
Dalam suasana gelap di dalam penjara yang mengurung Spiral Riot, Silverblade mengawasi lawannya dengan penuh kewaspadaan. "Kau tidak akan bisa kabur dari sini kali ini, Spiral Riot," ujar Silverblade dengan nada tegas.
Spiral Riot tersenyum licik, "Oh, Silverblade, kau selalu begitu percaya diri. Tapi tahukah kau bahwa ada harta langka dari Mesir yang sedang aku cari?"
"Harta langka apa yang kau maksud?" tanya Silverblade dengan rasa ingin tahu.
"Sebuah gas afrodisiak yang sangat kuat. Aku yakin kau mendengar tentangnya. Dan kebetulan, Underwave juga berhasil mengantongi gas tersebut," ungkap Spiral Riot dengan nada sombong.
Silverblade merenung sejenak, menyadari betapa bahayanya gas afrodisiak itu jika jatuh ke tangan yang salah. "Kau tidak akan bisa mendapatkannya," ujar Silverblade dengan tegas. "Lihatlah ke sekelilingmu, Spiral. Kamu berada di dalam penjara. Bagaimana kau akan mendapatkannya?"
"Tidak peduli di mana aku berada, aku akan mencari cara untuk mendapatkannya, karena gas itu adalah kunci untukku menguasai negara ini!" ujar Spiral Riot sambil tertawa jahat.
Spiral Riot hanya tertawa dan meremehkan. "Kau pikir kau begitu kuat, Silverblade? Kamu hanya seorang manusia biasa."
Namun, Silverblade hanya tersenyum tenang. "Ketahuilah, Spiral Riot, kekuatan sejati bukan hanya dari fisik semata. Tapi dari kehendak dan tekad yang kuat untuk melindungi orang yang kita cintai. Kau dahulu juga begitu kan? Dulu kau orang yang keren, pria yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Tapi sekarang kau hidup tidak tentu arah, sangat mengecewakan."
Perang kata-kata berlanjut antara Silverblade dan Spiral Riot, sementara di baliknya, ada sebuah permainan intelektual yang tak terlihat. Silverblade tahu bahwa dia harus waspada dan cerdik dalam menghadapi musuhnya yang licik ini. Misi untuk menghentikan rencana jahat Spiral Riot dan melindungi gas afrodisiak yang berbahaya menjadi prioritas bagi Silverblade.
Namun, dalam pikirannya, dia juga berpikir tentang Underwave dan bagaimana mereka bisa mendapatkan gas berbahaya ini.
Silverblade pun melaporkan soal gas itu ke komandan Graham. Dan atas izin dari kolonel DKK TIMUR Spiral Riot dipindahkan ke penjara DKK SELATAN. Disana ia akan disuntik dengan serum kejujuran.
Setelah menggerogoti rahasia terdalam Spiral Riot dengan ramuan kejujuran Silverblade dan Lim pun mendapat misi baru. Sebuah misi kelas A, mencari tambang gas afrodisiak yang tersembunyi di mesir. Misi ini akan memakan waktu lama, jadi departemen secara khusus menyiapkan hotel untuk mereka tinggali selama kurang lebih dua bulan.
"Hahh... aku tidak akan bertemu Hasan selama 2 bulan," Lim mengeluh.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kau sukai dari suami orang Lim?" Tanya Silverblade curiga pada Lim, jangan jangan dia ada rasa dengan suami orang.
"Aku tidak jatuh cinta padanya. Hanya saja berada di dekatnya membuatku merasa tenang. Seperti ada bahtera gaib yang menyelimutiku dan membuatku lupa dengan masalah masalah yang membuat stres."
Lim sendiri tidak tahu mengapa dia merasa nyaman saat di dekat Hasan padahal Hasan tidak ada bedanya dengan pria lain di mata Lim, selain dari dia punya kemampuan penglihatan x-ray dan penciuman super.
"Haahh... kalau kau mau menemuinya temuilah sekarang. Kau tak akan bisa menemuinya cukup lama setelah ini." Silverblade menghela nafas.
Lim merenungkan kata-kata Silverblade.
***
Malam harinya di rumah Hasan. Dalam kebahagiaan yang meluap-luap, Hasan menyampaikan kabar bahagia kepada Siska. "Sayang, aku punya berita baik untuk kita," ucapnya sambil tersenyum.
Siska memandang Hasan dengan penuh keingintahuan, "Apa itu, Hasan? Ceritakan padaku."
Siska terpana mendengar kabar itu. "Benarkah? Ini sangat luar biasa, Hasan! Kita akan pergi bersama dan bisa menjelajahi Singapura dan Mesir bersama Amara!" ujarnya dengan penuh sukacita.
Hasan mengangguk senang, "Ya, sayang. Ini akan menjadi momen tak terlupakan bagi keluarga kita. Aku merasa sangat beruntung bisa membawa kalian berdua dalam tugas ini."
Siska memeluk Hasan dengan penuh cinta, "Terima kasih, Hasan. Aku sangat berterima kasih atas kesempatan ini dan aku tahu ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa bagi kita."
Malam itu, keluarga Hasan merayakan berita bahagia itu dengan gembira. Mereka merencanakan perjalanan yang akan mereka lakukan dan mencatat semua tempat yang ingin mereka kunjungi. Amara, yang masih bayi, mungkin belum bisa mengerti sepenuhnya, dia masih berusia 50 hari.
Hasan mengangkat bayi kecil itu lalu dengan hati hati membawanya ke sofa. Hasan senang karena Siska sabar mengurus anak mereka. Namun menurut Siska masa tersulit mengurus anak adalah saat dia mulai bisa berjalan. Siska berjanji akan mengawasi anak mereka 24 jam saat masa itu datang.
__ADS_1
Kehangatan keluarga dan perhatian yang diberikan Siska semakin mempererat hubungannya dengan Hasan. Hasan sangat menyesal karena sempat mengkhianati Siska dan bermain api dengan Melinda. Entah bagaimana kabar wanita itu sekarang, Hasan masih merasa berhutang maaf karena telah melecehkannya berkali kali.
Hubungan gelapnya dengan Melinda adalah salah satu hal yang selalu menghantui pikiran Hasan. Dia berharap bisa menemukan farfum LP Trauma Apple dalam perjalanan ini.
Disaat yang sama Silverblade sedang menyusun rencana memasuki tambang yang diduga merupakan tempat gas afrodisiak ditambang.
***
Tanggal 12 April 2024, Hasan berpamitan dengan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Siska. Mereka semua sudah tua tapi cinta dan kasih mereka sepanjang masa. Kecuali ayah Siska yang gemar mabuk dia tidak bisa diperbaiki lagi kecuali Allah yang berkehendak memperbaiki.
Hasan membawa senjata api dan baton Arnis yang diberikan BB sebelum dia berangkat. Baton itu memiliki simbol yang unik di pegangannya. Hasan tidak terlalu menyukai pegangan itu karena dipasangi bantalan empuk yang membuat batonnya kurang mematikan. Tapi karena itu hadiah dari mentor mau tidak mau diterima untuk menghormatinya.
Mary yang sudah bosan mengikuti tantangan suaminya akhirnya mengambil kembali jabatan CEO Grace Company.
Di bandara, Hasan, Siska, dan Amara bersiap-siap untuk memulai perjalanan menuju Singapura bersama bos mereka, Mary Leadswan. Tiba-tiba, pesawat pribadi mewah milik Mary muncul di landasan pacu, mengundang decak kagum dari Hasan.
"Wow, pesawat ini benar-benar keren!" ucap Hasan dengan penuh kagum, sambil melihat pesawat dengan mata terbelalak.
Mary tersenyum dengan senang. "Terima kasih, Hasan. Aku memang bangga memiliki pesawat ini," katanya dengan bangga.
Siska juga tak kalah terkesan dengan pesawat tersebut. "Betapa beruntungnya kita bisa naik pesawat pribadi seperti ini," ujar Siska dengan bahagia.
Mary mengedipkan mata ke arah Hasan, memberikan sinyal bahwa dia menyukai pujian itu. "Benar sekali, Siska. Tidak ada yang bisa menyamai kenyamanan dan kemewahan pesawat pribadi ini," ucap Mary dengan senyuman misterius.
Setelah memastikan semua persiapan telah selesai, keluarga Hasan dan Mary Leadswan memasuki pesawat pribadi itu. menuju petualangan baru di Singapura.
__ADS_1
***