Kau punya tahi lalat di samping ****** payudara kiri. Orang yang memiliki tahi lalat di payudara adalah sosok yang mudah disayang orang. Dalam Bahasa Inggris, sosok seperti ini disebut "lovable". Menurut Primbon Jawa, orang yang punya tahi lalat di payudara banyak disayang orang lain."


Setelah mengatakan itu Hasan mendapat tamparan di pipi kirinya. Sosok yang Loveable itu jadi menyeramkan saat marah.


"Matikan X-ray itu!!!" Teriak Lim.


"Tidak bisa, aku kan sedang memata matai mereka. Ah mereka berdua berjaga di pintu masuk!"


Wajah Lim merah padam, dia sangat marah kepada Hasan. Namun apalah daya, dia ditugaskan bersama pria mata keranjang ini.


"Jangan melihat ke aku!" Ucap Lim lagi sambil menutupi dadanya dengan tangan.


"Biar aku yang membawa mereka kesini. Kau bersiap culik mereka."


Hasan menunjukkan jempolnya.


Lim pun mendekati dua orang pelaku dengan modus meminta bantuan.


"Permisi kakak-kakak kaki temanku terkilir, apa kalian bisa membantu menggotongnya ke kos kosan? Kos kosan kami tidak jauh kok, kos kosan putri bu Dhea disitu." Pinta Lim dengan lembut.


Kedua pria itu tergoda dengan kecantikan Lim, terutama kulit putih khas idol koreanya yang membuat tampak sangat manis.


Dengan perasaan senang mereka mengikuti Lim, berharap bisa menyentuh Lim dan temannya.


Hasan bersembunyi ke belakang gedung sesuai rencana mereka.


Saat Lim dan kedua pria itu muncul, Hasan langsung memukul mereka berdua dengan batu bata tepat di ubun ubun.


"Hahahaha! Bagaimana rasanya dipukul batu bata brengsek?!"


Hasan memborgol tangan mereka lalu membawa mereka ke sebuah rumah random yang tidak lain adalah rumah satpam tambun.


"Ini adalah rumah satpam yang aku temui saat bertugas. Ketuk pintunya, dia pasti tidak akan menolak kedatangan kita."


Lim mengetuk pintu.


Seorang anak perempuan membukakan pintu, lalu tanpa permisi Hasan masuk ke dalam rumah.


"Apa pak satpam ada di dalam?" Tanya Hasan ke gadis kecil itu.


"Ti-tidak ada, apa kalian tukang tagih hutang?"


"Bukan, kami penegak kebenaran."


Gadis kecil itu memiringkan kepalanya.

__ADS_1


Si satpam pun turun dari lantai 2 saat mendengar suara yang tidak asing.


Si satpam terkejut melihat Hasan dan Lim yang datang sambil membawa 2 orang di bahu mereka.


"Apa kau yang waktu itu?"


"Kau sudah pulih?"


"Tentu saja aku sudah pulih. Lihatlah luka di kepalaku ini."


Hasan menunjukkan bekas jahitan di kepalanya.


Hasan melempar kedua begal ke tuang tengah yang sempit. Secara keseluruhan rumah si satpam ini memang sempit, ditambah lagi dia tampaknya memiliki hutang dengan rentenir sehingga anaknya takut bertemu orang asing.


Jadi sebelum membahas soal begal Hasan bertanya hutang apa yang dimiliki si satpam.


"Anakmu mengira kami adalah penagih hutang. Memangnya hutang apa yang kau miliki sampai penagih hutang datang ke rumah?"


Satpam menatap tajam Hasan.


"Saya terlilit hutang warisan dari ayah saya. Nilainya 25 juta."


"Aku akan membantumu melunasi hutangmu asalkan kau memberitahukan semua lokasi persembunyian begal." Kata Hasan.


"Apa maksudmu? Saya tidak tahu dimana mereka bersembunyi."


"Itu omong kosong. Kenyataannya sebelum menyerang saya para preman itu adalah pengunjung pasar yang berbelanja jadi mereka pasti memiliki rumah. Katakan saja alamat mereka dan saya akan melunasi hutang bapak. Anggap ini sebagai sebagai penebusan dosa bapak yang sangat banyak karena menyembunyikan para begal."


Kata-kata Hasan berhasil menciutkan mental si satpam.


"Masuklah ke dalam kamarmu Wati."


"Yang dikatakan om itu tidak benar kan yah?"


"...tentu tidak nak, sekarang pergilah ke kamar jaga ibumu."


Setelah anaknya pergi barulah si satpam mengakui keterlibatannya.


"Baiklah saya akan buka mulut. Tapi satu hal yang bapak harus tahu, saya melakukannya karena dipaksa."


"Disengaja ataupun tidak, saya tidak bisa percaya kata-kata bapak sampai menemukan para begal itu."


Pak satpam memberikan Share lock rumah-rumah para begal dan markas persembunyian mereka.


"Saat pagi dan siang saya bekerja sebagai satpam pasar, saat malam saya menjelma jadi satpam kampung. Reputasi kampung ini sebagai kampung begal memang benar adanya."


Hasan tersenyum jahat. Balas dendam akan segera dimulai.


***


.................................................................................


Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.

__ADS_1


Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁


.................................................................................


__ADS_2