
Pelaku : Mulyadi
Umur : 36 tahun
Alamat : ******
Pekerjaan : ******
Kasus : Pencurian dan pembobolan kantor negara.
Barang bukti : (1) Rekaman kamera malam hari. (2) Rekaman konten youtube. (3) Kuku yang kotor setelah menggali tanah.
Hatiku lega sekali bisa menyingkirkan seorang pesaing. Habisnya dia benar-benar jahat, seandainya aku tertidur lebih awal malam itu pinggangku pasti sudah menyentuh dinginnya lantai penjara sekarang.
Kalau dilihat dari sisi lain, sebenarnya aku juga kasihan pada pak Mulyadi. Sejak aku datang dia menjadi manusia transparan, bahkan pak Naryono yang melatihnya lebih tertarik padaku. Aku dengar dia bercerai dengan istrinya 2 tahun yang lalu tepat saat dia di phk dari pekerjaan yang lama dan masuk jadi petugas BPOM.
Padahal pekerjaan ini tidak seremeh yang dibayangkan.
Seseorang menepuk pundakku ternyata itu adalah pak Naryono.
"Ikut aku ke lab."
Laboratorium berada tepat di pinggir lantai 2 bangunan ini. Terlihat pintunya tidak ditutup, padahal biasanya makhluk yang mendiami ruangan itu benci dengan bau bauan yang datang dari luar ruangan.
Aku bicara soal si dokter. Dia ahli meneliti obat dan meracik obat. Kebanyakan obat yang dia racik ilegal karena tidak teruji keamanannya. Mulyadi mencuri salah satu obatnya yang katanya bisa membuat orang yang meminumnya lupa ingatan. Untung saja obat itu hanya menghapus sedikit ingatan pak Abigail dan tidak menimbulkan dampak kesehatan yang serius.
Mulyadi dituntun oleh keluarga Abigail karena hal itu juga. Jadi Mulyadi sekarang terkena pasal berlapis lapis.
Aku terus memikirkan Mulyadi sampai tidak sadar dipanggil oleh pak Naryono.
"Jangan melamun, atau kau akan tersandung dan wajahmu jatuh ke gelas berisi cairan kimia itu."
"Ahh pak Naryono bisa saja."
Tapi memang ada banyak gelas laboratorium berisi zat beraroma kuat disini. Tidak biasanya dokter kami bermain dengan barang-barang laboratorium. Biasanya dia hanya meracik dan meracik obat seperti seorang apoteker maniak.
Aku pernah melihatnya meracik obat sampai tengah malam di tempat ini. Malam itu tengah hujan deras jadi yang tidak punya mobil sepertiku terpaksa menunggu hingga hujan reda.
"Ada apa ini pak Naryono?,"
__ADS_1
"Pertanyaan bagus, mas Hasan. Mulai hari ini dokter Brian akan melatihmu mengenali bau obat obatan dan racun. Jadi pakai pelindung wajah ini."
Obat obatan tablet mengeluarkan bau tipis ketika masih padat. Mengenali obat jenis ini sangat sulit karena terlalu banyak yang harus dihafal. Memang ada perbedaan bau, tapi perbedaan itu hanya seperti kertas tipis. Aku menyerah membedakan aroma obat tablet.
Berikutnya obat bubuk, seperti obat cacing dan obat penambah darah. Jenis ini mudah dikenali karena baunya yang kuat. Kepercayaan diriku naik kembali berkat obat ini.
Selanjutnya obat sirup. Semakin encer teksturnya tidak menjamin akan semakin tajam baunya. Aku tahu obat sirup di atas sendok itu adalah obat batuk komik yang beberapa waktu terakhir ditarik peredarannya dari pasar karena berbahaya untuk anak.
"Bagaimana kau bisa mencium baunya tidak?, sudah lewat 3 menit loh." Dokter mengguruiku.
"Apa yang kau lakukan pada obatnya?,"
"Hehhee.. Maafkan aku, aku menuangkan zat penghancur bau untuk menguji apakah kau asal menebak atau tidak."
"Mana mungkin aku seperti itu. Profesionalitas harus terjaga meskipun di dalam markas apalagi di lingkungan luar."
"Bagus, bagus, sekarang ingatlah aroma racun racun ini. Aku mau pergi dulu, karena hari ini kau akan seharian di lab mau tidak mau aku dan Hajeera yang turun ke lapangan."
Setelah pak Naryono pergi dokter Brian mengambil sebuah ulekan. Dia menumbuk 5 jenis obat sakit kepala lalu meneteskan racun ke obat obatan itu.
"Kau harus membuang ulekan itu dokter Brian."
"Aku tahu, aku tahu, sekarang hiruplah baunya. Jangan lupa pakai pelindung wajahmu."
Bau racun ini seperti soda. Rupanya ini adalah jenis racun yang menggunakan soda api sebagai penyusun utamanya.
"Kalau yang bersoda api ini aku bisa mengenali karakteristiknya tanpa harus mencium baunya. Lihatlah permukaannya yang meletup letup seperti semangka di minyak goreng."
Dokter Brian mengangguk. Dia senang aku bisa mengingat aroma racun satu ini dengan mudah.
"Yang kedua, ingatlah aroma racun tikus ini. Lalu sianida, boraks, zat pewarna makanan buatan, pestisida,"
Kepalaku pusing setelah berusaha keras mengingat aroma aroma racun. Meskipun begitu aku tidak keberatan melakukan ini setiap hari, karena menjadi ahli racun jauh lebih keren ketimbang sopir angkot.
Setelah eksperimen bau itu selesai aku merasa terlahir kembali sebagai makhluk yang baru.
"Terima kasih dokter Brian, karena sudah memperkenalkan kepada hidungku macam-macam aroma racun. Aku merasa dipenuhi kekuatan, aku merasa bersemangat!."
Namun eksperimen bau tidak selesai sampai mengenali macam-macam bau racun.
__ADS_1
Besok aku akan memulai lembaran baru sebagai murid dokter Brian. Dokter Brian akan mengenalkanku macam-macam jamur mulai beracun dan tidak beracun. Kemudian aku akan mulai belajari mengenali aroma bangkai hewan.
Mendengarnya saja sudah membuat mataku perih ingin menangis. Aku ingin mencium bau harum seperti LP Trauma Apple yang misterius itu.
- POV Narator -
Hasan menundukkan wajah selama perjalanan pulang.
Kalau terjadi pergantian narator secara tiba-tiba seperti ini kalian pasti sudah tahu apa artinya. Yap, sudut pandang berpindah ke Mary.
Setelah memutuskan hubungan dengan Maurice secara sepihak, Mary langsung menerima amukan Maurice di jejaring media sosialnya.
Tidak hanya dihina oleh keluarga suaminya, Mary juga menerima kemarahan dari ayahnya yang juga seorang CEO ternama. Ayahnya itu menyuruh Mary, atau lebih tepatnya memerintahkan Mary untuk segera mencari pengganti Maurice.
Mary tidak heran lagi dengan ayahnya itu. Bagi ayahnya pernikahan hanyalah sebuah formalitas yang diperlukan untuk menunjukkan kalau seorang wanita sudah dewasa.
Dengan menjadi dewasa diharapkan Mary bisa mengambil alih perusahaan ayahnya karena dialah satu satunya anak kandung sang CEO, sementara saudara saudarinya tewas dalam perang saudara beberapa tahun yang lalu.
"Carol... Aku pusing."
Mary pingsan di meja kerjanya.
Ketika bangun dia sudah berada di rumah bersama anaknya. Asistennya Carol mengambil alih pekerjaan Mary, sementara Mary beristirahat di rumah.
"Kau tenang saja, istirahatlah yang cukup di rumahmu. Grace, jangan bangunkan ibumu saat tidur ya." Pinta Carol lewat video call.
"Oke tant,"
Mary merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Carol. Jika temannya itu juga mengkhianatinya Mary mungkin akan hancur.
Untung saja Carol bukan tipikal orang seperti itu. Dia royal dan perhatian. Senyum cerah terukir di wajahnya selama dia menggantikan posisi Mary.
Kembali ke Mary yang rebahan di kamarnya yang luas. Mary berusaha memejamkan matanya, tapi suara tawa Grace membuatnya tidak bisa terlelap.
Mary merasa terganggu dengan tawa anaknya. Grace seharusnya menangis terpisah oleh ayahnya namun yang terjadi justru sebaliknya. Grace justru senang ayah dan ibunya bercerai.
"Kalau papa pergi dari rumah maka tidak akan ada lagi yang memarahi bunda. Rece (Grace) sering melihat ibu menangis di taman belakang setelah dimarahi ayah."
Mary tidak pernah tahu kalau anaknya yang masih kecil itu selalu memperhatikan dirinya.
__ADS_1
Mary pun memberikan pelukan penuh kasih kepada anaknya.
***