
Hasan kembali ke rumahnya, keesokan harinya baru dia kembali ke timezone untuk menyelesaikan 8 permainan lainnya. "Saatnya beraksi, semoga tidak ada game seperti Dalia Revenge ini lagi." Hasan memukul mesin permainan.
"Jangan melampiaskan emosimu ke barang milik orang lain seenaknya." Nameless mengawasi dari jauh. Dia menegur Hasan karena dinilai terlalu berlebihan.
"Cepat selesaikan ujiannya, aku sudah memberimu keringanan selama hampir satu hari. Tapi aku kagum dengan caramu mengatasi masalah. Kau memanfaatkan kelemahan teknis ujian untuk mengatasi para pengganggu. Tapi cara itu terlalu berisiko jika di real life situation."
"Memangnya kemarin itu tidak real life situation? Jangan bilang semua pengunjung yang datang kemarin adalah aktor suruhanmu."
"Begitulah. Kali ini aku ingin kau memainkan game tanpa memukul aktor pengganggu."
Hasan mengangguk. Game ketiga yang dia mainkan berjudul 1st Guild Master. Lagi lagi temanya rpg. Saat itu Hasan berpikir, game rpg mulai membuatnya kecanduan. Sebagaimana game rpg pada umumnya karakter seksi menghiasi game itu ditambah cutscene dengan visual epik selevel game pc membuat game ini semakin spesial.
Nameless tidak tanggung tanggung dalam membuat game. Begitulah caranya menyalurkan hobinya.
Hasan sangat senang mendapat peringkat 1 di game itu. Selanjutnya game keempat, lima, enam, tujuh.
Fire Hole >>> 3
Dalia Revenge >>> 12
1st Guild Master >>> 1
Paramount Mistery >>> 6
Cool x Kill >>> 2
__ADS_1
Insomnia >>> 4
James Bond 2022 >>> 3
Lost Saga >>> 1
Point Blind >>> 2
Sausage adventure >>> 2
"Ujian yang ini sangat mudah. Lalu selanjutnya apa?"
"Berikutnya adalah ujian terakhir. Apa kau ingat perbincangan kita di kantor Mary, soal dunia dengan kekuatan super? Ujian keempat adalah tes kekuatan supermu."
Pada saat itu Hasan berpikir, apakah itu adalah waktu yang telah dia tunggu tunggu. Namun sebelum mengikuti ujian Hasan lebih dulu mendatangi suatu tempat.
Ketika melihat pedagang bunga berjajar di tepi jalan mendadak Hasan mengalami serangan panik. Kematian Melinda membuatnya terpukul, wanita itu mati di depannya, dan sekarang tubuhnya terbaring tak bernyawa di liang lahat.
Hasan memandang tempat peristirahatan wanita itu, hari yang memasuki waktu malam tidak menakutinya. Di depan makan wanita itu Hasan berulang kali meminta maaf. Maaf karena melecehkanmu, maaf karena melakukan hal buruk padamu, maaf karena mengkhianati kepercayaanmu, maaf karena membalas kebaikanmu dengan air tuba, maaf karena memutuskan sesuka hati, maaf karena tidak bisa menyelamatkanmu, maafkan segala kesalahanku.
Walau meminta maaf sebanyak apapun yang sudah mati tidak akan hidup kembali. Hasan berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menangkap Hagi dan apabila suatu saat anak anak Melinda membutuhkan bantuan dia akan mengulurkan tangannya dengan suka rela. Hasan meninggalkan komplek pemakaman lalu pergi ke kantor dkk selatan.
Disana dia bertemu dengan Lim dan Beyond Birthday yang sedang menyapu ruangan, disana juga ada Silverblade, Kolonel Graham dan Burn Shadow.
"BB kau harus mengajariku melakukan flicker."
"Flicker yang bagaimana?" tanya Beyond Birthday.
Hasan menyerahkan sesuatu ke Beyond Birthday, mereka berlatih sampai subuh, Lim tidak henti hentinya terkesima pada latihan flicker yang Hasan lakukan. Bahkan saking bagusnya latihan itu semua agen sampai menginap di kantor hanya untuk menonton mereka berlatih sampai subuh.
__ADS_1
Beyond Birthday yang menjadi lawan Hasan dalam latihan itu sampai ternganga dan bertanya tanya, dia tidak terluka sedikitpun. Hasan mengambil kembali barangnya dari Beyond Birthday lalu bersiap siap untuk berangkat ke arena latihan keempat.
...***...
Ujian keempat dilangsungkan di sebuah proyek pembangunan, lebih tepatnya di lantai pertama bangunan tersebut yang sudah selesai. Gedung yang pembangunannya didanai oleh seorang agen freelance itu baru berjalan 5 minggu dan memiliki 20 lantai. Bisa dibilang orang yang mendanai pembangunan itu adalah pemilik gedung ini.
Hasan mencium bebauan yang tidak mengenakkan seperti obat dan bahan kimia dari setiap sudut lantai satu bangunan itu.
Matanya bertemu dengan seorang satpam yang punya mata setajam elang. Hasan langsung mengalihkan pandangan lalu orang itu memanggilnya dengan nada yang tegas.
"Apa anda punya janji dengan pemilik gedung ini?"
Normalnya orang tidak akan menanyakan hal se objektif itu, artinya kedatangan Hasan memang sudah ditunggu oleh pemilik gedung, atau si satpam mengira Hasan orang lain.
Hasan berkata jujur dengan wajah polos. "Saya datang kesini untuk ujian. Saya murid pak Arqan Kencana."
Usai mengatakan itu Hasan mendapatkan izin untuk masuk sebagai tamu vip. Walaupun disebut vip kenyataanya tidak ada pengunjung lain selain dirinya. Dan lantai 1 terlihat seperti miniatur rumah sakit dengan keramik putih terang dan dinding yang sama persis seperti dinding rumah sakit.
Hasan diarahkan ke ruangan berpintu merah mirip ruang penyiksaan. Bagian dalam ruangan itu sangat mirip dengan ruang penyiksaan.
"Apakah ada psikopat yang tinggal disini?" Hasan sangat waspada, dia memegangi pistolnya dan siaga menarik pelatuknya kalau ada orang mencurigakan mendekatinya.
"Kau terlalu banyak nonton film gore sama seperti pemilik tempat ini." gumam seseorang dari pojok ruangan. Orang itu tidak lain adalah pak Arqan Kencana alias The Nameless.
"Sudah siap untuk ujian terakhir? Sebelum itu kami harus mengambil darahmu dulu."
Seseorang masuk ke ruangan penyiksaan itu, seorang dokter yang sangat tampan bermata biru sapphire. Dokter ini sangat senang melihat Hasan disini, dia adalah Neon Blood yang selama ini ingin menemui Hasan namun tidak pernah memiliki kesempatan.
"Selamat pagi, aku Neon Blood dokter malang yang selalu kau tolak undangannya."
Perkenalan diri yang sinis itu ditanggapi seadanya oleh Hasan, yaitu dengan satu kali anggukan. "Aku Hall Fame. Kau kan yang akan mengambil sampel darahku?"
"Jangan khawatir, disuntik itu hanya seperti digigit semut bagi kita orang dewasa." sahut Neon Blood.
Pengambilan darah dimulai, proses itu disaksikan langsung oleh Jenderal Besar kepolisian khusus. Kehadiran Nameless disitu adalah untuk memastikan Neon Blood tidak melakukan hal yang diluar prosedur yang sudah disepakati bersama.
Setelah mengambil sampel darah Neon Blood mulai melakukan penelitian.
"Ini aneh. Biasanya kelainan pada tubuh seseorang dapat dilihat melalui sel dan darahnya. Tetapi darah orang ini baik baik saja. Mungkin aku harus memeriksa hidung dan matanya setelah ini."
Neon Blood mengambil alat pemeriksaan mata. Dengan sigap Hasan menjauh darinya lalu memasang kuda kuda siap menyerang.
"Aku tidak mau diperiksa mata. Lagipula untuk apa melanjutkan pemeriksaan jika tubuhku baik baik saja!"
Hasan melihat tinju melesat dari arah belakang melalui future prediction, 3 detik kemudian Hasan berbalik dan menghajar orang itu lebih dulu.
Nameless terkejut melihat itu, refleks Hasan dalam menghindari serangan sangat tinggi. Ia seolah tahu satpam itu akan menyerangnya dan tahu dari arah mana si satpam melancarkan serangannya.
"Menyerang dari belakang itu tindakan pengecut. Padahal tadi tatapanmu setajam elang, menggertak saja tidak membuatmu kuat."
__ADS_1
Nameless berdiri, sang ketua menantang Hasan untuk bertanding dengannya. Pertandingan itu berbasis ilmu militer yang disebut Void Operation Simulation.
...***...