
Satu minggu berlalu, Hasan dan Lim telah berhasil menuntaskan misi tingkat D tersebut.
"Apa bulan ini aku tidak akan menerima gaji? Aku kan tidak masuk kerja lebih dari 3 hari?" Tanya Hasan dengan raut muka takut ke Lim yang sedang makan es krim.
"Yang dimaksud 3 hari absen itu adalah 3 hari menghilang tanpa kabar. Kalau kau kan masuk rumah sakit jadi itu tidak terhitung absen. Yahh aku juga tidak bisa menjamin gajimu akan pas 20 juta, mungkin bos akan memotongnya."
"Aku tidak masalah dengan itu, tapi masa sih bos memotong gaji seorang newbie yang belum berpengalaman?"
"Kita sudahi membicarakan bos. Lalu soal gajimu, seperti yang kau lihat sebelumnya dia orang yang baik jadi aku ragu dia akan memotong gajimu. Tenang rekan, aku akan membantumu meminta maaf padanya." Lim menutup matanya lalu tersenyum lembut.
Tidak terasa sudah seminggu tidak ada terjadi begal di pasar ini. Pasar ini sudah bebas dari komplotan begal, setidaknya untuk saat ini.
Hasan sudah bekerja di Departemen selama 3 minggu 2 hari. Minggu pertama dia jalani dengan latihan Eskrima yang dimentori oleh Beyond Birthday, minggu kedua dia koma di rumah sakit, minggu ketiga berjaga di pasar untuk memastikan tidak ada begal yang beroperasi lagi. Itu artinya satu minggu lagi Hasan akan mendapatkan gaji pertamanya. Dia penasaran berapa banyak bonus yang akan dia dapatkan.
Hasan datang ke kantor untuk menemui kolonel Graham di kantornya.
Kolonel Graham mengizinkan mereka berdua masuk dan percakapan yang intens pun terjadi.
"Agen Hall Fame, kau melakukan kesalahan fatal di bulan pertamamu. Seharusnya aku memecatmu sekarang juga."
Hasan menelan ludah. Lim yang berjanji akan membantunya hanya diam saja di sampingnya.
Berulang kali Hasan melempar kode mata ke Lim tapi selalu dibalas dengan gelengan kepala.
"Tapi karena kau baru di bidang ini aku tidak akan sekeras itu padamu. Jadi untuk kali ini kau ku maafkan."
Hasan sangat senang mendengarnya. Dia lalu bertanya. "Terima kasih pak, ngomong-ngomong kesalahan yang mana yang bapak maksud?"
Ekspresi kolonel Graham berubah saat mendengar Hasan tidak mengetahui letak kesalahannya. Nama Lim pun ikut terseret.
"Agen Lim apa kau tidak memberitahunya kesalahannya?"
"Maaf pak, eng... Saya lupa."
Kolonel Graham memukul meja, sontak membuat kedua orang itu terkejut.
__ADS_1
"Agen Has! Kita anggota departemen khusus memiliki kekebalan hukum sehingga dapat memukul orang di jalanan umum, tapi jangan membunuh juga. Apa gunanya kau memukulinya sampai sekarat jika pada akhirnya dia mati?"
Hasan tertunduk, tidak bisa berkata apa-apa.
"Sedangkan kau agen Lim. Ferformamu menurun bulan ini. Aku harap kau bisa lebih bersemangat lagi."
Hasan melirik Lim yang merespon kata-kata kolonel.
"Semangat? Gadis ini selalu bersemangat setiap hari. Kau ingin dia sesemangat apa?" Hasan bertanya ke kolonel dalam hatinya.
"Maksudku adalah, di bulan sebelumnya kau bisa menyelesaikan 3 misi tingkat D dan 1 misi tingkat C dan 1 misi tingkat B. Minimal jika pekerjaanmu sedikit gunakanlah waktu untuk berlatih dan mempelajari hal baru yang berguna untuk penyelidikan nantinya." Perintah kolonel Graham dengan tegas dan pandangan mata yang sama sekali tidak turun daru Lim.
"Baik pak, saya akan berusaha lebih keras lagi."
Pandangan kolonel kini tertuju pada Hasan. Tepat ke dahi Hasan.
Kolonel meminta Hasan mengangkat kepalanya dan membuka topinya agar dia bisa melihat bekas di jahitan di dahi anak buahnya itu.
"Kau mirip Sigurdion L Gallelier, karakter raja di novel Hunter and The System. Aku akan sangat senang kalau kau bisa meniru kemampuannya juga."
Sigurdion diilustrasikan sebagai sosok raja bertubuh anak kecil yang memiliki luka bakar di dahinya. Dia raja yang baik hati dan penolong, hingga suatu kejadian di volume 13 mengubah sifatnya 180 derajat menjadi sosok yang gila dan haus darah. Namun perubahannya ini tidak berlangsung lama. Sebab di volume 19 tokoh utama datang dan memulihkan keadaan mentalnya. Kisah Sigurdion menjadi repetitif di bab bab selanjutnya.
"Kolonel Graham ingin aku menjadi seperti Sigurdion? Tapi kehidupannya setelah di selamatkan tokoh utama tidak terlalu menarik untuk diikuti. Dia hanya karakter sampingan setelah itu."
Hasan memilih untuk masa bodoh dengan teka teki karakter itu.
Dia pulang ke rumahnya karena sudah lama tidak bergaul dengan sang istri. Terakhir kali saat ingin melakukannya dia masuk ke rumah sakit selama seminggu. Selama 2 minggu Hasan tidak pernah lagi mendatangi mbak Melinda, karena janjinya di menara pandang.
Perut Siska semakin membesar, tidak terasa 3 bulan lagi dia akan melahirkan.
"Perut kamu semakin buncit ya. Ayo kita ke kamar, aku sudah tidak tahan untuk memainkanmu." Ajak Hasan dengan senyum cabul.
"Oke~! Tadi siang aku menyuruh Khairun membeli alat kontrasepsi. Kasihan sekali dia, wajahnya merah padam saat berangkat dai rumah ibu, hahahahaa... " (Siska)
"Tapi kamu hanya menyuruhnya melakukan itu kan? Kasihan juga dia kalau harus melayani dua rumah sekaligus." (Hasan)
__ADS_1
"Oh ya, selain itu aku juga memintanya membeli buah buahan. Aku tidak semerta merta menyuruhnya, aku juga membayarnya." (Siska)
Siska berjalan ke kamar dengan diikuti oleh Hasan, lalu muka pintu kamar perlahan. Saat pintu terbuka sepenuhnya Hasan kaget melihat begitu banyak alat permainan suami istri di atas ranjang. Ditambah ada baju tidur nakal yang akan Siska pakai dalam game malam mereka setelah melahirkan. Untuk saat ini dia tidak berniat memakainya.
Tanpa mandi Hasan langsung bermain semalaman dengan istrinya yang sedang hamil besar.
Walaupun hamil Siska masih kuat bermain beberapa ronde. Payudara istrinya bergoyang seperti ombak laut, tumpah kemana mana mengikuti irama plap~! plap~! yang memenuhi seisi kamar. Sangat becek. Tidak ada yang tidak menggoda dari tubuh istrinya.
Ini adalah perayaan keberhasilan Hasan atas misi pertamanya sekaligus pereda stress setelah dimarahi oleh bos nya.
Ayam ayam mulai berkokok, menandakan matahari sebentar lagi akan terbit.
Hasan dan Siska bermain hingga subuh. Bahkan saat Hasan akan memejamkan matanya panggilan sholat subuh sudah berkumandang.
Birahinya tidak tertahankan saat melihat tubuh montok sang istri.
Siska yang baru terlelap pun harus merasakan lagi sentuhan suaminya di paha dan bibir bawahnya.
Pengantin baru memang seperti ini, kalau sudah punya anak nanti mereka tidak akan bisa bermain seperti sekarang.
Hasan mendapat telepon dari Silverblade yang memintanya untuk cepat datang ke kantor.
Siska mengantar suaminya dengan kaki yang masih lemas.
"Ada apa ya Silverblade memanggilku sepagi ini?" Terlihat jarum pendek di jam tangan Hasan masih menunjuk ke angka 6.
***
.................................................................................
Dukung author dengan cara baca sampai habis. Like, favoritkan, dan komen.
Boleh mengkritik asal menggunakan bahasa yang sopan. Jadilah pembaca yang bijak agar kita sama-sama merasa nyaman. 😁
.................................................................................
__ADS_1