
Beres dengan urusan di komplek terbelakang, tim Rotten Food bersiap berangkat jam 7 pagi.
Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan karena pelapornya meninggal sebelum sempat melaporkan lebih banyak.
Pak Naryono sempat berbicara dengan keponakannya Nina, memintanya untuk pulang ke kedua orang tuanya. Entah apa yang mereka bicarakan disana Hasan tidak bisa mendengarnya.
"Kalau om kasih tahu orang tua kamu boleh gak? Kasihan mereka, sudah 5 tahun hanya mendengar suara kamu tapi tidak pernah melihat wajahmu secara langsung."
Nina mengalihkan pandangannya, lalu kembali menatap pak Naryono.
"Tidak jangan beritahu mereka. Nina masih tidak percaya pada mereka setelah apa yang mereka lakukan pada Nina 5 tahun yang lalu."
"Tapi..."
"Pokoknya jangan beritahu mereka!!"
Nina meninggikan suaranya.
Pak Naryono pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia menghampiri Hasan dan Pink Man dengan perasaan kalut.
"Ayo kita berangkat."
Hasan menepuk punggung pak Naryono dengan keras sehingga membuatnya marah.
"Kalau tidak ikhlas tidak perlu sok peduli!" pak Naryono menepis tangan Hasan.
Hasan dan pak Naryono pun tidak saling berbicara selama perjalanan ke tempat ketiga.
Siapa sangka tempat ketiga yang mereka tuju adalah toko kosmetik milik Maurice, mantan suami Maurice.
Mary tahu Hasan dan yang lainnya akan menginvestigasi toko Maurice. Mary sangat penasaran bagaimana hasilnya.
"Laporan ketiga, penemuan kosmetik ilegal di dalam rak kosmetik bermerek. Yang melaporkan adalah pelanggan yang datang ke toko untuk membeli kosmetik merek ternama, namun saat dibawa ke rumah aromanya malah tidak sama dengan kosmetik yang biasa dia beli. Setelah logo yang tertempel di merek dikelupas ternyata di belakang merek itu ada merek lain yang tidak terkenal. Singkatnya tindak penipuan menggunakan logo tempelan." Pak Hasan menjelaskan panjang lebar.
"Ohh saya ahlinya kalau soal kosmetik, biar saya yang jadi inti operasi kali ini." Pink Man mengangkat tangannya.
"Kau tahu apa Pink Man? Akulah yang harus selalu menjadi ace." Sanggah Hasan.
"Pak Hasan kau tetaplah disini. Kau tidak tahu bebauan kosmetik kan?" Tanya pak Naryono yang memang sejak awal tidak ingin Hasan ikut di operasi ketiga ini.
"Saya memang tidak tahu banyak, tapi bukan berarti saya tidak bisa melakukan apapun kalau urusannya dengan kosmetik."
Pak Naryono tetap tidak mengizinkan Hasan pergi karena suatu alasan. Hasan menduga pak Naryono dendam padanya karena menepuk punggungnya sebelumnya.
Akhirnya Hasan tetap tinggal di mobil seperti anjing yang tidak diajak jalan-jalan.
__ADS_1
"Huh! Kalian pikir bisa melakukan ini padaku!! Bisa saja sih, kalau dipikir-pikir lebih nyaman duduk di dalam sini daripada pergi menghadap orang-orang itu."
Hasan menatap tanyanya yang diperban karena luka. Karena tidak bisa membuka kotak nugget di dalam mobil, tidak bisa karena tidak mau, Hasan pun pergi ke minimarket seberang pinggir jalan untuk membeli cemilan lalu bersantai dengan kaca mobil sedikit terbuka. Makan coklat sambil nonton youtube.
"Kalau setiap hari begini aku bisa gemuk, semoga saja Siska tidak masalah dengan itu, hahahaa..."
Hasan menikmati waktunya, di pagi hari yang cerah ini dia kembali mengantuk. Hasan pun menutup kaca mobil sampai rapat lalu mengunci pintu mobil dari dalam, kemudian tidur dengan tenang.
Tindakannya tidur di dalam mobil ini akan mencelakai dirinya sendiri karena Hasan lupa mematikan AC.
***
Alhasil ketika pak Naryono dan Pink Man kembali setelah 5 jam Hasan ditemukan dalam kondisi kritis karena keracunan karbon monoksida yang dikeluarkan melalui AC.
Wajah Hasan nampak pucat dan membiru. Pak Naryono menepuk kepalanya dengan kuat, dia tidak habis pikir mengapa Hasan berulang kali mengalami kecelakaan.
Hasan pun dibawa ke rumah sakit.
Di alam bawah sadarnya Hasan melihat adegan ulang dirinya menutup kaca mobil dan mengunci pintu dari dalam. Tapi dia malah lupa mematikan AC yang membuatnya keracunan.
Hasan tertawa terbahak bahak, berpikir kalau ini adalah kematian yang sebenarnya. Berbeda dari tabrakan itu maupun saat disambar petir, keracunan AC ini jauh lebih menyakitkan.
Bekas tetesan air mata di temukan di pipi Hasan.
"Pak, seberapa besar derita orang yang keracunan?"
"Kasihan sekali pak Hasan ini, dia terus diikuti oleh kematian." Kata Pink Man.
Pink Man iseng memukul pipi Hasan, tindakannya itu menarik jiwa Hasan kembali ke tubuhnya.
Hasan yang mengira dirinya sedang berada di alam bawah sadar pun tertarik ke dalam tubuhnya, dan kembali dapat mengontrol tubuhnya.
"Pink Man, kau memukulku? Terima kasih banyak kawan."
Ckiiiitt...
Pak Naryono mengerem mendadak.
"Kau.. Hasan... padahal tadi aku sudah mengecek detak jantung dan nadimu... kau sudah mati seharusnya..."
Pak Naryono menggigil hebat, begitu pula Pink Man, Pink Man menganggap Hasan baru saja mengalami fenomena mati suri.
"Tapi aku baik-baik saja tuh, rasanya hanya seperti pingsan."
Hasan menceritakan apa yang dilihatnya selama pingsan tadi.
Menyadari dirinya berhasil selamat dari kematian lagi, Hasan jadi berangan angan mendapatkan berkah baru lagi.
__ADS_1
Dia menampar wajahnya untuk menyalakan X-ray dan boom! Jangkauan X-ray nya meningkat berkali lipat.
Dari yang awalnya hanya 5 meter menjadi 50 meter pas. Cara mengatur kekuatannya pun jadi lebih mudah, hanya dengan berkedip 2 kali dengan cepat.
Hasan bersuka cita dikala yang lainnya masih tidak percaya dengan keberuntungan berturut turut yang dia terima.
"Karena Hasan.... Emm masih hidup, maksudku selamat dari kematian, kita tidak jadi ke rumah sakit. Aku akan mengantarkan kalian pulang ke rumah."
"Loh? tidak ke kantor pak?" Tanya Hasan.
"Saat kita sampai di kantor semua orang pasti sudah pulang. Jadi sekalian saja aku antar kalian ke rumah masing-masing." Penjelasan pak Naryono ada benarnya, mengingat membutuhkan waktu 8 jam untuk kembali ke Banjarmasin."
***
Hasan yang pertama diantar pulang. Hasan meminta kepada Pink Man dan Naryono untuk merahasiakan kejadian tadi siang.
"Aku tidak mau membuat terkejut apalagi sampai men damage bayinya, jadi kalian berdua jangan bermulut ember!"
Pak Naryono dan Pink Man mengangguk dengan patuh, lalu meninggalkan Hasan di depan pagar rumahnya.
Ayahnya yang sedang duduk santai di depan rumah memanggil Hasan.
"Hasan! Kemari sebentar!!"
Hasan menahan pusing di kepalanya untuk memenuhi panggilan ayahnya.
"Ayah belum tidur? Apa disini tidak nyamuk yah?"
"Duduk sini Hasan."
Ekspresi ayahnya nampak serius tidak seperti biasanya.
"Ayah lihat kamu sering bekerja sampai larut malam belakangan ini. Apa kamu tidak kelelahan?"
"Tidak yah, aku masih muda dan sehat." Jawab Hasan sambil menunjukkan otot tangannya.
"Kalau kamu merasa lelah bekerja di luar rumah kamu bisa mencoba jualan online. Ibumu bilang begitu dan bapak hanya menyampaikannya saja."
"Ibu mana Yah?"
"Ibu sudah tidur."
Ayah Hasan semakin menurunkan volume suaranya.
Mereka pun berbincang dengan santai ditemani langit malam yang indah.
***
__ADS_1