
"Mas Hasan mau berhenti kerja?, Mas yakin?." Tanya mbak Melinda dengan alis terangkat di wajahnya yang cantik.
"Iya mbak, saya juga tidak menyangka akan dapat tawaran bekerja di BPOM karena masalah di pasar buah tadi malam."
Mbak Melinda tersenyum padaku lalu berkata aku sangat beruntung.
"Beruntung sekali ya. Mas punya kelebihan yang membuat mas dilirik. Kalau begitu hari ini juga saya kasih gaji mas."
Mbak Melinda memberiku amplop berisi gaji pertama sekaligus yang terakhir. Dia bos yang baik, aku harap kebun buahnya berkembang dan dia bisa jadi lebih sukses lagi.
Gaji pertamaku aku berikan pada ayah dan ibu. Mereka lebih pandai mengatur keuangan ketimbang aku. Aku ini agak boros kalau sudah memegang uang karena itulah sampai saat ini aku tidak ada niatan tinggal terpisah dari orang tua. Meskipun begitu aku masih ingin menikah.
Reaksi ibu saat tahu aku diterima bekerja di kantor tidak bisa dideskripsikan. Ibu menangis meraung dan tertawa disaat yang bersamaan. Aku dan ayah kesulitan menenangkan ibu.
"Syukurlah, cita-cita kamu bekerja di kantor akhirnya terwujud." Kata Ibu penuh rasa bangga.
"Yang paling penting saat bekerja di kantor adalah memakai pakaian yang pantas dan bagus. Sebaiknya kamu gunakan uang ini untuk membeli beberapa kemeja dan celana kain."
Ayah mengembalikan uang gajiku. Benar yang dikatakan ayah, aku harus berpenampilan yang enak dipandang di tempat kerja. Untuk itu aku membeli barang barang kapal.
Gaji dari bertani hanya cukup membeli 2 celana kain dan 5 kemeja polos, biarpun begitu aku tetap bersyukur. Supaya tidak kelihatan kekurangan baju aku memilih baju yang warnanya sama. Jadi kalau di hari pertama aku pakai kemeja biru dan hari sabtu biru lagi maka akan terlihat jelas aku tidak punya baju lain. Tapi kalau aku memakai 3 baju putih setiap minggu orang-orang pasti tidak akan tahu kalau aku memakai baju putih yang sama lagi.
Namun...
Saat aku bawa pulang salah satu kemeja putih itu malah robek di bagian punggungnya. Aku tidak tahu ini karena apa, tapi dilihat dari diameternya mungkin saja tersangkut resleting tas saat di jalan. Hal ini menunjukkan seberapa rendahnya kualitas kainnya. Barang murah kualitas seadanya. Begitulah kata seller bar-bar yang aku temui saat berbelanja di pasar obral setahun yang lalu.
Selain baju dan celana aku juga membeli farfum khusus pria. Farfum mengingatkanku pada ketiga wanita itu. Terkadang aku bermimpi mengulang kejadian di hari itu, hanya untuk mengingat kembali wangi farfum yang mereka kenakan. Seolah farfum yang mereka kenakan memiliki daya tarik magis yang membuatku tidak bisa melupakannya. Sampai saat ini aku masih penasaran dengan farfum apa yang mereka gunakan.
Jadi setiap malam setelah pulang kerja aku googling kata kunci 'farfum beraroma apel yang memiliki daya tarik luar biasa'. Banyak merek farfum yang keluar.
Rencanaku sekarang adalah menemukan merek farfum yang wanginya luar biasa itu. Gambar saja tidak cukup, aku harus membeli semua mereknya saat gajihan nanti.
Hari pertamaku di kantor BPOM. Seperti yang dijanjikan pak Naryono aku masuk divisi lapangan. Tugasku adalah menyelidiki sindikat pemasok buah ilegal yang belakang ini menyuplai buah dari luar daerah ke kota kami.
Di divisi lapangan ini juga aku bertemu seorang pegawai wanita yang bentukannya seperti model, namanya Siska. Wanita sepertinya sangat ingin aku jauhi. Karena orang sepertinya pastilah diincar banyak pegawai, dan aku tidak mau terlibat dalam perebutan sarang burung itu.
"Selamat siang, mas orang baru ya? boleh kenalan gak?." Tanya mbak Siska dengan suaranya yang agak tinggi.
__ADS_1
"Bukankah tadi saya sudah memperkenalkan diri di depan semua orang?. Mbak tidak mendengar saya bicara."
Tadi aku melihat mbak Siska memainkan ponsel di ujung ruangan. Jadi tentu saja dia tidak memperhatikan.
"Ahh maaf ya mas, tadi saya terlalu asik memainkan ponsel jadi tidak memperhatikan. Boleh memperkenalkan diri sekali lagi?."
"Nama saya Hasan."
"Putri Siska."
"Nama lengkap mbak sangat mencerminkan diri mbak ya," Kataku.
"Apanya...?,"
"Menawan seperti putri."
Tanpa sadar aku malah menggodanya. Itu benar-benar kecelakaan yang mengerikan. Dari pantulan cermin di depanku aku bisa melihat beberapa pegawai senior yang sedang berkumpul menatap tajam ke arahku.
"Habislah aku."
Mbak Siska menyenggolku.
"Mbak menyadarinya juga?."
Mbak Siska mendekatkan bibirnya padaku.
"Mereka sering menggodaku tapi aku mengabaikan mereka. Hati-hati dengan mereka. Mereka pasti tidak menyukaimu karena kau menarik perhatianku."
"Kalau begitu aku tinggal meluruskan kesalahpahaman saja."
Bermusuhan dengan pegawai kantor adalah hal yang sangat buruk. Aku mau menjadikan pekerjaan ini sebagai batu loncatan untuk mendapat posisi yang lebih menguntungkan. Rencana itu tidak akan terwujud jika di hari pertama aku sudah memiliki musuh. Jadi jalan yang terbaik adalah berdamai dengan mereka.
"Permisi,"
Orang-orang mengalihkan pandangan mereka dariku. Aku tetap bicara. "Saya tidak ada niatan mendekati mbak Siska. Jadi tolong biarkan saya bekerja dengan tenang disini." Bahasaku memang selalu frontal, karena aku tidak pandai berbasa basi.
"Siapa yang melarangmu mendekati mbak Siska?. Kami hanya ngobrol sambil berdiri disini." Sahut salah satu pria. Padahal di cermin tatapannya lah yang paling tajam.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pasti salah lihat. Saya lihat di cermin, mata bapak melotot tajam ke arah saya." Aku meninggalkan mereka saat dipanggil oleh pak Mulyadi.
"Cepat datangi kantor pak Naryono. Beliau punya pekerjaan untuk kamu."
Aku langsung melesat ke kantor pak Naryono.
"Saya disini pak. Ada apa memanggil saya pak Naryono?." Tanyaku dengan sopan dan sikap tegap ala militer.
"Duduklah mas Hasan."
"Ini pekerjaan pertama mas. Datangi pasar ini bersama pak Mulyadi dan cek kualitas buah buahannya. Pak Mulyadi akan mengarahkan dan mengajari sikap petugas yang baik dan sopan selama di lapangan."
"Baik pak."
"Mulyadi!."
Pak Mulyadi merebut foto di tanganku.
"Maaf ya, saya tidak bermaksud kasar, saya hanya terlalu bersemangat." Kata pak Mulyadi dengan senyum sumringah.
"Mulyadi jangan lakukan itu lagi." Ucap pak Naryono tegas.
Kami berangkat dari kantor ke lokasi tujuan dengan naik mobil hitam milik bos kami yaitu pak Naryono.
"Kenapa kita naik mobil pak?. Bukankah naik motor bisa?."
Jawaban pak Naryono sedikit sombong dengan mengatakan kalau pegawai itu harus punya mobil dan kemana mana harus naik mobil.
Pak Naryono bertanya apakah aku pernah naik mobil sebelumnya.
Aku jawab, pernah. Naik angkutan umum, naik taksi, naik mobil teman saat zaman sekolah dulu.
Mendengar jawabanku pak Naryono langsung tertawa.
"Jadi kamu orang miskin?."
Mendengar pertanyaan itu aku langsung terdiam.
__ADS_1
***