
Hasan menatap Yin Yue dengan tajam. Wanita tua muda itu balik menatapnya, dia yakin Hasan menyalahkannya karena memaksa praktek akupuntur.
Karena malam semakin larut tamu tamu yang lain pulang termasuk ayah ibu Hasan yang sudah tua karena mereka harus tidur cepat supaya bisa bangun bugar keesokan harinya.
Tinggallah nyonya Yin dan si tabib. Hasan meminta Siska pergi ke kamar dengan dibantu Hajeera pembantu mereka. Meninggalkan Hasan berbicara tatap mata dengan tamunya.
Dalam suatu pertemuan yang penuh misteri, Hasan dengan penuh keberanian mengungkapkan kepada Nyonya Yin tentang kegagalan sesi akupuntur yang dilakukan oleh si tabib yang aneh. Ia berkata bahwa sesi tersebut secara tak terduga telah memberinya kekuatan yang luar biasa, memungkinkannya melihat gambaran masa depan selama 5 detik.
Setelah menyaksikan dengan mata sendiri kemampuan Hasan untuk melihat masa depan dengan jangka waktu 5 detik, si tabib merasa kagum dan takjub. Ia merasakan sensasi campuran antara keterkejutan, keheranan, dan kegembiraan yang bergemuruh di dalam hatinya. Dalam diam yang penuh makna, dia mengakui bahwa telah menemukan suatu keajaiban di dunia yang tak terduga.
Dalam keadaan yang tak bisa ia deskripsikan, hati si tabib berteriak dengan suka cita dan kekaguman yang memenuhi jiwa. Rasanya seolah-olah ia telah menemukan permata langka yang tersembunyi di balik tirai misteri. Ia merasa dihadapkan pada sesuatu yang melebihi batas-batas dunia nyata dan mengangkat tirai kebenaran yang tersembunyi.
Dalam kesunyian yang mencekam, si tabib merenungkan keajaiban yang baru saja terbuka di hadapannya. Menjelajahi alam semesta pengetahuan yang luas dalam pikirannya dengan penuh rasa kagum dan rasa hormat yang mendalam kepada orang yang membuatnya berpikir begitu dalam.
Terkejut yang tak terkira, Nyonya Yin mencoba memohon kepada si tabib untuk memeriksa Hasan sekali lagi.
Namun, seperti seekor singa yang tak mau bertindak terkendali, Hasan menolak dengan tegas. Ia yakin bahwa tak ada kebutuhan untuk pemeriksaan lanjutan, karena kini ia telah memiliki keyakinan yang kokoh dalam dirinya.
"Aku tidak menyalahkanmu, tapi rasanya benar-benar sakit sampai seluruh tubuhku menolak melakukannya lagi." tegas Hasan.
"Baiklah tuan Hall Fame. Tapi aku tidak bertanggung jawab kalau kau tiba tiba mengalami henti jantung."
"Apa maksudmu?" Hasan terpelanjat mendengar ancaman yang mati mendadak.
"Tidak pernah ada orang yang memiliki aliran chi yang kacau kecuali kau. Kita tidak tahu apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi, mungkin saja kau tidak bisa mati. Mengingat aliran chi mu seharusnya dimiliki oleh orang yang sudah mati, ada kemungkinan kau kebal terhadap kematian." Tutur si tabib.
"Itu sangat konyol, aku tidak mau melakukannya lagi."
Nyonya Yin menghargai keputusan Hasan. Ia dan tabib berpamitan dengan orang rumah setelah mendapat jawaban yang diinginkan.
"Dia bisa melihat 5 detik ke masa depan. Apa itu mungkin tabib? Tabib??!"
Si tabib tak mendengarkan gumaman temannya itu. Senyum lebar terukir di wajahnya setelah menyaksikan langsung kemampuan luar biasa dari tragedi manusia.
"Aku tidak tahu. Ini kasus baru yang tidak pernah terjadi bahkan di zaman kaisar Qin. Tetapi orang ini pantas diingat sebagai manusia hidup pertama yang memiliki chi orang mati." si tabib tersenyum. Dalam hati dia berteriak
"Aku akan melupakan hal ini untuk sementara waktu. Bisnisku membutuhkanku." kata nyonya Yin sembari mempercepat langkahnya ke mobil.
__ADS_1
Si tabib kembali mengetuk pintu rumah untuk meninggalkan kartu nama.
"Saya tinggalkan jejak saya disini. Jangan ragu untuk menghubungi saya jika anda kembali tertarik dengan aliran chi anda." Teriak si tabib dari balik pintu.
Hasan menunggu selama 5 menit lalu keluar untuk mengambil kartu nama tersebut.
Siska yang sudah menunggu suaminya di balik semua bergegas merapikan bantal dan membuka selimut untuk suaminya masuki.
Hajeera meninggalkan kamar suami istri itu setelah sedikit bertukar salam selamat malam dengan Hasan.
Hasan menaruk selimut dengan lembut lalu menikmati malam sambil menceritakan kejadian absurd yang menimpa dirinya hari ini. Sang istri hanya bisa bersyukur. Meskipun banyak kejadian buruk menimpa Hasan setidaknya suaminya itu masih selamat.
Untuk membuktikan kemampuan barunya Hasan mengajak Siska main tebak tebakan. Hasan mengaku bisa menebak kata apa yang akan diucapkan Siska.
Siska pun mulai dengan makanan favoritnya. Gulai.
"Pasti gulai." Hasan menunjuk mulut istrinya tepat saat dia membuka mulut.
Masih tidak percaya Siska menyembunyikan dua lembar uang koin dalam genggaman.
"Itu artinya kamu kebal dari kecelakaan dong!?"
"selama kecelakaan itu hanya terjadi sesaat dan bisa dihindari dengan bergerak, ya aku bisa menghindarinya. Tapi kalau kecelakaan yang dapat menghancurkan area di sekitarku seperti pengeboman, keracunan bertahap, dan semacamnya, aku tetap akan mati."
"Jangan katakan itu!" Siska menjadi marah karena tidak ingin Hasan membahas kematian.
"Lebih baik kita tidur. Besok kau harus kembali ke tempat itu lagi."
Hasan mengangguk lalu memejamkan matanya.
...***Di markas DKK SELATAN***...
Tiga kolonel DKK wilayah kalimantan mengadakan rapat virtual untuk membahas penyerangan ******* di kantor gubernur.
Kolonel Graham yang mengajukan diadakannya rapat ini. Semua kolonel hadir kecuali kolonel kalimantan barat.
Kolonel Graham [Selamat pagi, Kolonel Archid dan Kolonel Arsenal. Saya ingin membahas keadaan keamanan terkini di Kalimantan terkait serbuan *******. Kita semua menyadari betapa serius ancaman ini, terutama setelah serangan ******* sebelumnya yang menargetkan kantor gubernur.]
__ADS_1
Kolonel Archid (DKK Kal-teng) [Selamat pagi, Kolonel Graham dan Kolonel Arsenal. Saya setuju sepenuhnya dengan pernyataan Anda, Kolonel Graham. DKK Kalteng harus siaga terhadap serangan ******* mengingat mereka bergerak dalam bujur terdekat. Saya telah mempersiapkan rencana untuk meningkatkan pengawalan di gedung gubernur. Dengan peningkatan pengawasan dan pengamanan di sana, kita dapat mengurangi risiko serangan ******* yang mungkin terjadi.]
Kolonel Arsenal tampak malu karena pasukannya malah mengejar manekin saat itu.
Kolonel Graham [Ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan, Kolonel Arsenal? Pendapat dan pengalaman Anda sangat berharga dalam situasi ini.]
Kolonel Arsenal menyesap sejenak, lalu berbicara dengan nada rendah. [Saya harus mengakui bahwa pasukan saya belum berhasil menangkap ******* yang bertanggung jawab atas serangan sebelumnya. Saya merasa malu dan bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.]
Kolonel Archid senang atas pengakuan kesalahan Kolonel Arsenal. [Dalam situasi seperti ini, kegagalan adalah bagian dari perjalanan kita menuju keberhasilan. Yang terpenting adalah kita belajar dari kesalahan dan terus berupaya melakukan yang terbaik untuk melindungi wilayah kita. ******* itu licik dan sulit ditangkap, tapi bersama-sama, kita bisa mengatasi tantangan ini.]
Kolonel Arsenal [Terima kasih atas dukungan dan pengertiannya. Saya siap bekerja sama dengan Anda sekalian. Kalau The Flow muncul lagi, ada baiknya anda segera menurunkan para anjing pemburu.]
Kolonel Archid [Bagus sekali. Mari kita segera mempersiapkan rencana dan langkah-langkah taktis yang akan kita ambil. Bersama-sama, kita akan melawan ancaman ******* ini dan melindungi wilayah kita dengan sepenuh hati.]
Dalam suasana semangat dan kesepahaman, ketiga kolonel itu melanjutkan diskusi mereka untuk mengatur strategi dan langkah-langkah yang akan mereka ambil guna menghadapi serbuan ******* di Kalimantan.
...***...
Keesokan harinya Hasan melihat 10 orang preman yang menyerbu restoran dengan niat jahat. Tanpa ragu, ia menggenggam dua pistol di tangannya, tetapi daripada menembakkan peluru mematikan, ia menggunakannya sebagai alat untuk mendukung bela diri eskrima yang ia kuasai.
Seolah-olah tercipta dalam kecepatan kilat, Hasan bergerak seperti bayangan yang menari di antara para preman itu.
Setiap serangan preman yang dilancarkan dengan kejam bertemu dengan tangkisan yang gesit dan akurat dari dua pistol yang menjadi perpanjangan tangan Hasan.
Dalam kombinasi gerakan yang mengagumkan, Hasan melibas preman-preman itu.
Dari pertarungan ini Hasan mengetahui kalau penglihatan masa depannya tidak selalu aktif saat bahaya muncul. Setidaknya ada jeda waktu 3 detik setelah penglihatan pertama berakhir.
Hasan merasa sangat overpower, mungkin karena lawannya sangat lemah.
Dalam adegan pertarungan yang epik itu, Hasan telah membuktikan kemampuan bela dirinya yang luar biasa. Ia telah mengalahkan sepuluh orang preman dengan keterampilan eskrima yang brilian. Tak sekalipun dia kena serangan.
"Aku sangat hebat..." gumam Hasan dengan rasa bangga yang teramat dalam.
Nyonya Yin menyaksikan adegan itu. Membuatnya merasakan ketertarikan lebih pada pengawalnya itu.
...***...
__ADS_1