
Angin malam berhembus dingin di dermaga yang sepi. Cahaya remang-remang lampu jalanan menyulut atmosfer mencekam. Agen Silverblade, dengan senyap seperti bayangan, berjaga-jaga di tengah kegelapan, menanti sosok mantan agen Spiral Riot yang kabarnya telah bersekongkol dengan *******. Tegang, Silverblade menggenggam erat pisau khusus yang menjadi senjatanya.
Tak lama kemudian, langkah mantan agen Spiral Riot terdengar mendekat. Dalam sekilas, dua sosok berdiri berhadapan, mata mereka beradu, mengirimkan pesan yang tak terucapkan. "Akhirnya kau muncul juga, Silverblade. Kupikir kau tak berani menghadapiku," ujar Spiral Riot dengan senyum sinis di wajahnya.
"Diam dan berakhirilah ini, Spiral Riot. Aku tak akan membiarkanmu menyebabkan kehancuran lebih lanjut," balas Silverblade dengan tegas, memperkuat pegangan di pisau yang dipegangnya.
Tanpa sepatah kata lagi, dua agen pilihan itu sudah meluncurkan serangan masing-masing. Peluru dan benda-benda tajam berputar dengan cepat di udara, menciptakan dentuman dan percikan api. Mereka bergerak dengan keahlian yang mematikan, berusaha saling mengalahkan dalam pertempuran yang mematikan.
"Kau terlalu lambat, Silverblade!" ejek Spiral Riot dengan cemoohan. "Kemampuanmu semakin memudar."
"Diam dan terima nasibmu!" jawab Silverblade sambil melancarkan serangan lebih cepat dan lebih mematikan. Dia berusaha tidak terpancing emosi oleh cemoohan lawannya.
Baku tembak itu berlangsung dengan cepat, setiap gerakan mereka seperti tarian kematian di malam yang kelam. Spiral Riot terlihat mahir dan gesit, tetapi Silverblade tak kalah lincah dan cerdas. Dalam detik-detik maut, Silverblade berhasil mengelabuhi Spiral Riot dan menyampaikan tusukan tepat ke arah dada lawannya.
"Sialan!" desis Spiral Riot sambil jatuh terduduk, menahan rasa sakit. Dia menyadari bahwa kemenangannya telah diambil oleh Silverblade.
"Kau berhenti sebelum lebih banyak nyawa terenggut," kata Silverblade dengan suara dingin, tetapi di matanya tergambar sedikit penyesalan. "Kita dulunya bekerja sebagai tim, kenapa kau mengecewakanku?"
__ADS_1
Dengan cemoohan terakhir, Spiral Riot menyadari kekalahan dan keputusasaan merangkak di wajahnya. Silverblade telah memenangkan pertempuran.
...***...
Kolonel Graham bergabung ke room dengan perasaan tegang. Ruangan itu dipenuhi oleh para kolonel dari berbagai departemen, yang hadir di bawah kepemimpinan Tuan Unknown, wakil ketua dari Departemen Pusat. Dalam suasana yang kaku, diskusi pun dimulai mengenai tindakan departemen selatan yang menggunakan umpan ******* untuk menangkap rekan-rekan ******* lainnya.
Beberapa kolonel berbicara dengan penuh semangat tentang keefektifan strategi itu. "Menggunakan umpan ******* adalah cara yang tepat untuk mengecoh musuh kita! Itu akan memudahkan kita untuk mengungkap jaringan ******* yang lebih luas," kata salah seorang kolonel dengan lantang.
Namun, ada juga kolonel lain yang menentang tindakan tersebut. "Tindakan itu berisiko tinggi dan mengorbankan nyawa orang tak bersalah," ujar seorang kolonel lain dengan serius. "Kita tidak bisa semata-mata menggunakan metode seperti itu tanpa mempertimbangkan konsekuensinya."
Tuan Unknown, yang dikenal sebagai figur misterius dan cerdik, diam-diam mengamati reaksi semua orang. Setelah mendengarkan pandangan pro dan kontra, dia akhirnya angkat bicara. "Kita semua memiliki tujuan yang sama, yaitu melindungi negara dan mengatasi ancaman *******. Namun, kita harus ingat bahwa strategi yang kita pilih akan memiliki dampak besar bagi masyarakat dan moral kita sebagai negara," kata Tuan Unknown dengan suara tenang.
"Selain itu yang harus disalahkan atas insiden yang dibuat oleh Baldy Flow adalah DKK TIMUR yang mengurus mayatnya." Ucap tuan Unknown dengan nada horror.
Kolonel Graham mendengarkan dengan seksama. Dia merasa ambivalen, mengingat betapa kejam dan mematikannya pertarungan melawan terorisme seperti yang baru saja dia lalui. Namun, dia juga merasa perlu untuk menghormati otoritas dan keputusan dari Tuan Unknown sebagai pemimpin Departemen Pusat.
Tuan Unknown mengamati wajah-wajah kolonel yang hadir dengan serius. "Saya ingin mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan keberanian Departemen Selatan dalam menangani ancaman ******* ini," ucapnya dengan tulus. "Kalian telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam menyelesaikan masalah ini, meskipun penyerangan Baldy Flow ternyata melebihi perkiraan kita semua."
__ADS_1
Kolonel Graham merasa sedikit lega mendengar pujian dari Tuan Unknown, tetapi rasa cemas atas dampak tragis penyerangan tersebut tetap ada. "Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapi situasi yang sulit, tapi memang, kami tak menyangka bahwa Baldy Flow akan menggunakan taktik yang sangat brutal," kata seorang kolonel dengan suara tertekan.
Tuan Unknown mengangguk mengerti. "Saya paham betapa sulitnya situasi ini, dan saya menghargai segala upaya kalian untuk melindungi negara dan warganya," ucapnya. "Namun, kami harus tetap berusaha memahami dan mengantisipasi kemungkinan yang tak terduga dari musuh kita."
Kolonel Graham mendengarkan dengan seksama, merenungkan kata-kata Tuan Unknown. Dia menyadari bahwa penegakan keamanan dan melindungi warga sipil tidak selalu mudah dan bisa berhadapan dengan tantangan besar. Namun, dia juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai agen adalah untuk selalu siap menghadapi kemungkinan yang tak terduga dan bertindak sesuai dengan situasi yang ada.
"Semoga tragedi ini memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya kewaspadaan dan kerjasama di antara departemen-departemen," lanjut Tuan Unknown dengan serius. "Kita harus belajar dari setiap peristiwa ini dan terus berupaya untuk menjadi lebih baik dalam melindungi negara dan warga kita."
Para kolonel mendengarkan kata-kata pimpinan mereka dengan sungguh-sungguh. Mereka menyadari bahwa setiap langkah dan keputusan mereka memiliki dampak besar bagi keamanan dan keselamatan masyarakat. Dalam momen refleksi itu, semangat untuk terus berjuang melawan terorisme dan melindungi negara semakin membara.
Tuan Unknown mengakhiri pertemuan itu dengan pesan penuh semangat. "Mari kita bekerja bersama, saling mendukung dan mengandalkan satu sama lain. Kita memiliki tanggung jawab besar sebagai penjaga negara ini. Semoga kita dapat melewati tantangan ini bersama-sama," tuturnya dengan keyakinan.
Kolonel Graham meninggalkan ruang pertemuan dengan perasaan campuran. Di dalam hatinya, dia merasa bangga menjadi bagian dari Departemen Selatan yang berdedikasi tinggi. Namun, dia juga merasa beban tanggung jawabnya semakin besar, karena dia menyadari bahwa tak ada peperangan tanpa korban, dan pekerjaan mereka sebagai agen tidak pernah mudah. Dalam perjalanan pulang, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berjuang dan berusaha menjadi lebih baik demi negaranya dan warga sipil yang berada di bawah perlindungannya.
Dua hari setelah pertempuran di Unison Square, suasana masih dipenuhi dengan keprihatinan dan kesedihan. Namun, di tengah kehancuran, ada sebuah momen penuh harapan yang menyinari kegelapan. Hasan, yang telah mengalami banyak ketakutan dan kecemasan, akhirnya menemukan sinar terang di tengah peperangan itu. Istrinya, Siska, berhasil selamat dan melahirkan seorang anak perempuan di tengah kekacauan tersebut.
Hasan dengan hati yang berbunga-bunga dan rasa syukur yang tak terkira, memandangi putri kecilnya yang membawa harapan baru bagi mereka di tengah kepedihan yang mereka alami. Dia merasa bahwa kehadiran anaknya adalah sebuah hadiah istimewa yang melambangkan cinta dan harapan di tengah peperangan dan kekerasan.
__ADS_1
Tanpa ragu lagi, Hasan memutuskan untuk memberi nama anak perempuannya yang baru lahir. Nama itu adalah "Amara," sebuah nama yang bermakna "cinta" dan "keindahan."
...***...