
Cangkir kopi di tangannya terjatuh dan pecah saat membaca pesan istrinya. Dia berlari kencang keluar dari departemen lalu tancap gas dengan motornya.
Sepanjang jalan Hasan mendengar smartphone nya berbunyi, pesan masuk dari Siska yang meminta pertolongan. Padahal kenyataan itu adalah Curry yang sedang memancingnya kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah dia menemukan pintu depan masih terkunci, hanya Hasan dan Siska yang memegang kunci rumah. Dia berpikir lebih cerdik dengan mengecek area belakang rumah. Disitu dia menemukan kaca belakang dalam keadaan pecah dan tertempel di papan lakban.
"Jadi seperti itu cara mereka masuk. Aku harus berhati hati."
Hasan memasuki pintu belakang rumahnya dengan awas, tak lama kemudian dia merasa telah menginjak sesuatu. Nampak seperti tali yang lengket menyangkut di sepatunya. Tali itu dibentangkan di depan pintu belakang seperti bentangan benang granat di film.
Takut imajinasinya benar Hasan pun melepaskan sepatunya perlahan lahan setelah itu berjalan pelan ke ruang tamu.
Tidak ada orang disana. Hasan memeriksa dapur, kamar mandi, kemudian yang paling penting kamar. Dia menemukan gagang pintu dalam keadaan rusak.
Dalam keputusasaan dan frustasi, dia meraih ponselnya dan memanggil teman-temannya. Suara lemahnya terbata-bata ketika menceritakan kejadian mengerikan yang dia temui. Dalam panggilan yang tak kunjung berakhir, harapannya mengembara, mencari penjelasan dan bantuan dari siapa pun yang bisa dia harapkan.
Kamar yang seharusnya dipenuhi kehangatan keluarga, kini berubah menjadi medan kekejaman. Bau tidak sedap merambat dalam udara, seperti serbuan luka yang menusuk hidungnya. Aroma besi berkarat dan darah yang tertumpah bergelayutan dalam setiap helaan nafasnya.
"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan," gumam Hasan dalam kebingungannya. "Tolong, teman-temanku, bantu aku menemukan mereka."
...***...
Burn Shadow melacak alamat ip smartphone istri Hasan.
"Dia ada di Unison Square Balikpapan. Dia mengancam akan menghabisi anak Hasan kalau Hagi dan Yupi tidak dibebaskan dan kalau kita melapor polisi. Kalau mau menyelamatkan mereka kau harus pergi sendiri. Karena tak mungkin DKK akan membebaskan dua ter*ris itu."
Hasan tahu kalau DKK tidak akan membantunya, dia hanya ingin Burn Shadow menemukan istrinya.
"Aku akan pergi sendiri." Ucap Hasan.
Kursi ditendang ke depan pintu oleh Silver Blade, dia menggeleng, menyayangkan keputusan gegabah Hasan.
"Apa kau sadar ada beberapa poin janggal, pertama mereka membawa istrimu ke Unison Square yang pasti ramai dengan pengunjung. Kedua, itu bukan lokasi yang bagus untuk pertukaran sandera."
__ADS_1
"Benar, aku kenal baik dengan Unison Square. Tidak ada tempat sepi di bangunan itu." Timbal Kyle dengan pipi memerah karena kurang percaya diri berbicara di depan banyak orang.
"Kalau begitu akan ku tanyakan lokasi mereka lebih dulu."
inisiatif Hasan berbuah manis, Curry memberitahunya sistem pertukaran sandera ini.
Sama seperti kau yang menginginkan keluargamu kembali, kami juga demikian.
Pertukaran setara di atap Unison Square. Nyawa istrimu untuk nyawa Hagi, pembantumu untuk Yupi. Tinggalkan mereka di atap dan kami akan melakukan hal yang sama. Jangan khawatirkan tipuan, di tempat itu tidak bisa melakukan trik murahan.
Akan sangat mudah bagi kami mengenali pasukan polisi, jadi jangan coba coba.
Tulis Levi dari smartphone Siska.
Levi menunggu dengan tidak sabar. Ada kalanya gadis yang selalu tenang merasa bersemangat seperti sekarang, terlebih ini adalah pertaruhan paling gila yang pernah mereka lakukan untuk menyelamatkan 2 saudarinya.
***
"Sudah aku bilang lepaskan saja mereka!! Setelah mengamankan anak, istriku, dan pembantuku, aku akan menangkap mereka sebelum keluar gedung. Ini adalah kesempatan bagus untuk menangkap mereka semua sekaligus!" Hasan menyuarakan idenya dengan lantang, namun ide itu ditolak mentah mentah oleh Silverblade.
"Kau tidak tahu seramai apa square garden? akan sulit menangkap mereka walaupun kita bertujuh mengepung tangga turunnya. Apalagi jika mereka menggunakan trik keadaan darurat, menyusup di antara pengunjung lain, itu akan lebih sulit lagi!" Kata Silverblade.
Hasan ingin memberitahu mereka kalau di matanya ada X-ray namun masih ragu dengan hal itu.
Lim yang tidak tahan melihat Hasan dan Silverblade cekcok pun mengungkapkan rahasia itu sebelum Hasan melakukan. Menurut Lim inilah satu satunya cara untuk meyakinkan mereka kalau Hasan bisa menangkap para teror*s itu sebelum mereka turun ke lantai bawah.
"Semuanya! Tolong dengarkan aku, ini penting dan sulit dipercaya tapi teman kita Hasan pasti bisa membuktikannya. Dia bisa menemukan Hagi yang menyamar jadi nyonya An Louhie karena di matanya terdapat X-ray."
Lim akhirnya mengatakannya. Suasana di ruangan itu mendadak hening. Sorotan mata mereka bergumul penuh kecurigaan.
"Kau sedang bercanda kah Lim? Ini bukan saat yang tepat." Tatap Silverblade merasa kecewa dengan sikap tidak profesional yang ditunjukkan Lim. Namun di dalam hati dia tidak bisa menyangkal kalau Lim tidak pernah berbohong selama kenal dengannya. Silverblade menatap Hasan, sorot matanya setajam pedang. Semua sorot mata kini mengarah ke Hasan.
"Itu benar, mata X-ray adalah kemampuan unik yang tidak pernah aku perlihatkan secara langsung, namun kemampuan itu hampir aku aktifkan setiap saatnya. Akan aku buktikan sekarang."
__ADS_1
"Buktikan!" timpal Silverblade, perlahan rasa antusiasnya bangkit.
Hasan mulai memilah apa yang dia temukan di balik baju teman temannya.
"Kau menyembunyikan yogurt milik Lim di balil rokmu kan Burn Shadow?"
Mendengar Hasan mengetahui kejahilan yang dia lakukan Burn Shadow langsung mengakuinya.
"Iya, maafkan aku Lim. Yogurt buatanmu sangat enak rasanya aku ingin mandi di dalamnya," ucap Burn Shadow penuh rasa kagum pada Lim.
Lim melirik Silverblade, ekspresinya belum berubah dan meminta Hasan melakukan penglihatan X-ray nya lagi.
"Kolonel Graham, anda menyimpan banyak kartu di dalam dompet. Silverblade, flashlight hp mu masih menyala, Kyle kau pakai dalaman berwarna biru sapphire atas dan bawah."
Kyle bergegas menutupi badannya kemudian menampar Hasan karena telah memandang tubuhnya tanpa izin.
Silverblade menarik hp nya dari kantung dan benar flashlight nya masih menyala. Kolonel Graham juga mengakui dia punya banyak kartu atm.
Semua orang di ruangan itu takjub sekaligus tidak percaya dengan realita yang mereka hadapi.
"Aku tidak menyangka bisa melihat manusia ajaib sepertimu. Apa kau seorang mutan?" Tanya kolonel Graham dengan bercanda.
"Tentu saja bukan! Kemampuan X-ray dan penciuman super ini aku dapatkan setelah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawa selama bekerja di BPOM."
"Lalu kenapa kau baru bilang sekarang?!"
Silverblade menunjukkan sorot mata setajam pisau ke arah Hasan. Dengan cepat dia berjalan dan menarik kerah baju pria itu.
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu!?!? Padahal kita bisa membuat strategi yang lebih baik untuk menangkap Spiral Riot dan komprotannya!!!"
Silverblade dan Hasan saling tuduh atas kegagalan mereka menangkap Spiral Riot.
...***...
__ADS_1