A Unique Path Become CRAZY RICH

A Unique Path Become CRAZY RICH
27. Tragedi kedua Hasan


__ADS_3

Angin semakin kencang, butiran air yang berjatuhan semakin sakit saat mengenai kepala. Ditambah kondisi jalanan yang macet parah dan pengemudi yang mulai ragu untuk meneruskan perjalanan sehingga mereka meninggalkan mobil mereka karena takut angin topan muncul semakin mempersulit evakuasi mobil yang jatuh ke jurang.


Pak Naryono pun menyerah meneruskan perjalanan. Kondisinya flyover itu sudah seperti jalanan yang di serang godzilla di film godzilla. Orang-orang berlarian meninggalkan mobil mereka, sementara beberapa terjebak di dalam mobil karena pintu mereka terhalang badan mobil lain.


"Kalau tahu begini aku tidak akan melepaskan genggaman tangan Siska tadi. Sampai kapan kita harus menunggu disini? Sampai jembatannya roboh?"


"Jaga ucapanmu pak Hasan! Ini hanya angin biasa, bukan topan penghancur."


Tepat setelah pak Naryono berkata demikian sebuah pusaran angin menyapu mobil mereka.


"Apa yang barusan lewat itu tornado mini? Aku yakin tidak salah lihat." Kata Hasan dengan santai.


Pak Naryono mulai berkeringat dingin menyadari kedatangan tornado. Dia tidak ingin meninggalkan mobilnya apapun yang terjadi.


"Ayo kita kabur dulu pak Naryono. Nyawa anda lebih penting ketimbang mobil ini." Ajak Hasan dengan keluar mobil terlebih dulu.


"Tapi, mobil ini cicirannya belum lunas." Pak Naryono menolak.


"Barang properti itu nomor 2, nyawa lah yang nomor 1." Hasan masih bisa membujuk dengan tenang meski angin semakin kencang.


Merasa kata-kata Hasan ada benarnya pak Naryono pun ikut turun dari mobil.


Pak Naryono mengambil payung lalu meninggalkan mobilnya setelah memastikan semua terkunci rapat.


Sejenak mereka menengok ke bawah flyover. Mobil itu masih ada disana. Terlihat tim penyelamat turun ke bawah sana dengan seutas tali. Entah bagaimana keadaan orang di dalam mobil itu yang pasti satu orang masih punya nyawa untuk membunyikan kode sos dengan klakson mobil.


"Ayo kita cari warung pinggir jalan atau mushola terdekat. Kita harus menghangatkan diri terlebih dulu." Ajak Hasan.


Beberapa kali payung hampir terlepas dari genggaman pak Naryono. Karena angin bisa menerbangkan payung kapan saja pak Naryono pun mengarahkan payungnya ke depan sampai menutupi pandangannya.


"Pegang tanganku pak Hasan."


"Maaf pak? Bapak bilang apa tadi?"


"Tuntun aku. Aku tidak bisa melihat ke depan karena jika payung ini diangkat dia akan langsung patah."


Mau tidak mau Hasan berpegangan tangan dengan pak Naryono di sepanjang jalan. 


Beberapa pengguna jalan yang berteduh di mengira Hasan sedang menggandeng seorang wanita. Akan lebih baik mereka tidak tahu kebenarannya.


Saat angin kencang berhenti Hasan segera melepaskan tangan pak Naryono dan berjalan lebih cepat darinya.


Hasan masuk ke warung pinggir jalan bertenda yang tidak tersingkap angin karena terlindungi bangunan tinggi di kedua sisinya.

__ADS_1


"Beli teh hangat dua gelas, sama 2 porsi lele ya bu. Seperti yang bapak dengar, saya traktir!,"


Pak Naryono menolak traktiran Hasan karena menurutnya atasan yang seharusnya mentraktir bawahan.


"Kalau begitu saya traktir minumnya saja."


Hasan menikmati lele goreng yang disediakan di rumah makan itu.


"Pak Hasan, kenapa kau terus bekerja sangat keras. Apa yang ingin kau capai dengan bekerja sekeras itu?" Tanya pak Naryono sambil memisahkan daging dari tulang ikan.


"Saya ingin menjadi seorang crazy rich. Kecelakaan waktu itu mengubah persepsi saya akan kehidupan bahwa kehidupan ini hanya sekali, setelah semua pencapaian yang saya dapatkan, saya ingin mendapatkan lebih banyak lagi." Tutur Hasan dengan perasaan yang membara.


"Sampai sebanyak apa?"


"Sampai saya memiliki uang pensiunan yang banyak."


Pak Naryono terkekeh mendengarnya. Hasan lebih serakah dari yang ia kira.


"Kalau seperti itu kau harus mengincar jabatan bos cabang. Kemudian bekerja sampai saatnya kau pensiun." Pak Naryono memberikan sarannya dengan sukarela.


"BPOM hanyalah batu loncatan bagi saya." Ucap Hasan dalam hati.


"Akan saya incar posisi itu. Saya harap anda tidak menyaingi saya, hahahahahahahaa... "


Pak Naryono hampir saja menumpahkan teh nya saking asiknya tertawa.


Hasan mengambil beberapa tempe goreng untuk makanan penutup.


Aneh, hujan tidak kunjung reda. Banyak orang mulai khawatir air menggenang yang tentunya akan menyebabkan banjir.


Hasan dan pak Naryono masih anteng makan di warung, setidaknya sampai pak Naryono dihubungi oleh pak bos.


"Naryo! Kamu dimana? Kenapa belum sampai di tempat klien?!" Bentak pak bos ditelepon.


"Ada masalah serius yang menghambat perjalanan kami pak. Mobil kami terjebak macet di tengah flyover di jalan Basri. Masalahnya semua pengendala meninggalkan mobil mereka di tengah jalan sehingga mobil kami tidak bisa maju apalagi mundur. Ditambah lagi di lokasi terjadi kecelakaan mobil jatuh ke jurang yang semakin menciutkan nyali saya untuk melanjutkan perjalanan." Ungkap pak Naryono dengan santai sambil menyeruput teh yang sudah diisi ulang 3 kali.


"Ya sudah, sekarang kamu dimana?"


"Di warung pinggir jalan, namanya warung Mas Tarno."


Si bos langsung melesat kesana entah untuk apa.


Pak bos pun bertemu dengan Hasan dan pak Naryono yang sedang asik ngobrol dengan pelanggan lain. 

__ADS_1


Hasan kaget melihat bos mereka yang temperamen namun penuh kepedulian datang kesini. Disaat yang sama Hasan menahan tawa karena jas hujan baju yang dikenakan oleh si bos membuatnya tampak seperti seorang badut yang membuka topengnya.


"Kenapa kamu nyengir pas melihat saya Hasan?"


Hasan melambaikan tangannya lalu berpura-pura ketulangan.


Sambil berpura-pura mengambil tulang yang sebenarnya tidak ada Hasan memalingkan wajah dari si bos.


"Dia menakutkan, materi obrolannya juga tidak biasa. Singkatnya, dia terlalu kaku dan memiliki bahan obrolan yang aneh." Hasan membatin.


Lalu berpura-pura pergi ke toilet yang terletak di belakang warung. 


"Gunakan bilik yang paling ujung ya mas, soalnya disana itu yang gratis dan juga bersih."


Hasan mengangguk.


Di toilet setelah buang air kecil dia menelepon Siska.


"Kenapa tidak video call yang?"


"Aku sedang di toilet yang." Jawab Hasan.


"Ohh jadi kamu takut vc an di toilet? Takut ada penampakan gitu?"


"Enggak bukan gitu!!"


Hasan kesal tetapi juga takut. Rasa takutnya semakin besar saat suara guntur terasa sangat dekat. Wc yang dia masuki sampai bergoyang karenanya. Reflek dia mematikan teleponnya, membuat Siska terkejut sekaligus khawatir.


"Apa yang terjadi? Suara apa itu tadi?" Tanya Siska.


"..."


"Bukan apa-apa Sis. Oh iya aku mau tanya sama kamu. Kalau aku mau mendedikasikan diri untuk menjadi orang kaya, apa kamu akan mendukungku sekalipun aku jarang berada di rumah?"


"Tentu saja aku akan mendukungmu. Tap setidaknya tetaplah bersamaku selama masa kehamilan ku." Jawaban Siska ini datang dari hati.


Hasan membalas lagi. "Terima kasih."


Ternyata petir yang tadi menyambar bilik wc yang dimasuki Hasan. 


Listrik mengalir hingga ke bagian dalam dan menyetrum Hasan hingga dia jatuh ke lantai. Dalam keadaan setengah sadar Hasan bertukar pesan dengan Siska.


Beberapa detik kemudian Hasan hilang kesadaran di dalam bilik wc yang masih dialiri listrik.

__ADS_1


***


__ADS_2